
Pernyataan ayah Rea tentu mengejutkan mereka semua. Kini semua orang saling tatap dan menyapu pandang sekitar. Satu per satu orang diamati dengan teliti.
"Dan, ciri cirinya kayak gimana?" tanya Blendoz penasaran.
"Laki-laki, tingginya kurang lebih 160 cm 165 cm deh. Rambutnya ikal agak panjang sebahu. Dia pakai kacamata yang sepertinya cukup tebal. Kalau soal baju, gue nggak lihat seperti apa bajunya karena dia pakai jas almamater kampus kita. Itu aja yang gue ingat," jelas Dana. singkat.
Mendengar hal itu semua orang pun lantas mencari pria dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Dana. Ciri-ciri spesifik seperti itu tidak mereka Temukan pada orang-orang yang ikut dalam pencarian tim Dana. Bahkan para senior yang memang sejak awal bersama-sama merasa kalau rekan satu angkatannya tidak ada yang memiliki ciri seperti yang disebutkan Dana tadi.
"Namanya siapa? Lo ingat enggak, Dan?" tanya Hana. Dana terlihat berpikir keras. Bahkan matanya tidak fokus menatap Hana ataupun teman-temannya yang lain yang berada di sekitar. Tapi tak lama setelah itu dia justru menggeleng, pertanda kalau dia memang tidak mengingat apa pun mengenai identitas orang tersebut.
"Tunggu, tadi kata Om, dia sedang mengamati kita sejak tadi. Maksudnya apa ya, Om?" tanya Dana penasaran.
Ayah Rea hanya tersenyum. Dia menatap sekitar tanpa sepatah kata pun. Padahal semua orang saat ini sedang menunggu penjelasan atas apa yang dia katakan sebelumnya.
"Lebih baik kita sekarang kembali saja ke penginapan. Sebentar lagi malam," ujar Ayah Rea.
"Iya, Om benar. Ya sudah kita kembali saja ke penginapan. Ayo." Para senior membimbing mereka semua untuk pergi dari hutan tersebut.
Di luar sudah ada beberapa mobil berderet rapi, juga bus besar, serta mobil polisi serta ambulan. Sebelum kembali ke penginapan, rombongan Dana diperiksa kesehatannya oleh petugas.
Mereka duduk di dekat mobil ambulan sambil diperiksa bergantian.
Ayah area terus mendampingi putrinya sambil memperhatikan kondisi di sekitar. Sampai akhirnya Rea menyadari satu hal yang kini membuatnya terlihat kebingungan sambil mencari-cari sesuatu di kanan kirinya.
"Kenapa, Nak? Apa yang kamu cari?" tanya ayah Rea.
" ayah, kemana semua orang. Bukannya Marine semua mahasiswa baru ada di sini mendirikan tenda tempat ini?" tanya Rea sambil terlihat kebingungan.
" Oh iya yah bener juga. kemarin tempat ini penuh dengan tenda-tenda. Atau ini bukan tempat yang kemarin kita upacara sebelum acara dimulai?" tanya Leni menatap teman-temannya bergantian.
Tentu saja hal itu membuat mereka semua ikut kebingungan karena jelas-jelas bahwa tempat tersebut adalah tempat berkumpulnya seluruh mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan ini.
" ke mana semua orang?" tanya Hani ikut penasaran
__ADS_1
Akhirnya Ayah Rea pun angkat bicara. "mereka sudah pulang satu minggu yang lalu."
" 1 minggu yang lalu? Bukannya kami ada di sini baru sekitar 3 harian ya," tanya Diah.
"Kalian salah. Sebenarnya kalian sudah ada di sini hampir 10 hari," ucap Ayah Rea dan berhasil membuat mereka semua terkejut, bahkan beberapa bereaksi dengan setengah menjerit saking terkejutnya.
"Maksud Om ... 10 hari? Yang benar saja!" tukas Blendoz dengan ekspresi yang terkejut.
