pancasona

pancasona
58. Penyelamatan


__ADS_3

"Kami diserang zombi, Pak!"


"Apa? Zombi?"


Pak Wiryo sangat terkejut mendengar penuturan anak anak yang ia temui beberapa hari lalu di hutan. " Kalian sedang apa di sini? Jadi kalian belum pulang? Saya pikir kalian cuman sebentar saja di hutan itu?" tanya Pak Wiryo. " itu kenapa mereka? Mereka terluka?" tanya Pak Wiryo lagi sambil menunjuk Apri dan Hana yang sudah bersimbah darah.


" Ceritanya panjang, Pak. Yang jelas Kami sekarang butuh bantuan. Kalau teman kami tidak bisa diselamatkan secepatnya, takutnya kondisinya akan lebih parah dari ini," jelas Rea sambil menatap Pak Wiryo penuh harap.


"Ya sudah. Ayo ke desa kami saja. Kebetulan hari ini ada kunjungan dari Puskesmas ke desa. Siapa tahu teman-teman kalian bisa diselamatkan. Nanti saya juga akan minta tolong untuk menghubungi ambulan," jelas Pak Wiryo.


"Terima kasih banyak, Pak!" seru Leni bersemangat. Tidak hanya Leni tapi mereka semua kini sangat berantusias.


" tunggu sebentar. Saya panggilkan anak saya dulu untuk membawa Mbak ini pulang ke desa kami," tunjuk Pak Wiryo pada Apri yang sudah terkulai lemas. "Radi! Di! Sini dulu! Tolong ini dulu!" jerit nya agak tergesa gesa.


Tak jauh dari mereka muncul seorang pemuda yang berumur berkisar 25 tahunan. Pak Wiryo dan putranya, Radi, sedang mencari kayu bakar dan juga rumput untuk pakan ternak mereka.


Radi yang sedang memegang celurit sambil memotong rumput, lantas bergegas meletakkan benda tajam itu ke ikat pinggang yang ada di tubuhnya. Pemuda itu bergegas mendekat ke ayahnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, Dia segera membawa tubuh Apri ke belakang punggungnya.


Sudah mengerti maksud dan tujuan Pak Wiryo yang meminta dia membawa Apri. Radi segera berlari kecil menuju Selatan Di mana letak Desa mereka berada.


"Ayo, kita pergi."


"Tapi, Pak ...." Rea mulai ragu dan kini terus menatap ke belakang.


"Ada apa?"


"Teman teman kami masih ada yang tertinggal di belakang."


"Oh iya, benar juga. Bukannya kemarin kalian ada 9 orang. Sisanya ke mana? Kok bisa tertinggal? Lalu ini, anak kecil ini siapa?"


"Ceritanya panjang, Pak. Ini Riri, salah satu korban selamat dari desa sebelah. Dan teman teman kami sedang melawan orang yang telah membunuh warga desa tempat Riri tinggal. Saya cemas, terjadi sesuatu dengan mereka," ucap Rea sambil terus menatap ke belakang. Berharap kalau Dana dan yang lainnya segera muncul.


"Baiklah kalau begitu. Kita kembali dulu ke desa, nanti saya akan meminta bantuan ke warga yang lain untuk mencari teman-teman kalian itu. Ayo, saya yakin kalian belum makan dan istirahat. Jangan sampai kalian semua sakit sebelum pulang ke rumah nanti."


Tidak diduga, Pak Wiryo termasuk orang yang sangat perhatian dan baik. Dia terlihat sangat mencemaskan mereka, dan benar-benar ingin menolong. Akhirnya Rea dan yang lain mengikuti Pak Wiryo untuk pulang ke desa. Lagipula jika mereka harus mencari Dana dan yang lain ditakutkan kalau sampai mereka tidak bertemu, atau lebih parahnya kalau pun bertemu, apakah mereka bisa menghadapi Jaka yang memang memiliki kepribadian menyimpang. Tentu saja itu bukan lagi ranah Rea, dan teman-temannya. Mereka memang membutuhkan pertolongan dari orang lain. 

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke desa di mana Pak Wiryo tinggal. Hari sudah pagi saat mereka sampai ke desa tersebut. Suasana desa tentu tampak ramai dengan berbagai kegiatan warga desa. Apalagi mereka kini sedang berada di pasar yang letaknya dekat dengan gerbang desa. Berbagai aktifitas kini meramaikan suasana. Sehingga saat mereka datang, Rea dan kawan-kawannya agak sungkan. Apalagi dengan pendampilan mereka yang berantakan. 


