pancasona

pancasona
Part 27 Ramen


__ADS_3

"Ran, aku gak ikut aja ya nanti. Kayanya aku gak enak badan deh," ucapku saat kami hendak pulang.


"Ya ampun, Nay. Udah ah. Ikut aja kenapa. Lagian kamu juga belum ketemu Dewa kan? Dia harus balik lagi ke sini, karena kerjaannya belum selesai. Kamu nggak kangen ngobrol bareng bertiga lagi?" tanya Rani memaksa.


Dan kini dia menyeret ku menuju mobilnya. Kami akan ke kedai ramen nya Wisnu.


Males banget sumpah.


Di perjalanan Rani ngoceh mulu. Dia ketawa ketiwi entah kenapa. Kumat kali ni anak. Sepertinya dia sedang senang sekali hari ini.


Sampai di kedainya Wisnu, Rani langsung menarik ku masuk.


"Ayok, Dewa udah di dalem. Dia kangen juga tau sama kamu, Nay," katanya tanpa peduli aku yg sebenarnya malas masuk ke tempat ini. Tapi pada akhirnya aku pasrah.


Saat sampai di dalam, kudapati Dewa sedang duduk santai bersama Wisnu.


Kok mereka udah kenal aja sih?


Rani terlihat bahagia melihat pujaan hatinya di ujung sana.


"Haii sayang ... maaf lama ya," kata Rani sambil cipika cipiki sama Dewa.


"Lumayan, tapi untung ditemenin nih sama Wisnu," kata Dewa santai.


Mungkin Rani sudah memberitahu Dewa perihal Wisnu. Sehingga dia terlihat biasa saja melihat Wisnu.


"Nay.. Gimana kabar? Kangen gue," kata Dewa lalu menjabat tanganku.


Kusunggingkan senyum seadaanya dan menjabat tangan Dewa juga.


"Sehat.. Kangen apa, Wa? Kangen berantem sama gue?" tanyaku becanda.


"Hahahaa.. Ya salah satu nya sih. Tapi elu sekarang nggak asik diajak berantem. Nggak kaya dulu. Kangen sama Nayla yg dulu," kata Dewa penuh arti.


"Gembel lu!" ejekku.


Aku dan Rani kemudian duduk, kami mengobrol santai sambil menunggu ramen yg kami pesan siap.


Sebenarnya lebih tepatnya mereka berdua yg ngobrol nya ramai. Rani dan Dewa. Padahal mereka hampir setiap hari selalu melakukan panggilan telepon bahkan bisa sampai berjam jam lamanya.


Aku dan Wisnu banyak diam nya.


Beberapa kali aku memergoki Wisnu mencuri pandang padaku. Membuatku agak risih.


Sampai ramen datang.


"Wah... jadi juga. Kayaknya enak nih," ucap Rani semangat.


"Kenapa dapat ide buka restoran ramen, Nu?" tanya Dewa penasaran.


"Karena pacarku suka ramen. Bisa tiap hari dia pasti harus makan ramen. Jadi iseng aja aku bikinin dia ramen, eh malah dia suka. Dia bilang, ramen buatanku paling enak. Ya udah deh. Jadilah yg kayak sekarang ini," terang Wisnu sambil memandangi kedai miliknya ini.


"Wah, keren. Eh, kenalin dong sama pacar kamu," pinta Rani dengan mulut yg belepotan kuah ramen.


Malu maluin banget sumpah ni anak. Aku berdeham lalu melotot ke Dewa, agar dia membersihkan mulut Rani yg belepotan.


Dewa yg paham maksudku lalu mengambil tissu dan langsung mengelap mulut Rani.


"Kamu kayak anak kecil aja deh. belepotan ke mana mana," ujar Dewa bagai ibu yang membersihkan mulut anaknya yang sedang makan.


"Hehehe.. Biarin. Sengaja,biar kamu yg ngelap mulutku. Jadi rasanya gini ya, Nay. Hehehe"ucap rani sambil cengengesan.


"Apaan sih?" tanyaku yg memang tidak paham maksudnya.


