
*Flashback
"Di ... Kamu yakin?" tanya Arya. Mereka kini sedang duduk di atas sebuah bukit, dengan hamparan air laut di bawahnya. Black demon sudah musnah. Perjuangan mereka sudah berhenti, peperangan mereka sudah berakhir.
"Yakin, Ra. Aku ingin menjadi manusia normal. Bisa merasakan sakit, terluka, berdarah, dan ... Mati. Aku nggak mau terus menerus seperti ini. Menjadi manusia abadi itu nggak enak. Iya, kan?" tanya Adi dengan tatapan lurus ke barisan ombak yang memecah batu karang di bawah mereka.
Setelah pertarungan terakhir mereka melawan black demon, Arya memutuskan menyingkir dari hiruk pikuk suasana kota. Memilih tinggal di pedesaan dengan pantai sebagai backgroundnya. Sementara Adi akan kembali berpetualangan.
"Yah, memang nggak enak. Aku pun sama, sudah bosan dengan semua kemampuan ini. Dan lagi, musuh kita sudah binasa. Jadi untuk apa lagi ilmu ini. Sekali pun akan ada orang jahat lain yang akan mengancam umat manusia nantinya. Hanya saja, aku merasa kalau hidupku tidak akan lama lagi. Aku sudah terlalu lama menikmati nyawa abadi ini. Dan aku lelah."
"Ya sudah, kamu bisa meleburnya, kan? Kamu tau bagaimana melebur ilmu ini, kan?" tanya Adi sekali lagi.
Arya menoleh ke sahabatnya itu, lalu mengangguk*.
Setelah black demon binasa, Arya memutuskan menghilang dari hiruk pikuk kehidupan kota. Kembali ke daerah terpencil untuk memulai hidup baru. Mereka memutuskan melebur ilmu pancasona karena merasa tidak membutuhkannya lagi. Arya akan menikah dengan Nayla. Dan membangun keluarga kecil di tempat itu. Hal ini merupakan salah satu alasan ia menghilangkan ilmu pancasona. Syarat ia mendalami ilmu ini adalah, dilarang menikah. Kini Arya bahkan rela memberikan seluruh hidupnya untuk Nayla. Baginya Nayla berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah ia temui. Bukan berarti Arya sering menjalin hubungan dengan banyak wanita sebelumnya, justru karena selama ini tidak ada satu pun wanita yang mampu menarik hatinya. Namun, saat bertemu dengan Nayla, bersama dengannya dan terus dekat dengan gadis itu, Arya mulai menyukai semua hal yang ada pada diri Nayla. Bukan hanya cantik di luar, tapi hatinya tulus dan memiliki sesuatu yang bahkan Arya sendiri tidak tau apa itu. Daya tarik Nayla begitu besar, bahkan saat Nayla masih bersama Wira. Tapi Arya selalu menutupi perasaannya selama ini. Bahkan tidak ada satu pun orang yang tau. Hanya Adi, sahabatnya sejak dulu.
Adi akan kembali berpetualang, menaiki gunung dan menjelajah banyak tempat seperti keinginannya dulu. Ia tidak punya rumah, baginya rumah itu bukan tempat, tapi orang. Berbeda dengan Arya yang sudah memiliki rumah, tempatnya kembali. Nayla.
"Kamu tau, di mana harus mencariku, Di." Begitulah kalimat terakhir saat Adi hendak pergi meninggalkan Arya.
Dan pada akhirnya Abi kembali ke rumah itu. Kembali pada Arya, walau Arya sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi Adi kembali memegang janjinya untuk menjaga Abimanyu, anak Arya dan Nayla. Ia melepas semua impiannya untuk menjelajah seluruh bumi, dan kembali ke Abimanyu.
Tidak ada yang merasa baik-baik saja atas kepergian Adi. Ia sosok yang sangat berarti dalam hidup dua pria itu. Walau Adi tipe pria cuek dan terkesan masa bodo, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat peduli pada orang-orang terdekatnya. Adi memberikan perhatian dengan cara yang berbeda, dengan caranya yang memang tidak terlihat menonjol, tapi sangat berarti bagi Abimanyu dan Gio.