"Ayo, sini," ajak Pak Wiryo dan membawa mereka ke sebuah rumah yang cukup besar. Di sana ada beberapa orang yang mengenakan pakaian dinas khas pegawai kelurahan. Di tambah dengan adanya mobil yang parkir di dekatnya, membuat mereka yakin kalau mereka benar-benar berada di peradaban manusia yang sebenarnya, bukan tempat jadi-jadian yang saat malam bisa berubah 180 derajat. "Duduk dulu. Oh ya, siapa lagi yang terluka, bisa langsung diobati oleh pegawai kesehatan di dalam," tukas Pak Wiryo dengan gerakan yang sistematis. 


Rea dan teman-temannya hanya saling pandang, lalu memeriksa tubuh masing-masing untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja. Tidak banyak bicara hanya tatapan mereka yang menyiratkan banyak hal. "Kami baik-baik saja, Pak," jawab Rea yakin. 


"Syukurlah kalau begitu. Teman-teman kalian sedang diobati di dalam. Untung ada dokter yang bisa menangani luka tusuk tadi, jadi kalian tidak perlu cemas. Lalu kami sedang menyiapkan orang-orang untuk mencari teman-teman kalian yang lain. Jadi kalian jangan khawatirkan mereka. Sebaiknya kalian beristirahat dulu. Kalau mau mandi silakan ada kamar mandi di belakang," jelas Pak Wiryo. 


"Iya, Pak. Terima kasih," sahut Rea sambil menundukkan kepala. 


Pak Wiryo lantas pergi dari tempat itu dengan beberapa orang pria. Mereka hendak mencari Dana, Hani, dan Blendoz. Namun Rea dan yang lain sudah menceritakan lebih dahulu apa saja yang sudah mereka alami selama beberapa hari terakhir, terutama mengenai kejadian di desa Tabuk Hilir. Para warga desa yang berubah menjadi menyeramkan saat matahari terbenam, lalu Jaka yang merupakan penyebab dari hancurnya desa tersebut. Permasalahan itu tentu tidak mudah untuk diatasi. Hal pertama yang akan mereka lakukan adalah menemukan Dana, Hani, dan Blendoz lebih dahulu. Karena mereka merupakan sandera yang harus menjadi prioritas penyelamatan. 


Bahkan polisi pun sudah dihubungi dan tidak butuh waktu lama, beberapa mobil polisi sudah datang, bersama dengan regu penyelamatan, sekaligus Datasemen khusus atau biasa disebut pasukan elite. Indonesia memiliki pasukan elit yang disegani dunia. Pasukan elite tersebut terdiri dari prajurit Tentara Republik Indonesia (TNI) pilihan yang tergabung dalam beberapa regu khusus.Ada enam regu khusus berasal dari tiga matra, Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, yang disegani dunia. Regu KOPASUS dikerahkan untuk misi kali ini.


Komando Pasukan Khusus yang disingkat menjadi Kopassus merupakan bagian dari Komando Utama tempur yang dimiliki oleh . memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror. Tugas Kopassus Operasi Militer Perang (OMP) diantaranya Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Combat SAR, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus). Selain itu, Tugas Kopasus Operasi Militer Selain Perang (OMSP) diantaranya Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, SAR Khusus serta Pengamanan VVIP.


Prajurit dapat mudah dikenali dengan merah yang disandangnya, sehingga pasukan ini sering disebut sebagai pasukan baret merah. Kopassus memiliki moto "Berani, Benar, Berhasil". 


Rea, Ita, Leni, Diah dan Riri mulai merasa lega. Mereka merasa sudah benar-benar aman kali ini. Sambil menunggu Hana dan Apri diobati, mereka pun bergantian mandi. Sejak datang ke Tanah Borneo itu, mereka mulai tidak memikirkan kebersihan seperti mandi. Bahkan untuk urusan toilet saja mereka harus mencari tempat yang benar agar tidak merusak alam dengan membuang kotoran sembarangan. 


Setelah mandi mereka pun merasa nyaman dengan tubuh yang bersih. "airnya segar banget, ya. Air di rumah kalah segernya!" ucap Leni.


"Iya, bener. seger banget. Di badan juga enak. Nggak bikin kedinginan."


"Mungkin air nya dari mata air murni, jadi masih segar gini."


Begitulah obrolan mereka sambil mengeringkan rambut yang basah setelah keramas tadi. Riri mulai berbaur dengan sekitar. Anak-anak kecil di desa tersebut cukup banyak yang sebaya dengan Riri. Sehingga baru hitungan Jam Saja Riri langsung memiliki teman.


Rea dan teman-temannya senang melihat Riri sekarang tersenyum. Bahkan setelah mandi, Riri menjadi tampak lain dari sebelumnya. Gadis kecil itu menjadi lebih bersih dan segar, Ditambah lagi dengan keceriaan wajahnya yang sudah sangat lama sekali tidak terlihat. Rea lega karena akhirnya Riri bisa bahagia, dan bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Tiba-tiba Riri berlari mendekati Rea. Dengan wajah yang tampak bahagia dia menatap Rea dengan penuh harap.


