pancasona

pancasona
7. makin dekat


__ADS_3

...Aku tidak pernah keberatan menunggu kamu, selama aku masih mencintaimu ... ...


...Bahkan jika harus menunggu 1000tahun lamanya... ...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Terlintas dipikiran Manda bayangan seseorang. Mata Manda menatap ke depan namun pandangannya kosong. Dia berusaha melihat lebih jelas bayangan siapa yang sedang ada dipikirannya. Ini merupakan salah satu kemampuannya setelah kecelakaan waktu itu. Manda bisa melihat hal yang akan dan pernah di alami seseorang. Tapi hal seperti itu tidak bisa dia lakukan setiap saat. Terutama tentang masa depan seseorang. Kadang hal itu terjadi secara tiba- tiba seperti sekarang. Untuk melihat masa lalu seseorang, cukup dengan menggenggam tangan orang itu dan tentunya berkonsentrasi penuh, maka apapun yang di alami orang itu akan sangat mudah dilihat Manda.


Potongan masa depan yang Manda lihat sama seperti apa yang dia lihat selama beberapa hari terakhir. Hanya saja, pemilik wajah itu tidak terlihat jelas. Satu yang Manda tau, orang itu adalah salah satu orang terdekatnya. Kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Manda seolah olah mendapat pertanda atau firasat jika akan terjadi sesuatu pada orang orang di sekitarnya. Sejak kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kemampuan INDIGO Manda memang terbuka. Begitu pula kemampuan sixth sense nya.


Satu catatan yang perlu digaris bawahi disini. 'SIXTH SENSE belum tentu INDIGO, tapi INDIGO itu sudah pasti SIXTH SENSE'


"Man ... Manda ... Manda ... Heii!" Vita mengguncang guncangkan tubuh Manda.


"astaghfirullah hal adzim!" Manda terhenyak lalu beralih menatap Vita yang kini ada di sampingnya.


Wajahnya pucat dan berkeringat dingin, badannya sedikit bergetar. Dia sedikit panik dengan apa yang dilihatnya tadi.


" kenapa? " tanya Vita sambil menggenggam tangan Manda.


Kevin ikut mendekat.


"Loe liat apa lagi, Man?"


"Ada seorang anak, dia.. Terhubung sama makhluk itu! " ucap Manda serius.


"Hah? Anak? Maksudnya terhubung sama makhluk itu tuh gimana, Man?"


"Aku juga kurang tau, belum jelas."


"Hm ... Ya udah. Eh, kok aku lupa sih mau ambil uang di Atm. Temenin yuk, Vin!"pinta Vita sambil mengedipkan sebelah matanya ke Kevin.


Manda yang merasakan gelagat mencurigakan dari mereka berdua hanya bisa diam sambil menatap tajam Kevin dan Vita bergantian.


"Ah iya! Yuk ... Gue juga ada yang mau di beli," sahut Kevin yang tau rencana Vita.


"Aku ditinggalin?"gerutu Manda.


"Kan, ada Haga noh. Ya kan, Ga? Sini aja yah, temenin Manda bentar,"pinta Kevin.


"Tapi kan ...." protes Manda.


"Udeh ... Nggak usah pake tapi tapi deh."


"Iya akh ... Bentar doang juga. Biasanya juga berani sendirian di rumah," sindir Vita dengan senyum jahilnya.


Akhirnya dengan rencana licik Kevin dan Vita, Haga dan Manda kini hanya berdua saja di rumah.


Sialan mereka berdua. Batin Manda.


Bunyi detik jam dinding bagai backsong yang mengiringi mereka berdua, acara TV hanya sebagai kamuflase untuk menutupi kegugupan Manda.


"Masih suka nonton drama korea?" tanya Haga sambil melirik Manda yang selalu membuang muka tiap mereka beradu tatap.


"Masih," tukas Manda cuek. Walau hatinya bergejolak, tangannya panas dingin, berkeringat dan bergetar. Dia tetap memasang ekspresi tenang walau hatinya tidak karuan.


Prang!


Suara piring pecah membuat moment ini buyar seketika. Terutama Manda. Dia langsung menoleh ke arah dapur dengan tampang serius. Haga pun ikut melihat ke dapur seperti Manda.


"Ada kucing?" celetuk Haga yang melihat ke dapur lalu beralih ke Manda.


"Bukan!"


