
Mobil mulai berdatangan. Para pria sudah kembali dari tugas mereka. Allea berlari kecil ke arah pintu karena sejak insiden penyusupan werewolf tadi, pintu ia kunci. Khawatir akan ada serangan susulan berikutnya. "Wow, ada apa ini?" celetuk Vin begitu sampai di dalam rumah. Mereka melihat jejak hitam hangus bekas terbakar tadi. Ellea yang duduk di sofa hanya diam sambil memeluk bantal. Ia masih sangat terkejut atas apa yang baru saja menimpa mereka.
"Tadi 'mereka' datang, dan berhasil masuk," jelas Allea ragu-ragu.
"Apa? Terus?" pekik Vin. "Leher kamu kenapa, sayang?" Allea memegang lehernya yang memang terasa perih dan sakit akibat perlakuan wanita tadi.
"Iya, jadi tadi kami lihat ada perempuan lari-lari di halaman karena dikejar salah satu dari 'mereka', akhirnya aku buka pintu buat nyuruh dia masuk. Tapi begitu dia masuk, ternyata perempuan itu berubah wujud."
"Terus ini?" tanya Abimanyu.
"Eum, Ellea yang bikin dia terbakar sampai hangus," kata Allea pelan, menatap saudara kembarnya yang terus tertunduk. Abimanyu justru cemas melihat kekasihnya yang tengah duduk sendirian di sana. Ada gurat ketakutan yang tergambar jelas di sikap Ellea. Ia segera mendekat dan kini duduk di samping gadis itu. Semua orang menghampiri Ellea. Ia gugup hingga tak mampu menghentikan gerakan tubuh yang terus aktif bergerak. Beginilah Ellea jika sedang gugup. Tidak bisa diam. Abi menggenggam tangan gadis itu. Menatap matanya tajam.
Yudistira menatap sebuah buku miliknya yang tergeletak di meja. Ia meraihnya dan memperhatikan sampul depan buku tersebut. Dahinya mengernyit. Menatap buku ditangannya dan beralih ke gadis yang sedang diinterogasi oleh kekasihnya itu. Ia juga menatap ke lantainya yang terdapat bercak hitam, bekas kebakaran. Dan di situlah dia langsung mengerti apa yang sedang terjadi di sini.
"Ellea ... Kamu baca buku ini?" tanya Yudistira serius. Ellea melirik ke arahnya, lalu mengangguk perlahan. "Jadi kamu tau isi buku ini apa?" tambah Yudis dengan pertanyaan yang membuat mereka semua bingung. Lagi, lagi Ellea mengangguk.
"Ada apa sebenarnya ini?" desak Abimanyu kepada dua orang itu.
Yudis tidak menjawab pertanyaan Abi, ia malah mendekat ke Ellea. Duduk di sampingnya. Kini Ellea diapit oleh dua pria itu. "Jadi kamu yang membakar werewolf tadi dengan salah satu mantra di dalam buku ini?" tanya Yudis lagi.
"Mantra?" gumam Vin dengan nada bertanya.
"Iya, bener. Tadi Ellea ngomong pakai bahasa aneh, dan perempuan itu langsung terbakar," jelas Allea yang sebagai saksi kunci kejadian tadi.
"Wow," gumam Yudis dan kembali memperhatikan gadis di sampingnya.
"Ada yang bisa menjelaskan hal ini?" tanya Abi dengan menaikkan nada bicaranya. Yudis menatapnya dingin, lalu tersenyum tipis. "Well, baik. Akan saya jelaskan. Pertama, buku ini," katanya dengan menunjuk buku yang ada di tangan kanan. "Buku ini menceritakan tentang jati diri seorang pembantu malaikat." Ia menatap satu persatu orang yang duduk di dekatnya dengan serius.
"Apa? Pembantu malaikat? Yang benar saja!" ungkap Vin tidak percaya.
"Terus? Tentang mantra itu?" Abi masih sangat penasaran.
"Ya mantra-mantra di dalam buku ini akan bisa bekerja jika diucapkan oleh para pembantu malaikat," jawab Yudis enteng.
"Jadi maksudnya, Ellea ...?"
"Yah, dia salah satunya."
"Kok bisa?!"
