pancasona

pancasona
67 pertarungan Raja


__ADS_3

Mereka mulai memasuki hutan terlarang. Sambil terus memperhatikan sekitar, bibir mereka juga terus menggumamkan doa dan dzikir yang tidak pernah putus. Doa dan dzikir yang mereka ucapkan mulai terdengar di segala penjuru tempat. Apalagi hutan itu memang sangat sepi dan sunyi. "Apri di mana, ya?"


Ya pertanyaan itu memang sudah sangat ini diutarakan oleh semua orang. Karena mereka belum menemukan keberadaan Apri sampai detik ini. Padahal mereka sudah berjalan cukup jauh dari pintu masuk hutan terlarang. Seharusnya sosok yang mendiami tubuh Apri juga sudah melihat kedatangan mereka, dan segera mendekat untuk meminta syarat yang tadi sudah dia ajukan. Tapi sampai saat ini keberadaan sosok itu belum juga terlihat.


"Kita cari ke mana lagi, ya?" tanya Ita yang mulai kelelahan dan cemas.


"Ini sudah satu jam dari persyaratan yang diajukan makhluk itu. Apa Apri sudah diambil oleh dia? Pertanyaan Diah justru membuat mereka makin cemas. Karena ini memang sudah satu jam, bahkan lebih, dari persyaratan yang diminta oleh sosok jahat tadi.


"Mudah-mudahan Apri baik-baik saja. Kita berdoa saja sama-sama," sahut Rea mencoba berpikir positif, walau dalam lubuk hatinya juga sangat mencemaskan kondisi Apri.


"Jadi kita ke mana lagi?" tanya Dana sambil menatap sekitar. Pencarian mereka tentu sangat melelahkan. Apalagi jika sosok yang ada di tubuh Apri juga sengaja menghindari mereka, atau sedang melakukan petak umpet untuk mengulur waktu atau mengusik kesabaran mereka.


"Hei apa mungkin dia sengaja menunggu kita di sumur tua itu?" tanya Hana memberikan ide.


"Yah, bisa jadi. Apa sebaiknya kita ke sana, Pak?" Dana menatap Pak Wiryo yang sejak tadi diam sambil terus mengamati sekitar.


"Yah, kita coba ke sana. Karena di sumur itulah sumber dari segala malapetaka yang terjadi di sini. Mungkin dia memang sengaja memancing kita untuk ke sana, jadi kalian semua harus waspada," tukas Pak Wiryo serius.


Mereka pun mulai berjalan ke arah sumur tua itu berada. Doa dan dzikir terus dikumandangkan dalam hati maupun diucapkan dengan lisan. Semua orang terus waspada sambil menatap sekitar.


Perjalanan menuju ke sumur tua itu tidaklah lama. Apalagi beberapa dari warga desa memang telah hafal Di mana letak sumur tua tersebut. terutama Pak Wiryo yang sudah sangat sering keluar masuk hutan, dan bahkan tidak merasakan takut sama sekali. Mereka pun akhirnya di sumur tua. Benar saja, Apri sedang ada di sana. Dia berdiri di atas umur tersebut. Untungnya penutup sumur itu terbuat dari lempengan besi yang sangat kuat. Sehingga saat Apri berdiri diatasnya sekalipun, benda tersebut tidak akan runtuh dan jatuh ke bawah. Bahkan saat Apri melompat-lompat seakan-akan menganggapnya seperti trampolin, benda itu tidak bergerak sedikitpun.


"Kami sudah datang."

__ADS_1


Posisi gadis itu yang awalnya membelakangi mereka, kini berbalik badan. Dia menyeringai dengan ekspresi yang menyeramkan. Bahkan Apri tidak pernah melakukan senyuman mengerikan seperti itu selama ini. Apri dikenal sebagai sosok gadis yang baik, ceria, Tulus Dalam berteman dengan siapapun, walau otaknya sedikit lama dalam merespon pelajaran, dan sering menyontek teman-temannya, tapi Apri adalah salah satu anak yang baik dalam tutur kata dan perbuatan.


"Jadi apa keputusan kalian? Tapi kulihat, Fauzan tidak bersama dengan kalian. Itu artinya kalian tidak ingin menukar Fauzan dengan gadis ini, bukankah begitu?"


