pancasona

pancasona
Part 98 Giska dan Asrama


__ADS_3

Cafe Pancasona mulai merekrut pegawai baru, karena kesibukan Abimanyu yang akhir-akhir ini sangat padat, dan akhirnya dua pilar cafe lainnya juga mengikuti jejaknya. Adi dan Gio. Ridwan adalah penanggung jawab cafe sementara waktu sampai tiga orang itu kembali. Semua hal sudah dipasrahkan dan dipercayakan oleh Ridwan.


Pagi ini sudah ada 4 orang karyawan baru yang mulai bekerja di cafe Pancasona. Mahesa, Yudistira, Rama dan Hara. Mereka berempat adalah teman Ridwan dan saling kenal satu sama lain. Mahesa dan Yudistira adalah teman satu sekolah Ridwan. Sementara Rama adalah saudara Emil dan Hara adalah kerabat jauh teman Emil. Mereka semua pengangguran yang ingin memulai bekerja dan mencoba melakukan yang terbaik untuk cafe Pancasona. Semua rajin dan berbakat. Mahesa terkenal cekatan dan supel, ia mudah berbaur dan selalu ramah pada setiap pengunjung. Yudistira terkenal dengan pembuat pancake yang enak, bahkan paling enak yang pernah ada di penjuru desa. Sementara Rama dia selalu punya tenaga kuat untuk membantu Ridwan mengangkat stok bahan makanan dari pengepul. Ia juga sudah mengenal banyak agen bahan makanan yang berkualitas dengan harga murah. Dan, Hara. adalah pembuat kopi terbaik. Sejak Abimanyu sering absen dari cafe, mendadak para pecinta kopi mulai jarang berkunjung karena mereka kurang suka dengan kopi buatan Emil maupun Ridwan. Setelah kedatangan Hara, cafe kembali hidup. Karena kopi yang ia buat hampir sama dengan buatan Abimanyu.


_____


Andrew duduk di samping Andika yang masih fokus menyetir. Perjalanan mereka memakan waktu hampir seharian. Kini mobil sudah sampai dermaga penyebrangan ke kepulauan seribu. Mereka akan datang ke salah satu pulau di sana dan bertemu Giska. Ada sebuah asrama putri di mana Giska tinggal dan menimba ilmu. Sudah hampir 3 tahun lamanya ia ada di pulau itu.


Kaki Andrew sudah menginjak pantai pasir putih di pulau kecil itu. Andika mulai bertanya pada beberapa orang yang ada di sekitar pantai tentang letak asrama putri itu. Pulau ini memang dikelola untuk sebuah sekolah menengah atas, dan salah satu sekolah swasta terbaik di negeri ini. Di sini para siswinya akan digembleng dan mengamati perilaku kehidupan alam di sekitarnya. Mereka nantinya akan menjadi peneliti lingkungan hidup. Karena itu, mereka dikarantina demi kebaikan mereka sendiri.


"Kita jalan saja, Pak. Nggak jauh kok dari pantai," ujar Andika yang sudah mengantongi informasi akurat keberadaan sekolah itu. Di pulau ini memang tidak ada pemukiman penduduk. Hanya sekolah dan asrama tempat Giska menimba ilmu. Beberapa penduduk yang mereka temui tadi hanya singgah di pantai, sebagai nelayan. Memang tempat ini bukan tempat umum, tapi juga tidak melarang orang lain menginjakkan kaki di pulau ini.


Pulau yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah sekolah dengan 50 siswa dan siswinya. Ada dua asrama yang terpisah oleh sekolah. Asrama khusus pria dan Asrama khusus wanita. Para siswa dan siswi di sekolah itu, akan diberi kesempatan pulang ke rumah hanya saat libur semester saja. Yaitu sekitar 6 bulan sekali. Dan itu pun hanya 3 hari saja. Selebihnya mereka akan ada di pulau ini sepanjang waktu.


Bel masuk baru saja berdering. Giska baru saja keluar dari kamar asramanya. Ia berlari cukup cepat karena sudah terlambat. "Gis!" jerit seseorang yang kini ikut menyusulnya. Ia berlari dengan tergopoh-gopoh agar dapat menyamakan langkah Giska. "Ah, buruan, Ngel. Kita telat. Bakal diusir lagi dari kelas nanti."


