pancasona

pancasona
Part 9 Teror


__ADS_3

Siang ini, aku dan rani pergi jalan-jalan. Aku benar-benar merasa terganggu dengan surat yang tadi kuterima. Benar-benar tidak masuk akal.


Tunggu! Apakah dia? Astaga, kenapa aku tidak memikirkan hal ini sejak awal? Apakah benar dia yang melakukannya? Jika iya, untuk apa? Bukankah dia yang meninggalkanku, dulu?


Kami pergi juga dengan Dewa, karena sepertinya Rani sedang dekat dengan Dewa.


"Nonton, yuk," ajak Rani.


Mereka malah bergandengan tangan dan berjalan di depanku. Setelah mengantri tiket masuk, kami lalu memilih kursi di bagian tengah.


Dari ujung ekor mataku, aku merasa diikuti sedari tadi. Beberapa kali kutengok ke belakang, namun hasilnya nihil.


Kali ini kami menonton film 'The Mummy'. Dewa duduk di pinggir, kemudian Rani dan aku. Sebelahku kosong sampai deretan ujung.


Sambil makan popcorn, aku serius sekali menonton film ini. Aku memang hobi sekali menonton film. Sampai-sampai, aku tidak sadar bahwa di kursi sebelahku sudah ada yang menempati.


Dengan cueknya, orang itu ikut menyomot popcorn yang ada di tanganku.


"Eh, kamu kok seenaknya sih makan pop …" Kalimatku terhenti setelah tahu yang duduk di sampingku tak lain dan tak bukan adalah Wira.


Entah sejak kapan dia ada di sini.


"Wira?"


"Hai, sayang. Sini bagi popcornnya," katanya, langsung menyambar popcornku dan asik menonton film yang sedang diputar.


Tanpa basa-basi lagi, aku lalu bersandar pada bahunya dan melingkarkan tanganku ke tangannya. Dia sesekali menyuapiku popcorn juga.


Rasanya aman dan tenang, jika ada Wira di sini. Tidak seperti tadi, aku selalu was-was. Seperti ada yang mengikuti.


Apa mungkin Wira, ya?


"Kamu kok bisa di sini?" tanyaku.


"Iya, kebetulan aja. Tadi, aku lewat terus lihat kamu belok ke sini. Aku susulin deh," katanya santai


"Oh, gitu."


"Kenapa?" tanyanya.


"Enggak."


Setelah 2 jam ada di dalam bioskop, film akhirnya selesai. Kami keluar dengan perlahan. Entah kenapa, Dewa melihat wira dengan tatapan tajam, begitu pun dengan Wira.


Sebenarnya, ada apa di antara mereka berdua? Apa maksud Dewa tadi?


Memang sih, Wira seperti mempunyai banyak rahasia.


"Eh, makan dulu yuk. Lapar," kata Rani manja.


"Yuk, aku juga lapar," aku pun antusias.


Kami segera menuju salah satu cafe yang tak terlalu jauh dari sini.


Sampai café …


"Pesan apa, Nay?" tanya Rani.


"Nasi kebuli, sama jus mangga," kataku sambil melihat buku menu.


"Kamu apa, Ra?" tanyaku ke Wira.

__ADS_1


Dia diam, kutengok ternyata dia dan Dewa saling melempar pandangan tajam, seperti ada aura kebencian yang dalam di antara mereka berdua. Aku menyenggol kaki Rani yang duduk di depanku dan menyuruhnya untuk ikut melihat Dewa dan Wira.


"Wa, kamu pesan apa?" Dewa pun sama, diam seolah tak mendengar Rani berbicara.


Lalu dipukulnya bahu Dewa, dan seketika mereka berdua sadar.


"Eh, apa?" tanya Dewa ke Rani.


Aku melirik ke Wira. Dia malah menaikan sebelah alisnya kepadaku.


Kami makan bersama, disertai rasa kikuk karena Dewa dan Wira yang sepertinya bermusuhan.


Akhirnya, aku pamit ke Rani untuk pulang duluan.


"Ya udah, balik dulu ya, Ran ... ketemu besok di kampus," kataku.


"Hati-hati ya, Nay."


"Oke."


Dewa dan Wira masih saling menatap dengan tajam. Segera kutarik tangannya menjauh. Sampai di parkiran, aku masih penasaran dengan sikap mereka.


"Kamu sama Dewa ada masalah apa sih?" tanyaku.


"Musuh lama." Lalu, dia naik motornya dan segera memberikan helm juga padaku.


