pancasona

pancasona
Part 32 Terpisah


__ADS_3

Rintik hujan mulai terasa di punggung tanganku. Malam bahkan sudah lewat dari sebutan tengah malam lagi. Diskusi ini memang sangat menarik, hingga kami melupakan atau bahkan tidak merasakan kantuk lagi. Tapi tanda alam barusan, membuat kami terpaksa angkat kaki dari dekat api unggun. Gemuruh di langit gelap sana pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Tinggal empat jam lagi, matahari akan muncul. Setidaknya kami punya waktu untuk melanjutkan tidur walau sejenak. Mempersiapkan tenaga untuk perjalanan nanti.


Tenda ini cukup besar, bahkan sangat muat untuk kami bertujuh. Bahannya cukup tebal, tidak mudah koyak, kecuali dirobek dengan senjata tajam seperti yang terjadi sebelumnya. Semua sudah menempatkan diri masing - masing. Para pria sengaja memilih berada di pinggir sebagai tameng untuk melindungi para wanita yang tidur di tengah.


Kak Rayi berbaring di sampingku saat sebelumnya menarik Kak Roger yang awalnya menempati posisi itu. Dia merebahkan tubuh dengan posisi miring menghadapku. Tersenyum sambil merapikan rambutku. Menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. Aku yang juga menghadapnya ikut tersenyum. Rasanya tidak menyangka kalau melihat pria ini sekarang secara langsung. Karena beberapa hari ini aku hanya mampu melihatnya dari balik layar ponsel.


"Aku kangen," ujarnya.


"Aku juga."


"Udah, sekarang istirahat. Bobok, ya." Kak Rayi menarik selimut milikku dan mengecup keningku lembut. Aku hanya tersenyum lalu memejamkan mata. Yah, dia benar, setidaknya aku harus tidur sekarang.


_________


Berisik suara beberapa orang di luar mulai membuatku terbangun. Aku mengerjap dan merasakan matahari yang sudah muncul dan masuk dari pintu yang sudah di buka setengah. Namun rasanya aku enggan untuk bangkit dari pembaringan. Aku ingin tidur sebentar lagi. Aku menarik selimut lebih tinggi dan hanya menampilkan kepala yang terlihat dari luar. Tidak langsung tertidur kembali, justru aku memperhatikan mereka yang sudah berada di luar tenda. Om Opon terlihat sedang memancing di dekat sungai bersama Kak Roger. Kak Rayi dan Kak Bintang sibuk mondar mandir membawa kayu bakar dan beberapa barang lain. "Pagi, Nabila," Sapa tante Rani.


Rupanya di tenda tidak hanya aku seorang, karena Tante Rani sedang berhias. Dia terlihat lebih segar dengan rambut yang basah. "Pagi, tante. Astaga aku baru bangun," gumamku lalu menarik kedua tangan ke atas. Menguap dan berusaha menghilangkan sisa kantuk dan malas yang masih hinggap. Tidak enak rasanya, mengetahui mereka sudah beraktivitas di luar, sementara aku masih malas - malasan di sini. "Tante sudah mandi?" tanyaku yang memang penasaran.


"Udah dong, Bil. Kamu bangun gih. Cuci muka sana. Rayi udah bikini kamu kopi tuh."


"Oh iya, kah?" tanyaku lalu duduk sambil merapikan rambutku yang berantakan.


"Iya, dia perhatian banget sama kamu, ya, Bil. Sampai semaleman tidur aja dipeluk Rayi. Cie. Manis banget," ledeknya dan berhasil membuatku tersipu. Dipeluk Kak Rayi? Yang benar saja? Aku bahkan tidak sadar akan hal itu.


"Tante nih, kayak nggak pernah muda aja," timpalku berusaha menutupi rasa malu.


"Iya ... iya. Tante pernah muda, dan pernah merasakan hal itu. Uh, itu momen paling indah, iya, kan? Bahkan Om Dewa itu sama romantisnya seperti Rayi dulu loh."