" ya itu memang benar. Kalian sudah tersesat hampir 10 hari lamanya."
Begitu mendengar kalimat selanjutnya mereka benar-benar geleng-geleng kepala semua orang saling tatap dengan ekspresi yang benar-benar kebingungan karena mereka yakin kalau mereka selama ini selama 3 hari saja itupun hari ketiga mereka sudah diselamatkan.
" 10 hari sepertinya ada kesalahan Disini," kata kita memeriksa ponselnya memastikan kebenaran yang sesungguhnya ponsel mereka semua memang ada selama ini hanya saja setelah berada di tempat tersebut sudah tidak bisa terdeteksi salah hasil demi menghemat baterai mereka mematikan semua ponsel.
Betapa terkejutnya Ita saat mengetahui kalau ternyata apa yang diucapkan oleh ayah Rea adalah memang yang sebenar-benarnya terjadi.
"Bener, guys, kita di sini Udah 10 hari!" kata Ita sambil menunjukkan ponsel miliknya yang menunjukkan tanggal hari ini.
Mereka semua pun memeriksa ponsel masing-masing, dan semua orang terkejut setelah melihat ponsel mereka. Sadar dengan keanehan itu mereka pun mulai menanyakan banyak hal kepada ayah Rea. Tentang bagaimana mereka bisa hilang, Berapa lama mereka hilang dan bahkan apa yang terjadi saat mereka hilang.
Mereka semua diam menunggu sampai Ayah Rea Menjelaskan hal lain yang sedang mereka tunggu-tunggu sejak tadi.
"Om terkejut begitu mendapatkan telepon dari kampus. Mereka bilang kalau Rea hilang di tengah hutan bersama timnya. Akhirnya saat itu juga tiket pesawat dan pergi ke sini. Kalau menurut cerita senior kalian yang melihat kejadian tersebut memang ada beberapa hal yang janggal menurut Om."
"Janggal yang bagaimana sih, Om?"
Ayah Rea mulai menceritakan semua hal yang lihat saat tiba di tempat tersebut. Saat itu pria paruh baya itu menuju ke lokasi. Dia dipandu oleh perwakilan kampus yang telah menjemput di bandara. Semua orang tua dari tim Rea sudah diberikan kabar. Hanya saja Tidak semua orang tua bisa menyusu Kalimantan mengetahui bagaimana kronologis hilangnya anak-anak mereka. Hanya ayah Rea saja yang bisa datang, Bahkan dia langsung terbang ke Kalimantan begitu mendapatkan telepon dari pihak kampus.
Namun dia sedikit terkejut saat pertama kali tiba hutan itu. Dia bahkan langsung meremas jantungnya begitu menginjakkan kaki di hutan tersebut. Salah satu pihak kampus mendekatinya dan menjelaskan bagaimana anaknya hilang. Program yang dibuat oleh pihak kampus sebenarnya tidak terlalu rumit. Mereka hanya ingin mengenalkan ekosistem yang berada di hutan Kalimantan memang masih terbilang Asri dibandingkan daerah di pulau Jawa. Para mahasiswa baru kemudian dibentuk dari beberapa tim. Mereka ditugaskan untuk mencari mencatat apa saja ekosistem yang ada di sekitar mereka terutama yang mereka lalui dalam perjalanan mencari jejak. Kegiatan itu memiliki beberapa pos untuk melaporkan hasil kerja mereka dan juga untuk absen bagi semua tim. Setiap Pos mereka datangi selalu mencatat Pukul berapa mereka datang dan apa saja sudah mereka temukan.
Ada sekitar 10 pos pemberhentian yang wajib mereka datangi. Jarak tim 1 dan tim lainnya tidak terlalu jauh hanya sekitar 5 menit setelah tim pertama berangkat lantas tim kedua menyusul Jadi sebenarnya sekalipun mereka berjalan dengan jangka waktu 5 menit satu tim dengan tim lainnya tentu masih bisa saling melihat satu sama lain.
