
Hujan badai kembali mengguyur desa. Malam ini Abimanyu, Adi, dan Gio sedang duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi hitam buatan Abi. Petir dan kilat terlihat mengerikan dengan angin kencang.
"Hm, cafe bakal porak poranda nih besok. Kerja bakti dulu kita, Gi." Adi menyibak korden dan mengintip keadaan di luar yang gelap.
"Bi, besok atap dapur itu harus di benerin deh kayaknya. Pasti banjir lagi nih. Capek tau ngepel," gerutu Gio.
"Ya paman yang benerin lah. Kan paman Gio jago benerin atap bocor. Buktinya rumah Bu Siska kemarin?" tanya Abimanyu yang sebenarnya menyindir Gio. Bu Siska adalah janda kembang yang belum lama bercerai dengan suaminya. Dan Gio kerap bertandang ke rumah wanita itu.
"Hahaha. Rasain lu!" umpat Adi lalu beranjak hendak mengambil makanan kecil di lemari pendingin. Ia mengambil mie instant yang cukup hanya diseduh air panas.
"Eh, masih ada nggak? Bagi!" pinta Gio yang melihat godaan mie kuah. Memang situasi hujan badai seperti ini paling enak menikmati semangkuk mie kuah yang pedas. Apalagi ditambah telur rebus.
"Ambil sendiri tuh di kulkas." Adi sibuk mengaduk mie instant itu hingga tercampur dan matang sempurna. "Bi, nggak mau?" tawar Adi pada pemuda yang sedang melamun itu. Ia menggeleng pelan, tatapannya masih lurus ke depan. Jendela ruang tengah kali ini memberikan pemandangan lain. Ada sosok lain di sana.
'Apa bakal ada berita orang mati lagi besok?' batinnya.
Rumah kontrakan milik Pak Karso kini tak lagi sepi dan gelap. Karena di sinilah Nabila, Ayashi, dan Sintia tinggal selama mengajar di desa ini. Rumah ini berada di pinggir desa. Ada beberapa rumah warga yang masih berpenghuni tapi banyak juga rumah kosong yang sudah reot bahkan hampir roboh. Saat perjalanan ke rumah ini, Nabila beberapa kali menangkap sosok sosok di beberapa tempat. Terutama rumah rumah kosong di sepanjang jalan tadi.
Malam ini ditemani hujan badai, mereka bertiga sedang membuat beberapa laporan harian. Hari pertama mengajar cukup menguras tenaga. Terlebih mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Anak anak yang baru mereka temui cukup menyita pikiran dengan polah tingkahnya.
Semua sedang sibuk di depan laptop masing-masing. Ditemani secangkir teh hangat ditambah pisang goreng yang baru saja matang. Sebelum sampai di desa ini, mereka sudah membawa beberapa bekal makanan. Baik kalengan, instant, dan sayur Mayur. Karena di rumah ini memang disediakan lemari pendingin. Rumah milik Pak Karso cukup nyaman untuk kalangan daerah pedesaan. Walau tak cukup sama dengan rumah milik mereka yang mewah.
Prank!
Suara gelas pecah membuat mereka saling tatap. Dan berakhir pada tatapan ke Nabila. "Bil, is that ghost again?" tanya Sintia dengan tatapan ngeri. Ayashi menatap ke lorong yang menghubungkan dapur. Beruntung rumah ini tidak terlalu besar. Hanya ada 4 kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dua kamar mandi yang berdekatan dengan dapur. Halaman belakang juga tidak besar. Hanya cukup untuk menjemur pakaian, dan sudah ditembok keliling.
"Yash! Cek gih! Diem aja!" tukas Nabila. Ayashi yang memang pengecut lantas hanya tersenyum. "No, this is your work, Bil."
Nabila mendengus sebal. Ia berjalan santai ke dapur. Ada kepulan asap hitam di dalam dapur., terutama di atas meja makan. Saat ia melongok ke kolong meja, rupanya ada beberapa anak kecil yang sedang memakan makanan yang terjatuh di lantai. Mereka sengaja menjatuhkan piring yang ada di pinggir meja. Nabila segera mengusir anak kecil itu dan membereskan pecahan piring yang berserakan di lantai itu.
Sosok anak kecil itu berlari keluar, menembus tembok penghubung ke halaman belakang. "Nasib ... Nasib. Dipindah ke daerah terpencil gini. Jelas banget setannya banyak!" omel Nabila dengan mengerucutkan bibir.
