
Saat berada di ruang sosial kampus, mereka bertiga tampak memasang wajah yang lesu. Meja bundar yang berada di tengah ruangan menjadi sasaran kepala mereka untuk sekedar bersandar, menopang rasa kantuk yang masih terasa. Peristiwa tadi malam membuat mereka tidak tidur jika subuh datang. Setelah bertemu dengan warga yang sedang ronda malam, mereka semua pun kembali ke rumah dan memeriksa situasi yang ada. Awalnya semua berjalan mulus, tidak ada hal aneh apa pun yang terlihat saat mereka semua memasuki rumah Leni. Apalagi begitu sampai di kamar. Hingga akhirnya mereka mulai mendengar suara orang yang sedang menyapu halaman.
Namun begitu Leni mengintip dari balik korden jendela kamar ke arah halaman samping, rupanya bukannya manusia yang sedang menyapu halaman seperti yang terdengar dan mereka duga sebelumnya. Melainkan ada sosok wanita yang sedang duduk di pohon rambutan besar di sana, namun posisi duduknya justru terbalik. Kedua kakinya menyangkut di salah satu batang pohong, dan kepalanya justru berada di bawah tengah berayun ayun dengan rambut panjangnya yang menjuntai menyentuh tanah. Konon kabarnya jika mendengar suara orang menyapu halaman tengah malam bisa jadi itu adalah suara rambut kuntilanak yang menyentuh tanah. Karena rambut kuntilanak memang kaku dan mirip sapu lidi.
Setelah kejadian itu mereka justru tidak bisa tidur lagi. Dan kini mereka Justru harus menghadapi kuliah pagi. Hanya saja Sebelum kuliah mereka dimulai, mereka menyempatkan untuk datang ke rapat yang memang sudah direncanakan sejak kemarin. Rencana mereka untuk kegiatan sosial selanjutnya memang harus benar-benar matang. itulah mengapa untuk kali ini mereka membutuhkan bantuan orang lain di luar organisasi.
"Kenapa kalian? lesu banget? Habis begadang ya nonton drama Korea. Dasar perempuan!" ejek Gama yang baru saja datang bersama Lian.
"Cuci muka dulu kenapa sih kalian. Malah jangan-jangan malah gak mandi nih?" sahut Lian yang segera duduk di samping kursi yang Rea tempati.
Apri menegakkan tubuhnya. Hendak protes dengan tuduhan-tuduhan tersebut. " enak aja kita juga udah mandi tahu! Cuma ngantuk, semalaman gak tidur. Baru tidur setengah jam juga udah ada setan yang nongol! Astaga, Len! Lain kali aku nggak mau ah tidur di rumah kamu. Serem banget!" rengek Apri.
"Eh, setan?! di mana? setan apa?" tanya Mona yang baru saja masuk ruangan dan langsung penasaran.
"Ni di rumah Leni Banyak setannya. Semalaman kita diganggu kuntilanak. Lihat nih mata panda ku. Kelihatan banget jadinya!"
Di antara mereka bertiga sepertinya hanya Apri yang paling menderita dan terus-menerus merengek keadilan. Walau kejadian yang dialami sama-sama menyeramkan dan dialami bersama-sama, tapi Leni dan Rea sama sekali tidak mengeluhkan apapun. Hanya saja mereka memang terlihat sangat mengantuk. Tubuh yang lelah dan lesu membuat keceriaan mereka pudar pagi ini.
"Bukannya kalian emang paling sering ketemu setan, ya? Masa ketemu setan di sini masih takut juga?" Pertanyaan Mona membuat Leni memukul lengannya yang memang sedang duduk di dekatnya.
"Enak banget situ ngomong begitu! Coba kalau lo ngalamin juga!" sosor Apri.
"Udah ih, kenapa para berantem sih?" Gamma tiba tiba sudah kembali masuk ke dalam ruangan setelah pergi keluar sebentar. "Oh iya, Re. Tuh dicari orang di luar," kata Gamma menatap ke arah luar sekilas.
"Dicari orang? Siapa?"
"Nggak tahu. Eh tapi kayaknya temen kalian yang kemarin bareng ke Kalimantan deh. Coba sana tengok," suruh Gamma lantas duduk di salah satu kursi kosong.
Rea menatap kedua temannya bergantian, begitu pula dengan Leni dan Apri. Namun mereka berdua justru ikut kebingungan dibuatnya. Tidak ada yang bisa menebak siapa orang yang sedang mencari Rea di luar. Alhasil Rea pun beranjak lalu berjalan keluar untuk menemui tamu misteriusnya itu. Begitu sampai di luar Rea terkejut kalau yang mencarinya ternyata adalah Dana.
