pancasona

pancasona
Part 193 lintah Vlad


__ADS_3

Mereka berempat keluar dari rumah. Mencari sumber suara yang mengganggu tidur mereka tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Jean dan Hans menyusuri sepanjang danau. Sementara Abimanyu dan Arya, mencari di sekitar penginapan. Suara jeritan itu terdengar cukup jelas dan mereka yakin kalau sumber suara itu tidak jauh dari penginapan mereka.


Mereka berempat saling memberikan isyarat. Hingga pada akhirnya Arya mendekat kembali suara jeritan itu, yang berada di penginapan di samping mereka. Arya bersiul, lalu melambaikan tangan ke teman temannya. Mereka bertiga segera mendekat ke tempat Arya. Ia terlihat mengendap ngendap dan menyusuri rumah gelap di depannya. Saat mereka sudah berkumpul, semua berpencar. Mengintip jendela dan berusaha membuka pintu, setelah terlebih dahulu menguping di balik pintu tebal itu. Arya mengangguk pada semua teman temannya, bahwa suara itu memang berasal dari dalam rumah ini. Jeritan minta tolong lantas membuat mereka harus bergerak lebih cepat.


Gagang pintu yang tidak bisa dibuka, membuat Arya lantas mendobrak pintu itu. Ia menendangnya kuat kuat dibantu Abimanyu hingga pintu itu terbuka dengan kasar. Engsel pintu yang rusak tidak mereka hiraukan, mereka berempat segera masuk ke dalam. Rumah ini gelap di semua ruangan. Langkah mereka sangat hati hati, sambil berusaha mencari ponsel masing masing untuk mendapatkan penerangan agar pandangan mereka mampu melihat dengan jelas keadaan di dalam.


Senter dinyalakan. Kini masing masing dari mereka sudah mendapat sedikit cahaya, setidaknya itu lebih baik dari pada menghadapi suasana gelap total seperti tadi. "Halo?' teriak Jean.


Namun tidak ada sahutan apa pun dari rumah ini. "Ada orang di rumah?' tanya Jean lagi. Mereka berempat kembali berpencar, mencari di semua sudut rumah. Langkah yang pelan, sengaja mereka lakukan, karena mereka tidak tau siapa dan apa yang sedang mereka hadapi sekarang.


Namun tiba tiba, suara mirip gigi yang beradu terdengar samar. Hans mendesis, ia orang pertama yang menyadari suara asing tersebut ada di sekitar mereka. "Kalian dengar?" tanyanya berbisik.


"Apa?" Jean balik bertanya, tentu dengan berbisik juga.


"Suara ini," jawab Hans, kembali mendengar suara itu makin jelas di telinganya.


Tiba tiba, Arya menjerit. "Hans, awas!"


Hans terkejut dan tidak siap dengan keadaan ini, lalu terguling ke samping. Di atasnya ada seseorang yang menyerangnya dengan membabi buta. Jean menjerit memanggil nama Hans. Abi segera menarik orang yang menyerang Hans, namun tenaganya sangat kuat, hingga Abi sedikit kesulitan. Arya membantunya dan kini menarik Hans menjauh dari orang tadi.


Pria tersebut terus mendesis, dengan menampilkan mulut yang penuh darah. Ia seperti telah mengisap darah manusia. Yang pasti bukan Hans, karena Hans masih baik baik saja. Walau wajahnya menampilkan gurat ketakutan atas reaksi pria tadi. Abi terus memegangi pria tersebut, hingga akhirnya Arya membantunya mengikat di sebuah kursi kayu yang ada di dapur.


Lampu menyala, Jean berhasil menemukan sakelar dan kini seluruh ruangan terlihat jelas. Sungguh berantakan. Kacau di mana mana. Kursi yang terbalik, sofa yang berlubang dan membuat isi dalamnya menyembul keluar, kaca meja yang pecah dan menimbulkan banyak remahan beling di sekitarnya. Dan satu lagi, Jean menjerit memanggil teman temannya. Ia terus berdiri terpaku sambil menutup mulutnya saat melihat sesuatu di sudut dapur.


"Kenapa?" tanya Hans yang kini sudah berada di samping Jean. Jean menutup mulutnya, lalu menunjuk ke bawah. Seorang wanita tergeletak dengan bersimbah darah. Hans mendekat dan memeriksa kondisi nya. "Masih hangat! Masih ada denyut nadi nya," seru Hans, dia mengangkat wanita itu dan meletakkannya di sofa yang masih utuh.


Abimanyu mengubungi ambulance. Leher wanita itu masih mengalirkan darah segar. Jean mengambil kain bersih untuk menutup luka tersebut. Setidaknya ini pertolongan pertama yang bisa dilakukan sampai bantuan tenaga medis datang.


Pria tadi masih menggeram berusaha melepaskan diri dari ikatan yang dibuat Abi dan Arya. Mereka berempat kebingungan atas apa yang telah terjadi. Hans mendekat ke pria itu dan memperhatikan keadaannya. Raut wajahnya, gigi giginya, sorot matanya tak luput dari pandangan Hans.