"Biasanya para maid ini ditunjuk oleh 'mereka' dan akan berlangsung secara turun temurun. Bisa dibilang kalau leluhur Ellea salah satu maid juga. Dan, semua mantra juga akan bekerja jika dia, punya benda penghubung dengan para malaikat."
Ellea memegang kalung yang melingkar di lehernya, "Ini, kah?"
Yudis memicingkan mata dan memperhatikan benda kecil tersebut. Ia lalu menyamakan dengan sampul buku yang masih ada di tangannya. "Luar biasa!" gumamnya dengan mata berbinar. "Seumur hidup baru kali ini aku bertemu Maid seperti kamu."
"Tunggu. Bisa Anda jelaskan dengan lebih rinci, apa maksud maid, dan malaikat. Dan ... malaikat? Punya pembantu di dunia, untuk apa?!" Abi memang memiliki pemahaman yang realistis. Walau dia bukan seorang yang religius, tapi dia tau kalau makhluk Tuhan seperti malaikat tidak bisa disamakan dengan makhluk lain. Dan kini mereka memiliki pembantu di dunia, itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal.
"Banyak hal di dunia ini yang tidak kamu ketahui, anak muda. Kalau kamu meragukan pembantu malaikat di bumi, maka apa kamu bisa menjelaskan tentang werewolf itu? Mereka juga makhluk Tuhan, dan banyak yang mengira kalau mereka hanya sekedar dongeng atau bumbu di film horor. Tapi buktinya, kalian lihat, kan, kalau mereka benar-benar ada? Jadi jangan kalian pikir, sesuatu yang belum pernah kalian temui, itu tidak ada. Karena banyak misteri yang ada di dunia yang bahkan belum terpecahkan oleh manusia," jelas Yudis panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi saya ini ...," tukas Ellea, tanpa melanjutkan kalimatnya. Berharap pria tua itu mengerti dan menjelaskan semua hal yang belum ia tau. Karena ia menyebutkan tentang pembantu malaikat yang tertuju pada Ellea seorang.
"Dari mana kau dapat kalung itu, Nak?" tanya Yudis menunjuk kalung yang sedang Ellea pegang liontinnya. Liontin yang sama dengan sampul buku miliknya. Dan kalung ini tidak sembarangan orang memilikinya. Karena benar-benar hanya orang terpilih tentunya.
"Ini dari Mama Ruth." Kemudian meluncurlah kisah kehidupan masa lalu Ellea. Bagaimana ia menjalani hidup dengan keluarga angkatnya.
"Aneh. Biasanya ini akan menjadi tugas yang secara turun temurun diwariskan oleh keluarga yang sedarah," gumam Yudis memegang dagunya sambil berpikir.
"Tidak semua seperti itu, Pak. Setahuku para Maid itu dipilih langsung oleh 'mereka'," tambah Rendra dengan melirik ke atas. "Mungkin sebagian ada yang meneruskan dari leluhur mereka, tapi ada beberapa orang yang memang dipilih langsung," tambah Rendra yang juga paham tentang hal ini.
Yudis menggigit bibir bawahnya sambil terlihat berpikir keras. "Boleh aku lihat pergelangan tanganmu?" Ellea tanpa sungkan menunjukkan kedua pergelangan tangannya. Ia justru terkejut saat melihat sebuah simbol tercetak jelas di urat nadi tangan kanannya. "Apa ini? Perasaan tadi nggak ada!" raung Ellea sambil menggosok-gosokkan gambar kecil di tangan kanannya.
Rendra dan Yudis saling berpandangan, lalu mengangguk pelan. "Yah, kamu dipilih sendiri oleh 'mereka'," jelas Yudistira yakin.
"Dipilih untuk apa?" Ellea terlihat gugup dan bingung.
"Tentu saja untuk membantu 'mereka' di dunia. Mungkin salah satunya mengurus para makhluk malam itu," tunjuk Yudis ke lantainya yang gosong. "Kau tau, Ell, aku hafal semua mantra dalam buku itu, tapi tidak satu pun yang berhasil seperti apa yang kamu lakukan itu."
Ellea tertegun. Begitu juga mereka semua yang ada di ruangan itu. Mereka seperti sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur yang ternyata menjadi nyata. Suara raungan dari ruangan besi membuat perhatian mereka teralih sejenak dalam pembahasan malaikat ini.