Bulu kuduknya meremang, hawa sekitarnya berubah panas, menyadari hal ini, Manda segera beranjak lalu meraih Hp serta dompetnya.


"Yuk!" ajak Manda sambil menarik tangan Haga keluar rumah.


"Loh mau kemana?" tanya Haga dengan raut wajah kebingungan ditarik begitu saja oleh Manda.


Ini orang kenapa? Tadi boro boro pegang, natap aku aja males gitu. Sekarang? Hmm ... Emang kamu nggak pernah berubah, Ai. Batin Haga sambil terus mengikuti Manda keluar rumah.


Sampai di luar ... Praaang!


Mereka berdua serempak menoleh ke dalam rumah.


"Ada apaan sih di dalem? Rame banget? Kalian melihara kucing? Atau apa?" tanya Haga penasaran.


Manda diam lalu segera meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Kevin. "Jangan balik dulu! Bahaya! 'Dia' ada di sini ...."


Braaaak!!


"Astaghfirullah hal adzim,"pekik Haga sambil mengelus dadanya karena terkejut.


Suara berisik di dalam memang mengerikan, bagai ada pertengkaran hebat yang terjadi. Padahal tidak ada siapa pun di dalam.


"Kamu bawa motor?" tanya Manda sambil menatap motor matic hijau yang terparkir di halaman.


"Iya, bawa sally tuh," tunjuk Haga santai dengan dagunya.


Sally adalah nama motor Haga.


"Ya udah yuk, buruan," Manda kembali menarik tangan Haga mendekat ke motornya.

__ADS_1


Haga menarik tangan Manda yang otomatis membuat Manda menoleh . Langkahnya terhenti, dahinya berkerut."Apa sih?" tanyanya sebal.


"Kasih tau dulu, kamu kenapa? Di dalem ada apa? Kenapa kamu panik banget gitu? Terus kamu mau ngajak kemana?" tanya Haga beruntun.


Manda menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. "Bawel deh. Udah yuk buruan. Nanti aku ceritain!" paksa Manda lalu duduk begitu saja di jok motor sally.


Haga menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Buruan ih. Cepet!" teriak Manda.


"Iya iya," akhirnya Haga naik ke motornya lalu mulai menyalakan mesin dan melaju meninggalkan rumah.


Jalanan malam ini agak sepi, aspal terlihat basah menandakan hujan baru saja turun. Manda masih sibuk mengetik pesan untuk Kevin.


"Hello ... Aku dicuekin. Berasa tukang ojek deh!" sindir Haga sambil menoleh sedikit ke belakang.


"Nggak ikhlas banget sih. Udah ah jalan dulu. Nggak boleh ngobrol di jalan."


"Tapi kita mau kemana nyonya?" tanya Haga dengan nada malas.


"Laper!"di usapnya perut Manda sambil tengak tengok ke sepanjang trotoar.


Terdengar kekehan kecil dari Haga.


"Ya udah kita cari makan. Kamu mau makan apa?"


"Makan apa yah? Ayam penyet aja deh"


"Kamu masih inget aja makanan favoritku"


Manda hanya diam, sedikit kikuk. Atas jawaban Haga.


Haga terkekeh lalu segera melajukan sally menuju warung ayam penyet langganannya. Hanya butuh sekitar 15 menit mereka sampai.


Sambil menunggu makanan matang, mereka mulai ngobrol.


"Kamu gimana kabar?" basa basi Haga sambil tetap memandangi Manda yang duduk di depannya walau Manda selalu membuang muka jika mata mereka saling bertemu pandang. "Baik. Kamu?" tanya Manda balik sambil melihat ke arah lain.


Senyum tipis mengembang di wajah Haga mendengar Manda menanyakan kabarnya. Ini bisa di bilang, hati Manda sudah bisa menerima Haga kembali. Tinggal masalah waktu saja, pikirnya.


"Aku baik juga kok. Ai ...." panggil Haga pelan, Manda menoleh dengan malas malasan. "Apaan?"


"Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu setelah sekian lama."


Manda menaikkan sebelah bibirnya, "kenapa?" tanya Manda sinis.


"Aku kangen kamu," terang Haga dengan memelankan suaranya dan terus menatap manda lekat lekat.


"Silahkan," ucap ibu pemilik warung ke mereka.