"Loh, Dan? Nyari aku?" sapa Rea menanyakan keberadaan pemuda itu yang ada di depan ruangan tersebut. Karena tidak ada orang lain lagi selain Dana sekarang.
"Iya. Kenapa? Nggak boleh memangnya?"
Dana terlihat menebar senyum simpul dan terlihat malu malu.
"Ya boleh. Cuma tumben aja."
"Soalnya kan kita udah lama nggak ketemu. Jadi nggak ada salahnya kan aku cari kamu?"
"Eum, ya nggak apa apa sih. Terus? Gini aja?" tanya Rea sambil memperhatikan Dana yang seperti tidak memiliki tujuan lain selain bertemu dengannya.
__ADS_1
"Eh, enggak. Aku ada sesuatu buat kamu." Dia lantas meraih kantung jaketnya dan mengeluarkan lima batang cokelat yang telah dibungkus pita berwarna merah. "Ini buat kamu. Jangan takut gendut ya makan itu. Aku harap kamu suka. Terus jangan bagi ke Leni sama Apri. Itu khusus buat kamu," kata Dana sambil cengengesan.
Rea menerima cokelat pemberian Dana dengan sedikit ragu. Tapi karena tidak enak untuk menolak, maka dia berusaha memasang wajah senang. Apalagi cokelat adalah salah satu makanan kesukaan Rea. Bahkan hampir semua orang pasti menyukai cokelat. Baik pria maupun wanita.
"Terima kasih, ya. Pakai repot repot segala beliin cokelat. Banyak lagi nih," kata Rea sambil memperhatikan cokelat di tangannya.
"Nggak apa apa kok. Besok besok aku kasih cokelat lagi, ya."
Obrolan basa basi itu sedikit terganggu dengan kedatangan beberapa anggota BEM. Rea melihat kesempatan bagus untuk kabur dari Dana.
"Eh, nanti lagi ya. Aku mau rapat sama pengurus BEM nih." Rea tampak gelisah saat beberapa orang yang terlihat asing mulai memasuki ruangan.
"Oh gitu. Ya udah. Kalau gitu aku juga mau balik kelas nih. Kamu hati hati ya, nanti siang mau makan bareng nggak? Aku traktir."
"Hm? Makan siang? Eum, gimana ya. Lihat nanti deh ya. Takutnya aku ada kegiatan lain. Nanti aku kabari kamu lagi. Aku masuk dulu, ya. Bye!" tukas Rea langsung berlari kecil memasuki ruangan menyusul yang lain. Dana hanya diam sambil menatap Rea yang kini sudah menghilang di balik pintu tersebut.
"Huh! Lari sebentar aja udah ngos ngosan!"ucap Rea yang kembali duduk di kursi kosong. Dia kini sudah diapit oleh Apri dan Mona yang ada di samping kanan dan kirinya.
"Ciee, yang habis dapat cokelat," ledek Mona berbisik di telinga Rea. Namun Apri yang juga mendengar hal itu ikut terkekeh sependapat dengan gurauan dari Mona.
"Berisik ah. Gitu aja heboh. Memangnya kalian belum pernah dikasih cokelat sama temen?"
"Heh. Mana pernah gue punya temen sebaik itu. Ngasih ngasih cokelat. Yang ada temen itu ada maksud lain," tukas Mona.
"Eh, jangan salah, Re. Masa kamu nggak bisa menangkap maksud dibalik Dana kasih cokelat ke kamu," kata Apri.
"Tuh, Apri aja ngerti kalau Dana ada maksud tertentu!" pungkas Mona.
"Re, hati hati, itu cokelat bisa aja berisi pelet yang terbungkus hal manis." Lian justru ikut menyambar obrolan mereka bertiga yang tiba tiba muncul begitu saja.
"Dih, mana bisa. Bohong! Fitnah ih!" Kata Rea menyangkal hal itu.
"Ye, dibilangin juga, nggak percaya!"
Rea melirik cokelat yang ada di meja, lalu memberikan ke mereka semua tanpa paksaan. "Ya udah deh, buat kalian aja sana," kata Rea yang mulai kesal.
"Terus maksudnya kalau ini buat kita, yang kena pelet salah satu dari kita gitu?"
"Iya, biar kalian aja yang kena pelet deh! Aku mah ogah!"
"Re, memangnya kamu nggak sadar apa? Kalau Dana suka sama kamu?" tanya Lian sambil membagi cokelat bermerk yang terkenal mahal itu kepada teman temannya.
__ADS_1
"Ya tahu. Ngerti kok. Soalnya sikap dia kelihatan beda, bahkan dari cara dia menatap aku aja kelihatan."