Adi adalah orang yang selalu membuatkan sarapan untuk mereka berdua selama ini. Adi juga orang yang selalu memeriksa semua pintu dan jendela sudah tertutup dan terkunci rapat setiap malam. Adi juga orang yang selalu terbangun di tengah malam, hanya untuk memeriksa apakah Abimanyu sudah tertidur di kasurnya dengan selimut menutupi tubuhnya, dan Gio yang sering tertidur di depan TV, pasti ia akan menemukan dirinya sudah terbalut selimut, dan itu adalah ulah Adi. Bahkan Adi beberapa kali rela terluka demi mereka berdua. Gio duduk di tanah begitu saja di samping makam Adi. Sementara Abimanyu ada di sisi satunya. Gio memegang batu nisan yang belum kuat tertanam di tanah itu. Terus mengajak benda itu berbicara, seakan-akan ia adalah Adi. "Elu harus baik-baik di sana, Di. Awas aja kalau di sana elu nggak bahagia, gue bakal samperin elu dan bawa lu balik lagi ke sini," kata Gio dengan kalimat yang tidak masuk ke dalam logika Abimanyu. Abi hanya menatap Gio iba. Ia juga merasa kehilangan sama seperti Gio, hanya saja Abi masih bisa berpikir jernih. Ia menggenggam tanah yang ada di sampingnya. Ia menyimpan sejuta dendam dan emosi dalam hati dan pikirannya. Abi berjanji akan membalaskan dendam ini bahkan sampai ke seluruh kartel Ransford dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Abi akan membawa Ellea dan Allea pulang, lalu membunuh Nicholas dengan tangannya sendiri. Karena orang itu, yang sudah membuat Abi kehilangan banyak orang yang ia sayangi. Nicholas adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Adi. Nicholas juga yang telah menculik Ellea dan Allea. Dia juga yang membuat Vin tak sadarkan diri dengan beberapa lubang di belakang punggungnya. Ia juga yang membuat Rizal dan Nabila masih sekarat di rumah sakit. Entah cairan apa yang mereka berikan pada Rizal dan Nabila. Bahkan Abimanyu tidak tau bagaimana nasib mereka berdua sekarang. Ia hanya berharap kalau mereka baik-baik saja.
Langit mulai gelap, mendung langsung muncul sesaat setelah Adi dimakamkan. Seakan-akan langit ikut bersedih atas kepergian Adi. Abi beranjak lalu mengajak Gio pergi sebelum hujan benar-benar turun. "Ayo kita pulang, paman. Paman juga harus istirahat."
Gio sempat bergeming di tempatnya. Ia enggan beranjak dan pergi dari tempat itu. Ia belum rela meninggalkan Adi sendirian di sana Tapi setelah dibujuk, akhirnya mereka pulang.
Mereka kembali ke Kampung Ambon. Vin sudah mulai sadar saat mereka sampai di sana. Wajahnya masih sangat pucat, namun sudah mampu duduk di ranjangnya. Ia terlihat masih lemas. Vin baru tau kalau Adi meninggal dunia. Ia juga sedih mendengar hal itu. "Dia orang yang tangguh. Gue salut sama kegigihan dia," kata Vin saat mendengar kisah pilu detik-detik kematian Adi.
"Gue tau, kita masih dalam suasana berduka. Tapi kita harus bergerak untuk menyelamatkan Ellea dan Allea," kata Abimanyu, serius.
"Gue ikut!" sahut Gio.
"Nggak, Paman. Paman Gio harus di sini. Berjaga. Vin nggak mungkin ikut dalam misi ini. Karena keadaannya tidak memungkinkan. Dan lagi, aku takut kalau mereka bisa tau tempat ini. Aku nggak mau kalau harus kehilangan salah satu di antara kalian lagi. Aku nggak sanggup, paman," pinta Abimanyu.
"Tapi gue nggak mungkin diem aja di sini, Bi! Sementara elu ke sana buat ngadepin mereka sendiri!" hardik Gio.