"Aku lihat Maya dulu," kata Allea.
"Jadi bagaimana usaha kalian mencari sarangnya?" tanya Vin.
"Belum ada hasil. Sepertinya mereka benar-benar hati-hati sekarang. Kalian sendiri sudah mengumpulkan Lycanoid?" tanya balik Rendra ke Vin dan Abimanyu.
"Yah, lumayan banyak yang kami kumpulkan," sahut Abimanyu, dengan terus menatap Ellea.
"Ke penjara," tambah Abi, santai. Ia menekan kepalanya karena merasakan denyut yang tidak nyaman akibat kurang tidur.
"Serius, kalian bawa ke penjara?" tanya Yudistira sedikit tidak percaya. "Lalu apa yang kalian bilang ke polisi tadi?"
"Om Gio yang ngurus semua. Dia punya kenalan di kantor polisi di sini, dan kami sudah menceritakan semua ke orang itu. Yah awalnya dia tidak percaya, tapi akhirnya Om Gio yang meyakinkan,' jelas Vin. Abimanyu terlihat terlibat obrolan dengan Ellea berdua. Vin tau kalau Abi ingin menenangkan gadis itu. Karena ia juga tau bagaimana watak Ellea yang sangat over thinking terhadap sesuatu.
"Apa mereka sudah berubah?" bisik Yudis ke Vin.
"Eum, entahlah. Kalau tadi sih belum, Pak. Baiknya saya hubungi Om Gio saja, ya. Bagaimana perkembangan mereka di sana," ujar Vin.
"Aku antar Ellea ke kamarnya dulu, ya," ujar Abimanyu dengan mengulurkan tangan ke gadis itu. Yudis mengangguk. Karena ia memang sudah mengizinkan mereka untuk menginap di rumahnya untuk malam ini. "Istirahat, Ell," timpal Yudis yang juga beranjak pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi.
"Eh, Ell, sudah mirip penyihir lu, yak," cetus Vin dengan senyum merekah di bibirnya.
"Shut up, Vin!" geram Ellea dengan meliriknya sinis.
Kini kamar yang ada di lantai dua menjadi tujuan mereka. Sebuah kamar yang cukup besar dengan dua ranjang berukuran single, menjadi tempat bermalam Ellea dan Allea. Abi menuntunnya naik ke ranjang. "Aku cek jendela dulu sebentar." Ia lantas beranjak, menuju sebuah jendela yang cukup tinggi. Menarik korden hingga menutup sempurna. Jendela ini memiliki kaca yang tidak dapat dibuka. Hanya sebagai penghias ruangan dan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam. Tapi udara hanya didapat dari AC di dalam kamar saja. Nyatanya kamar ini terasa sejuk dengan bantuan benda itu.
Abi juga memeriksa keadaan di luar kamar. Pemandangan di bawahnya memang terlihat gelap. Tentu bukan itu yang ia ingin periksa dari tempatnya berdiri, melainkan para penyusup yang mungkin ada di sekitar rumah ini. Sunyi. Sejauh mata memandang, Abi tidak melihat pergerakan mencurigakan di luar sana. Semoga malam ini keadaan aman terkendali. Begitulah harapannya.
Setelah memastikan ruangan ini aman, ia lantas ikut naik ke ranjang dan tidur di samping Ellea. "Biyu, di sini dulu, kan, sampai aku ketiduran?" tanya Ellea lebih mengarah ke sebuah permohonan.
__ADS_1
"Iya, aku temenin dulu kamu di sini, sampai tidur."
Ellea merapatkan pelukannya ke tubuh pemuda itu. Abi mengelus punggung Ellea lembut. "Biyu, aku sebenarnya takut."
"Hm? Takut kenapa? Karena werewolf itu?" tanya Abi. Keduanya menatap ke sudut berbeda dengan pikiran yang masih menerawang jauh ke depan. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Bukan. Tapi soal maid itu. Kamu nggak tau sih, bagaimana perempuan itu terbakar cuma karena aku baca kalimat di buku tadi. Tapi anehnya, aku langsung hafal semua isi buku itu. Apa bener apa yang Pak Yudis bilang, tentang aku?"
