
"Siapa yang menyuruh kalian? Atau kuledakkan bom ini!" ancam Abimanyu, berdiri di tengah-tengah, antara rumah pohon milik Bajra dan para musuhnya yang masih bersembunyi di semak-semak luar sana. Mereka diam, menghentikan tembakan saat melihat pemuda bertubuh tinggi, dengan darah di beberapa bagian tubuhnya. Beberapa titik merah kini terlihat di setiap titik tubuh Abimanyu.
Di tempat lain Adi yang memapah Gio terus mengikuti langkah Rizal dan Nabila di depan. Nabila berhenti berjalan, kembali menoleh ke belakang, tempat di mana mereka meninggalkan Abimanyu seorang diri. Bukannya tega, tapi setidaknya itu memang rencana paling tepat. Mereka hanya berharap Abimanyu dapat selamat.
Senapan miliknya ia jatuhkan begitu saja, kini ia mengambil sebuah bola dari belakang tubuhnya. Sebuah bom, Abi tunjukan ke atas, agar orang-orang itu yang masih misteri baginya mau keluar dan setidaknya melepaskannya. Seorang pria berpakaian hitam di sekujur tubuhnya muncul, ia mengisyaratkan agar teman-temannya tidak menembak. Pria itu memakai penutup wajah, tapi dari sorot matanya, Abi benar-benar tidak bisa menebaknya, asing. Abimanyu termasuk orang yang teliti dengan ingatan kuat. Ia hafal semua penduduk desa, dan ia yakin kalau mereka bukan penduduk desa.
"Kalian lebih baik berhenti, percuma saja, kalian nggak akan bisa melawan kami. Bahkan setiap utusan yang kalian bunuh, itu bukan hal yang akan memutus rantai kegiatan kami. Masih banyak orang yang akan melakukan hal seperti Nathan, Riki, maupun Bisma. Mereka hanya sebagian kecil," kata orang dibalik penutup wajah itu, menodongkan pistol ke kepala Abimanyu. "Dan kalau kamu meledakkan kita sekarang, kami tidak masalah. Pasukan kami masih banyak."
Abimanyu sedikit gentar. Perkataan orang di depannya mampu mematahkan semangat pemuda itu. Ia lelah dan ingin menyerah. Sudah banyak hal dan banyak korban berjatuhan, tapi akar dari permasalahan ini belum juga sanggup ia patahkan. Ia menarik save pin, pasrah akan kematiannya. Ia belum pernah mencoba mati dengan cara menghancurkan diri. Apakah potongan tubuhnya akan kembali menyatu atau akan hancur selamanya.
Abimanyu memejamkan mata. Menarik nafas panjang, seolah bersiap menjemput kematiannya. Namun tiba-tiba terdengar suara mesin mobil mendekat dari arah rimbunan hutan jauh di depan mereka. Abi membuka mata, sementara kawanan musuh kebingungan. Muncul sebuah mobil jeep, menabrak orang di depan Abimanyu hingga terpental jauh. "Masuk!" jerit Elang dari dalam mobil itu. Abimanyu terkejut, namun bom yang masih di genggaman membuatnya tersadar untuk segera melemparnya. Abi melempar jauh ke persembunyian musuh-musuh nya itu. Ledakan pun tak dapat dielakkan lagi. Ia segera masuk ke dalam mobil. Dan mereka berdua pergi dari tempat itu.
"Apa kabar anak muda?" tanya Elang.
Mata Abi berkaca-kaca melihat sosok yang memang ia andalkan kini ada di sampingnya. Di saat dirinya lemah, dan putus asa, Elang datang. Suatu hal yang di luar dugaan. Tapi cukup membawa angin segar dalam keadaan yang kacau ini. "Kenapa paman ke sini?" tanya Abi tak menanggapi pertanyaan Elang tadi. Ia yakin Elang dapat melihat kalau keadaan Abimanyu masih baik-baik saja sekarang, walau sebelumnya ia hampir mati.
"Nggak suka kalau gue ke sini?" Lirikan mata Elang masih sama seperti dulu, saat terakhir mereka bertemu beberapa tahun lalu. Abi tersenyum. "Justru aku seneng banget, paman. Kalau paman nggak muncul, mungkin aku udah mati tadi."
"Oh, lu sudah bisa mati sekarang?" tanya Elang, seolah menyindir pemuda di sampingnya yang baru saja lolos dari maut yang ia buat sendiri. Kali ini Abi tertawa keras.
"Oh iya," pekik Abimanyu teringat sesuatu. " Paman Gio sama Paman Adi, mereka ...." Abi tak meneruskan kalimatnya, segera melihat sekeliling berharap kalau kelima orang itu dapat mereka temui sekarang. Ia yakin mereka sudah berjalan cukup jauh.
"Tenang. Mereka aman."