"Oh ya? Aku pikir kamu nggak sadar, Re. Soalnya selama ini kamu cuek aja," tukas Apri.
"Sadar. Cuma pura pura aja dia mah," tambah Leni sambil mengigit batang cokelat itu.
"Terus?" Tanya Mona.
"Terus apanya?"
"Ya terus kamu mau sama dia nggak? Kamu juga suka sama dia?" Mona tampaknya sangat penasaran.
"Enggak. Biasa aja. Aku nggak pernah menganggap dia spesial. Dana ya kayak temen temen ku yang lain. Kayak Hana, Hani, Blendoz, Gamma, ya sama semua."
"Kalau Raja?" Tanya Leni bermaksud menyindir.
"Raja kenapa?"
"Ye, Raja bagi kamu apa? Apa sama kayak mereka semua?"
"Eh, Raja siapa?" tanya Mona kebingungan meminta penjelasan.
Hanya saja obrolan Mereka pun terhenti saat Gamma mulai memberikan instruksi kepada mereka agar diam. Tapi sikap Rea yang tampak santai pada awalnya berubah menjadi tegang. Ada satu sosok yang benar-benar mengejutkan Rea. Dia manusia. Seorang pria. Yang kini sedang menatap Rea diiringi dengan senyum manisnya.
"Raja," gumam Rea sambil melongo dan terus memperhatikan pria yang berada tepat lurus sejajar dengannya.
"Hah? Raja? mana?" tanya Mona sambil tengok-tengok sekitar. Tapi saat Mona melihat ke arah yang Rea tatap, dia justru mengerutkan kening. "Lah itu mah Hagana!" pekik Mona, menuliskan statement Rea sebelumnya. Untungnya suara Mona tidak terlalu keras, Ditambah lagi dengan riuhnya orang-orang yang baru saja datang. Tapi tentu saja Rea mendengar ucapan Mona barusan.
"Hah? Siapa? Hagana?" tanya Rea sambil menoleh meminta penjelasan Mona.
"Iya. Dia itu Hagana. Ketua BEM yang sering kita bahas kemarin. Kenapa kamu manggil dia Raja? Eh tunggu! Oh iya bener. Nama panjang dia memang ada rajanya. Hagana Raja Adhitama."
"Hah? serius?" tanya Rea dengan wajah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia terkejut saat melihat kalau ada Raja duduk di antara mereka. Tentu saja dia juga bingung Mengapa ada Raja di hadapannya. Tapi dia sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan Raja.
"Sudah hadir semua, ya? Saya mulai saja kalau begitu!" Kata Gamma memulai rapat pagi ini. Alhasil setelah mengetahui kalau Raja adalah ketua BEM, Rea kini justru tidak fokus dengan rapat yang sedang berlangsung. Bahkan ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Gamma katakan sejak tadi. Rea terlalu sibuk memandang Raja yang terlihat berbeda dari saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu.
Hingga akhirnya sampai di mana saat Rea harus menjelaskan dan melaporkan hasil rincian yang sudah dibuat sebelumnya. Baru kali ini Rea tampak gugup. Dia berdeham, karena merasa kalau tenggorokannya terasa kering.
Walau ada akhirnya dia berhasil menjelaskan mengenai hal hal yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Baiklah, jadi begitu. Rencana kalian cukup bagus. Kami, terutama saya pribadi bangga dengan kinerja organisasi ini. Bahkan saya sudah sering mendengar kemajuan yang kalian buat. Saya setuju dengan ide ini, dan pasti kami akan bantu."
__ADS_1
Semua orang tampak senang mendengar hal itu. Begitu pun dengan Rea. Bahkan dia terlihat terus melebarkan senyum nya dan mencuri pandang pada pemuda di hadapannya itu. Rea tidak menyangka kalau dia akan bertemu Raja di sini, di kampusnya, dan yang lebih mengejutkan lagi kalau ternyata Raja adalah ketua BEM yang selama ini menjadi buah bibir di kalangan teman temannya. Sosok yang sangat disegani banyak orang, dan itu terlihat jelas pada karakter yang melekat pada diri Raja. Dia memang sangat cocok menyandang gelar ketua BEM. Perilakunya tenang, bijak sana, dan terlihat ramah. Tapi tatapan matanya justru dingin apalagi saat melihat orang orang. Hanya saja senyum Raja justru membuat wajah serius yang melekat padanya pudar. Rea meleleh. Bahkan cokelat dari Dana tidak ada apa apanya dibandingkan senyuman Raja. Ah, apakah Rea sedang jatuh cinta. Hm, rasanya demikian.