Saat mereka sampai di Pos sembilan kelompok Dana dan Rea lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir. Mereka berjalan lebih dulu menyusul tim sebelumnya yang masih terlihat di ujung, walau sudah agak jauh dari pandangan mereka. Hanya saja rimbunnya pepohonan yang ada di sekitar membuat mereka agak kesulitan saling pandang dengan tim lain, kecuali tidak ada pohon sekitar mereka.
__ADS_1
" loh sebelumnya ke mana ya? Bukannya tadi masih kelihatan?" tanya Leni pada teman temannya.
" Mungkin memang mereka sudah berjalan lebih cepat jadi kita Tertinggal agak jauh," sahut Hani tenang.
" Tapi bener kan ya arahnya ke sini, takutnya kita salah jalan nih," tambah Diah yang mulai ragu.
Diah mengatakan hal itu pernah melihat topografi yang ada disekitar mereka lebih rimbun dari sebelumnya bahkan jalur pendakian yang terlihat sangat jelas membimbing mereka mulai habis penuhi dengan rerumputan lebat seluruh yang mereka injak.
" Iya bener kok nggak ada jalur pendakian lagi sih ini yakin kita nggak salah jalan?" tanya Hana kepada Dana yang sedang memimpin tim di depan mereka.
"Bener kok Ini petanya mengarah ke sini. Coba kita jalan sedikit lagi mungkin bakalan ketemu sama jalur pendakian di depan," ucap Dana berusaha menenangkan teman-temannya.
Mereka semua pun menuruti perkataan Dana. Begitu berjalan beberapa meter ke depan rupanya mereka akhirnya menemukan kembali jalur pendakian seperti sebelumnya.
"Tuh kan benar ada," tunjuk Dana ke bawah kaki mereka.
Mereka pun menyusuri Jalan Setapak yang biasa dikenal dengan sebutan jalur pendakian. Setelah berjalan beberapa meter jauhnya, Akhirnya mereka sampai pada persimpangan jalan. Semua berhenti sambil menatap sekitar. Rasa ragu kini menyelimuti benak mereka semua. Tentu saja mereka bingung arah mana yang harus mereka tuju sekarang.
" jadi kita harus ke mana nih?" tanya Apri sambil tengok-tengok sekitar.
Mereka pun akhirnya melihat kembali ke peta yang berada di tangan Dana. Setelah berdiskusi cukup lama tunjukkan ke arah jalur sebelah kanan. Karena menurut peta yang ada pada mereka jalur sebelah kanan akan lebih cepat pos terakhir ketimbang jalur sebelah kiri.
Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan melewati jalur sebelah kanan. Perjalanan masih panjang hingga akhirnya gadis mulai mengeluhkan kakinya yang kram sepatunya, karena jemari kakinya lecet. Dia memang salah Sepatu yang dipakai. Sepatu Leni yang terlalu kecil sehingga membuat pergerakan kaki yang menjadi terbatas.
"Ya sudah, kita istirahat dulu aja," perintah Dana dan semua orang pun setuju.
Mereka lantas membuka perbekalan untuk mengisi perut masing-masing. Sambil Memperhatikan hutan sekitar, Mereka pun berdiskusi akan mereka lakukan sepulang kegiatan tersebut.
"Kok tim selanjutnya belum muncul juga ya?" tanya Rea menatap ke arah Di mana mereka tadi datang.
"mungkin memang daripada sebelumnya. Siapa tahu juga mereka sedang istirahat seperti kita. Sepertinya kita semua belum ada yang berhenti untuk istirahat. Padahal jarak dari pos satu ke pos 10 itu lumayan jauh, kan?"
"Iya. mungkin saja," cetus Rea tampak ragu-ragu.
__ADS_1
Rea terus menatap ke arah mereka datang. Nikmati roti sobek yang ia bawa yang terlihat cemas seperti ada sesuatu yang dipikirkan. Terlihat jelas oleh Dana.