pancasona

pancasona
38 buhul sihir


__ADS_3

"Kamu harus mengembalikan bunga itu!" ancam Retno dengan suara yang berubah seperti laki laki.


Leni tampak terkejut. Dia mundur-mundur perlahan menjauhi ibunya. Perkataan Retno barusan langsung membuat Leni teringat tentang bunga unik yang dia ambil di hutan Kalimantan tempo hari.


Anggrek hitam adalah salah satu jenis tanaman anggrek yang langka dan cukup jarang untuk ditemui. Tanaman anggrek juga sangat unik karena umumnya tanaman tersebut bisa ditemui tumbuh subur pada dahan dari tanaman lainnya.


Kelebihan dari tanaman anggrek adalah kemampuannya untuk tahan terhadap panas matahari. Anda bisa menanam tanaman jenis ini dengan mudah di halaman rumah tanpa harus takut akan rusak terkena panas matahari yang terik. Anda juga bisa meletakkan tanaman ini pada tempat yang teduh di rumah tanpa harus khawatir daunnya akan menjadi layu dan tidak tumbuh dengan baik.


Tanaman anggrek hitam yang berasal dari Kalimantan memiliki corak kelopak bunga berwarna hijau, namun memiliki putik yang berwarna hitam. Tidak hanya itu saja, anggrek ini juga biasa hidup dan tumbuh pada pepohonan tua yang berada pada sekitar pantai atau rawa-rawa. Aroma dari anggrek yang berasal dari Kalimantan ini hampir sama dengan tanaman anggrek pada umumnya. Itulah yang membuat anggrek jenis ini menjadi langka karena keunikannya.


Leni yang memahami tentang tanaman menjadi tertarik untuk memiliki bunga anggrek hitam tersebut. Bahkan dia sudah berniat dari awal untuk mencari bunga anggrek hitam di Kalimantan. Ternyata dia memang benar benar menemukannya. Tapi kini hal itu justru menjadi bumerang baginya. Dia tidak menyangka kalau diikuti oleh Makhluk halus yang tinggal di hutan tersebut. Leni tidak menyangka kalau teror yang ia alami di hutan berlanjut begitu dia sampai di rumah.


Tubuh Leni yang membeku, hanya mampu mengedipkan kedua bola matanya. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk segera pergi dari tempat tersebut. Bahkan Leni tidak bisa berpaling terus menatap sosok wanita yang sangat mirip dengan ibunya. Retno beranjak dari tempat duduk. Dia berjalan menghampiri Leni dengan gerakan yang lambat. Hanya saja apa yang dilakukannya justru membuat Leni menjadi makin panik dan ketakutan. Dia bahkan tidak bisa menjerit untuk meminta pertolongan. Sekuat apapun Leni berusaha untuk menggerakkan anggota tubuhnya, dia tetap tidak bisa bergerak. Airmata Leni pun akhirnya jatuh. Apalagi saat Retno berada sangat dekat dengan tubuhnya. Tangan Retno menjulur sampai ke leher Leni. Wanita paruh baya itu mencekik putrinya. Leni tidak bisa berbuat apapun tubuhnya masih kaku namun perlahan Leni diangkat lebih tinggi dari posisi awalnya. Beberapa detik berlalu membuat tubuh Leni makin melemas. Dia pun pasrah jika memang menjemput ajal malam ini. Namun tiba-tiba pintu depan terbuka. Seseorang menjerit.


"Bu! astaga!" pekik Ayah Leni yang terkejut mendapati istrinya sedang mencekik putrinya sendiri.


Edi langsung berlari mendekat. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Retno dari leher Leni. Hingga akhirnya suara gaduh dari rumah mereka Terdengar sampai keluar dan membuat beberapa tetangga dekat bondong masuk ke rumah mereka. Semua orang yang melihat hal tersebut akhirnya turun tangan dan membantu. Apalagi melihat cengkraman tangan Retno yang begitu erat pada leher Leni.


Setelah dibantu oleh hampir 5 orang pria dewasa akhirnya Leni berhasil terlepas dari cekikan ibunya sendiri.