"Siapa bilang? Itu hanya keinginan mu saja bukan?" tanya Pak Wiryo. Gadis itu tertawa dengan suara yang cukup kencang. "Lalu apa yang kalian mau? Bukankah sudah jelas persyaratan yang aku ajukan? Gadis ini atau Fauzan!"


"Tentu saja kami tidak akan memberikan keduanya. Seharusnya kau tahu itu. Karena aku juga tidak akan membiarkan kau memiliki salah satu dari kami. Kau tidak pantas mendapatkan apapun. Kau itu bukan siapa-siapa! Jadi sebaiknya kau lebih tahu diri!" pernyataan Pak Wiryo membuat makhluk itu marah.


Bola mata Apri berubah menjadi merah.Kedua tangannya mengepal di samping tubuh. Bahkan kini tubuhnya tampak bergetar menahan emosi yang hendak ia keluarkan.


" jangan main-main denganku, Pak Tua! Sudah jelas aku menginginkan salah satu dari anak muda kota itu. Tapi kenapa kau malah menentang ku. Apa kau ingin aku mengambil paksa salah satu dari warga desamu? Begitu kah?" tanya Apri yang suaranya kini berubah menjadi sosok pria.


" Kamu tidak akan bisa mengambil salah satu dari kami. Kami bukan makhluk lemah seperti apa yang kau pikirkan. Kau lupa kalau Allah ada di pihak kami?"


"Jadi kalian ingin menantangku, ya? Apakah kalian yakin akan melawan ku? Karena jika sampai kalian kalah, maka seluruh nyawa kalian akan menjadi milikku."


Kalimat ancaman itu membuat beberapa warga desa mulai ketakutan dan meragukan situasi yang sedang mereka hadapi sekarang.


" apa? Takut? Kau ini bercanda ya? Untuk apa aku takut padamu? Kalau aku takut, pastinya aku tidak menghampirimu! Seharusnya kau lah yang takut!"


"Hahahaha! Omong kosong!" Apri melompat dengan jarak yang cukup jauh. Dia kini sudah berdiri di hadapan Pak Wiryo hanya berjarak beberapa langkah saja.


"Sebaiknya kau hadapi aku dulu!" cetus Raja yang kini berdiri di hadapan ayahnya, menantang makhluk tersebut.

__ADS_1


" Tentu saja aku tidak takut. Maka jika kalian semua maju menghampiriku, Aku sama sekali tidak Gentar. Justru kalian yang akan aku musnahkan saat ini juga!"


Tubuh Apri berubah menjadi makin aneh. Urat urat di sekujur tubuhnya menyembul keluar. Kulitnya berubah menjadi kehitaman dengan garis-garis merah di setiap urat nadinya.


Raja menatap sambil menelan ludah berkali-kali. "Raja, Jangan biarkan dia mengembangkan tubuhnya. Karena jika sampai tubuhnya membengkak, maka seluruh pembuluh darahnya akan pecah. Itu berbahaya untuk gadis itu," bisik Pak Wiryo yang berada di belakangnya.


Raja seakan paham dalam situasi ini. Dia langsung menyerang Apri dan membuat makhluk hidup Berhenti melakukan aksinya.


"Ayo, semuanya rapatkan barisan dan bentuk lingkaran!" perintah Pak Wiryo tegas.


Semua orang lantas menuruti perkataan Pak Wiryo. Mereka merapatkan barisan dengan saling berpegangan tangan satu sama lain. Lalu membentuk sebuah lingkaran besar, dengan posisi Apri dan Raja yang berada di tengah-tengah. Tidak lupa dzikir dan doa masih terus mereka kumandangkan dengan suara lantang. Sambil melihat pertarungan antara raja dan makhluk jahat itu, mereka berusaha untuk membuat pagar keliling kokoh agar makhluk itu tidak bisa kabur ke manapun.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata hitam yang sedang mengintip mereka dari balik semak-semak, yang berada tak jauh dari mereka. Dia sejak tadi hanya mengamati pergerakan mereka semua. Tidak ada yang menyadari kehadirannya. Semua hanya fokus pada pertarungan Raja dan makhluk itu.