"Dulu kalo kita makan ramen,wm Wira pasti selalu bersihin mulut kamu yg pasti belepotan kayak aku. Seneng juga ya diperhatiin gitu..hehehe "


Aku terdiam.


"Aku ke toilet dulu ya," ucap ku lalu pergi begitu saja ke toilet.


Dewa dan Wisnu melihatku dengan tatapan iba.


Lalu Dewa mencubit lengan Rani hingga Rani teriak.


"Apaa sih, Yang? sakit tau," gerutunya.


Dan aku tidak dengar lagi apa yg mereka bicarakan.


Aku udah kebelet dari tadi soalnya.


Setelah buang air kecil aku kembali lagi berkumpul bersama mereka.


Dan mereka terlihat kaku saat aku datang.

__ADS_1


"Kalian kenapa sih? Diem gitu?" tanyaku lalu kulanjutkan lagi makan ramen ku yg sudah agak dingin.


"Maaf, Nay. Kamu sedih ya," ucap Rani dgn raut wajah yg sangat merasa bersalah.


"Enggak, biasa aja."


Kumakan ramen itu, bahkan kuah nya ku seruput langsung dari mangkuknya.


Dan mulutku belepotan seperti Rani.


"Ih, aku belepotan nih. Elapin dong," rengekku sengaja agar mereka tersenyum kembali. Karena aku memang tidak mempermasalahkan perkataan Rani tadi.


Mereka tersenyum.


"Ih, Nayla.. Kumat deh isengnya," kata Rani sambil mencubit pipiku gemas.


Sreeett


Astaga!! Ngapain nih orang??


Aku melotot dengan apa yg Wisnu lakukan padaku.


Dia membersihkan mulutku dengan tissue, terlihat senyumnya merebak. tatapan matanya berbeda, tidak seperti kemarin.


Ku ambil tissue dari tangan Wisnu. "makasih. kamu gak usah repot. Aku bisa sendiri," ucapku dingin.


Dan situasi kembali kikuk.


"Oh iya, kalo gitu aku pamit sekarang aja ya. Bentar lagi aku harus balik nih. Udah pesen tiket," kata Dewa mencoba mencairkan suasana.


"Oh iya, Yang. aku hampir lupa. Ya udah yuk, nanti telat malah kamu gak jadi balik,"ajak Rani.


"Mmm.. Nay, aku anter Dewa dulu ya, kamu ikut kan?" tawar Rani.


"Lah, cepet banget! Tapi ... Nggak deh. Aku balik duluan aja ya. Capek banget hari ini. Pengen langsung tidur," kataku menolak.


"Kalo gitu, biar Nayla aku yg anter,"kata Wisnu tiba tiba.


Dan otomatis kami semua menoleh padanya.


What? Dianter dia pulang??


Modus apa lagi nih.


"Eh,jm jangan Nay. Bener tuh kata Wisnu. Mending dianter dia aja. Ini udah malem lho, Nay," ujar Dewa.


"Tapi... Aku..." kalimatku dipotong Rani.


"Nu, titip Nayla ya. Anterin sampe rumah lho. Awas kalo gak!!"ucapnya sedikit mengancam.


"Iya, beres. Tenang aja, Ran. Yuk, Nay. Pulang sekarang?" Wisnu beranjak lalu menarik tanganku diikuti Rani dan Dewa. Entah mengapa aku hanya diam menurut saja.


Sampai di parkiran, Dewa dan Rani pamit. aku masih digandeng Wisnu hingga sampai mobilnya yg terparkir tidak jauh dari kedai miliknya.


Dia membuka kan pintu mobil untukku, lalu tersenyum lembut.


Mencurigakan.


Saat kami sudah di dalam mobil kuberanikan diri bertanya padanya.


"Kamu tumben baik sama aku?"tanya ku sinis.


"Kamu aneh deh, aku nyebelin, salah. Aku baik, salah juga. Kamu maunya aku gimana?"tanya Wisnu balik.


Aku terdiam, tidak tau harus menjawab apa lagi. Aku sedang malas berdebat sekarang.


"Gak papa nih? Kamu anter aku pulang?nanti pacar kamu marah," ucapku tanpa melihat ke arahnya.