Belum selesai Nabila membersihkan dapur, jeritan Sintia dan Ayashi terdengar dari ruang tengah. Kini dua orang itu malah menyusul Nabila ke dapur dengan wajah ketakutan. Bersembunyi di balik tubuh Nabila yang sebenarnya kecil.
"Ini ngapa sih?!" Nabila melepaskan tangan Ayashi dan Sintia yang terus mencengkeram dirinya kencang. "Sakit tau!"
"Bil, di depan, Bil," tunjuk Sintia yang wajahnya pucat.
"Ada apa?!"
"Setan, Bil!" sahut Ayashi sama takutnya.
"Ngaco ah! Nggak mungkin!"
"Sumpah! Beneran! Lihat aja sendiri, sana!" Sintia mendorong tubuh Nabila agar memeriksa keadaan di luar.
"Astaga. Tadi aku yang disuruh ngecek dapur, sekarang aku lagi suruh ngecek depan. Kalian ini ih!" Nabila kesal namun tetap berjalan ke depan.
__ADS_1
"Sin ...."
"Apa?"
"Ini piring habis atuh? Elu naruh sembarangan, ya?" tuduh Ayashi ke pecahan piring yang ada di meja makan. Nabila belum sempat membuangnya.
"Ih, nggak mungkin, Yash! Ini piring tadi dekatan sama mangkuk sayur. Gue inget banget!" terang Sintia dengan menggebu gebu.
"Masa bisa jatuh gitu aja kalau nggak ada yang jatuhin."
Dalam beberapa detik mereka saling tatap, menekan tengkuk dan lari menyusul Nabila.
Nabila yang memeriksa kondisi di ruang tengah tidak menemukan hal aneh apa pun. Ia mendekat ke jendela, menyibak korden dan menatap keadaan di luar yang masih dilanda hujan lebat. Di ujung tak jauh dari rumah, ia melihat sosok putih tinggi sedang berdiri. Namun tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Nabila langsung menutup korden rapat-rapat. "Huft Poci!"
Dua temannya sudah ada bersamanya. Mereka adalah duo pengecut yang selalu menempel terus pada Nabila. Sebutan itu Nabila yang buat. Saking kesalnya pada mereka berdua.
"Ya udah. Tidur aja, yuk," ajak Nabila lalu membereskan meja. Laptop ia matikan karena hari sudah makin larut, dan intensitas kemunculan 'mereka' makin intens saja.
"Eh, tungguin!"
Belum selesai mereka merapikan meja, suara ketukan pelan terdengar. Semua orang mendengarnya. Ketukan yang sangat pelan tanpa ada ucapan salam setelahnya. Aneh. Nabila hanya mengerutkan dahi, mencoba menajamkan pendengaran nya."kalian denger?"
Dua temannya itu mengangguk cepat."Siapa, ya?"
Ayashi yang berniat akan membuka pintu, ditahan Nabila. "Biar aja."
"Kalau itu manusia, pasti bakal ngucap salam."
"Jadi dia ... Bukan manusia?"
"Cek aja sendiri kalau nggak percaya."
Nabila memeluk laptopnya dan masuk ke kamar. Sintia berlari menyusul Nabila. "Gue tidur sini ah, please." bujuk Sintia. Belum sempat Nabila menjawab Ayashi juga menerobos masuk ke kamarnya. "Asli serem banget ini rumah. Gue tidur sini. Di lantai juga nggak masalah." Ia sudah membawa bantal dan selimut.
"Oh, sial!" Nabila mendengus sebal, naik ke atas ranjang dan menarik selimut. Sintia menempatkan diri tidur di samping Nabila. Sementara Ayashi di lantai menggelar karpet yang ia bawa dari rumah.
Guntur terus terdengar semalaman. Namun karena rasa lelah yang terus bergelayut di tubuh, mereka akhirnya tertidur.
______
Cafe dibuka lebih pagi. Untuk membereskan akibat hujan lebat semalam tidaklah sebentar. Gio kini sudah ada di atap untuk memperbaiki atap bagian dapur yang bocor. Karena benar saja, dapur mereka kacau balau. Banjir di mana mana. Terpaksa mereka merapikan halaman depan dan mengeluarkan meja dan kursi, tema cafe hari ini adalah outdoor. Karena indoor sepertinya belum bisa digunakan.
