
"Yuk, Bil, duluan." Kak Fajar baru saja pergi dari ruang latihan Taekwondo. Kali ini Kak Rayi dan Kak Bintang bolos latihan, karena mendapat tugas untuk mengisi salah satu acara di sekolah lain, mengenai kegiatan ekstrakulikuler taekwondo di sekolah kami. Alhasil aku harus pulang sendiri hari ini. Ruang latihan belum sepenuhnya sepi, masih ada beberapa orang yang mengobrol di ruang ganti ataupun di lantai ruang latihan kami.
Setelah mengambil tas yang disimpan di loker, aku segera berpamitan pada mereka semua. Dering pesan dari benda pipih di tanganku membuat langkahku terhenti. Beberapa pesan mulai masuk saat aku menyalakan ponselku ini.
[Sayang, maaf ya, aku nggak bisa antar pulang. Kamu nggak apa-apa, kan?]
[Sudah pulang, ya? Take care, ya. Kabarin aku kalau udah sampai rumah]
Kedua pesan itu membuat senyum ku terbit, tentu saja itu berasal dari Kak Rayi. Sesibuk apa pun dia sekarang, selalu menyempatkan memberi kabar atau menanyakan kabar. Lalu aku kembali menggulir layar hingga ke bawah, dan ada pesan lain di sana. Setelah membaca pesan itu, aku justru tidak membalas malah berlari kecil menuju halaman sekolah.
Seorang pria sudah berdiri di samping pintu mobil sambil memandang sekitar, kepulan asap rokok tampak jelas keluar dari hidung dan bibirnya. "Hm, mulai nge-rokok lagi si Papa," gumamku lalu berlari kecil menuju arahnya.
"Lama banget?" Pertanyaan itu mampu membuat senyum yang awalnya muncul, berubah menjadi bibir yang mengerucut.
"Ih, Papah kan udah bilang kalau hari ini latihan." Aku mulai merajuk manja, Papa lantas tertawa dan memelukku. "Begitu saja ngambek. Iya tau." Ini pertama kalinya setelah sekian lama Papa tidak menjemputku lagi. Karena biasanya aku pulang dengan Kak Rayi atau bersama tiga pria itu, Kak Bintang, Kak Rayi, dan Kak Roger. Papa terlihat senang saat aku mulai memiliki banyak teman. Apalagi beberapa waktu lalu aku mengundang teman sekelas untuk belajar kelompok di rumah.
Kami mulai memasuki mobil bersamaan, tapi tiba-tiba sekelebat bayangan lewat di atas kami. Kali ini aku tidak merasakannya seorang diri, karena justru Papa yang lebih dulu menatap ke atas langit. "Apa itu tadi, ya?" tanya Papa, entah ditujukan padaku atau dirinya sendiri.
Tentu hal ini makin menyimpan sejuta pertanyaan dalam benakku. Ini bukan pertama kalinya aku merasakan ada sesuatu di sekitarku, atau sesuatu yang sedang terbang dengan ukuran besar. Bukan burung atau sesuatu yang wajar. Karena bayangan yang baru saja lewat dan tercetak jelas di atas mobil adalah sesuatu yang cukup besar. Kami berdua melihatnya bersama-sama, jadi ini bukan hanya halusinasi salah satu di antara kami. Papa menyapu pandang ke atas dan kemudian ke sekitar sekolahku. "Bil, masuk mobil!" Kami berdua lantas segera meninggalkan halaman sekolah, pulang ke rumah.
___________________
__ADS_1
"Bil, kamu siap-siap, ikut Papa sama Om Gio, kami mau ke rumah Om Dewa," jelas Papa yang hanya berdiri di balik pintu kamarku.
"Mau apa, Pah?"
"Om Dewa meninggal."
Aku terperangah atas berita barusan. Om Dewa meninggal? Bahkan aku sudah cukup lama tidak melihat dan bertemu Om Dewa, dan berita barusan cukup mengejutkan bagi ku. Papa juga terlihat sangat panik dan cepat cepat aku segera berkemas.
Om Dewa tinggal cukup jauh dari Ibukota. Dia tinggal di pulau Kalimantan bersama istrinya. Hanya saja memang dari cerita Papa, Om Dewa lebih sering bepergian menjelajah alam.
Kami sudah berada di Bandara. Menunggu beberapa teman dekat Papa yang juga akan bertolak ke Kalimantan, tempat tinggal Om Dewa. Itu artinya aku harus bolos sekolah selama beberapa hari.
"Wah, kamu sudah besar rupanya, Nabila?" tanya Tante Jean padaku. Dia kemudian memelukku erat dan tak henti-hentinya menatapku takjub.
Pesawat membawa kami terbang ke Tanah Borneo, bukan sebagai ajang liburan namun sebaliknya. Bahkan sejak tadi tidak ada tampak senyum di wajah para pria itu. Semua seolah masih dalam suasana duka, dengan diskusi yang tak berkesudahan. Bahkan aku tidak tau, apa yang membuat Om Dewa meninggal. Tante Jean duduk di sampingku, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Dia tampak cantik walau di usia yang terbilang tak lagi muda.
"Tante ...."
"Hm? Kenapa, sayang?"
"Eum, Om Dewa itu meninggal kenapa? Terakhir aku dengar, dia sering pergi keliling Indonesia. Kecelakaan?" tanyaku penasaran. Tidak mampu lagi membendung tanya dalam hati. Tante Jean diam, ia lantas menutup laptop di hadapannya dan kini membetulkan posisi duduknya sedikit miring ke arahku.
__ADS_1
"Tante juga nggak tau harus menyebutnya apa, Bil," sahutnya tampak ragu membahasnya denganku.
"Jadi?"
"Dia jatuh dari tebing, dan baru diketemukan esok harinya, tapi anehnya tubuhnya biru. Seperti kehabisan darah." Aku mengernyitkan kening mendengar penjelasan Tante Jean. "Sebenarnya Tante nggak diperbolehkan membahasnya sama kamu, tapi tante yakin kamu tau kalau kehidupan kita nggak seperti orang normal pada umumnya. Hal aneh seperti ini bukan hal baru bagi kita, kan?" Tante Jean menatapku dalam, aku hanya mengangguk pelan sambil mencoba menelaah ke arah mana pembicaraan ini.
"Apa itu ulah vampire?" tanyaku, menunjuk satu jenis ras yang memang hobi menghisap darah manusia.
"Bukan, Bil. Karena menurut Rani, nggak ada bekas gigitan di leher atau bagian tubuh lainnya. Hanya ada satu titik lubang kecil, di belakang lehernya. Tante yakin itu bukan ulah vampire, dhampire atau makhluk yang selama ini pernah kita temui."
"Lantas apa tante? Apakah sudah ada kandidat makhluk apa itu?"
"Itulah. Kami semua belum tau, apa dan siapa yang mencelakakan Dewa. Kamu tau sendiri, kalau Dewa itu jago panjat tebing, dan jarang melakukan kesalahan, kecuali ada yang mengganggunya, kan?"
"Bener juga, tante."
Hening. Kami berdua mulai sibuk dengan pikiran masing-masing. "Eh, tante, aku nggak tau ini ada hubungannya atau tidak, tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengikutiku. Bahkan Papa juga merasakan, saat menjemput aku tadi."
"Mengikuti kamu? Seperti apa? Tante yakin kamu bisa merasakan makhluknya, kan?"
"Aku belum yakin, tante. Cuma dia terbang, dan berukuran besar."
__ADS_1