Kusadari dia sesekali melirik padaku sambil fokus menyetir.


"Dia gak bakal marah kok. Santai aja."


"Oh. Gitu... Kok bisa gitu? Baik banget sih dia? Kalau aku yg jadi dia, bakal aku goreng kamu!!" cibirku namun hanya ditanggapi senyuman oleh Wisnu.


"Mungkin kalo dia masih ada, dia bakal bilang gitu." kalimatnya bikin aku mikir.


Maksudnya apa?


"Maksud kamu apa??"


Dia tersenyum.


"Dia udah meninggal, Nay," ucapnya pelan.

__ADS_1


Deg!!!


Hatiku sakit mendengar pengakuannya barusan.


"Maaf," ucapku sangat merasa tidak enak.


"Gak papa kok. Santai aja lagi. Emang kenyataan nya gitu,"jawabnya.


Dia terlihat sangat tegar sekali membahas kekasihnya yg sudah meninggal.


Dia bercerita, bahwa kekasih wisnu mengalami kecelakaan pesawat saat dia pergi ke Bali karena ada pemotretan.dm Dia adalah seorang model profesional.


Mereka sudah berpacaran dari SMU, dan kedua orang tua mereka sudah menyetujui hubungan mereka.


Sampai peristiwa naas itu terjadi.


Kasian juga ya Wisnu. Ternyata nasib nya tidak lebih baik dariku.


Tak lama kami sampai di rumah kontrakan ku.


"Mau mampir dulu?" kutawarkan padanya, sekedar basa basi.


"Oke." dia langsung turun dari mobil dan berjalan sampai ke depan pintu rumah.


Yaelah... padahal aku cuma basa basi aja tadi.


Duh, gawat nih.


Terpaksa aku turun lalu mempersilahkan dia masuk dan duduk.


"Mau minum apa?" tanyaku dengan malas malasan.


"Kopi? Boleh?" tanyanya.


"Iya,bentar." aku lalu berjalan ke dapur dan tak lama kembali dengan secangkir kopi untun nya.


Dia mondar mandir mengamati keadaan rumah ini.


Kuletakan kopi di meja," kopinya, Nu," ucapku.


Dia hanya mengangguk, lalu ikut duduk bersamaku.


"Udah berapa lama di sini, Nay?" tanyanya.


"Belum ada sebulan."


"Kamu bukan asli kota sini ya?"


"Emang bukan."


"Kok bisa ke sini ?" dia ini kayak wartawan aja.


"Pengen aja, nyari suasana baru," jawabku sekenanya.


"Ooh." Dia hanya manggut manggut sambil menyecap kopinya.


Dan seketika dia tersenyum dengan membulatkan matanya,"kopi buatan kamu enak... pas banget deh takarannya. Aku suka." katanya lagi.


"Kamu gak pulang?" tanyaku.


"Kamu ngusir??"sahutnya sambil melirikku tajam.


"Ya bukan gitu. Heran aja sama kamu.. Perasaan kemaren tuh kamu gak mau deket deket aku."


"Hehehehe... Sorry nay, eum.. Aku minta maaf ya,soal kemaren.am aku kebawa emosi. Jadi nuduh kamu macem macem.." kali ini dia seperti serius dengan kalimatnya.


"Iya, gak papa.." ucapku.


"Kalo gitu,kita ulangin lagi yuk cara kenalan kita." katanya sambil menatap ku lekat lekat.


Aku bingung,maksud dia ini apa sih?


Dia mengulurkan tangannya,"haii..aku Wisnu. Salam kenal ya." dia terdengar lucu dengan sikapnya yg begini.


Aku tertawa geli melihatnya,lalu aku menjabat tangan nya..


"Aku Nayla, salam kenal juga,"kataku.


Malam ini kami banyak ngobrol di rumah, hingga Rani pulang. Tak lama setelah itu, Wisnu pun pamit pulang juga karena malam juga semakin larut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...Perpisahan bukanlah akhir dari kehidupan. Tetapi langkah awal seberapa kuat kita meneruskan kehidupan ini tanpanya...

__ADS_1


l


__ADS_2