"Kak Rea, Riri boleh minta sesuatu?" tanya gadis kecil itu dengan malu-malu.


"Minta apa, Riri?"


"Riri nggak mau pergi ke kota. Kalau boleh Riri ingin tinggal di sini saja. Apalagi Desa ini dekat sama Desa Riri tinggal dulu. Jadi kalau Riri kangen rumah, Riri bisa ke sana nanti."

__ADS_1


Rea tidak langsung menjawab pertanyaan Riri. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengiyakan permintaan gadis kecil itu. Pertama dan paling utama, adalah di mana Riri akan tinggal nanti.


"Nggak boleh ya, Kak?" tanya Riri yang langsung mengatakan itu saat Rea tidak memberikan tanggapan.


" bukan. Bukannya nggak boleh. Tapi Kak Rea sedang memikirkan, kalau Riri mau tinggal di sini Riri nanti mau tidur di mana. Apa ada orang yang mau merawat Riri? Kak Rea sama sekali nggak keberatan. Hanya saja Kakak memikirkan kehidupan kamu nantinya jika kami tinggalkan di sini."


Perkataan Rea memang ada benarnya. Meninggalkan Riri di desa tersebut bukanlah perkara yang mudah. Jika tinggal di desa itu maka Riri tidak hanya akan tinggal 1 hari atau 2 hari saja, tapi untuk selamanya. Dan siapa yang akan menanggung kehidupan Riri ke depannya.


Riri tampak kecewa, tapi dia mengerti maksud dari perkataan Rea. Jadi gadis kecil itu tidak protes sama sekali. Justru dia malah kembali bermain dengan teman-temannya yang lain. Melupakan perkataannya barusan, dan menuruti perkataan Rea.


Apalagi mengenai tujuan Riri tinggal di desa tersebut, yang dekat dengan desa tempat tinggalnya dulu. Rea merasa tidak aman jika Riri harus kembali ke desa mengerikan itu. Walau sekarang sedang dikerahkan pasukan khusus untuk membasmi para mayat hidup yang masih ada di desa tempat Riri tinggal, tapi saya tetap tidak setuju jika Riri harus berkeliaran lagi di tempat itu. Banyak hal berbahaya yang mungkin akan terjadi nantinya. Apalagi jika Riri datang ke desa itu seorang diri.


Lamunan Rea buyar saat ada suara riuh terdengar di luar. Sontak mereka semua beranjak dari duduk dan melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Orang-orang yang sedang mencari keberadaan dana dan Yang lain sudah kembali. Rea mencari keberadaan teman-temannya tapi belum juga diketemukan. Sampai akhirnya Reni berseru sambil menunjuk ke arah belakang rombongan pasukan khusus yang baru saja tiba.


"Itu mereka!" seru Leni.


Setelah diperhatikan dengan seksama memang benar kalau itu adalah teman-teman mereka. Akhirnya semua orang bisa bernafas lega sekarang. Kalau setelah dilihat dari dekat kondisi Dana, Hani, dan Blendoz tampak kacau. Tubuh mereka kotor penuh dengan Lumpur.


"Syukurlah kalau kalian bisa ketemu! gimana? Kalian baik-baik aja kan?" tanya Rea sambil memperhatikan mereka satu persatu.


"Kami baik baik aja kok. Untungnya bantuan segera datang, Jadi kami Selamat."


"Terus si Jaka mana?" tanya Diah penasaran.


"Dia ... meninggal. Terkena tembakan saat kabur tadi."


"Serius? Astaga! Akhirnya si iblis mati juga!"


"Tapi ... Bukan cuma itu aja. Ada 1 orang lagi yang belum kalian lihat," kata Dana. Dia lantas menoleh ke belakang diikuti teman-teman yang lain.


"Fauzan?!" pekik mereka bersamaan.


" kok Fauzan bisa ikut ke sini juga?"


" iya, tadi setelah kita balik, tiba-tiba Fauzan berdiri di hutan terlarang. Aku udah bilang sama polisi kalau Fauzan Juga berbahaya. Tapi anehnya sejak dia diketemukan sampai sekarang, nggak ada tindakan aneh dan berbahaya yang Fauzan lakukan. Kami jadi berasa nggak enak, takutnya apa yang kami bilang dikira bohong dan mengada-ada."

__ADS_1


Rea dan yang lain pun akhirnya menatap Fauzan yang sedang ber jalan santai diapit beberapa orang dengan seragam khusus. Dari apa yang dilihat Fauzan memang tampak lebih tenang. Dia tidak seperti Fauzan yang terakhir kali mereka temukan. Bahkan Rea merasa kalau Fauzan yang sedang mereka lihat sekarang adalah Fauzan yang selama ini menjadi teman mereka.


__ADS_2