Akhirnya mobil membawa mereka keluar dari desa. Abi diam, tak banyak bertanya akan dibawa ke mana, karena ia yakin ke mana pun asal Elang yang membawanya pasti tempat itu aman. "Kita pulang ke rumah gue. Keadaan desa nggak aman. Mereka mengincar kalian." Seolah tau apa yang ada di pikiran Abi, Elang langsung menjelaskan keadaan sejauh yang ia tau.
"BD Coorporation. Paman tau soal perusahaan itu?'
Elang menarik nafas panjang, menatap jendela sampingnya. Walau mereka berjauhan, tapi Elang selalu memantau setiap kegiatan Abimanyu di desa. "Yah, tentu saja. Perusahaan itu sudah lama gue selidiki," kata Elang sambil tetap fokus menyetir.
"Terus?"
"Awalnya, mereka yang sebelumnya cuma perusahaan kecil, lama-lama mulai menguasai pasar modal. Saat itu gue masih santai, namanya bisnis kan ada pasang surut. Walau perusahaan sempat jatuh juga saat itu. Dan, mereka mengajak kerja sama."
"Kerja sama?"
"Ya. Gue ceritain ke Wisnu masalah ini. Karena beberapa waktu lalu dia sempat balik, kan. Biasa si Lian berulah lagi. Sekarang udah dibawa kakaknya pulang. Nah Wisnu ini juga bahas soal perusahaan itu," jelas Elang. Ia flashback ke belakang, kejadian lalu yang ia alami.
Flashback.
Ruangan itu masih sama. Walau gedung ini sudah diganti dengan yang baru, Elang men-design tempat ini sama seperti dulu. Ia tipe orang yang tidak suka perubahan. Selalu setia pada sesuatu yang ia anggap nyaman. Dan kantornya adalah tempat ternyaman kedua yang ia buat, setelah rumah. Shanum sudah melahirkan seorang putra yang sangat mirip ayahnya. Kehidupan mereka sempurna. Dan Shanum, membuat rumah besar itu menjadi nyaman untuk Elang.
Dering panggilan teleponn mengalihkan perhatian CEO perusahaan itu. Ia yang tengah disibukkan oleh beberapa berkas di meja kerjanya, akhirnya menoleh. Dahinya berkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Wisnu? Tumben." Ia menggeser layar itu ke kanan, mendekatkan benda pipih itu ke dekat telinga.
"Lang, masa gue nggak boleh masuk ini?"
"Hah? Masuk ke mana? Mabok lu, Nu?"
"Ck. Ke ruangan elu. Gue di depan ini," tukas pria di ujung telepon. Elang yang penasaran, langsung beranjak dan membuka pintu ruangannya. Matanya terbelalak, saat melihat seorang pria memakai tuxedo abu-abu sedang berdiri di depan ruangannya, berdebat dengan Lia, sekretarisnya.
__ADS_1
"Nah keluar juga lu!" runtuk Wisnu, kesal.
"kenapa, Li?" tanya Elang, pada wanita berusia 25 tahun itu. Ia baru 3 bulan menjadi sekretaris Elang. Belum hafal apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
"Ini Bapak ini memaksa masuk," tunjuk Lia ke Wisnu.
"Bapak? Kapan gue nikah sama ibu elu?!" cetus Wisnu, emosi. Elang malah menahan tawa dan langsung melambaikan tangan ke Wisnu, menyuruhnya masuk. Ia juga mengangguk ke Lia mengartikan kalau Wisnu salah satu tamu yang ia ijinkan masuk, bahkan tanpa ijin sekali pun.
"Anak mana itu?" tanya Wisnu, bermaksud pada sekretaris Elang tadi.
"Anak teman bokap. Salah elu sih, Lian pakai lu bawa balik. Gue harus nyari sekretaris baru. Terus elu apa ke sini?" Mereka duduk di sofa hitam di tengah ruangan.
"Lah nengok teman. Kagak boleh?"
"Cih, nengok teman? Nggak mungkin kalau elu tiba-tiba ke sini nggak ada maksud lain," sindir Elang. Kalimat itu membuat Wisnu tertawa. Ia lalu memajukan posisi duduknya, mendekat pada Elang.
"Tau saja lu. Jadi gini, Lang. Ada hal serius yang mau gue bahas sama elu. Tau, kan, BD Coorporation?" Kali ini ekspresi mereka mulai serius. Elang pun mulai menyimak dengan seksama. Kalau Wisnu membahas perusahaan lain, itu berarti memang ada hal serius yang akan ia sampaikan. Wisnu dan Elang memang rekan bisnis dan sering menjalin kerja sama sejak dulu.
"Oh iya. Yang kemarin menangin tender PT. Bosch Rexroth? Kenapa?"
"Elu tau nggak nama lengkap perusahaan itu?"
"Hah? Ya ... BD Coorporation, kan? Memangnya ada tambahan lain?"
"Tahu kepanjangannya?"
Elang yang belum mengerti arah pembicaraan ini, terus menerus membentuk kerutan di dahinya, tiap ada pertanyaan yang terlontar dari mulut Wisnu. Ia menggeleng pelan.
