
Aku dan Wira pagi pagi sekali pulang. Karena besok aku sudah harus masuk kuliah, dan hari ini Wira harus bertemu Hans.
Mama membawakan banyak sekali perbekalan untukku selama di kos. Untung aku pulang naik mobil Wira. Kalau tidak pasti akan terasa sangat merepotkan. Apalagi jika naik kereta ali sambil menenteng bawaan sebanyak ini.
Selama perjalanan pulang, aku banyak diam. Hanya sesekali menanggapi obrolan Wira.
"Kamu nanti mau langsung aku anter ke kos, atau mau ke mana dulu, Nay?" tanyanya.
"Mmm... Ke kos aja deh. Rani mau ke kos katanya," jawabku sambil menatap ponselku.
"Oke."
Sesampainya kami di kos, wira membantuku menurunkan bawaan ku yang mirip kaya orang pindahan.
Lalu dia pamit ke tempat Hans.
Sebenarnya aku malas sekali hanya berdiam diri di kost. Untung Rani tak lama muncul.
"Baru balik ya, Sis?" tanyanya saat kubuka pintu kamar kos ku.
"Iya, tapi udah sejam lalu." kusuruh dia masuk dan duduk.
Kubuatkan dia teh hangat karena di luar sedang hujan deras.
"Kamu berapa hari di kampung, Nay?'' tanya Rani sambil menyambar kacang bawang bikinan mamaku.
"5 hari. Kamu nggak ke mana mana kemaren?" tanyaku lalu ikut duduk di sampingnya .
Kunyalakan tv di hadapan kami, sambil menonton acara tidak jelas. Mata ku mang menatap latar di depan, tapi pikiran ku tidak berada di sini.
"Di rumah aja, sama Dewa paling kalau bosen."
"Kamu jadian ya sama Dewa?" tanyaku
"Mmm.. Enggak kok."
"Yakin?"
"Iya, Nay. Yakin."
"Tapi kamu suka kan sama dia?" tanyaku lagi.
Dia diam. "ya gitu deh. Hehe "
"Ran, Dewa itu gimana sih?" tanyaku penasaran.
"Emang kenapa? Kok kamu nanya gitu?"
"Ya gak papa sih, cuma gimana ya? Berasa gak sih dia aneh?" Tanyaku.
"Enggak ah, Wira mu tuh yg aneh."
"Hmm, itu sih emang iya. Tapi Dewa juga aneh loh, Ran."
"Ngaco. Nggak ada yang aneh!"
"Namanya jatuh cinta, ya gitu deh. Buta," ejek ku sambil menoyor kepalanya.
__ADS_1
Dan jadilah kami main perang perangan ala anak kecil.
"Eh, Nay. Dewa banyak cerita soal Wira lho," kata Rani serius.
Aku mendadak diam, apa yg dewa ceritain ke Rani? Apa semuanya?
"Cerita apa?"
"Kamu udah tau pasti ya, Nay," kata Rani seolah ingin memancingku untuk bicara.
"Yang kamu tau apa?" aku balik nanya.
Rani mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
Itu buku yg waktu itu kupinjam ke Dewa.
Dibukanya buku tadi, lalu menunjukan kepada ku.
"Ini Wira kan??" tanyanya serius.
Kupandangi apa yg ditunjuk Rani. Mungkin aku harus mengakui nya. Rani pun sudah tau.
"Iya, itu Wira."
"Jadi bener, dia itu senopati jaman dulu?dan msh hidup sampai sekarang karena mendalami ilmu pancasona?" tanya nya dengan mata berbinar.
"Iya," jawabku malas malasan.
"Nay, kamu serius mau nerusin hubungan kalian? Wira itu, makhluk abadi! Kamu mikir gak? Kalau hubungan kalian diterusin gimana jadinya? Seiring berjalannya waktu, kamu bakal tua, tumbuh keriput di mana mana. Sedangkan Wira? Dia bakal kayak gitu terus bentuk nya.
Gimana kata orang? Gimana pendapat orang tuamu nanti, kamu nikah sama pria aneh?" tanya Rani menyadarkan ku.