"Iya, tante? Om Dewa seromantis apa?" Selimut mulai aku lipat agar kondisi tenda jauh lebih rapi lagi. Sambil mendengarkan cerita tante Rani, walau sebenarnya aku cemas apakah dia akan baik - baik saja jika membahas perihal kenangannya dengan sang suami. Tapi sejauh ini, Tante Rani justru bahagia menceritakan kehidupan mereka dulu, dari awal bertemu sampai akhirnya menikah.


"Semoga kamu awet dan bahagia selamanya sama Rayi, ya, Bil." Mulai terlihat kesedihan di raut wajah Tante Rani. Aku lantas mendekat dan memeluknya. "Terima kasih, tante. Tante jangan terus bersedih. Om Dewa pasti sayang banget sama tante," gumamku.


"Loh, ini pada kenapa, pagi - pagi udah pelukan?" Suara tante Jean membuat kami lantas melepas pelukan dan tersenyum.

__ADS_1


Suasana pagi hari di hutan ini sungguh menyegarkan. Kabut tipis terlihat di sekitar hutan. Bahkan mulutku mengeluarkan asap saat berbicara atau bernafas. Ini sensasi yang jarang aku temui di rumah, sedingin apa pun keadaan di kotaku. Posisi tempat yang berada di kaki gunung, membuat hal ini terasa wajar. Aku mengambil sarung tangan dari tas, rasanya aku tidak akan kuat dengan hawa dinginnya jika tidak memakainya. Mungkin saat tidur semalam, semua rasa dingin sedikit terobati dengan adanya selimut yang menutupi tubuhku. Tapi sekarang, aku harus mendekat juga ke api unggun yang sudah dibuat Kak Bintang.


"Nih, diminum dulu. Biar segar dan mengurangi dingin," kata Kak Rayi memberikan secangkir kopi panas. "Wah, wajah kamu merona, sayang. Dingin banget, ya?" tanyanya sambil memperhatikan wajahku lekat - lekat. Aku mengangguk sambil meneguk kopi panas itu perlahan. Cukup membantu, apalagi api di depanku mulai berkobar lebih besar. Mereka akan memasak sarapan untuk mengisi perut kami. Ikan bakar dan beberapa makanan kaleng sudah mulai tersaji di piring besar. Sungguh kompak dan menyenangkan sekali melihatnya.


"Jadi Dagon itu apa sih, Om? Apa ada yang pernah melihat wujudnya? Warga desa tempat Om Opon gitu?" tanyaku saat pembahasan tentang hal itu kembali mencuat. Om Opon tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaanku.


"Mereka menyebutnya dewa, kami belum pernah bertemu dia sebelumnya. Hanya desas desus tentang Dagon memang sudah ada sejak 15 tahun lalu. Anehnya suku Hante memang ada sejak dulu, tapi kehidupan kerukunan kami tetap terjaga dengan baik. Walau mereka berada di pedalaman dan cukup jauh dari desa - desa lain, tapi kami kerap melakukan barter. Sampai akhirnya tragedi itu terjadi."


"Tragedi?"


"Iya, kepala suku Hante tewas. Kami tidak tau apa alasan mereka menuduh kalau kepala sukunya dibunuh oleh salah satu orang dari suku lain. Tidak ada bukti apa pun yang menguatkan anggapan itu. Tapi katanya ada yang melihat pembunuhnya. Dia memakai pakaian adat, dan tuduhan yang tidak disertai bukti itu, membuat perpecahan antar suku. Mereka mulai mengisolasi diri dan melarang siapa pun masuk ke wilayah mereka. Karena jika sampai suku lain masuk ke sana, maka artinya kami mengantarkan nyawa. Sudah beberapa kali kejadian seperti itu terjadi, hanya saja, suku HAnte tidak pernah membunuh seperti ancaman mereka itu. Mereka hanya menahan orang - orang kami, lalu akan melepaskan kembali setelah ada kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Tapi sikap mereka kemudian makin menjadi. 15 tahun belakangan ini, mereka mulai bar - bar. Tidak segan -segan membunuh siapa pun yang melanggar kesepakatan itu. Siapa pun yang nekat masuk ke wilayah mereka baik sengaja atau pun tidak."