Manda, yang melihat Haga terus saja memandanginya, lalu melirik sinis "Kenapa sih? Ngeliatinnya gitu amat?" tanya Manda sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Hmm ... Nggak apa apa kok. Udah lupain aja," dengus Haga lalu duduk bersandar di punggung kursi sembari menatap jalanan yang mulai ramai.


Kriiiiiing.


Ponsel Manda berdering.


Manda: "ya Vin?"


Kevin :"elu dimane Mak?" tanya Kevin cemas.


Manda :"Makan."


Kevin :"terus gimana nih? Gue balik jam berapa ke rumah?"


Manda diam lalu menghentikan makan.


Manda : "malam ini kalian nginep hotel aja dulu. Besok aku pagar dulu tu rumah. Minimal kamar kalian berdua deh. Malam ini belum aman."


Kevin :" Lah elu gimana, Man?"


Manda kembali menyuap nasi.


Manda :"Gampang lah. Nanti nyari hotel deket sini."


Kevin :" Ya udah deh. Take care ya, Mak. Kabarin gue terus kalau ada apa apa."


Manda :"hooh ... Woles aja napa."


Kevin :"elu mah, akh.. Ya udah deh. Gue mau nyari hotel dulu. Ni Vita ngomel aja. Ngantuk kali tu anak."


Manda :" iya sana."


Telepon di akhiri.


Makanan pun sudah ludes di makan Manda. Haga hanya memesan jus wortel saja. Karena dia sudah makan sebelumnya.


"Kevin?" tanya Haga sambil menyeruput jus miliknya.


"Iya. Oh iya, nanti anterin aku nyari hotel ya. Deket sini aja deh," pinta Manda.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ya mau tidur lah!"


Haga membetulkan posisi duduknya dan menatap Manda serius.


"Cerita deh, ada apa sebenernya?"


Manda diam beberapa saat lalu menarik nafas dalam dalam.


"Apa yang harus di ceritain?"


"Ya semua nya. Terutama ... Yang tadi, di rumah. Kenapa kamu panik gitu? Terus kenapa kalian nggak balik kesana, malah nyari hotel buat tidur malam ini?" tanya Haga serius.


"Hmm ... Oke aku ceritain. Dulu, Setelah kamu pergi, banyak hal yang udah aku alami. Aku kecelakaan tepat setelah 1 minggu kamu nggak ada kabar sama sekali. Aku koma, selama ...."Manda diam sambil menatap langit langit. "Satu bulan. Dan, setelah aku bangun dari koma ... Aku jadi bisa lihat ... 'Mereka'!" jelas Manda dengan mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan tanda kutip untuk menekankan kata 'mereka'.


"Oke ... Maksud kamu, kamu jadi indigo?"


"Mm ... Iyah, hampir mirip lah. Terus, yang tadi di rumah, itu adalah ... Makhluk yang menguasaiku waktu aku koma. Jadi dia terus ngikutin aku selama ini!"


"Kok gitu? Kenapa?"


"Dia pengen aku ... 'MATI' dan jadi budak nya di sana. Memang dia nggak akan bisa menyakiti aku saat di dunia nyata, di dunia kita. Tapi, dia selalu hadir di mimpiku dan bakal lebih gampang lagi saat aku marah. Dia bisa muncul dan mulai neror aku. Atau bahkan dia mulai mencelakai orang orang terdekat ku. Jadi aku suruh Kevin sama Vita menjauh dari aku dulu. Dengan jauh dari aku, mereka aman," ucap Manda santai.


Haga diam, mencoba menelaah perkataan Manda.


"Terus, kamu? Ngadepin 'dia' sendirian?"


Manda mengerdikan bahunya. "Yah, gitulah," tukasnya sambil meminum jus jambu miliknya.


"Kalau gitu, malam ini kamu tidur di rumahku aja," suruh Haga.


"Uhuuukk ... Uhuuukk ..." Manda batuk batuk mendengar hal itu.


"Lah ... Kok batuk. Pelan pelan, Ai. Minum ampe keselek gitu," tandasnya sambil beranjak lalu menepuk punggung Manda.


"Tunggu ... Tunggu ...." Elak Manda sambil menyuruh Haga menghentikan apa yang dia lakukan saat ini.


"Apa?"


"Tidur di rumah kamu? Kamu gila yah?"


"Eh, kenapa?"


"Bini elo nanti bilang apa, Bang?" sindir Manda.