"Aku nggak nyuruh paman diem saja jagain Vin. Nggak! Tapi paman cari tau semua anggota kartel Ransford. Semuanya. Kita bakal hancurkan mereka satu persatu. Pakai kemampuan paman buat nyari semua informasi 4 orang lainnya. Semuanya. Dari kegiatan mereka, kesukaan mereka dan keberadaan mereka."
"'Hm. Apa rencana lu, Bi?" tanya Vin. Bahkan suaranya terdengar parau.
"Gue bakal datangi mereka satu persatu. Gue bakal bunuh mereka semua pakai tangan gue sendiri!" kata Abi dengan tatapan benci.
__ADS_1
"Terus gue ngapain?" tanya Vin, merasa dirinya tidak berguna.
"Elu harus segera pulih. Banyakin istirahat, karena gue juga butuh tenaga lu nanti."
Abimanyu mulai bersiap. Menjemput Ellea dan Allea bukanlah perkara mudah. Ia sadar kalau ia akan memasuki sarang musuh. Dan ia ke sana seorang diri.
"Gaes! Lihat TV sekarang!" pekik Vin dengan tangan kanan yang sedang menatap layar ponselnya. Gio menyalakan TV sesuai perintah Vin. Mereka bertiga terkejut, saat melihat berita tentang video dan foto bukti yang mereka punya beredar di TV. Wajah Nicholas terlihat jelas di sana.
Tak berapa lama, ponsel Abimanyu berdering. Heru.
"Bi, sudah lihat berita?"
"Ya sudah. Ini semua lu yang bikin?"
"Bukan. Yah, sumbernya memang gue, tapi bukan gue yang share itu ke TV."
"Jadi?"
"Sebelum mereka serang rumah gue kemarin, gue udah kirim semua file ke salah satu temen gue yang ada di Axel Springer SE. Salah satu penerbit digital terbesar di Eropa. Karena gue tau, kalau kita publish berita ini di negara kita, percuma, Bi. Kaki tangan Nicholas ada di mana-mana. Kita bakal kalah. Tapi lihat sekarang, dia nggak bisa berkutik lagi. Dan satu informasi penting buat elu, hari ini Nicholas bakal terbang ke Jerman untuk menutup berita itu. Nah, ini saatnya elu bisa masuk ke sarang mereka buat selamatkan teman-teman lu!"
"Makasih infonya, Her. Gue berutang budi sama elu."
"Apaan sih lu! Kita, kan, temen. Jadi harus saling bantu!"
Informasi ini sangat bermanfaat untuk Abimanyu. Ia jadi tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Setidaknya keamanan di tempat itu akan berkurang, karena kepergian Nicholas ke Jerman.
Pintu dibuka. Zikal muncul dari sana, "Kalian bisa pakai ruangan gue yang lain."
Mendengar kalimat itu, Mereka bertiga bingung dengan maksud Zikal. Zikal tidak menjelaskan apa pun, hanya menyuruh mereka mengikutinya. Mereka mulai berjalan di koridor rumah susun, menuju basement yang sunyi dan gelap. Ada sedikit keraguan dihati mereka, tapi Abi yakin kalau Zikal bukan salah satu dari musuhnya. Ia tidak mungkin mengkhianati dirinya di saat seperti ini.
Sampai di sebuah pintu yang ada di bawah tangga, Zikal masuk diikuti mereka semua. Lampu dinyalakan. Di hadapan mereka kini ada beberapa perangkat komputer lengkap dengan banyak monitor dan keyboard di penjuru ruangan. Bahkan ada layar besar di tengahnya.
"Welcome to another world," gumam Zikal, menarik tuas yang ada di sudut ruangan. Semua alat kini menyala. Layar monitor menampilkan seluruh sudut kota. "Kalian bisa pakai tempat ini. Dulu ini tempat gue sama teman-temen buat memeriksa seluruh kota dan jalan keluar kabur dari kejaran polisi," jelas Zikal menatap layar paling besar yang ada di tengah. Di sana tampak titik titik yang menunjukkan lalu lintas jalan raya seluruh ibu kota. "Kalian bahkan bisa mengatur lalu lintas kalau kalian mau."