Raja adalah putra sulung Pak Wiryo. Umurnya saat ini baru menginjak 25 tahun. Hanya saja sejak kecil Raja memang sudah terlahir spesial dengan beberapa kemampuan unik yang berbeda dengan adiknya Radi. Salah satu kemampuan Raja adalah bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Sejak kecil dia kerap bermain-main di sekitar hutan terlarang. Bahkan di saat anak anak sebayanya tidak ada yang berani menginjakkan kaki di tempat tersebut, Raja justru menganggap tempat itu adalah sebuah lahan bermain yang unik. Raja juga bukan termasuk anak yang mudah bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Dia bahkan tidak punya teman. Kebanyakan anak-anak sebayanya justru takut jika berada di dekat Raja. Raja memang tidak menunjukkan ketertarikan berteman dengan anak-anak sebayanya. Dia justru lebih sering terlihat berbicara sendiri dan membuat orang-orang menyebutnya dukun cilik.


Setiap perkataan Raja akan menjadi kenyataan. Beberapa bencana bahkan kematian seseorang bisa terlihat oleh mata batinnya. Beberapa orang mengutuk Raja dan menganggapnya anak ane dan pembawa sial, sebagian justru sering menggunakan Raja sebagai cara untuk meraih kekayaan secara instan. Walau pada akhirnya Raja justru lebih banyak bungkam dan tidak mau menggubris orang-orang tersebut.


Kemampuan unik ini yang membuat orang tuanya menyekolahkan Raja di pondok pesantren di luar pulau. Dia ingin putranya dapat dididik dengan lebih baik lagi, terutama mengenai kemampuan uniknya tersebut. Padahal beberapa pendapat mengatakan, jika Raja sejak lahir sudah ditempeli oleh makhluk halus. Itu sebabnya dia bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan para makhluk tak kasat mata itu. Pak Wiryo menyadari hal itu, dan tidak pernah menepisnya sama sekali. Karena kemampuan Raja diturunkan olehnya. Pak Wiryo juga memiliki kemampuan yang serupa, dan dia sangat paham bagaimana perasaan Raja di tengah gempurnya ejekan serta hinaan dari orang - orang di sekitarnya. Pak Wiryo sadar kalau Raja memiliki pengikut yang memang ada sejak dia lahir. Biasanya orang-orang menyebutnya khodam.


Pada dasarnya setiap orang memiliki , namun tidak semua bisa mengetahui dan merasakan.Untuk khodam leluhur biasanya tidak semua keturunan bisa didampingi, hanya orang-orang atau keturunan tertentu. Khodam leluhur merupakan perewangan gaib yang dimiliki oleh nenek moyang. Menurut Primbon Jawa, konon Khodam yang diwariskan itu berasal dari keilmuan, jimat, dan tingkatan leluhur. Tujuan Khodam leluhur ini adalah untuk membimbing, menjaga, mendampingi, serta membantu kehidupan anak cucunya atau keturunannya. Jin leluhur ini bisa diwariskan oleh leluhur kepada keturunannya. Selain diminta secara langsung, jin leluhur tersebut biasanya diberikan tanpa sepengetahuan calon penerimanya.


Khodam yang ada pada diri Raja berbentuk harimau putih. Khodam harimau atau macan putih biasanya berasal dari ilmu keturunan untuk menjaga seseorang. Sifatnya tenang, santai, dan tidak terburu-buru. Akan tetapi khodam yang satu ini dapat memengaruhi emosi seseorang sebagai tuannya apabila dia tidak dapat mengendalikan diri.

__ADS_1


Setelah menimba ilmu di pondok pesantren, Raja pun akhirnya berhasil mengendalikan segala macam ilmu yang ia miliki. Bahkan dia pun mulai bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang memang dipercaya datang dari kiriman makhluk jahat seperti sihir atau santet. Kini dia sudah dewasa, dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota. Karena kesibukan kuliah, dia jarang sekali pulang ke rumah. Apalagi karena jarak rumah dan tempat dia menimba ilmu cukup jauh dan tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hanya saja perasaannya tidak nyaman selama beberapa hari terakhir. Bahkan dia kerap bermimpi mengenai desanya dan keluarganya yang sedang dalam bahaya. Raja pun memutuskan pulang untuk memeriksa kondisi keluarganya dan ternyata apa yang dia sangka memang terjadi.


__ADS_2