Lenin batuk-batuk sambil memegangi lehernya. Tubuhnya seketika mampu digerakkan. Dia dipeluk oleh Wati, tantenya. Wati berusaha menenangkan Leni dan menyuruh putranya, Bayu untuk mengambilkan air. Di sisi lain Retno meronta saat dipegangi oleh orang-orang. Rupanya sosok yang hampir membunuh Leni adalah Retno ibunya sendiri. Tapi melihat apa yang terjadi pada Retno membuat orang-orang berpikir kalo Retno sedang kesurupan.


" Bayu, cepat kau ke rumah Pak Kyai suruh dia ke sini!" suruh Edi panik. Bayu yang melihat hal tersebut hanya mengangguk cepat dia lantas segera berlari meninggalkan rumah menuju ke rumah Pak Kyai. Leni mulai tenang tapi tidak dengan Retno. Retno bahkan sampai diikat di sebuah kursi agar tidak melukai orang lain. Semua itu dilakukan untuk kebaikan bersama. Karena Retno yang sekarang adalah bukan Retno yang sebenarnya. Retno tidak pernah berlaku brutal seperti apa yang terjadi sekarang. Dia adalah sosok ibu yang lemah lembut dan penyabar. Mereka yakin kalau karena memang sedang kesurupan. Jalan satu-satunya hanyalah upacara pengusiran setan yang biasa dilakukan oleh Kyai setempat.


Tak lama kemudian Bayu datang kembali bersama dengan beberapa orang. Salah satunya adalah kiai yang memang terkenal bisa menyembuhkan orang-orang yang sedang kesurupan di desa tersebut. Pak Kyai segera mendekat tanpa diberikan aba-aba apapun, dia langsung melantunkan doa-doa seperti biasanya. Retno awalnya menjerit bahkan memekik dengan suara yang memilukan. Dia terus melotot menatap Leni yang sedang duduk agak jauh darinya.


" kembalikan!" kata Retno sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah Leni. Leni sadar apa yang diinginkan oleh sosok yang berada di dalam tubuh ibunya. Hanya saja dia bingung apa yang harus dilakukan sekarang.


Untungnya Kyai tersebut mampu mengeluarkan setan yang berada di dalam tubuh Retno. Kini Retno pingsan tak sadarkan diri. Ikatan ditubuhnya segera dilepaskan setelah diberi aba-aba oleh Kyai.


"Sudah lepaskan saja. Dia tidak akan mengamuk lagi seperti tadi," kata Pak Kyai kepada orang-orang tersebut.


Edi segera melepaskan ikatan tersebut Lalu membawa Retno berbaring di sofa.


Para wanita yang ikut datang ke rumah Leni memang masih keluarga dekat. Mereka pun membantu Retno dan berusaha menyadarkan wanita itu dengan memberikan minyak angin di hidung dan keningnya. Pak Kyai lantas menatap kearah Leni sambil tersenyum.


"Apa yang sudah kamu ambil, Nduk?" tanya Kyai tersebut yang memang mengerti alasan mengapa setan tersebut merasuki tubuh Retno.


Leni tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia tengok-tengok menatap saudara-saudaranya yang berada di sekitar. Leni lantas kembali menatap Kyai yang berdiri di hadapannya.


" Saya hanya mengambil bunga anggrek, Pak Kyai. Saya pikir itu tidak masalah karena bunga itu sangat indah jadi saya membawanya dari Kalimantan kemarin," jelas Leni nada bicara yang Pelan sekali.


" Oh jadi begitu. Tapi Anggrek itu ada yang memiliki. Bahkan jika dilihat dari mata batin, bunga itu bukan hanya sembarangan bunga. Tapi sebuah istana gaib. Jadi kamu harus mengembalikan bunga itu ke tempatnya."


Penjelasan Kyai tersebut membuat Leni kembali lemas. Dia tidak menyangka kalau dirinya harus kembali lagi ke hutan tersebut. Hanya karena kesalahan bodoh mengambil bunga anggrek hitam yang baginya sangat indah.