"Waw, gila. Kau ini siapa sebenarnya?!" tanya Gio terpukau pada mahakarya milik Zikal yang tersembunyi di tempat gelap ini. Zikal tersenyum, menatap Gio. "Gue cuma bandar narkoba dan penjual senjata api ilegal. Not more."
"Tapi kenapa ada semua benda ini? Elu yang bikin?"
"Bukan. Ini punya teman. Tapi sayangnya dia sudah meninggal. Jadi sejak saat itu, gue nggak pernah pakai tempat ini lagi."
"Siapa, Kal?" tanya Abimanyu penasaran.
"Ryuji." Sorot mata Zikal tertuju pada Gio. Ia melihat Gio terkejut mendengar nama itu disebut. 'Elu kenal dia, kan?" tanya Zikal.
Gio mendadak diam. Pikirannya menerawang ke beberapa tahun lalu. Saat ia masih muda, saat ia masih menggeluti dunia hacker. Ryuji adalah partner Gio saat mereka memulai pekerjaan ini. Mereka berdua adalah beberapa hacker yang mahir dan tidak dapat di tandingi kemampuannya. Tapi persahabatan mereka retak karena mereka mencintai wanita yang sama. Airen. Ketiganya adalah orang-orang hebat dalam bidang ini. Mereka bekerja bersama-sama, dan selalu terus bersama baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Hingga sampai akhirnya Gio menyatakan perasaannya pada Airen. Di saat itulah, Ryuji menghilang. Ia meninggalkan Gio dan Airen agar bisa menjalin hubungan tanpa dirinya. Karena Ryuji juga sudah lama menaruh hati pada gadis itu.
__ADS_1
Ada terbesit perasaan bersalah di hati Gio, saat mengetahui kalau Ryuji pergi akibat hubungannya dengan Airen. Tapi, Airen terus menguatkan Gio, kalau cinta tidak dapat dipaksakan. Sekali pun Ryuji ada di sini, Airen tetap akan memilih Gio. Karena Airen hanya mencintai Gio, dan Ryuji hanya dianggap sahabat olehnya.
Gio akhirnya menikah dengan Airen, mereka hidup bersama sebagai pasangan yang paling berbahagia. Ini adalah salah satu pencapaian terbaik dalam hidup Gio. Ia mulai meninggalkan dunia gelap itu, mencari pekerjaan yang jauh lebih baik, dan memulai semua dari awal bersama Airen. Airen dan Gio dulu bekerja menjadi mata-mata. Mereka bahkan sering terlibat berbagai kasus gelap yang menentang negaranya. Semua demi uang, dan akhirnya mereka ingin menjadi warga negara yang baik. Gio bekerja di salah satu perusahaan saham, dan Airen membuka butik pakaian wanita.
Tapi masa lalu tidak bisa mereka kubur secepat itu. Beberapa musuh mereka dulu, kini mulai membalas dendam. Mencari satu persatu orang-orang yang telah merugikan mereka dulu, dan tentu Gio dan Airen menjadi salah satu target mereka. Teror terjadi saat Gio menerima surat peringatan. Sebuket bunga ia terima dari orang tanpa nama. Tapi ada sepucuk surat di dalamnya. Bunga mawar hitam itu seolah peringatan awal. Karena beberapa menit setelah Gio menerimanya, ia melihat beberapa orang menyusup ke dalam kantornya. Lalu tembakan beruntun mereka lepaskan ke ruangan Gio. Gio berhasil menghindar, tapi beberapa teman kerjanya meninggal dunia. Gio terus dikejar, dan dengan susah payah pergi dari kantor itu. Satu tempat yang harus ia datangi adalah butik milik Airen. Karena pesan yang tertulis di sana, menunjukkan kalau bukan hanya dirinya yang akan dibunuh. Tapi Airen juga. "Saatnya hari pembalasan untuk kalian." Pesan yang ditulis dengan tinta merah itu bagai pesan terkutuk. Mereka salah karena berurusan dengan orang mengerikan seperti Sargam. Salah satu orang yang pernah dirugikan oleh Gio. Sargam dan Victor bermusuhan, sementara Gio bekerja untuk Victor. Dan kini Sargam akan menuntut balas pada mereka semua.