"Nayla." Rani melambaikan tangannya ke depan wajahku, dan membuyarkan lamunanku.
Dia menatapku iba, "ya udah, kita jalan jalan aja yuk. Nggak usah terlalu difikirin."
Setelah ganti baju, aku dan Rani menuju cafe langganan kami.
Dan ternyata di sana ada dewa!
Hmm,udah ketebak. Bakal jadi obat nyamuk nih nanti. Sepertinya aku harus berpikir dua kali jika diajak Rani keluar. Sudah pasti mereka berdua janjian untuk bertemu di sini.
"Dewa!" panggil Rani dengan semangat sekali.
Dewa melambaikan tangannya pada kami lalu berjalan mendekat.
"Kalian di sini juga," sapa nya.
"Iya, kamu lagi ngapain?" tanya Rani.
"Mau makan nih," katanya sambil senyum senyum ke Rani.
Heran, kenapa nggak pada jadian aja sih? Udah keliatan banget mereka saling suka. Bikin gemes aja!
Dewa menarik kursi di samping Rani. Lalu duduk dan segera memesan makanan dan minuman.
"Dewa!! Aku mau nanya dong!" ucapku sebelum mereka benar benar melupakan kalau ada aku di depan mereka.
__ADS_1
"Apa, Nay?" tanyanya santai sambil membetulkan posisi duduk nya.
"Sena itu siapa sih?"
Dewa terdiam sesaat, lalu menatapku tajam. "Wira cerita apa aja soal sena." dia malah balik nanya.
Dan pertanyaan nya barusan membuatku makin yakin kalau Dewa juga tau soal Sena.
"Berarti kamu kenal Sena juga kan, Wa??" kami malah saling serang dengan pertanyaan dan membuat Rani tengak tengok bergantian ke arahku dan Dewa.
"Siapa sih Sena? Jawab aja kenapa, Waa?" Rani ikut mendesak Dewa karena pasti dia juga penasaran.
Dewa menarik nafas panjang, lalu menerawang memandangi langit langit sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi milik nya.
"Sena ... dia adalah musuh bebuyutan kami. Yang aku dengar, dia itu sahabat dekat Wira di era masa lalu. Bahkan sejak kecil mereka tumbuh bersama. Sampai sampai nama mereka itu sama. Wira sena. Tapi Sena itu terlalu iri pada Wira. Akan kesuksesan Wira, dan akhirnya dia merencanakan hal licik untuk membunuh Wira. Yang ternyata gagal karena diam diam Wira mempelajari ajian pancasona itu. Tapi katanya, pacar Wira justru yang menjadi korban. Maka dari itu Wira benci banget sama Sena. Walau demikian, Wira sampai sekarang belum bisa membalas Sena, karena ilmu yang dipelajari Sena yg cukup tinggi. Sena juga mempelajari Pancasona tapi dengan jalan sesat. Itu perbedaan di antara mereka. Dan itu juga alasan aku masih membiarkan Wira berkeliaran. Sena juga salah satu anggota black demon. Kelompok mereka adalah sasaran ku. Mereka adalah kumpulan orang orang yg berniat ingin menguasai dunia dengan ilmu hitam yg mereka pelajari. Mereka akan mengganggu tata kehidupan manusia, jika dibiarkan merajalela seperti itu. Mungkin setelah aku menumpas black demon, baru aku pikirkan tentang Wira."
"Tunggu! Kamu ini siapa? Maksudnya kenapa kamu bilang kalo Sena adalah sasaran kamu?" Rani bingung. Begitu pula denganku.
"Kamu ... Juga sama kayak Wira dan Sena? Dari jaman dulu ... Dan ... Punya ilmu pancasona?" tanyaku penasaran. Dewa menggeleng sambil tersenyum.
"Aku ... aku punya kelompok sendiri. Aku adalah keturunan ke 10 yg meneruskan pekerjaan keluargaku dari zaman dulu. Kami bertugas membasmi orang orang seperti Wira dan Sena. Dia harusnya sudah mati, namun karena ilmu yg dia miliki, dia masih ada sampai sekarang. Bahkan tetap muda.