"Mm ... mungkin benar. Mungkin juga salah. Asal hal itu nggak merugikan kamu dan membuat kamu celaka, aku pikir itu bukan hal buruk, sayang," nasehat Abi. Ia lantas mengecup kening Ellea dengan tetap mengusap punggung kekasihnya itu.
"Hm, iya juga, ya. Mungkin hal ini bakal berguna nantinya," gumam Ellea berusaha berpikir positif.
"Iya. Tapi sekarang kamu tidur, ya. Pasti capek, kan? Jangan sampai kamu sakit." Ellea mengangguk, lalu memejamkan kedua matanya. Kegiatan ini sangat berhasil jika dirinya tidak bisa tidur. Memeluk Abimanyu sambil berkeluh kesah, dan alhasil hanya dalam beberapa menit kini Ellea benar-benar sudah masuk dalam alam mimpinya.
Abi perlahan melepas pelukan Ellea, dan menyelimuti tubuh mungil kekasihnya. Bertepatan dengan pintu kamar yang dibuka dengan wajah Allea yang kelelahan. "Sudah tidur dia?"
"Sudah, All. Kau juga, istirahat," ujar Abi lalu berjalan keluar dari kamar ini.
____________
Rumah Yudis cukup luas untuk dihuni seorang diri. Ada beberapa kamar yang memang tidak dipakai dan kini para tamunya yang akan menginap di rumahnya. Hikmah dari masalah ini adalah kini rumahnya terasa lebih hangat karena kehadiran mereka. Tentu kecuali Rendra yang ngotot akan pulang saja. Dan Gio yang masih ada di penjara menjaga para terduga Lycanoid yang berhasil mereka ringkus.
Selesai membuat kopi, Yudis naik ke perpustakaan pribadinya. Di sana sudah ada Vin dan Abimanyu yang sedang duduk dengan beberapa buku usang di depan mereka. "Rupanya kalian semua suka membaca," cetus Yudis dan kini ikut duduk bersama mereka.
"Yah, buku itu, kan jembatan ilmu, Pak," sahut Vin santai.
"Baguslah. Oh ya, ada satu hal yang ingin aku bicarakan tentang Maya." Yudis meneguk kopi yang barusan ia buat. Dua pemuda yang awalnya fokus pada buku yang mereka baca, kini menatap Yudis serius. "Tentang apa?" tanya Abimanyu.
"Untuk mempercepat pengendalian dirinya. Agar Maya mudah mengendalikan sifat alami werewolf di dalam dirinya. Jadi begini, aku tadi baru bertanya ke beberapa rekan sesama pemburu. Mereka bilang ada ramuan yang harus Maya minum selama tiga hari, agar dia tidak berubah seenaknya. Dia bisa menjadi seperti Rendra dengan waktu yang relatif cepat."
"Ramuan? Apakah manjur dan apa efek sampingnya?" tanya Abi lagi.
"Menurut mereka yang pernah mengalaminya ramuan ini manjur, asal Maya belum pernah memakan manusia. Kalau kalian setuju, besok aku akan ke kota untuk mencari bahan-bahan ramuan itu. Dan efek sampingnya pasti dia akan muntah-muntah karena racun jahat dalam tubuhnya keluar. Tapi setidaknya hanya cara itu yang bisa dilakukan sekarang, karena jika harus menunggu waktu agar dia menahan hasrat alamiah werewolfnya, akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku takut kita sudah menyerah untuk terus menjaganya seperti ini. Terlebih Para Lycans masih mengincar kita, kan? Bagaimana?" Vin dan Abi saling lempar pandang, lalu keduanya sama-sama mengangguk setuju.
_______________
Malam semakin larut, satu persatu dari mereka memutuskan tidur untuk mengistirahatkan tubuh, dan pikiran. Hari esok pasti akan melelahkan. Yudistira kembali patroli di dalam rumah. Ia selalu melakukan ini tiap malam guna memeriksa keamanan rumahnya sendiri. Ia memeriksa lantai dua dan memastikan semua pintu dan jendela tertutup rapat, kemudian turun lagi ke lantai satu. Ia ingin memeriksa Maya. Karena beberapa menit ini suaranya terdengar samar, bahkan tidak seperti biasanya. Mungkin, kah, Maya lelah terus menerus menjerit seperti itu.