Malam sebelumnya, Gio mendapat berita kalau Victor tewas terbunuh di rumahnya sendiri. Gio tidak menyangka kalau dirinya juga menjadi target Sargam. Gio segera pergi menemui Airen. Ia mengendarai mobil dengan cepat kilat, semua lampu merah ia terobos begitu saja. Ia tidak memikirkan nyawanya sendiri, tapi nyawa Airen. Apalagi Airen tengah mengandung. Sampai di bahu jalan dekat butik Airen, ia melihat dari kejauhan, seseorang mengantar buket bunga mawar hitam pada Airen. "Tidak!" jerit Gio, berlari ke tempat itu. Namun, tiba-tiba tempat itu meledak. Buket bunga yang dipegang Airen meledak dan membuat tubuh wanita itu hancur. Gio berhenti, tubuhnya lemas saat melihat kobaran api di tempat itu. Ia tidak mampu lagi berbuat apa pun. Bahkan saat ia melihat sebuah titik merah kini ada di dada nya, ia tidak menghindar lagi. Gio menatap ke sebuah gedung tingkat yang ada di seberang jalan. Ada seseorang di lantai atas dengan senapan di tangannya. Penambak runduk. Gio pasrah jika harus mati saat itu juga. Ia memejamkan mata seolah menerima kematiannya sendiri. Tapi setelah ditunggu lama, titik merah itu malah hilang. Gio yang penasaran kenapa belum juga mati, lantas mencari penembak runduk yang ia lihat tadi. Ia hilang. Dan salam hitungan menit, seseorang jatuh dari lantai atas gedung itu. Hancur menghantam trotoar jalan di seberang. Semua orang menjerit. Dalam hitungan menit ada dua kejadian mengerikan di jalan itu. Abi mengedarkan pandangan ke segala arah, dan ia menemukan seseorang di gedung lain. Gio menatapnya sendu. Karena ia tau siapa orang itu. Ia sangat yakin kalau itu adalah Ryuji.
Itu adalah kali terakhir dirinya melihat Ryuji. Dan ini pertama kalinya ia mendengar lagi nama Ryuji.
"Di mana dia sekarang?" tanya Gio dengan suara pelan.
"Dia meninggal 5 tahun lalu. Yah, kau tau kalau pekerjaan ini rawan musuh? Ryuji adalah partner terbaik yang gue punya. Dia juga sering menyebut nama lu. Oh iya, gue inget dia pernah bilang gini," Zikal menceritakan hal ini sambil mengingat wajah Ryuji dan suaranya.
"*Kal, gue juga pernah punya sahabat, sahabat terbaik yang gue punya. Gue nggak marah saat dia menikah sama wanita yang gue cintai juga. Gue nggak menyesal sama sekali, tapi satu yang gue sesali. Seharusnya gue nggak pergi waktu itu. Seharusnya gue terus ada di dekat mereka."
"Wajar, Ji, kalau elu pergi. Kalau gue jadi elu pun, gue nggak akan tahan perempuan yang gue cintai nikah sama sahabat gue sendiri."
"Bukan gitu konsepnya, Kal. Karena gue pergi, itu artinya gue egois. Gue seharusnya bisa menerima kenyataan kalau Airen mencintai Gio, bukan gue. Dan sikap gue yang nggak dewasa itu, benar-benar cuma mementingkan perasaan gue saja, karena cinta nggak bisa dipaksakan, gue harus dapat cinta Airen juga. Padahal seharusnya asal bisa lihat Airen bahagia, itu cukup buat gue. Itulah cinta yang sesungguhnya*."