Hal yang bersifat ghaib memang tidak masuk di akal dan logika manusia pada umumnya. Bahkan sebuah bunga anggrek hitam yang ukurannya tidaklah seberapa jadi istana bagi Dunia Ghaib. Jadi benda tersebut memang sangat penting. Menurut penuturan Pak Kyai jika sampai Leni tidak mengembalikan benda tersebut, maka Leni dan keluarganya akan terus diteror seperti tadi. Tentunya Leni tidak mau. Hanya saja membayangkan kembali ke hutan tersebut membuat nyalinya juga ciut.


Leni pun bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang jelas dia memang harus kembali ke Kalimantan untuk membawa bunga anggrek tersebut kembali ke tempatnya. Dan hal itu tidak mungkin dia lakukan sendiri. Dia pun terpaksa menghubungi teman-temannya yang kemarin ikut dalam kegiatan tersebut. Leni berharap kalau teman-teman yang mau menemaninya kembali ke sana, walau kecil kemungkinan mereka bersedia untuk kembali lagi ke hutan mengerikan itu.

__ADS_1


                                 ***


"Hah! Yang bener aja kamu, Len! Kita disuruh balik lagi ke sana? Gila sih gua nggak bisa bayangin. Padahal kita susah payah keluar dari tempat itu lu mengajak kita balik lagi ke sana? Pikir dong Pakai otak!" omel Fauzan pertama kali menyetujui rencana tersebut. Dia bahkan meninggalkan teman-temannya tanpa menoleh sedikitpun.


Bibir Leni bergetar, dia pun meneteskan air mata karena membayangkan harus pergi ke tempat tersebut seorang diri tanpa teman-temannya. Leni menunduk dia tahu kalau permintaan bodohnya itu tidak akan mudah untuk dituruti oleh teman-temannya. Tentu saja mereka akan menolak hal itu. Kembali ke hutan mengerikan karena hal bodoh yang dilakukannya seorang diri. Sudah konsekuensinya Leni harus mengembalikan bunga anggrek hitam itu ke sana tanpa didampingi teman-temannya yang lain.


Rea lantas mendekat. Dia langsung memeluk Leni sambil mengelus punggungnya. " sudah, Jangan sedih. Aku temani kamu ke sana ya," ucap Rea dan berhasil membuat Leni menatapnya dengan bahagia.


"Bener, Re?" tanya Leni seolah tidak percaya.


Rea mengangguk cepat sambil tersenyum pada temannya itu. Hal itu membuat Leni menjadi lebih bersemangat. Dia kembali memeluk Rea sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.


" kita juga ikut kok, Len," kata Diah.


Leni menoleh kepada Diah dan juga teman-temannya yang lain, yang saat ini sedang menatapnya sambil mengangguk pelan. Isyarat tersebut memperjelas kalau mereka semua bersedia menemani Leni kembali ke hutan Kalimantan. Kembali ke tempat menyeramkan memang bukan pilihan yang baik Tapi demi solidaritas sesama teman akhirnya bersedia menemani Leni Kembali ke tempat tersebut. Bagaimanapun juga kejadian yang menimpa Leni pasti sangat berat, mereka memposisikan diri mereka ada di posisi Leni sekarang. Pasti merekapun akan ketakutan dan bingung jika harus kembali ke hutan tersebut seorang diri.


Setelah meminta izin kepada orang tua masing-masing Mereka pun bersiap untuk berangkat ke bandara. Membawa beberapa perlengkapan untuk mengantisipasi saat mereka tiba di hutan Kalimantan. Dia membawa sleeping bag, tenda, tas Keril yang berisi perlengkapan pribadi nya. Tak lupa dia juga membawa beberapa bekal makanan untuk dirinya juga teman-temannya nanti.


Edi sudah menyiapkan mobil di depan rumah. Ya dan Retno memang berniat untuk mengantarkan Leni sampai ke bandara. Karena mereka berdua tidak bisa menemani Putri Mereka pergi ke Kalimantan. Leni sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil sementara kedua orang tuanya masih berada di dalam rumah karena masih mempersiapkan diri.