Langkah Yudis sangat hati-hati, menuruni satu persatu anak tangga di bawah. Ia merasa ada yang aneh di lantai bawah. Hawa dingin merebak tiba-tiba. Padahal di atas tadi masih stabil dengan udara yang tidak begitu dingin. Begitu sampai di bawah, Yudis makin curiga karena pintu rumah terbuka lebar, dan alasan inilah yang membuat hawa di bawah sangat dingin. Ia meraih senjata api yang ada di sudut bufet dekat tangga. Perlahan dia berjalan ke bawah tangga, tempat di mana ruangan besi berada, namun langkah Yudis terhenti karena pintu besi itu sudah terbuka lebar sama seperti pintu di depan.
Yudis tetap mendekat ke ruangan besi, untuk benar-benar memastikan kalau Maya benar-benar tidak ada di sana. Saat dirinya sudah berada di pintu besi itu, justru Maya masih ada di dalam. Ia sedang berjongkok dengan menampilkan gigi taringnya. Melihat ada Yudis di sana, Maya mulai menyerang. Yudis menahan tubuh Maya dengan senjata api miliknya. Ia berusaha mendorong tubuh Maya agar menjauh darinya. Maya terlempar hingga kembali masuk ke dalam ruangan besi itu. Dengan cepat Yudis menutup kembali pintu itu dan Maya kembali terkurung di dalam.
Yudis masih merasa tidak aman. Ia yakin ada orang lain lagi yang ada di dalam rumahnya. Yudis terus berjalan menyusuri satu persatu ruangan. Hawa dingin membuat bulu kuduk berdiri. Dan kini suara geraman terdengar samar. Tapi cukup jelas dalam pendengaran Yudis yang sudah hafal dengan bunyi-bunyi aneh dari makhluk-makhluk itu. Ia yakin kalau mereka sudah ada di dalam rumahnya.
Makin lama geraman itu makin keras terdengar, dan tiba-tiba seseorang menabrak Yudis dari arah belakang. Mereka berdua terlibat pertarungan sengit. Yudis terus menahan kepala makhluk itu agar tidak menggigitnya. Satu tangan lainnya, ia gunakan untuk meraih apa pun yang ada di dekatnya untuk menyerang werewolf itu. Ada dua werewolf yang datang. Satu werewolf lagi berjalan ke atas untuk mencari yang lainnya. Tapi tiba-tiba tubuh werewolf itu terhempas kembali ke lantai bawah. Yudis dan werewolf yang sedang berada di atas tubuhnya, menoleh ke tempat jatuhnya makhluk mengerikan itu. Aneh, ia tidak bisa bergerak seperti ada yang mengunci tubuhnya. Dan rupanya saat Yudis melihat ke atas, Ellea sedang berdiri di sana sambil mengangkat tangan kanannya. Mulutnya terlihat berkomat-kamit, sementara tangan kirinya memegang liontin di lehernya.
"Akhirnya ...," gumam Yudis dan kini dapat merasakan aman. Ellea melihat sosok yang ada di atas Yudis, ia lantas menggerakkan tangannya dan menghempaskan sosok itu ke tembok yang ada di dekat pintu. "Sacrificastic!" Dan sosok itu langsung dilahap api entah dari mana. Yudis berdiri dan langsung mengambil pisau perak miliknya. Bersamaan dengan itu Abi, Vin dan Allea terbangun karena suara berisik di bawah. Yudis menancapkan pisau itu tepat di leher makhluk mengerikan itu. Akhirnya mereka tewas.
Mereka bertiga segera turun ke bawah, memeriksa keadaan di bawah. Rendra datang dan segera masuk ke rumah Yudis karena pintu rumahnya terbuka. Tatapannya terlihat sangat cemas sambil melihat ke pintu. "Ada apa ini? Kenapa simbol di pintu itu? Siapa yang mencorat - coretnya?!" tanya Rendra panik.
__ADS_1
"Apa? Pintunya dicorat-coret?" tanya Vin tidak percaya. Saat mereka melihat ke pintu, ternyata simbol itu tertutupi oleh coretan cat warna hitam. Tapi satu yang menjadi pertanyaan, siapa yang melakukan itu. Karena sudah pasti itu perbuatan manusia.