"Gimana, Hans? Dia ini kenapa?" tanya Arya serius. Hans menarik nafasnya dalam dalam. Menatap sekitar ruangan dan menggeleng. "Mungkin pertanyaannya harus diganti. Bukan dia ini kenapa, tapi dia ini apa!" kata Hans serius.


"Maksudmu apa, Hans?" tanya Arya.


"Kalian lihat ini?" tunjuk Hans ke wajah pria itu. Urat nadi nya berwarna hitam dengan sesuatu di dalamnya.


"Itu apa?" tanya Abimanyu bingung.


"Lintah. Lintah Vlad!" cetus Hans yakin.

__ADS_1


"Kamu serius, Hans?!" pekik Jean dengan ekspresi ngeri melihat pria tersebut. Hans menatap Jean tajam, lalu mengangguk.


"Memangnya apa itu lintah Vlad?" tanya Abimanyu yang memang awam dengan hal hal seperti ini. Pengalamannya hanya sebatas bertemu vampire, werewolf dan iblis. Ah, ya, black demon dan kalla. Dan tanpa ia sadari rupanya banyak makhluk aneh lainnya yang ada di muka bumi ini.


"Mereka sama seperti lintah pada umumnya, tetapi mereka tidak hanya menghisap darah manusia, tapi juga masuk ke dalam aliran darah manusia. Terus menggerogoti tubuh kita, hingga kita semua mati. Tapi ada satu fakta uniknya," kata Hans memotong perkataannya untuk menghirup udara lebih banyak.


"Apa?"


"Mereka akan makan dari inangnya, menghisap darah korban seperti itu. Dan saat dia sudah menghisap darah manusia, maka itu fatal," jelas Hans pada pria dan wanita yang ada di rumah ini. "Karena pada akhirnya inang tersebut akan mati dengan sendirinya, kalau dia sudah menghisap darah manusia."


"Jadi ... dia bakal mati?" tanya Abimanyu menatap iba pada pria yang sudah berlumuran darah yang bukan darahnya, dengan kondisi tubuhnya yang terikat kuat di kursi. Hans mengangguk.


"Apa setelah terkena gigitan, justru korban akan menjadi seperti inang yang dimasuki lintah?" Arya bertanya dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


"Tidak, sebelum lintah itu berpindah ke tubuh inang barunya, dan tugas kita membunuh lintah itu sebelum dia sampai ke inang yang sudah digigit tadi. "


"Kalau begitu, biar aku bawa perempuan ini menjauh dari dia!" kata Arya. Ia membopong wanita tersebut dan masuk ke kamar yang ada di rumah ini. Setelah Arya meletakan wanita tersebut di ranjang, ia segera menutup pintu dan berjaga di depan.


Hans dan Abimanyu mundur dan berjaga jaga. Menunggu sampai lintah tersebut keluar dari tubuh inang lamanya dan pasti akan mencari inang baru. Jean mengambil sebuah tombak yang awalnya dijadikan hiasan dinding. Ia menggenggamnya kuat kuat dan berusaha fokus pada pria di depannya. Arya mendekat ke Jean. Keduanya sama sama terus memperhatikannya. Hans dan Abimanyu berdiri lebih dekat ke pria itu. Mereka sudah siap akan menyerang jika sampai lintah tersebut keluar dari tubuhnya.


Tiba tiba pria itu menggeliat. Tubuhnya bergetar dengan mata yang melotot dan hanya menampilkan warna putih saja. Mulutnya seperti tercekat, dari dalam tenggorokannya seperti ada sesuatu yang hendak keluar. Hal ini membuat mereka berempat makin waspada. Mulutnya menganga lebar, ada sesuatu dari dalam mulutnya yang memaksa keluar. Benda itu makin lama makin terlihat jelas. Makhluk itu makin lama mulai menunjukkan dirinya, kepalanya mirip ular, bentuknya sebesar mulut orang dewasa. Dia mulai keluar dari mulut inangnya.


"Kenapa? Bukannya dia aman di sana, Jean?"


"Enggak! Tubuhnya nggak punya tulang belakang, jadi dia pasti bisa menyelinap dari lubang sekecil apa pun. Dan dia bisa mencium bau inang barunya," jelas Jean. Arya yang mendengar informasi tersebut lalu segera berlari ke arah kamar tadi. Dia terus menatap ke belakang, waspada jika makhluk pengisap darah tadi sudah mengejarnya.


"Arya, masuk!" jerit Jean. Abi dan Hans mulai menginjak dan memukul makhluk kecil yang sudah berhasil keluar dari tubuh inangnya. mereka kesulitan menangkap dan membunuh lintas tersebut. Karena bentuknya yang kecil dan gerakannya yang lincah membuat mereka harus terus berusaha hingga makhluk itu mati. Arya masih di dalam kamar, ia mengintip sebentar di lubang kunci. Sadar kalau posisinya tidak aman, ia mencari kain dan menyumpal lubang bawah pintu. Ia lalu mengambil sebuah pemukul kasti yang ada di sudut kamar. Suara jeritan dari luar, membuat Arya penasaran, tapi ia harus tetap di dalam untuk menjaga wanita ini.


