pancasona

pancasona
Part 96 Mayat


__ADS_3

"Jadi siapa kamu sebenarnya? Aku yakin kamu bukan seorang guru, iya, kan?" tanya Abimanyu yang kini lebih mirip polisi yang menginterogasi penjahat di depannya, yang tidak lain adalah Nabila. Gio dan Adi bahkan belum sepenuhnya sadar, masih menguap, dengan wajah kusut. Khas orang baru bangun tidur. Mereka terbangun karena suara gaduh di rumah, ternyata Abimanyu yang tengah menyeret Nabila masuk ke dalam kediaman mereka. Nabila mendengus. Ia berusaha menghindari tatapan tajam Abimanyu yang duduk di depannya. "Jawab!"


"Astaga! Bisa nggak sih, pelan dikit. Lu pikir gue budeg?!" tukas Nabila, sebal.


"Sudah, jawab aja napa sih, Bil?!" tambah Gio, penasaran.


"Sekalipun gue bilang, kalian nggak akan percaya."


"Kalau elu nggak bilang, kita bakal laporin lu ke Pak Andrew besok. Sudah pasti dia bakal punya cara biar elu ngaku," ancam Adi. Nabila tidak bisa berkutik. Ia sudah terpojok sehingga mau tidak mau, percaya tidak percaya maka ia harus mengungkap identitasnya.


"Oke. Gue ... anggota BIN."


Mereka bertiga menatap Nabila datar, dan kemudian ... "Pfftt. Hahahaha!" tawa kencang Adi dan Gio memenuhi seisi rumah. Sementara Abimanyu hanya menarik sebelah bibirnya. Dari reaksi mereka sangat jelas terlihat kalau mereka tidak percaya atas perkataan Nabila barusan.


"Kan kalian nggak percaya?! Ini ..." Nabila mengambil kartu identitas yang selalu ia simpan di saku jaketnya. Nabila melemparkannya ke depan tiga pria yang masih berusaha berhenti tertawa. Abimanyu meraih kartu yang terdapat foto wajah Nabila. Ia menatap kartu identitas itu lalu bergantian ke Nabila. "Di bagian belakang itu ada hologram divisi gue. Cek saja. Atau lu, Gio, pasti banyak punya teman di kepolisian, kan? Elu bisa tanya."


Adi dan Gio lantas berhenti tertawa sepenuhnya. "Ngapain gue nanya ke sana. Elu pikir gue nggak bisa cek sendiri?!" tanya Gio seolah merasa diremehkan. Ia lalu membuka laptop yang ada di meja nakas.


"Mau apa, lu?" tanya Adi. Gio tak menjawab, namun jemarinya lincah mengetik kode kode dan sandi rahasia yang hanya ia saja yang tau. Tangannya masih terampil, sama seperti dulu. Dia selama ini hanya berlagak tidak bisa apa apa, tapi sebenarnya dia seorang hacker berpengalaman. "Wuih, Gio is come back!" kata Adi, menepuk bahu sahabatnya, bangga.


Dilayar monitor kini terpampang jelas semua data pribadi Nabila. Dan temuan itu memang menyebutkan kalau gadis di depan mereka itu benar-benar seorang intelijen. "Waw. Nabila Haryono anggota DARA?!"


"DARA itu apaan, Gi?"


"Sentral komunikasi intelijen. Salah satu bagian BIN. Tapi di luar struktur BIA sama BIAS. Unit komunikasi khusus begitu deh."


"BIA sama BIAS apaan, Gi?"


"Jadi itu tu semacam ...." Gio menatap Adi beberapa saat lalu memukul kepala Adi hingga berbunyi 'PLAK'. Adi mengumpat sebal. "Udah nggak perlu dijelasin dah. Pokoknya bener dia anggota BIN."


"Oh bener?"


"Lalu tujuan kamu datang ke desa ini apa?" tanya Abimanyu datar.


"Ya jelas nangkep pembunuh itu lah. Kalian pikir apa lagi?"


"Bukannya ada Pak Andrew?"


"Mereka cuma bagian depan kasus ini. Ibaratnya gue ini yang harus rela mati di belakang, mereka mah enak," gerutu Nabila, menyilangkan kedua tangan di depan, dengan kaki kanan menompang di kaki kirinya. Pekerjaan Nabila yang merupakan agen rahasia memang adalah bagian tersulit. Ia adalah orang pertama yang harus menghadang lawan, dan lebih dahulu tau keberadaan lawan. Alias selangkah lebih ada di depan, timbang polisi lainnya.


"Terus, apa yang elu tau, dan kita belum tau."


Nabila menatap Abimanyu datar. Ia jengah karena segala macam pertanyaan basa basi seperti ini. Waktunya seolah terbuang percuma hanya untuk meladeni mereka.