Beberapa pengunjung sudah berdatangan. Cafe Pancasona memang cukup familiar di penjuru desa bahkan desa tetangga. Sekalipun ini disebut pedesaan, tapi para warganya juga banyak yang bekerja di kantor kantor yang ada di luar desa. Desa mereka juga termasuk desa yang ramai, karena ada banyak wisata alam yang memanjakan mata. Banyak pula turis baik dari dalam maupun mancanegara datang berkunjung. Air terjun di dalam hutan desa ini memiliki air yang jernih dan pemandangan nya pun indah. Ada beberapa daun bambu yang biasanya digunakan untuk berisitrahat pengunjung. Ada juga papan berbentuk hati yang letaknya dekat air terjun. Biasanya pengunjung banyak yang berfoto di daerah itu. Tak hanya air terjun, pantai di sini juga indah dengan hamparan pasir putihnya dan kebersihan yang terus dijaga.
Cafe Pancasona sering menjadi rest area pengunjung. Karena letaknya memang ada di dekat pintu masuk gerbang desa. Di sini juga ada kantor pemerintahan dan beberapa kantor perhutani sekaligus perikanan. Sumber daya alam yang patut dikembangkan dan dilestarikan.
Apalagi di saat pagi-pagi seperti sekarang, cafe Pancasona justru ramai pengunjung. Karena menyajikan menu sarapan yang cukup menggugah selera.
__ADS_1
Desas desus mulai terdengar. Berita kematian kembali menjadi isu hangat. Karena belum lama ada berita kematian yang masih menjadi buah bibir, karena belum jelas penyebab kematiannya, kini malah ada berita lain yang membuat mereka ketakutan.
"Jangan-jangan desa kita mulai diteror pembunuh!"
"Atau mungkin pemerkosa? Bukannya yang meninggal anak perempuan semua?"
"Ih seram!"
Begitulah desas desus yang sunter didengar sepanjang pagi ini. Isu pembunuhan, pemerkosaan bahkan sampai perilaku pedofilia menjadi buah bibir di masyarakat.
Hal itulah yang membuat beberapa polisi datang ke desa ini. Menanyai beberapa warga, mengorek informasi yang cukup detil.
Tiga guru pendatang juga baru saja sampai cafe. Mereka juga datang untuk sarapan sebelum melakukan pekerjaan mereka. Nabila memesan makanan pada Abimanyu yang berada di meja barista.
"Eum, pesan kopi dua sama susu cokelat satu. Terus nasi goreng ada?" tanya Nabila sambil memandang buku menu di meja barista.
"Ada, mba. Nasi goreng pedas atau sedang?"
"Sedang aja, Mas. " Nabila menutup buku menu lalu mengambil dompet dari dalam tas. "Berapa semua?"
Abi menghitung pesanan, sementara Nabila terus memperhatikan keadaan sekitar. "Ada apa sih, Mas. Kok ramai gini? Ada polisi juga." Pertanyaan Nabila membuat Abimanyu sadar kalau berita duka ini belum sampai ke seluruh penjuru desa.
"Ada orang meninggal, mba."
"Meninggal? Kenapa?"
"Belum tau, banyak yang berasumsi dia dibunuh. Entahlah. Makanya polisi datang."
Nabila hanya ber-oh ria sambil memberikan selembar uang seratus ribuan. "Yang meninggal cewek, ya?"
"Iya. Kok tau, mba?"
"Itu bukan?" tanya Nabila menunjuk ke semak semak yang ada di ujung cafe. Abimanyu ikut melihat ke arah itu. Dan mendapati sosok yang dimaksud Nabila. Dan memang dialah yang meninggal tadi malam. Clarinta.
"Mba, bisa lihat dia? Sejak kapan?"
"Dia? Atau mereka semua?" tanya Nabila penuh arti.
"Eum, yah , semua makhluk itu."
"Sejak kecil." gadis itu memasukan dompet ke dalam tas.
"Nggak takut, kah?"
"Ya takutlah. Awalnya. Tapi makin lama udah biasa. Oh iya, ngomong ngomong aku Nabila. Mas nya siapa?" tanya Nabila sambil mengulurkan tangan.
"Saya ... Abimanyu. Abimanyu Maheswara."
__ADS_1
______