Mendengar hal itu dari Zikal, Gio kembali lemas. Ia merasa kehilangan dua orang sahabat sekaligus dalam satu hari ini. Adi dan Ryuji. "Ryuji menyesal karena ninggalin elu. Seharusnya dia terus ada di samping kalian, itu katanya." Gio diam. hatinya kembali berkecamuk.
"Paman ...," panggil Abimanyu sambil menepuk bahu Gio. Gio menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Jangan sampai Ryuji dan paman Adi menyesal karena udah meninggalkan paman Gio di sini. Paman harus meneruskan perjuangan mereka. Buat mereka bangga karena telah menjadi sahabat paman Gio selama ini." Nasehat Abimanyu membuat kepala Gio mengangguk. Ia tau, kalau bukan saatnya untuk Gio meratapi nasibnya, ditinggal semua orang yang ia kasihi selama ini. Gio harus meneruskan perjuangannya. Setidaknya da orang-orang yang harus ia lindungi lagi. Abimanyu dan Vin.
"Oke. Saatnya bekerja," kata Gio, menyapu sudut matanya dengan lengan bajunya. Abimanyu melihat getir ke arah Gio. Ia tidak menyangka dibalik sikap seenaknya orang itu, dibalik sikap menyebalkan dan sombong yang Gio tunjukkan, ada masa lalu menyedihkan di dalamnya. Abimanyu bangga, dan beruntung karena mendapat kesempatan dekat dengan orang-orang hebat itu. Walau ia tidak bisa mendapat kasih sayang dari orang tuanya, tapi kehadiran Gio dan Adi benar-benar bagai orang tua angkat baginya. Adi yang mirip seperti Nayla, selalu menjaga Abi dan memperhatikan semua asupan yang ia makan selama ini. Dan Gio yang selalu menjaga Abi dari berbagai hal buruk yang mendekat padanya. Mereka adalah orang terbaik yang ia miliki di dunia ini. Arya, Nayla, Gio dan Adi.
"Vin, lu bisa pakai komputer itu. Bantu gue. Kita harus cari di mana keberadaan Ellea sama cewekmu!" kata Gio berusaha bersikap biasa saja. Vin menurut dan mulai mencari apa yang Gio suruh.
Zikal dan Abimanyu hanya memandang dua orang itu yang seolah sedang berlomba mengetik keyboard. Vin juga memiliki kemampuan mencari informasi, karena background pekerjaannya yang memang tidak sembarangan.
"Nicholas udah di bandara. Dia bawa sekitar 10 orang," kata Vin sambil menampilkan wajah Nicholas yang sedang berjalan dengan orang-orang yang menjaganya di sekitar.
"Tapi rumahnya tetap dijaga ketat. Dia tau kalau elu bakal masuk ke rumahnya buat ambil Ellea sama Allea, Bi," jelas Gio yang kini melihat sebuah rumah besar milik Nicholas, "Tapi ... aneh."
"Aneh apanya, paman?"
"Gue ngerasa Ellea sama Allea nggak disekap di sana. Gue yakin."
"Nicholas punya beberapa rumah singgah dan vila. Kalau dilihat dari waktu dia menculik mereka, gue yakin dia bawa Ellea sama Ellea di vila yang ada di kota ini saja. Berarti Ellea sama Allea ada di sini!' kata Vin menunjuk sebuah koordinat yang ada tak jauh dari rumah NIcholas.
"Lu yakin, Vin?"
"Gue yakin, Bi. Biar gue cek tempat itu, ya."
Layar monitor menunjukkan sebuah tempat dengan beberapa orang penjaga di luar dan di dalamnya. Tempat itu ada di pinggir kota dan cukup jauh dari pemukiman penduduk. Nicholas sering datang ke tempat itu kalau dia sedang cuti. Dan tempat itu menjadi salah satu tempat pertemuannya dengan beberapa kliennya. Tentu salah satu tempat kartel itu berkumpul jika sedang bertemu di Indonesia.
__ADS_1
"Bi! Lihat!" kata Vin yang berhasil menangkap wajah Ellea dan Allea, "Mereka beneran di sana!" kata Vin, menoleh dan menatap reaksi Abimanyu.
"Oke, gue ke sana!"