***


Nayla terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa sangat kering, sehingga ia memutuskan untuk ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Namun saat ia sudah keluar dari kamar, ia malah terkejut karena tidak melihat dua pria yang ia sayangi selama ini. Arya dan Abimanyu. "Ke mana mereka?" tanya Nayla sambil menggumam. Ia tengak tengok dan melihat kondisi rumah yang sunyi, dan masih gelap. Nayla merasa aneh dengan keadaan ini.


Angin berhembus menerpa anak rambutnya. Dingin, hingga membuat Nayla terpaksa harus memeluk lengannya sendiri karena rasa dingin yang mulai terasa. Tengkuknya mulai terasa merinding. Dan saat ia menoleh ke jendela yang ada di ruang tamu, Nayla melihat seorang wanita yang berdiri di sana. "Ellea?!" pekiknya heran.


Ellea yang sedang berdiri di jendela hanya menatap ke arah danau itu. Tatapannya kosong. Saat Nayla sudah berdiri di samping Ellea, wanita dengan piyama tidur bergambar doraemon itu seolah tidak merasakan keberadaannya. :Ell?" panggil Nayla lagi sambil menyentuh bahu wanita tersebut.


Sontak Ellea seperti tersadar dari tidur panjangnya. Dia menoleh ke Nayla dan kebingungan. "Loh, kok aku di sini?" tanyanya pada Nayla yang masih menatapnya intens.


"Harusnya aku yang tanya, Ell. Kamu ngapain di sini? Kamu mimpi atau tidur berjalan?" tanya Nayla heran.

__ADS_1


"Aku, aku nggak tau," jelas Ellea sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, kita balik ke kamar saja yuk," ajak Nayla. Ellea mengangguk, namun saat ia hendak mengikuti Nayla kembali ke kamar, Ellea melihat hal aneh di danau.


"Nay, itu apa!" tunjuk Ella ke arah danau di depan mereka.


Di luar jendela, tampak ada seseorang yang keluar dari dalam danau. Tubuhnya basah kuyup dengan kondisi yang sudah berlumut bahkan berlendir. Tidak hanya satu tapi ada beberapa. Mereka naik dari danau dan berjalan gontai menuju semua penginapan di tempat itu.


"Mengerikan!"


"Mereka, ke sini?!" Kedua wanita itu lantas mundur dari jendela. Terus mengamati orang orang yang baru saja keluar dari danau tadi. Ada dua orang yang menuju ke penginapan mereka. Wajah mereka terlihat sangat kacau. Kulitnya putih pucat.


"Astaga! Mereka bener bener ke sini!" jerit Ellea. "Biyuu!" jeritnya dengan suara lantang.


"Abi sama Arya nggak ada di rumah!" kata Nayla. Ia lantas segera mengunci pintu dan jendela. Orang tadi, mendekat ke jendela, menatap kedua wanita yang sedang ketakutan di dalam rumah.


"Om Gio! Om Wira!" jeritan Ellea terus menggema. Sementara Nayla hanya diam, sambil terus memperhatikan dua orang yang ada di luar sana.


"Mereka ... Tunggu, Ell! Dia itu korban yang kemarin terseret di danau!" pekik Nayla sambil mengingat beberapa hal.


"Yang bener? Kok kamu tau?!" tanya Ellea dengan wajah ketakutan.


"Iya. Ibunya kasih tau fotonya kemarin! Itu dia! Beneran!" ujar Nayla antusias.


Ellea terus menjerit memanggil seluruh penghuni penginapan ini. Sementara Nayla, mencari alat yang bisa ia gunakan untuk melawan mereka. Nayla juga memeriksa tiap jendela dan pintu. Hingga saat ia melihat jendela yang ada di samping rumah, dirinya melihat ada Jean yang sedang ada di rumah sebelah. Tentu Nayla sangat terkejut.


"Loh itu Jean di sana! Dia ngapain?!" jerit Nayla menunjuk Jean yang sedang melambaikan tangannya ke arah mereka. Ellea yang tidak percaya lantas pergi ke kamar Jean dan Hans. Dan benar saja kalau tidak hanya Arya dan Abimanyu saja yang tidak ada di rumah tetapi juga Hans dan Jean.


"Sepertinya mereka berempat ada di rumah itu. Tapi sedang apa?!" tanya Ellea cemas.


"Apa pun yang mereka lakukan, aku yakin ada sangkut pautnya dengan orang orang danau itu, Ell."


Gio yang mendengar kegaduhan itu, lantas keluar dari kamarnya. Diikuti Wira yang sama sama terganggu oleh jeritan dua wanita itu.


"Ada apa ini?" tanya Gio kebingungan. "Wow. Wow!" pekiknya saat melihat pria pria yang baru bangkit dari danau tadi. Mereka terus memukul mukul jendela dan menginginkan masuk ke dalam.


"Mereka tiba tiba keluar dari danau. Nggak cuma dua, tapi puluhan orang!" jelas Ellea.


"Loh Abi dan Arya ke mana?"

__ADS_1


Nayla menoleh ke jendela dan menyibak korden di sampingnya. "Mereka di sana!"


__ADS_2