"Bini?" tanya Haga sambil garuk garuk kepala.


"Nggak usah sok polos gitu deh. Kamu pikir aku nggak tau, kalau kamu ternyata udah nikah sama ... Siapa tuh namanya ... Sarah?"


"Kamu tau dari mana?" tanya Haga bingung. Karena setau Haga, pernikahannya dengan Sarah tidak diumbar ke publik, dan dengan kondisi Manda yang jauh, mana mungkin Manda tau kalau Haga sudah menikah.


"Aku nggak bego kali" umpatnya.


Manda lalu beranjak menuju penjual ayam penyet untuk membayar makanan yang dia makan. "Berapa Bu?" tanya Manda sambil membuka dompetnya.


"Biar aku aja yang bayar!" kata Haga sambil menyodorkan 1 lembar uang ratusan ribu ke ibu penjual itu.


Manda lalu pergi meninggalkan tempat makan itu dan berjalan menjauh.


"AIIII ... AIIIII ... Tunggu ih!" teriak Haga lalu mensejajari langkah Manda.


Ditariknya tangan Manda agar berhenti berjalan lebih jauh lagi.


Manda menoleh sebal. "Apa sih?"


"Kamu kenapa sih? Jutek banget dari tadi sama aku?"


"Apa? Kamu masih nanya kenapa aku kayak gini? Pikir sendiri!" seru Manda sambil berusaha menepis tangan Haga.


"Oke ... Oke. .. Maafin aku. Maafin aku, Ai. Please, dengerin dulu penjelasanku. Aku mohon," bujuk Haga dengan tampang memelas.


Mendengar hal itu, Manda lalu melunak. "Oke. Apa penjelasan kamu?"


"Aku bukan sengaja pergi gitu aja, nggak ada kabar. Tapi ... Aku sempet kecelakaan waktu terakhir kita telponan. Dan, aku hilang ingatan sementara. Aku nggak inget apa apa. Sampai mama, nyuruh aku nikah sama Sarah. Dan aku iya-in aja, karena aku cuma pengen nyenengin mama aja. Tapi, percaya atau enggak, hatiku nggak bisa ke Sarah. Entah kenapa, aku ngerasa kosong untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya pelan pelan aku inget semuanya. Aku inget kamu lagi. Tapi ... Semua udah terlambat, dan aku juga nggak bisa nyari kamu karena nomer kamu nggak aktif, terus akun kamu semua udah nggak aktif juga. Padahal aku udah berkali kali nulis pesan, biar kamu baca. Maafin aku, Ai. Ini bener bener di luar kuasaku. Maafin aku," pinta Haga dengan mata berkaca kaca.


Manda terenyuh mendengar hal itu. "Oh gitu. Iya, aku udah nggak aktif lagi di ******* sama kaskus. Aku udah bikin blog tulisan sendiri. Ya udah lah, lagian udah lewat juga!"


"Jadi aku di maafin?" tanya Haga sambil mendekatkan wajahnya ke Manda.


Manda sedikit mundur sambil mendorong Haga agar menjauh. "Apa sih ... Ih, sanaan ah. Nanti Sarah liat aku diomelin lagi. Males banget!" gerutu Manda.


Haga menatap tajam Manda mendengar penuturannya barusan. "Apa kamu bilang? Sarah ngomelin kamu? Kapan?"


Manda menekan kepalanya sambil melihat ke arah lain.


'Mampus gue. Keceplosan lagi. Aduh, gawat!'


"Enggak kok. Salah ngomong aku. Udah yuk, anterin cari hotel. Aku ngantuk," rengek Manda sengaja mengalihkan pembicaraan sambil menghindar dari Haga.


"Hobi kamu nggak pernah ilang yah. Suka banget ngalihin pembicaraan kita, kalau lagi serius!" kata Haga sebal. Ditahannya tangan Manda lalu menariknya menuju parkiran motor tak jauh dari mereka berdiri.


Manda diam saja ditarik seperti itu.


"Kita ke rumahku aja. Kamu tidur di sana. Nggak usah ke hotel hotel deh. Lagian kamu bilang, itu setan bakal ngikutin kamu terus. Kalau kamu kenapa-napa, gimana? Nggak bakal aku biarin kamu sendirian!" omel Haga sepanjang jalan.

__ADS_1


Mereka lalu naik motor menuju rumah Haga.


__ADS_2