"Oke. Oke. Biar gue jelasin di sini. Jadi kasus ini bukan yang pertama."

__ADS_1


"Iya. Kita tau. Kan 7 tahun lalu sudah kejadian?"


"Bukan itu ****! Itu cuma permulaan kasus ini dimulai lagi. Justru kasus seperti ini udah ada sejak 20 tahun lalu. Motif, cara, metode, semua sama. Cara mereka dibunuh, dan target yang dipilih, sama. Sesuai abjad nama mereka. Di sini gue sama tim gue bertugas mencari pelakunya."


"20 tahun lalu? Maksudnya? Mereka adalah pelaku yang sama, kah?"


"Eum, entahlah. Tapi gue rasa, bukan. Dia cuma peniru. Peniru pelaku sebelumnya."


"Peniru? Kamu becanda, Bil?"


"Ya enggak lah! Soalnya pembunuh 20 tahun lalu udah dihukum mati sekitar 10 tahun lalu. Dan kasus ini ada sekitar 3 tahun setelahnya. Gue yakin dia cuma meniru."


"Kurang kerjaan banget sih! Niru kok pembunuhan."


"Sebentar. Kalau kasus yang seperti ini udah pernah ada, pasti kamu tau, kan, gimana bongkar pembunuhnya. Jika dia seorang peniru."


"Nggak yakin gue. Soalnya segala tentang kasus itu udah hilang. Dan tim yang bertugas saat itu udah pensiun semua."


"Kita datangi aja satu persatu."


"No. Gue udah pernah nyari mereka dan ternyata mereka semua udah meninggal."


"Oh, shit!"


"Ngomong ngomong, elu nggak ada rencana lain sebagai anggota BIN?" tanya Gio dengan nada menyindir.


"only that? Is there no other way?" tanya Adi.


"Ya cuma itu. Karena dia nggak akan muncul, kecuali mencari korbannya. Dan korban selanjutnya ...."


"Giska Ratna!"


"Gi, cari di mana Giska."


"Dengan senang hati."


Gio kembali mengetik dan menjelajah dunia dari tempatnya duduk. Ia memang sangat mahir dalam hal ini, hanya saja, pekerjaannya ini sudah lama ia tinggalkan. Ia teringat perkataan salah satu sahabatnya. "Gi, berhenti menjadi mata-mata dunia. Kamu harus meneruskan hidup. Hiduplah dengan normal. Sekarang kamu masih bisa menikmati pekerjaan ini, tapi liat aja. Suatu saat nanti, kamu nggak akan bisa hidup tenang. Kehidupanmu akan terus diincar musuh-musuhmu."


Gio bukanlah bujangan sejak lahir. Ia pernah menikah, jauh sebelum bertemu Abimanyu, Adi, dan bahkan Arya. Dia punya kehidupan normal dan sangat normal dulu. Walau menjadi hacker sudah dilakoninya sejak bangku SMU, dan sudah banyak rupiah yang ia dapatkan dari pekerjaan itu, tapi kehidupannya direnggut oleh musuhnya. Benar perkataan sahabatnya dulu, Wisnu, kalau Gio memang harus meninggalkan pekerjaan itu. Kenangan istrinya, dan buah hatinya yang masih dalam kandungan, Caroline, terus membekas di ingatan Gio. Bagaimana cara mereka mati di depan dirinya. Dan Gio yang tidak bisa berbuat apa apa. Ia kalah.


Sejak saat itu, dia mulai mundur dari hiruk pikuk kehidupan. Mulai mendaki gunung untuk mengusir sepi dan rasa bersalahnya. Berpergian dari negara satu ke negara lain, agar bisa bernafas dengan ringan. Tapi, tiap ia teringat kenangan itu, jangankan untuk bernafas, tiap detak jantungnya pun, seolah sudah hilang sejak dulu. Ia serasa telah mati. Hanya tubuh tanpa jiwa. Yang terus menunggu malaikat pencabut nyawa datang padanya. Menyusul istri tercinta.


"Giska ada di asrama putri. Di luar pulau."


"Waw. Jauh juga," sahut Nabila yang melihat koordinat posisi Giska.

__ADS_1


"Jadi... Kita ke sana?"


"Gue sih, iya. Terserah elu pada. Eum, anyway, gue harus balik. Jangan sampai Ayashi sama Sintia curiga kalau gue nggak pulang lagi."


"Hei, jam berapa ini, wahai wanita siluman?!" hardik Adi sambil menatap jam dinding yang menempel di atas koridor pintu dapur.


"Kenapa? Gue bisa pulang sendiri."