"Astaga! Tikar!" ucap Leni yang melupakan satu Bunda dan dia pun harus kembali ke dalam rumah untuk mengambilnya.


Setelah mengambil tikar yang memang tidak terlalu besar dan ringan, Leni kembali ke bagian belakang bagasi mobilnya. Namun dia sedikit terkejut saat mendapati Bayu berada di sana. Bukan karena ada Bayu disana yang membuat Leni heran dan bingung, tapi karena reaksi Bayu yang terlihat gelagapan begitu melihat Leni yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya.


"Loh, Bay, Kamu ngapain disini?" tanya Leni yang memang bingung melihat ada Bayu di dekat mobilnya seperti sedang melihat-lihat ke dalamnya.


" eh Mbak Leni, eng-enggak kok. Aku cuman ini mau lihat-lihat aja. Mmmn... Mbak Leni mau berangkat sekarang?" tanya Bayu dengan kalimat yang terbata-bata.


" Iya aku pergi hari ini. Titip bapak sama ibu ya."


"Oh siap."


Kedua orang tua ini pun sudah bersiap dan kini Retno sedang Mengunci pintu rumahnya. Mereka pun berangkat menuju bandara.


Saat dalam perjalanan menuju bandara, Leni mendapatkan pesan singkat dari Rea. Dia meminta bantuan untuk bisa menjemputnya ke rumah. Karena ayahnya juga akan segera pergi ke kantor dan tidak bisa mengantarnya lebih dulu ke bandara.


Hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai ke rumah Rea. Kini mobil sudah masuk halaman rumah Rea. Di teras Ria sudah siap dengan tas carrier di punggungnya. Bawaannya kali ini tidak terlalu banyak. Di sampingnya sudah ada Habibie yang juga akan pergi ke kantor tapi ingin lebih dulu melepas kepergian putrinya. Sekalipun Rea sudah pernah tersesat di Hutan itu, tak lantas membuat Habibie melara#ngnya untuk kembali ke hutan Kalimantan mengabaikan Leni yang sedang kesusahan.


Habibie sudah memberikan pagar dalam diri Rea agar tidak lagi diganggu makhluk halus manapun. Sejak Habibie melakukan astral projection, Dan melawan Jakhar di hutan Kalimantan itu, Habibie pun berhasil membuat setan-setan yang berada di hutan Kalimantan tidak akan berani lagi menyentuh dirinya serta keturunannya. Apalagi dengan sebuah tasbih yang diberikan untuk Rea yang kini berada di lehernya, membuat Habibi tidak perlu terlalu risau pada putrinya, dan kini justru melepas Rea dengan tanpa beban.


Leni yang duduk di kursi belakang keluar untuk menemui Habibi sebentar. Sementara Retno hanya membuka jendela sampingnya guna menyapa ayah Rea. Keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama. Karena mereka sempat tinggal berdekatan, sampai Rea akhirnya pindah ke rumahnya yang sekarang.


"Saya nitip Rea, Bu Edi. Maaf merepotkan," kata Habibi sungkan.


"Nggak apa apa kok, Ayah Rea. Biar sekalian saja. Jadi Leni ada teman."


"Terima kasih banyak."


Leni lantas mendekat ke Rea dan# mengantarnya pergi ke bagasi belakang mobil untuk meletakkan tas Keril nya. Namun kedua Gadis itu sempat heran saat menemukan sebuah telur yang menggelinding dari mobil dan sampai di dekat pintu bagasi. Leni mengambil telur tersebut dan memeriksanya. Dia bingung dengan penemuan telur yang tidak biasa berada di dalam mobilnya.

__ADS_1


" Bu, apa ibu habis beli telur? Ketinggalan satu di belakang nih!" jerit Leni.


Hal ini membuat Retno yang sedang mengobrol dengan Habibi menjadi bingung. "Telur? Memangnya ada telur di mana, Len?" tanya sang ibu.


Leni menunjukkan telur tersebut ke atas. Dan benda tersebut berhasil dilihat oleh Habibi, Retno, dan Edi yang berada di depan mobil. Edi hanya melirik dari spion tengah, sementara Habibi dan Retno segera menoleh ke belakang.


