
"Jangan - jangan itu yang kita cari!"
Melihat topografi sekitar, maka jalan satu - satunya adalah menuruni tebing ini. Aku mulai menebak - nebak, apakah tebing ini tempat di mana Om Dewa terjatuh. Karena hal di sini aku melihat tebing curam dan berbahaya untuk di turuni. Hanya saja, ini satu - satunya jalan kami menuju ke bawah, di mana peradaban penduduk yang kemungkinan adalah suku yang kami cari.
"Gimana? Kamu bisa nggak, Sayang?" tanya Kak Rayi. Aku tidak langsung menjawab, diam sejenak, lalu baru mengangguk yakin.
"Ya udah, biar gue turun duluan. Sekalian cek kondisi tebing dan keadaan di bawa," pungkas Kak Roger. Kak Rayi mengangguk. Semua peralatan kemah sudah di bawa dalam tas. Walau hanya mereka yang membawa, nyatanya tali ini cukup untuk menuruni tebing di bawah kami.
"Kak, hati - hati!" kataku. Kak Roger tersenyum dan mengangguk, dia langsung turun ke bawah setelah mengikat kencang pinggangnya dengan tali itu. Perlahan Kak Roger mulai turun, aku yang menatapnya dari atas sini sedikit khawatir. Walau Kak Rayi bilang, kalau Kak Roger akan baik - baik saja. Buktinya Om Dewa tewas hanya menuruni tebing ini, katanya.
"Aman!" jerit Kak Roger sambil melambaikan tangan ke arah kami. Kini giliranku turun, tali sudah terlepas dari pinggang Kak Roger, ujung tali lain diikat pada sebatang pohon besar tak jauh dari tebing. Aku mulai turun, pelan dan pasti. Jangan salah, kalau aku juga sering panjat tebing selama ini. Kegiatan ini salah satu kegemaranku.
Aku berhasil turun dengan selamat. Begitu Kak Rayi akan turun, dan baru setengah perjalanan, tiba - tiba sebuah anak panah melesat dan mengenai tebing samping kanannya, tepat di sebelah telinga. Kami semua terkejut, menatap anak panah itu dan mencari di mana pemilik benda tersebut.
__ADS_1
"Yi! Buruan!" jerit Kak Roger. Kak Rayi mempercepat gerakannya, sementara aku dan Kak Roger terus mengawasi sekitar dan mencari orang yang hampir melukai Kak Rayi. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Kak Rayo dengan cepat turun ke bawah. Sejurus dengan itu anak panah lain mulai menghujani Kak Rayi. Aku dan Kak Roger panik, dan berharap Kak Rayi segera sampai di bawah tanpa terluka sedikitpun.
Namun, semua itu sirna, saat sebuah anak panah menancap ke bahu kanannya. Dia menjerit menahan sakit, tangannya terlepas lalu jatuh menghantam tebing dan berakhir ke tanah. Kami berdua mendekati Kak Rayi, sementara itu Kak Roger yang menemukan sebuah papan kayu, menjadikan benda itu tameng untuk melindungi kami. Puluhan anak panah melesat, menancap ke papan kayu tadi. Setelah berhasil mendekat ke Kak Rayi, kami bertiga bersembunyi, dan pergi dari tempat itu. Hutan ini cukup rimbun, salah satu keuntungan bagi kami untuk bisa menghindari orang - orang tadi.
Dengan susah payah, Kak Rayi bergerak sambil memegangi tangan kanannya. Gerakan yang terlalu berlebihan pasti sangat menyakiti bahunya. Bahkan anak panah masih menancap di sana.
"Ke sana!" tunjuk Kak Roger, saat melihat ada lubang mirip gua yang tertutup semak belukar. Berharap kami dapat bersembunyi sementara waktu sambil mengobati luka Kak Rayi.
Gelap. Dingin. Pengap.
Aku memeriksa anak panah itu. Kak Rayi terus meringis menahan sakit. Keringatnya membasahi sebagian wajahnya.
"Kak, ini harus dicabut," kataku.
__ADS_1
"Cabut aja, Bil. Ambil kotak P3K di tasku. Cepat." Kak Rayi terlihat sudah sangat siap dengan konsekuensinya. Karena jika anak panah tersebut masih bersemayam dalam tubuhnya, maka rasa sakit itu justru makin parah, dan lukanya akan melebar.
"Siap, kak?" tanyaku memberi instruksi. Aku berada di belakang tubuhnya, memegang ujung anak panah tersebut lalu menariknya cepat. Kak Rayo menjerit walau kain sudah menyumpal mulutnya, tapu erangan Kak Rayi tetap terdengar nyaring. Dia hampir menangis menahan sakit itu. Aku pun tidak tega melihatnya.
Pakaian ia lepas. Aku mulai membersihkan lukanya dan mengobatinya dengan obat seadanya. Kini luka itu sudah tertutup perban, Kak Rayi mengganti pakaian dengan yang lebih bersih, dan membuat pakaian bekas nya begitu saja.
"Gila! Mereka itu siapa?" tanya Kak Roger yang sudah kembali bersama kami, setelah memeriksa keadaan di luar gua.
"Jangan - jangan itu orang yang sama, yang membunuh Om Dewa?" tanyaku meminta pendapat mereka.
"Mungkin juga mereka tau di mana Papamu, Bil?" tanya Kak Rayi yang menambah pertanyaan lain.
"Yah, yang jelas, kita harus persiapkan diri menghadapi mereka. Mereka punya senjata. Sementara kita? Nggak punya apa - apa. Kita harus mengambil senjata yang mereka punya." Kalimat Kak Roger ada benar nya juga. Idenya gila, tapi itu yang paling masuk akal. Di mana lagi kami bisa mendapatkan senjata selain dari kelompok itu.
__ADS_1
"Kita istirahat dulu sebentar. Tampaknya pergi saat malam lebih aman? Iya, kan?" tanyaku.
"Iya, bener. Lagian Rayi harus istirahat dulu sekarang. Kita persiapkan diri untuk nanti malam," ujar Kak Roger.