pancasona

pancasona
Part 26 Teror di rumah om Dewa


__ADS_3

"Bil, mungkin dia bukan manusia ...," sambung Kak Bintang.


Aku diam, menatap lorong penghubung kamar-kamar dan berakhir ke dapur rumah ini. Rasa penasaran ini membuncah, antara penasaran akan sosok ibu tadi, dan juga takut jika memang dia adalah makhluk tak kasat mata lainnya. Apalagi dengan background yang sudah terkenal selama ini, kalau tanah Borneo memiliki rahasia dan kental akan hal mistis.


"Sayang, mending kamu balik ke kamar saja," ucap Kak Rayi. Aku menarik nafas panjang, lalu menggeleng. "Aku harus periksa ke dapur, Kak. Aku harus pastikan kalau ibu tadi beneran ada. Kalau pun dia bukan manusia, aku ingin memastikan saja."


"Sayang, jangan," bujuk Kak Rayi lagi.


"Kak, aku harus cek. Aku nggak bisa diem gini aja. Belum lagi soal hantu mariaban di luar. Mungkin yang di luar masih bisa aku hindari, tapi ini di rumah, di dalam rumah. Aku nggak bisa diem saja, Kak."


"Bener itu, Yi. Semoga saja ibu tadi hantu baik, " tegas Kak Roger.


"Oke, tapi video call nya jangan dimatikan, Bil," pinta Kak Rayi.


Aku mengangguk paham, lalu beranjak dari posisi dudukku sekarang. Tidak langsung bergerak dari lantai yang ku pijak, namun mengumpulkan dulu keberanian yang entah sejak kapan tiba-tiba menghilang. Angin berembus menerpa kulit wajahku. Dingin, hingga aku memejamkan mata demi mengusir rasa takut ini. Aku mulai melangkah, hingga saat sampai di lorong, kaki ini seolah berhenti secara otomatis. Sudut gelap di ujung sana membuat nyaliku ciut. Namun suara beberapa anak kecil yang berada di balik kamar-kamar ini membuat keberanianku seolah kembali bangkit. Bagiku, asal mengetahui masih ada manusia di sini, itu sudah cukup.


"Sayang, hati-hati." Layar ponsel kuhadapkan pada wajahku. Mereka bertiga juga terlihat tegang, di atas kasur masing-masing. Aku mengangguk lantas berjalan selangkah demi selangkah ke ujung koridor. Suasana entah kenapa makin mengerikan. Bagaikan sedang menuju ke ruang eksekusi, aku makin ragu, tapi otakku seolah terus menyuruh untuk tidak berhenti.


Ujung lorong mulai terlihat, tubuhku makin bergetar saat menyibak korden penghubung dapur dengan koridor ini. Saat kusibak cepat kain panjang di hadapanku, justru aku tidak menemukan apa pun di dapur yang terbilang cukup besar tersebut. Walau demikian, aku tetap masuk ke dapur dan mencari di mana sosok ibu tadi berada. Bilik kamar mandi ku buka lebar. Ada sekitar 5 bilik kamar mandi di sini, selain ada tungku untuk memasak, ada juga meja dengan kompor gas yang berada di sudut dapur.


"Nggak ada siapa-siapa," ujarku menatap ketiga pria tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu balik kamar aja, sayang," suruh Kak Rayi. Aku menurut, lalu berjalan meninggalkan dapur. Tapi belum sampai aku keluar ruangan ini, jendela yang dekat dengan pintu belakang rumah seperti diketuk pelan. Otomatis aku menoleh. "Kalian dengar?" tanyaku pada mereka.


"Apaan?"


"Ada yang ketuk pintu!"


"Pintu mana?"


"Itu di belakang ada pintu, kak," tunjukku lalu mengarahkan layar ke kayu berbentuk persegi panjang di sana.


"Bil ... jangan," desak Kak Rayi, melarangku mendekat.


"Nggak apa-apa, kak."


"Bil, lu ngapain?" tanya Kak Roger.


"Nggak ada apa-apa, Kak. Aku buka pintu belakang."


"Serius lu?"


"Coba balik layarnya, Bil."

__ADS_1


"Sayang, buruan tutup pintunya, mending kamu masuk kamar, tunggu Papa kamu balik. Udah malem ini."


"Bentar, kak." Aku menuruti kata-kata Kak Bintang, membalik layar agar mereka dapat melihat pemandangan di luar sana. Jadi aku tidak melihatnya seorang diri sekarang.


"Wow, serem banget. Bener-bener mirip di hutan."


"Tapi nggak ada apa-apa, ya?"


"Eh, itu apa di sana," kata Kak Rayi.


"Mana?" tanya Kak Bintang dan Kak Roger bersamaan.


"Di balik pohon depan itu!"


Otomatis aku mengernyitkan kening dan berusaha mempertajam penglihatan di tengah suasana malam halaman belakang rumah itu, yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan pemandangan di depan mau pun samping rumah. Semua tampak sama.


Sebuah benda terlihat buram, karena gelapnya malam, dan rimbunnya pepohonan. Tetapi rasanya justru dia terlihat unik dari sekitar. Sebuah tubuh terlihat makin jelas. Bersembunyi di balik pohon di luar sana. Tubuhku kaku, bahkan menelan ludah berkali-kali rasanya tidak membantu tenggorokanku yang makin kering.


"Masuk!" jerit suara di luar sana, nyaring sekali di telinga. Anehnya pintu tiba-tiba tertutup cepat dan keras. Membuat aku terlonjak kaget, dan segera berlari keluar. Lorong kamar-kamar ini terdengar sunyi, aku mengetuk semua pintu dan berharap ada satu saja orang yang keluar dari dalam sana. Telepon masih menyala, dan aku malah tidak memperdulikan teriakan Kak Rayi, Kak Bintang dan KAk Roger.


Sampai akhirnya aku sampai di ruang tengah, dan hendak membuak pintu depan. Tetapi pintu itu justru sudah dibuka terlebih dahulu oleh seseorang. Beberapa orang kini mulai masuk ke dalam, rupanya mereka orang-orang yang mengantar Om Dewa ke pemakaman. Aku mencari wajah-wajah yang paling aku inginkan. Papa!

__ADS_1


"Bil? Kenapa?" tanya Papa yang heran melihatku berdiri mematung di depan pintu, bahkan menghalangi orang-orang yang hendak masuk. Aku lantas memeluknya dan menangis sejadi jadinya. Ponsel di ambil oleh Om Gio. "Hei, kenapa sayang?" tanya Papa lagi. Aku melepaskan pelukanku lalu menunjuk ke koridor yang mengarah ke dapur. Aku lantas menceritakan semua, Om Gio juga mendengar penjelasan dari iga pemuda di sambungan video yang belum kumatikan sejak tadi.


"Maaf, anak, tapi semua orang pergi ke pemakaman. Nggak ada satu pun yang tinggal di rumah," kata salah satu kerabat Om Dewa. Tubuhku luruh ke lantai setelah menceritakan semua dan mendengar penjelasan kalau ternyata sejak tadi aku seorang diri di rumah. Lantas suara siapa yang kudengar di bilik-bilik kamar tadi? Astaga.


__ADS_2