Giska Ratna dan Angelina Fransiska. Adalah teman satu kamar. Mereka sudah bersahabat sejak awal masuk asrama, hingga sekarang. Memiliki kebiasaan yang sama, yaitu bangun kesiangan dan selalu menjadi agenda rutin harian kalau mereka akan terlambat masuk kelas.


Pintu kelas sudah ditutup. Dua gadis itu benar-benar dalam masalah besar, karena guru pembimbing pagi ini, adalah Pak Eri. Guru terkiller se-antero sekolah.


"Duh, telat kita, Gis!"


"Iya. Mati kita, Nggak bakal bisa masuk, Ngel," gumam Giska menekan kepalanya. Mereka bimbang apakah harus menerobos masuk atau pergi saja. Jika harus pergi, maka mereka akan melewatkan ulangan harian dan pasti nilai mereka akan mendapat D. Yang artinya mereka harus mendapat nilai buruk di rapot nanti. Tapi jika ketauan terlambat itu juga artinya sama. Nilai D.


"Sini. Serahkan sama Angel!" kata gadis berkaca mata itu, bangga. Ia merasa memiliki solusi atas masalah ini. Angel mengetuk pintu, dan suara berat dari dalam kelas menyuruhnya membuka lebar pintu.


"Mau apa kamu terlambat di kelas saya. Bukannya tau konsekuensinya? Silakan keluar saja. Nilai kalian D untuk ulangan kali ini," kata Pak Eri tanpa menatap Angel dan Giska. Angel mendekat dan berbisik cukup lama dengan guru pendamping mereka itu. Lalu akhirnya, Pak Eri membolehkan mereka berdua masuk dan mengikuti kelas seperti yang lain. Giska menatap heran ke Angel, dalam benaknya ia sangat penasaran apa yang sudah dikatakan Angel hingga Pak Eri membolehkan mereka masuk.


Mereka duduk di bangku paling belakang. Tiap meja hanya diduduki 1 orang saja. Giska duduk di depan Angel. Dan, ujian siap dimulai. Mereka selalu kompak. Dalam berbagai situasi dan keadaan. Bahkan banyak yang merasa, kalau Giska dan Angel adalah bersaudara. Padahal mereka tidak ada ikatan darah apa pun.


_____


"Giska? Ada tamu," kata seorang guru yang tiba-tiba masuk ke kelasnya. Giska dan Angel saling tatap, Angel menaikkan alisnya seolah bertanya, "Siapa?" Sementara Giska hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tau. Giska beranjak keluar kelas. Penasaran tamu siapa yang datang menengoknya. Karena orang tua Giska sedang berada di luar kota sampai 2 minggu lagi. Jadi tidak mungkin orang tuanya yang datang.


Sampai di ruang kepala sekolah, Giska melambatkan langkahnya saat melihat kepala sekolah sedang mengobrol dengan 3 orang di sana. "Siapa, ya?" gumam Giska tak mengenal satu pun di antara mereka. Ini kali pertama gadis itu melihat 3 orang di ruangan kepala sekolah. Alih-alih agak ragu untuk melanjutkan masuk atau kembali ke kelasnya, ia justru mematung di sana dan membuat perhatian orang-orang itu tertuju padanya.


"Nah itu Giska," tunjuk Pak Kepala Sekolah, melambaikan tangan pada Giska yang baru datang. Gadis itu mendekat dengan malu-malu. Andrew menatap Giska datar, Jesika langsung menyambut gadis itu dan menuntunnya agar duduk bersamanya. "Kalau begitu saya tinggal dulu, ya. Ada perlu. Silakan kalian ngobrol dulu." Pak Kepala Sekolah pergi dari ruangan dan meninggalkan mereka berempat saja di sana.


"Maaf kalian siapa, ya?" tanya Giska dengan menunduk, kepalanya tak berani menatap tiga orang yang kini terus menatapnya intens.


"Giska, perkenalkan, kami dari kepolisian pusat." Jesika mengawali pembicaraan sebagai sesama wanita agar lawan bicaranya tidak tegang saat mendengar penjelasannya. Mata Giska membulat sempurna dan memundurkan sedikit tubuhnya dari Jesika.


''Polisi? Mau apa?"


"Eum, kami cuma mau ngobrol sama Giska, boleh?" Jesika masih bertanya dengan nada lembut dan kembali memberikan sentuhan fisik berupa usapan dipunggung Giska. Ia ingin Giska tidak panik atau bereaksi mengejutkan.


"Soal?"


"Siska."