"Perasaan ibu nggak beli telur sejak kemarin," gumam Retno dan berniat untuk turun melihat penemuan telur tersebut.


Habibi yang tampak penasaran mengikuti Retno ke bagasi belakang mobil.


"Mentah kayaknya, Len," ujar Rea yang sedang berdiskusi dengan Leni.


"Iya, mentah nih." Leni masih memperhatikan benda yang saat ini berada di tangan nya.


" coba Ibu lihat," pinta Retno mengulurkan tangan, dan Leni pun memberikan telur yang ada di tangannya kepada ibunya. " telur siapa ya? Perasaan ibu Minggu ini belum beli telur sama sekali. Karena ayam kita kan juga menetas telurnya. Terus juga karena kamu jarang makan telur katanya alergi atau jerawatan udah enggak beli telur lagi."


"Atau mungkin telur yang sebelumnya pernah ambil, Ibu, ketinggalan satu di mobil," ujar Rea memberikan tanggapan lain.


"Masa sih?" Retno masih bingung dan tak habis pikir dengan temuan telur di mobilnya.


Masih dalam kondisi bimbang, Habibi justru terlihat paling gelisah saat menatap telur tersebut.


"Boleh saya pinjam, Bu?" tanya Habibi meminta izin lebih dulu.


Tentu saja Retno segera memberikan telur tersebut pada ayah Rea. Habibi lantas memperhatikan benda di tangannya itu dengan seksama.


"Kenapa, Ayah?" tanya putrinya yang mencurigai reaksi dari Habibi yang tidak biasa.


"Eum, sepertinya ini bukan telur biasa," kata Habibi yang akhirnya menarik sebuah kesimpulan.


"Hah? Bukan telur biasa? Maksud ayah?" Rea terlihat paling penasaran pada maksud perkataan ayahnya.


"Iya, ini telur kiriman."


"Maksudnya?" Retno tampak terkejut dan bingung dengan penjelasan Habibi yang hanya sepotong potong.


"Maksudnya begini ... Telur ini adalah media perantara sihir seseorang yang ingin mencelakakan kalian." Ucapan Habibi tentu membuat mereka semua terkejut. Keluarga Leni tidak tahu siapa orang yang bisa setega itu ingin berbuat buruk pada keluarga mereka.


" Memangnya Bagaimana caranya telur itu bisa menjadi media sihir, ayah?" tanya Rea pada ayahnya.


" media sihir seseorang bermacam-macam jenisnya salah satunya bisa menggunakan telur ini. Kalau telur ini dijadikan media sihir cara kerjanya yaitu telur ini di letakan di mobil seperti apa yang terjadi barusan, untungnya telur ini masih aman dan belum pecah ya, Bu Edi. Karena jika sampai telur ini pecah saat dalam perjalanan, maka keluarga ibu dalam bahaya. Bahkan tak jarang akan mengakibatkan kecelakaan hingga meninggal dunia."


"Astaga! Seram sekali, Ayah!" pekik Rea, lalu menatap Leni dan ibunya.


Merasa obrolan di belakang mobilnya menjadi serius, Edi turun dari mobil dan menemui mereka. " loh Ada apa ini?" tanya Edi menatap mereka semua bergantian.


"Ini, Pak. Ada telur di mobil kita. Kalau kata Ayah Rea, ini media perantara sihir. Ternyata ada orang yang berniat jahat sama keluarga kita, Pak. Ya Allah. Siapa sih yang tega seperti itu," kata Retno dengan mata berkaca kaca. Dia terkejut jika ternyata nyawa mereka sedang dalam bahaya.


Edi diam sejenak. Walau dia termasuk tipe manusia yang tidak mudah percaya dengan sesuatu yang bersifat mistis, tapi jika itu keluar dari mulut Habibi, maka itu lain cerita.

__ADS_1


"Tapi ... sepertinya itu memang benar, Bu. Karena beberapa malam terakhir ini, bapak sering mendengar suara aneh, terutama saat tengah malam," ucap Edi yang membuat semua orang menjadi penasaran.


__ADS_2