
Rea terperanjat ketika ada sentuhan dingin terasa di pergelangan kaki kirinya. Dia yang sedang tidur nyenyak segera bangun dan langsung duduk di atas ranjang. Rea menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya, dan mencari benda dingin yang baru saja menyentuh kakinya.
"Apa aku mimpi, ya?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat sekitarnya yang tidak ada hal aneh dan mencurigakan, Rea akhirnya bisa bernafas lega. Dia memperhatikan kedua sahabatnya yang sedang tidur di sampingnya. Leni dan Apri dampak tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan wajah polos mereka membuat Rea merasa geli saat melihatnya. Dia Lantas berniat kembali melanjutkan tidurnya yang terjeda. Lampu kamar Leni yang memang sengaja dimatikan memang membuat ruangan tersebut gelap. Hanya saja cahaya dari ruang tengah membuat kamar tidak terlalu gelap. Sehingga Rea bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali sepasang kaki telanjang yang berada di balik korden jendela kamar yang menembus ke halaman samping rumah Leni.
Rea yang awalnya hanya sekilas menatap ke arah itu, mendadak jantungnya berdegup lebih cepat. Apa yang dia lihat membuat perasaan takutnya kembali datang. Sehingga rasa kantuknya tiba tiba leyap begitu saja. Rea justru tidak bisa berpaling dari tempat di mana sepasang kaki itu berada. Rea justru menatapnya lekat lekat. Dia penasaran dengan apa yang sedang ada di hadapannya. Berharap jika hal yang dia duga sebelumnya adalah sesuatu yang salah. Namun Semakin dilihat dengan seksama, sepasang kaki itu justru terlihat makin jelas. Apalagi ditambah dengan kain putih yang seolah-olah berada di sekitarnya.
Horden yang menutupi tubuh dari pemilik kaki itu, tanpa berkibar-kibar seperti ditiup oleh angin. Padahal Rea ingat betul kalau semua jendela dan pintu di rumah ini sudah ditutup dan dikunci. Apalagi jendela yang berada di kamar Leni. Mereka yang lebih lama menghabiskan waktu di kamar, tentu tidak mungkin melupakan jendela kamar itu dan sudah pasti akan menutupnya segera saat sore hari tadi.
Rea perlahan malah penasaran dengan sosok pemilik kaki jenjang itu. Walau dia sebenarnya takut, tapi dia justru ingin mengetahui wajah itu. Bagai bisa membaca pikiran Rea, sosok itu justru menyibak horden tersebut. Menunjukkan bagaimana tampangnya yang sudah pasti tidak enak dilihat. Dia merupakan sesosok wanita dengan wajah rusak. Kedua bola matanya tidak utuh. Salah satunya berlubang dan tidak ada bola mata di sana. Yang sebelah lagi justru memiliki lensa matanya yang kecil dan menyipit. Warna putih mendominasi dan hanya menyisakan satu titik hitam di tengahnya saja.
Gaun putih yang ia punya tampak kusam dan sedikit kotor dengan bercak di beberapa bagiannya. Hanya saja rambut yang menjulur panjang sampai lutut justru tampak basah sehingga menimbulkan tetes tetes air di kakinya. Wanita itu menyeringai, yang membuat makin mengerikan adalah mulutnya yang robek hingga sampai ke telinga. Rea yang ketakutan hendak memalingkan wajah, hanya saja tubuhnya justru kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan memejamkan matanya saja dia tidak sanggup. Hal yang harus Rea lakukan, adalah terus menatapnya, yang kini justru mulai bergerak mendekat. Dengan menyeret sebelah kakinya, sosok wanita itu terus berusaha mendekati Rea.
Rea hendak memanggil teman temannya, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Padahal jarak antara dirinya dengan kedua temannya tidak sampai satu jengkal saja. Semakin lama jarak sosok wanita itu semakin dekat saja. Kaki sosok wanita itu sama sekali tidak bergerak, dia justru melayang tanpa harus menggerakkan anggota tubuhnya. Tanpa terasa dia sudah berada satu langkah di depan Rea.