Begitu nama Siska disebut, Giska langsung menggeleng cepat. Ia panik dan gugup. "Maaf saya nggak tau apa-apa."

__ADS_1


"Giska. Kamu harus dengar dulu penjelasan kami."


"Teman-teman kamu sudah meninggal. Tinggal tersisa kamu dan Hania saja." Andrew yang tidak sabaran justru langsung melontarkan kalimat yang benar-benar membuat Giska terkejut.


"Kamu tau? Kalau mereka dibunuh?"


"Apa? dibunuh? Siapa?" tanya Giska yang mulai tertarik atau lebih tepatnya ketakutan.


"Apa kamu tau Bisma?" tanya Jesika. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku bajunya, dan memberikan ke Giska.


"Bisma? Siapa, ya?" Giska berusaha mengingat wajah pria dalam foto itu, namun hasilnya dia sama sekali tidak tau bahkan tidak ingat siapa orang yang mereka sebut Bisma itu.


"Yakin? kamu nggak kenal dia?" tanya Andika kembali meyakinkan gadis itu. Giska masih menatap wajah itu dan mengingat segala hal yang mungkin terlewat di ingatannya. Tapi hasilnya, nihil. Ia menggeleng pelan dan memberikan lagi foto itu ke Jesika. Mereka bertiga makin gusar. Karen tidak dapat menemukan informasi apa pun tentang keterlibatan Bisma atas pembunuhan berantai ini. Mereka belum mengerti bahkan sampai detik ini masih dibuat kebingungan, apa hubungan Bisma dengan orang-orang yang dia bunuh. "Apa mungkin kamu pernah dengar nama ini sebagai salah satu teman atau kerabat Siska?"


Kembali Giska menggeleng. "Saya benar benar nggak tau dia siapa? lalu bagaimana teman-teman saya meninggal?"


"Mereka dibunuh. Awalnya Riki membunuh Cindy, lalu Clarinta, kemudian Risna, Eliza dan Feliz, dibunuh oleh Bisma. Semua karena dendam masa lalu atas kejadian yang menimpa Siska." Andrew terus menceritakan kejadian demi kejadian yang beberapa bulan ini menimpa desa Amethys, hingga tiap detil kematian teman-teman Giska.


Giska menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia tidak menyangka kalau teman-temannya bernasib tragis dan kini ia sadar alasan polisi ini datang.


"Jadi maksud kalian datang ke sini, karena saya ... target selanjutnya?"


"Iya."


______


Giska menjadi pendiam sejak dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ia juga menolak ikut Andrew ke kota untuk keselamatan dirinya. Giska yakin kalau orang itu tidak akan bisa sampai ke tempat ini. Ia kembali ke kamarnya, dan melihat Angel sudah berganti pakaian dan sedang membaca sebuah buku. Angel sudah memakai baju tidur kesukaannya. Rambutnya dibiarkan panjang terurai karena masih setengah basah. Cuaca akhir-akhir ini sangat panas, maka dari itu Angel kerap mencuci rambutnya tiap mandi.


"Hei, Gis. Kenapa? Ada masalah?" tanya Angel yang segera menyambut teman sekamarnya. Ia menuntun Giska duduk di ranjangnya sendiri. Menatap netra Giska yang sayu. "Giska. Kalau ada masalah cerita ke aku, ya," bujuk Angel.


"Teman-teman aku semua dibunuh, Ngel. Tinggal aku target selanjutnya. Bagaimana kalau dia nekat ke sini dan benar-benar bunuh aku seperti apa yang ia lakukan ke teman-temanku?" Giska panik. Ia sadar kalau nyawanya ada di ujung tanduk.


"Jangan takut, Giska. Kan ada aku di sini. sudah, ya. Kamu mandi dulu saja, capek, kan?"


Giska menurut dan segera beranjak menuju kamar mandi yang letaknya ada di kamar mereka juga. Karena setiap kamar akan di sediakan 1 kamar mandi dalam. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower. Ingatan Giska tentang kejadian silam, kembali hadir dalam otaknya. Bahkan air yang mengalir ini tak mampu membuatnya tenang. Justru Giska ketakutan. Ia bahkan menangis di bawah guyuran air dingin itu. Menangisi nasib teman-teman semasa kecilnya dulu dan nasibnya sendiri.