"Lebih baik, kalian balik aja sama Om Opon," kataku ke mereka bertiga. Kak Rayi menggeleng cepat.


"Kak, ini berbahaya, aku nggak mau kalian kenapa - kenapa. Ini menyangkut nyawa!"cegahku dan memang benar - benar khawatir jika terjadi hal buruk pada mereka nanti. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan mereka, bahkan aku juga tidak tau apakah aku akan selama nanti.


Kak Rayi menggenggam tanganku erat, sorot matanya masuk dengan begitu dalam ke kedua bola mataku. Wajahnya terlihat sangat serius. "Aku nggak akan mundur. Apa pun yang terjadi aku bakal tetap ikut kamu ke sana. Kita hadapi bersama, Bil. Kamu juga punya aku."


"Iya, Rayi bener, Bil. Kamu itu sudah menjadi bagian dari kami. Apa pun masalahmu, kami pasti akan jadi garda terdepan untuk membantu. Jangan khawatirkan keadaan kami, toh hidup mati itu Tuhan yang mengaturnya. Kalau pun aku, kami, tidak selamat nanti seperti Om Dewa, kami nggak akan menyesal," tambah Kak Bintang.


Tenda sudah digulung, api unggun juga sudah mulai padam dan hanya menyisakan asap yang masih mengepul karena bara api yang masih panas di sana. Kami juga merapikan semua sampah dan membuangnya dengan rapi, sehingga tidak akan ada sampah berserakan di hutan ini nantinya. Bagaimana pun juga, kelestarian alam patut di jaga, kapan pun dan di mana pun.


Om Opon sudah bersiap untuk kembali. Kami tidak akan memaksanya tinggal, karena itu hak nya. Aku juga tidak ingin membebani orang lain yang memang tidak ingin ikut. Mereka memiliki kehidupan sendiri, dan aku bukan poros kehidupan orang lain. Bahkan jika boleh memilih, lebih baik aku saja yang pergi. Aku tidak ingin terjadi hal buruk pada mereka semua.


Aku memeluk Om Opon, dia terlihat sedih. "Kamu jaga diri baik - baik, ya." Nasehatnya terasa dalam, bukan sekedar basa basi belaka.


"Om juga. Makasih udah anter kami sampai sini. Hati - hati pulangnya, ya."


Setelah semua saling berpamitan, kini kami mulai berjalan berlawanan. Om Opon memutuskan menunggu sampai kami berhasil menyeberang. Derasnya air sungai tidak terlalu kuat, dan rupanya kedalaman air hanya sebatas dada. Satu persatu kami berjalan ke tempat itu, saling berpegangan tangan agar tidak mudah terbawa arus sungai. Sambil mengamati samping kanan dan kiri, aku terus berjalan mengikuti Tante Rani di depanku. Kak Bintang berjalan paling depan, dan Kak Roger paling belakang.


Merasa ada yang aneh, aku lantas menoleh ke arah kanan, dari kejauhan ada luapan air yang cukup deras, menggulung bagai ombak. "LAri!" jerit Om Opon yang memang masih menunggu di pinggir sungai. Secepat mungkin kami bergerak, berusaha agar segera sampai ke tepi. "Ayo!" Kak Bintang menarik tangan Tante Jean. Mereka berdua sudah sampai ke tepi sungai dengan selamat. Tanganku justru terlepas dari tangan Tante Rani. Dia berlari berusaha secepat mungkin bergerak.


Aku mengulurkan tanganku berusaha meminta bantuan Tante Rani, dia justru menghempaskan tanganku. Alhasil kami bertiga terbawa derasnya air sungai tersebut. Tubuhku mulai tenggelam di dalam air. Dalam keadaan ini samar aku masih melihat Kak Rayi yang berusaha meraihku. Arus sungai ini begitu deras, seperti ada luapan air dari suatu tempat dan kami tidak berdaya melawan arus deras ini. Kami terpisah.