"Inget! Tu penjahat masih berkeliaran. Kita belum bisa mastiin kalau dia udah mati. Sebelum kita nemuin mayatnya. Jadi sebelum hal itu terjadi, elu juga harus jaga diri."


"Bawel banget sih kalian. Gue udah biasa pergi jam segini. Kalian aja yang nggak tau. Eh tunggu, Bisma?!"


Netra mereka liar, saling menatap satu sama lain. Teringat seseorang yang ditemukan tadi. "Setidaknya dia nggak akan bangun sampai besok. Jadi kita urus aja besok."


"Aku anter pulang." Abimanyu segera mengambil jaket, dan meraih kunci mobil Nabila. Berjalan keluar tanpa peduli sanggahan Nabila.


_____


Abimanyu menyetir dengan perlahan. Jalanan sudah sunyi, bahkan sejak tadi, mereka belum berpapasan dengan pengendara lain. Nabila mulai menguap karena rasa kantuk yang teramat sangat. Ia juga merasa lelah. Gadis itu bahkan lupa kapan terakhir kali ia tidur nyenyak.


"Bil ... sampai." Abimanyu menepuk pipi gadis di sampingnya yang kini tertidur lelap. Rupanya Nabila benar- benar tidur hingga sulit sekali dibangunkan. Sampai-sampai Abi harus menampar-nampar pipi Nabila agak keras. Akhirnya gadis itu mengerang. "Ah, brisik banget sih. Gue ngantuk banget tau," kata Nabila kembali mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Abimanyu menarik nafas panjang lalu turun dari mobil. Pintu rumah dibuka, dan muncul Ayashi.


"Loh, kenapa, Bang?" tanya Ayashi agak bingung.


"Ini teman lu. Ketiduran. Bukain pintunya biar gue bawa ke kamarnya." Abi segera membopong Nabila, dan saking nyenyaknya Nabila sampai- sampai tidak bangun dan malah kedua tangannya melingkar di leher Abi. Abimanyu sedikit kikuk, tapi ia tetap memasang wajah biasa di depan Ayashi.


"Kok Nabila bisa sama elu, Bang?"


"Oh, tadi ketemu di jalan. Terus gue anter pulang. Kasian anak gadis malam malam keluyuran. Takut kenapa-napa." Nabila sudah dibaringkan di ranjangnya. Abi menarik selimut sampai ke leher Nabila. Lalu mengikuti Ayashi keluar. "Elu belum tidur?"


"Abis nonton bola, Bang. Baru mau merem, eh denger suara mobil. Syukurlah Nabila dianteri elu. Gue takut tadi pas dia pergi. Kan desas desus pembunuh itu belum terbongkar."


"Aman kok. Ya sudah, balik dulu, ya. Ini konci mobilnya."


"Eh, bawa dulu saja, Bang. Masa jalan kaki? Kan jauh?"


"Nggak apa apa. Sekalian joging. Lagian mobil itu, kan, buat transportasi kalian kerja. Gue nggak apa-apa. Ya sudah, balik dulu, ya."


"Hati-hati, Bang."


Langkah demi langkah Abimanyu menyusuri jalanan desa yang sangat sunyi. Ini sudah hampir pagi. Ia lebih memilih berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Tapi ia memutuskan berjalan ke arah cafenya. Beberapa kali Abi menoleh ke belakang. Kemudian samping kanan dan kiri yang banyak ditumbuhi semak belukar. Beberapa kali ia menekan tengkuknya. Abi merasakan ada keanehan. Tak lama ia mencium bau harum bunga melati yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Saat netranya menatap lurus ke depan, ia melihat satu sosok. Sosok yang sangat ia kenal. Feliz. Satu hal yang terlintas dibenaknya, kalau Feliz sudah tewas. Tapi, di mana mayatnya?


Sosok itu lantas berbalik badan. Dan entah kenapa Abi justru mengikuti Feliz. Masuk ke dalam hutan yang gelap dengan suara jangkrik dan hewan malam lainnya. Ini adalah kali pertama Abi melakukan hal gila seperti ini. Sampai ia tiba tiba tersandung sesuatu yang awalnya ia pikir akar pohon yang menyembul ke atas. Tapi ponselnya berdering. Gio menelepon dan membuat ponsel Abi terjatuh ke tanah. Di saat yang bersamaan, Abi melotot tajam pada sebuah tangan yang tergeletak begitu saja di tanah. Hanya sebuah tangan saja, tanpa tubuh. Abi beringsut mundur sambil terus menatap ke depan. Ia segera meraih telepon genggamnya dan mengangkat panggilan Gio.


"Paman, ada... ada mayat. Eh, tangan. Potongan tangan!"

__ADS_1


"Hah?!" jerit dua pria di seberang sana.


__ADS_2