Giska membalut tubuhnya dengan piyama handuk dan kepalanya digulung ditutupi handuk kecil yang khusus ia pakai untuk mengeringkan rambut setelah keramas. Angel masih diam di tempatnya. Membaca tumpukan buku yang ada di meja belajarnya. "Udah?" tanya Angel dengan senyum tipis.


"Sudah. Kamu masih saja belajar, Ngel?" tanya Giska kemudian duduk di ranjangnya, sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Kan seminggu ini kita ulangan terus, Gis. Kamu ini bagaimana sih?"


"Iya deh. Dasar anak rajin." Netra Giska kini menatap ke meja belajarnya yang tidak kosong. Ada sebuah kotak yang menarik perhatiannya. Seingatnya Giska tidak melihat kotak itu tadi saat masuk kamar. "Itu apa?"


Angel yang mengerti pertanyaan itu ditujukan pada benda di sampingnya, lantas smeraih kotak yang sudah dibungkus kertas kado dan pita merah. "Oh iya, tadi ada yang ketuk pintu terus pas aku buka ada ini. Tuh ada namanya buat kamu," tunjuk Angel pada sebuah secarik kertas putih kecil yang menempel di samping kotak itu.


Giska meraih kotak itu, ragu. Ia menatap Angel dengan bimbang.


"Kenapa? kok muka kamu begitu." Angel lalu mengambil lagi kotak di tangan Giska. "Biar aku aja yang buka, ya. Aku yakin kamu masih kepikiran yang tadi, kan? makanya parno begitu."


Angel menggoyang- goyangkan kotak itu hingga terdengar bunyi samar di dalamnya. Seperti ada sebuah benda yang terguncang saat kotak itu di gerak-gerakan seperti tadi. "Apa isinya, ya?" tanya Angel penasaran. Ia lantas membuka kotak itu. Mata Angel membulat sempurna, ia langsung membuang kotak itu kasar. "Ih. Gila!" jeritnya lalu naik ke ranjang bersama Giska.

__ADS_1


Seekor burung gagak yang sudah mati ada di dalam kotak itu. Tubuhnya telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Giska makin ketakutan. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku dengan mata yang terus menatap ke hewan yang dibuang Angel itu. Angel menatap sebuah kertas yang tergeletak di dekat mayat burung itu. Angel mengambilnya dan membaca isi tulisan itu.


[Giliran kamu.]


Angel menatap Giska, Giska pun demikian. Wajah mereka menampilkan ketakutan yang amat sangat. Giska akhirnya segera memakai pakaian dan mengajak Angel ke ruang guru. Ia yakin masih ada guru yang ada di ruangan. Ia harus melaporkan hal ini. Dan agar kepala sekolah menghubungi Andrew lagi, agar mereka kembali.


______


Abimanyu dan yang lainnya sampai di sebuah gubug reot yang ada di perbatasan desa. Ini adalah tempat terakhir alat pelacak Nabila berhenti. Yang artinya di sini lah tempat Bisma berada. Tanpa basa basi atau mengendap seperti kebanyakan polisi di film, Gio langsung menendang pintu rumah itu hingga roboh. Adi sengaja memilih jalan memutar dan lewat pintu belakang. Ia menembak gagang pintu itu dan kini dapat terbuka dengan mudah. Abi dan Nabila hanya mengikuti dari belakang dan masuk rumah itu dengan santai. "Bisma!" jerit mereka saling bersahutan. Rumah ini sangat kotor, bahkan seolah tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Mereka menjadi ragu kalau Bisma ada di dalam. "Bil? salah kali lu ah. Mana ada Bisma di sini?" runtuk Gio dengan pertanyaan yang menyudutkan Nabila. Gadis itu terus memeriksa alat pelacaknya dan memang tempat ini adalah lokasi GPS yang dipasang Nabila di jam tangan Bisma kemarin. "Enggak. Gue yakin bener. Ini alat canggih banget, Gi. Terbaru loh. Ngga mungkin salah!"


Abimanyu mencari ke sudut lain rumah ini, dan tak lama kembali dengan sebuah jam tangan yang mirip milik Bisma. "Ini?" tanya Abi dan langsung melemparnya asal. Ia segera keluar dari rumah itu karena tidak menemukan apa-apa. Nabila kecewa. Ia merasa tertipu.


"Gaes!" jerit Adi yang ada di halaman belakang rumah ini. Mereka segera berlari ke tempat Adi memanggil.


"Di? Kenapa?" tanya Gio yang ikut panik.