Tapi, karena Wira juga mengincar Sena, sama sepertiku, maka aku mengurungkan niatku untuk membunuhnya. Aku butuh bantuan nya juga untuk melawan black demon. Setidaknya Wira adalah satu satunya makhluk abadi yang kuanggap masih memiliki hati nurani. Walau aku terlihat benci ke Wira, sebenarnya aku hanya menyayangkan saja, kenapa dia harus memakai ajian pancasona juga. Bagi keluargaku, semua pemakai ajian itu, harus dimusnahkan. Tapi sekarang aku hanya fokus pada black demon.
Karena kelompok black demon, sudah merekrut 100 anggota. Itu saja kuhitung saat 10 tahun lalu. Dan kini entah ada berapa lagi anggota mereka yg baru. Mereka memakai tumbal untuk tiap upacara, dan saat merekrut anggota baru. Ini nggak bisa dibiarkan, iya, kan?" jelas Dewa serius.
Jadi seperti itu. Aku dan Rani lantas mengangguk paham. Aku pun jadi paham kenapa aku merasa Dewa aneh. Walau pada akhirnya keanehan Dewa masih masuk logika. Setidaknya Dewa bukan makhluk abadi. Walau pekerjaan nya yang termasuk gila, dengan mencari dan membasmi makhluk abadi.
Lagi lagi aku mulai takut Wira kenapa kenapa setelah mendengar penuturan Dewa barusan. Apalagi kata Wira sendiri, dia bisa saja mati, tapi dengan cara yang tidak biasa. Sementara Sena, aku yakin dia tau bagaimana membunuh Wira. Kekuatan Sena yang lebih hebat, membuatku cemas akan keselamatan Wira sekarang.
Obrolan ini cukup menarik bagiku, dan Rani juga terlihat antuasias pada hal ini. Ini memang sebuah pengalaman baru bagiku dan Rani. Kami sangat tertarik pada cerita dari versi Dewa tentang bagaimana kehidupan dia, juga apa yang dia tau tentang Wira. Kakek buyutnya merupakan orang hebat, dan pekerjaan Dewa memang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Ternyata pemakai ajian pancasona sudah banyak di jaman dulu. Walau tidak semua orang bisa dan sanggup mengikuti cara dan syarat nya. Bahkan menumbalkan manusia sebagai salah satu syarat juga banyak dilakukan di jaman dulu. Sampai sampai ada yang memakai cara dengan melakukan pelecehan seksual pada korbannya. Itu sungguh aneh. Seperti sebuah praktik perdukunan yang terselubung dan berjalan lurus dengan praktik dukun cabul yang marak di jaman sekarang.
Setelah ngobrol agak lama, aku dan Rani pulang. Rani mengantarku sampai halaman kos ku.
Saat aku hendak masuk ke kos, berjalan dari halaman ke pintu, ada seseorang yang memanggilku.
"Dari mana? Aku udah siapin makan malam sayang," katanya.
Aku mendongak melihat ke atas balkon kamarku.
Kulihat Wira di sana masih mengenakan celemek ala chef di tv sambil memamerkan senyum sumringah nya.
Aku tersenyum dan segera naik ke atas.
Setelah membuka pintu, aku langsung memeluk nya erat.
"Lho lho lho.. Kenapa? Kok pulang pulang main peluk gini. Tumben?" katanya lembut.
"Kangen," ucapku tanpa melepaskan pelukanku.
Wira diam malah memelukku makin erat.
"Oh iya, makan dulu yuk. Kamu pasti belum makan," ucapnya lalu melepaskan pelukan nya dan memandangi wajahku.
Aku mengangguk, lalu wira menggandeng tanganku menuju meja makan.
Malam ini dia ada di kost ku sampai pukul 22.00. Setelah itu dia pamit pulang.
__ADS_1
Kuurungkan niatku untuk bertanya lebih jauh atas penyataan dewa tadi.
Aku tidak ingin Wira jadi bad mood jika membahas hal ini.