__ADS_1


___________________


"Uhuk ... Uhuk!" Dengan susah payah aku meraih tanaman liat di sekitar, berusaha menarik tubuhku sendiri agar sampai ke tepi. Kak Rayi menarik tanganku, dan rupanya dia sudah berada di sana bersama Kak Roger. Tubuh kami basah kuyup. Aku lantas batuk - batuk dan merebahkan diri di tanah begitu saja. Rasanya air sungai ini telah ku telan beberapa tegukan, juga ada yang berhasil masuk lewat hidung.


"Kamu baik - baik saja, Bil?" tanya Kak Rayi cemas. Aku mengangguk, masih berusaha menetralkan napas ku yang hampir habis.


"Gila! Air dari mana itu tadi, ya? Hampir aja kita mati!" tandas Kak Roger. Dia berdiri di pinggir sungai memperhatikan arah datangnya kami. Rasanya kami sudah terpisah jauh dari yang lain. Hanya saja, apa yang sebenarnya terjadi tadi. Lalu kenapa tante Rani bersikap seperti tadi. Atau aku hanya sedang halusinasi saja? Mungkin arus yang sangat deras tadi membuat pegangan ku terlepas dari nya. Dia tidak kuat menahan ku lagi dan pegangan tangan kami terlepas begitu saja. Yah, pasti demikian kejadiannya.


"Lebih baik kita ganti baju dulu. Nggak mungkin kita jalan dengan kondisi basah gini. Bisa - bisa masuk angin nanti!" saran Kak Rayi.


Tas ransel kami yang berbahan dasar waterproof sangat menyelamatkan di situasi genting seperti sekarang. Isi tas kami tetap kering, dan akhirnya kami berganti pakaian lalu segera melanjutkan perjalanan lagi.


"Kira - kira bener nih, jalurnya?" tanya Kak Roger saat kami mulai mendaki ke sebuah jalanan yang menanjak.


Aku yang memegang kompas lantas mengangguk, mengiyakan. Karena setahuku memang arah yang benar adalah ke utara.


"Gimana? Mau istirahat dulu atau lanjut?" tanya kak Rayi.


"Lanjut dikit lagi aja, Kak. Sampai ke atas sana, siapa tau kita bisa lihat sekitar dari sana. Semoga kita bisa menemukan yang lain."


"Oke, sayang."


Kamu kembali melanjutkan perjalanan. Dengan bantuan ranting kayu, aku menggunakannya untuk memanjat agar memiliki pegangan supaya sampai ke atas dengan mudah.


Dengan susah payah, kami akhirnya sampai ke atas. Bukan sebuah perbukitan yang terjal, namun hamparan rumput hijau yang memukau. Ada tanah lapang di depan kami. Hijau dan terlihat indah dipandang mata.


"Waw. Serius ada tempat sebagus ini? Keren banget!" tukas Kak Roger. Aku dan Kak Rayi hanya diam, memandang hamparan permadani hijau di sana.


"Terus kita masih jauh, dari tempat itu, kah?" tanya Kak Rayi.


"Kita coba jalan terus aja, Kak. Mungkin di ujung sana masih ada jalan lain?"


Angin berembus makin kencang, padang rumput di sekitar seolah menjadi sumber angin kencang di sini. Sambil terus berjalan, aku juga memperhatikan sekitar. Berharap dipertemukan dengan rombongan teman - teman yang lain. Namun, hasilnya nihil. Seolah - olah hanya ada kami bertiga di sini.

__ADS_1


Sampai di ujung padang rumput luas itu, kami menghentikan langkah, karena rupanya di bawah kami ada sebuah tebing terjal, dan di bawah sana terdapat beberapa rumah - rumah kuno.


"Jangan - jangan itu yang kita cari!"


__ADS_2