"Itu!" tunjuk Adi ke sebuah mayat yang tergeletak di pinggir sumur tua. "Bisma, bukan?" tanya Adi sambil menutup hidungnya dengan lengan bajunya. Bau busuk mulai menyeruak ke dalam hidung. Gio dan Adi mendekati mayat itu. Rupanya, itu memang Bisma, dengan isi perut yang terkoyak. Nabila langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Gila!" Gio melotot seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat di depannya.


"Panggil polisi!" kata Abi ke Nabila. Gadis itu mengangguk dan segera menjauh untuk melakukan panggilan telepon.


______


Selama hampir beberapa jam, mereka berempat bergantian menjadi saksi atas penemuan mayat Bisma. Polisi segera mengusut dan mencari tau siapa pembunuh sadis yang sudah berbuat seperti itu pada Bisma. Abimanyu dan yang lain akhirnya kembali ke cafe Pancasona.


"Bang? Gimana?" tanya Ridwan yang menyambut mereka. Mereka berempat segera masuk dan duduk di sebuah meja kosong. Ridwan cemas dengan raut wajah mereka semua. Karena ia yakin ini adalah kabar buruk. "Bang, mau aku ambilkan air?"


"Tolong, ya, Wan." Suara Abimanyu lemah. Mereka putus asa. Karena terus menerus dihadapkan pada kenyataan yang terus memutar tanpa ada ujung dari penyelesaian.


4 gelas air mineral sudah tersedia di meja. Mereka segera meneguknya hingga hampir tandas sempurna. Ridwan ikut duduk di antara mereka. Menatap 4 orang itu bergantian agar dapat membaca situasi dan keadaan mereka. "Bisma? nggak ketemu?"


"Ketemu," sahut Abimanyu dan menatap Ridwan dalam.


''Akhirnya. Terus kenapa kalian sedih?"


''Bisma kami temukan sudah meninggal," sambung Nabila.


"Hah?!" jerit Ridwan dan kini wajahnya hampir sama seperti seperti 4 orang yang baru saja datang tadi. "Kok bisa, Bang? Itu artinya bukan Bisma pelakunya, kan?" tanya Ridwan penuh harap. Adi menepuk bahu Ridwan. Ridwan justru menunduk lemas. "Memang Bisma pembunuh Feliz, tapi dia juga dibunuh orang lain." Adi beranjak pergi ke toilet.


"Lalu bagaimana, Bang?"


"Yah, mau bagaimana lagi? Kami harus tetap mencarinya lagi."


Ridwan kini yang paling terpukul atas berita kematian Bisma. Ia merasa Bisma adalah sahabatnya di sini. Bisma baik dan sering membantunya. Maka dari itu ia sempat tidak percaya kalau Bisma yang sudah menculik dan membawa Feliz pergi.


"Eum, bagaimana karyawan baru?" tanya Abimanyu mengalihkan pembicaraan. Ridwan segera mencari 4 pegawai baru yang masih sangat baru. Ini adalah kali pertama Abi bertemu dengan pegawai barunya.


"Bang, kenalkan, Ini Mahesa, Yudistira, Rama dan ... Hara." 4 orang itu berdiri di depan Abimanyu. Berusaha memberikan rasa hormat pada sang empunya cafe alias bos mereka.


"Nama kalian bagus bagus. Mahesa, artinya pemimpin hebat, Yudistira itu tangguh, Rama? Waw saya teringat Rama dan Shinta," kata Abimanyu sambil terkekeh pelan. Berusaha menetralkan suasana atas berita duka tadi. Ia memandang satu persatu wajah 4 pria di depannya. "Dan Hara ... artinya penebus dosa. Cafe saya pasti akan berkembang pesat. Iya, kan, Wan?"

__ADS_1


Ridwan hanya mengangguk dengan senyum yang mengembang.


"Oh iya, Hara, bisa buatkan saya kopi? Kepala saya pusing sekali," pinta Abimanyu. Hara segera bergegas ke meja barista. Setidaknya Abi ingin sedikit beristirahat dari penatnya segala masalah yang akhir akhir ini masuk ke dalam kehidupannya. Menikmati secangkir kopi seperti kebiasaannya saat ingin sendiri. Abimanyu lelah, tapi bukan Abimanyu namanya kalau ia menyerah. Kedua orang tuanya memberikan nama itu dengan arti Seorang anak laki-laki yang tidak takut menghadapi apa pun. Ia akan menjadi orang besar suatu saat nanti.


__ADS_2