Sosok itu berdiri di dekat rajang tersebut. Dia masih menyeringai dengan ekpresi yang sama. Bahkan tidak mengubahnya sama sekali. Rea sudah keringat dingin, dia tidak tahu harus berbuat apa dan akan diperlakukan seperti apa. Tapi pada akhirnya Rea pun sudah pasrah terhadap apa pun yang akan ia terima. Hanya saja dia terus berdzikir dalam hati, karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan saat ini.
__ADS_1
Tiba tiba ranjang yang ia tempati bergerak. Rupanya gerakan itu berasal dari seseorang di belakang tubuhnya. Posisi Rea yang tidur menyamping membuat dia memunggungi teman temannya. Dan Apri saat ini sedang menggerakkan tubuh dengan suara gemerutukan tulangnya.
"Re? Kamu ngapain di sana? Kok berdiri aja? Nggak bisa tidur?" Tanya Apri yang hanya mengintip sedikit ke arah sosok wanita itu berada. Dia memang belum melihat dengan jelas siapa yang sedang diajak bicara. Apri yang bergerak ke arah samping menjulurkan tangan kanannya untuk memeluk guling. Namun saat dia sadar kalau yang ia peluk bukan guling, Apri kembali membuka mata dan memeriksa seseorang di hadapannya.
Dia menggeser tubuh Rea dan membuatnya terlentang. Apri pun melotot dan menjerit memanggil nama Rea.
"Loh kamu di sini? Jadi yang itu ...," Tunjuk Apri ke arah sosok wanita itu berada. Begitu Apri melihat dengan jelas siapa sosok itu, dia menjerit histeris. Tubuh Rea yang awalnya kaku tidak bisa bergerak, akhirnya bisa bergerak. Rea menghirup udara sekitarnya dalam dalam lalu duduk sambil menenangkan Apri. Tapi sosok tersebut justru tetap berada di tempatnya, bukannya pergi atau menghilang seperti yang ada di film film horor pada umumnya.
Rea kembali menoleh ke sosok wanita itu, tanpa basa basi lagi, dia menarik tangan Apri yang sedang dipakai untuk menutupi wajahnya karena ketakutan. "Rea! Re! Mau ke mana!" Jerit Apri berontak.
Mereka juga memukul kaki Leni agar dia juga segera bangun.
Walau dengan susah payah akhirnya Leni bergerak sambil membuka mata.
"Kenapa sih?" Omelnya kesal karena sedang enak tidur.
"Ayo, pergi! Cepat!" Rea menarik tangan Leni agar segera bangun. Sementara Apri masih menjerit sambil terus menutupi wajahnya. Dia sudah berdiri agak menjauh dari ranjang, dan bersiap untuk angkat kaki dari kamar tersebut. Leni yang kebingungan lantas terus menyerocos kesal. Apalagi saat Rea terus berusaha menarik tangannya.
__ADS_1
Dengan malas malasan Leni duduk sambil terus memarahi Rea. "Kenapa sih kalian? Berisik banget!"
"Lihat tuh di belakangmu!" Kata Rea.
Leni yang tiba tiba menyadari akan keanehan teman temannya perlahan menoleh ke belakang. Sontak dia terkejut saat melihat ada sosok wanita mengerikan sedang berdiri di belakang tubuhnya.
"Si - siapa dia?" Tanya Leni sambil terbata bata menunjuk ke arah belakangnya.
"Makanya jangan ngomel aja! Buruan, ayo kita pergi!" Ajak Rea dan masih berusaha menarik tangan Leni.
Akhirnya ketiga gadis itu pun keluar dari rumah Leni pada tengah malam begini. Sampai di luar, keributan yang mereka ciptakan menarik perhatian warga yang sedang melakukan ronda malam.
"Neng, kenapa?" Tanya salah satu dari pria paruh baya itu.
"Se-setan! Ada setan, Pak!" Jerit Apri sambil menunjuk ke rumah Leni.
Orang orang itu saling tatap kebingungan.
__ADS_1
****