Mungkin, lain kali aku akan bahas lagi masalah mereka. Tapi, bukan sekarang. Wira mengantarku sampai kost. Dan seperti biasa, dia ikut masuk ke kamar kostku dan langsung merebahkan diri di ranjang.


Kebiasaan …


Aku segera menuju kamar mandi.


Wira malah tidur nyenyak di ranjangku.


Hmm ... dasar.


Kuputuskan untuk memasak saja, agar saat dia bangun nanti aku sudah punya makanan untuknya. Karena, dia ini termasuk doyan banget makan.


Sekitar 1 jam, aku selesai masak dan beres-beres. Kudekati Wira yang masih terlelap. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Dia memang ganteng. Tapi aneh, kehidupannya semua serba tertutup.


Tiba-tiba...


Sret ... bugh.


Wira menarikku ke dalam pelukannya, lalu memelukku erat.


"Wira! Ih, apa-apaan sih!" gerutuku kesal.


Ini anak sadar apa enggak sih?


"Wira!" panggilku lagi.


"Hm." Dia hanya menggumam tanpa membuka matanya.


"Awas, aku mau bangun," rengekku.


"Mau ngapain? Sini aja, temanin aku tidur."


"Ih, ogah!" Aku terus berusaha melepaskan pelukan Wira, namun tidak bisa.


Kring …

__ADS_1


Ponselku berdering.


"Ada telepon masuk, minggir dulu," kataku.


Wira lalu melonggarkan pelukannya dan membiarkanku menerima telepon.


"Halo, Ran ... gimana?"


"......"


"Masa? Eh, nanti aku telepon lagi, ya?" kataku menutupi kegugupanku.


Kulihat Wira sudah duduk di ranjang dengan wajah acak-acakan. Namun, tetap keren.


Dia lalu pergi ke kamar mandi. Kubuatkan dia kopi.


Saat Rani telepon tadi, dia bilang kalo pengirim surat itu kemungkinan adalah laki-laki itu. Tapi, apa itu mungkin? Besok, aku harus melihat CCTV. Aku benar-benar penasaran.


Sret …


Wira tahu-tahu sudah memelukku dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di leherku. Nafasnya tenang sekali berhembus mengenaiku.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Wira tiba-tiba.


"Enggak, kok."


"Jangan bohong," katanya santai namun mampu membuat jantungku berdebar lebih cepat karena gugup.


Aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.Wira yang menyadari kegelisahanku, menarik tubuhku menjadi berhadapan dengannya.


"Ada apa?" tanyanya serius.


Aku masih diam, bingung bagaimana harus menceritakannya.


"Aku pengen dengar dari mulut kamu langsung. Kita ini udah pacaran, Nay. Masalah kamu itu masalahku juga. Aku yakin, kamu lagi ada masalah, kan? Jangan sampai aku nyari tahu sendiri kamu kenapa,'' katanya tegas.


"Iya, aku bingung," kataku lalu melepaskan tangan Wira dan kembali ke sofa depan tv.


Kuhempaskan tubuhku dengan kasar di sana, Wira menyusulku. Kuambil tas yang ada di meja nakas sampingku.


"Tadi, waktu di kelas, ada yang naruh ini di mejaku." Lalu, kuberikan surat tadi dengan bentuk yang agak kacau, karena darah yang sudah luntur.


Wira memegang dan langsung mencium surat itu, seraya mengerutkan dahinya.


"Darah?" ucapnya.


Dia segera membuka amplop itu dan membaca suratnya. Dia terlihat serius sekali.


"Kamu tahu siapa kira-kira pengirimnya?" tanya Wira sambil *** surat itu.


Aku menggeleng. Lalu kupeluk dia, untuk menenangkannya dan menenangkanku juga.


"Aku takut. Kenapa dia bisa ngirim hal gila kaya gitu? Maksudnya apa?" ucapku yang masih berada di pelukannya.


Wira membelai punggungku lembut.


"Aku bakal cari tahu siapa orangnya, kamu jangan takut, ya."


Malam ini Wira menginap di kostku karena dia takut terjadi sesuatu padaku. Namun, tidak seperti saat di rumahnya. Kini, aku tidur di ranjangku dan dia tidur di sofa.


Aku masih terus terbayang surat tadi. Semoga, secepatnya aku bisa tahu siapa pelakunya. Besok, kami akan melihat rekaman CCTV kelasku. Pasti, pelakunya akan ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2