"Hah?! Serius?" pekik Elang yang hampir tidak percaya apa yang di sampaikan Wisnu padanya. Tapi ia yakin Wisnu tidak main-main karena raut wajahnya benar-benar serius, dan tidak mungkin Wisnu jauh -jauh datang ke kantornya hanya untuk kabar palsu atau sekedar gurauan iseng belaka.
"Gue sudah cari tau tentang perusahaan ini. Awalnya gue pikir ini cuma perusahaan kecil, i was wrong."
"Terus?"
"Setelah gue cari tau, mereka punya banyak usaha. Terutama usaha gelap. Penjualan senjata api ilegal, narkoba, perdagangan manusia, perdagangan organ tubuh manusia, pembunuhan. Dan mereka punya anggota gengster sendiri buat melawan musuh-musuhnya. Mereka berbahaya banget, Lang. Dan stau lagi yang perlu elu tau, mereka mendekati desa Amethys."
Mendengar nama desa itu di sebut, Elang makin terkejut. Ia yakin kalau Abi, Gio, dan Adi pasti sudah berurusan lebih dulu dengan mereka. 3 orang itu cerdas, mereka sangat peka terhadap hal-hal sensitif seperti ini.
"Mereka ngapain di sana?"
"Gue denger ada kasus pembunuhan berantai di sana. Pasti itu ulah orang-orang itu. Karena menurut informasi temen gue yang aktif di situs gelap, dia dapet semacam video pembunuhan begitu, mereka seolah bikin drama pembunuhan seperti itu buat memuaskan penonton, Lang. Elu tau, kan, bbanyak orang kaya yang otaknya sosiopat? Mereka merasa paling hebat, karena berhasil mempermainkan kehidupan seseorang, dan merasa paling unggul karena memiliki nyawa orang-orang itu di ujung jari mereka."
"Gila! Abimanyu ... Gio sama Adi ada di sana, Nu. Apa mereka terlibat?"
"Ya pasti. Menurut informasi juga, ada sekelompok penduduk lokal yang berusaha menghentikan aksi pembunuhan itu. Siapa lagi coba? Manusia yang nggak punya kerjaan menyetor nyawa selain mereka bertiga?"
"Itu artinya ...." Belum sempat Elang meneruskan kalimatnya, Wisnu sudah menatapnya tajam. "Artinya kita harus ikut bertindak, Lang. Mereka dalam bahaya. BD Coorporation yang sekarang sama berbahayanya. Walau gue nggak tau apa mereka dari kelompok yang sama seperti Black Demon dulu atau bukan."
"Oke."
__ADS_1
________
"Jadi mereka diselamatkan Om Wisnu?" tanya Abimanyu, Elang mengangguk tanpa menatap pemuda itu. Terdengar embusan napas panjang dan cepat dari Abi. Ia merasa lega karena teman-temannya dalam keadaan baik-baik saja.
Gapura pintu masuk kota sudah mereka lewati beberapa saat lalu. Kini mereka benar-benar meninggalkan desa Amethys, menuju kediaman Elang. Rumah besar itu tidak banyak berubah. Hanya saja, kini ada beberapa arena permainan di halaman luas itu. Sudah jelas kalau itu sengaja dibuat untuk putra Elang.
Mobil Land rover parkir di depan teras. Elang turun dari mobil, Abimanyu mengikutinya. Ini kali pertama Abi kembali ke rumah ini, lagi. Kenangan beberapa tahun lalu kini berkumpul di ingatannya. Saat mereka harus menghadapi Kalla. Di sinilah mereka bersembunyi. Dan sama seperti sekarang. Keadaan seolah kembali seperti beberapa waktu lalu. Kini suara beberapa orang menggema. Asal suara yang ada di ruang tengah, membuat langkah Abi makin dipercepat. Ia ingin melihat keadaan teman-temannya. Saat mereka berdua masuk, semua mata tertuju pada Abi dan Elang.
"Bi?! Elu nggak apa-apa?" tanya Nabila yang terkejut melihat kedatangan Abi, gadis itu lantas mendekat dan menatap lekat Abimanyu dari atas sampai bawah. Hal itu membuat Abi merassa sungkan, terlebih saat mata Rizal menatap tidak suka pada mereka berdua.
"Gue nggak apa-apa. Nggak usah lebay, lu." Abimanyu berjalan melewati Nabila, dan bersalaman dengan Wisnu. "Sehat, Om?"
"Sehat. Kau bagaimana, anak muda? Setelah membunuh manager coffeshop ku, kita baru ketemu sekarang, ya?" tanya Wisnu, lalu segera menarik Abimanyu ke dalam pelukannya.
"Jadi Om mau menuntut balas?"
Wisnu malah tertawa dan melepas pelukan itu. "Justru aku mau berterima kasih. Kamu sudah membuang satu sampah ke tempatnya."
"Sebaiknya kalian istirahat saja. Anggap rumah sendiri," kata Elang, menaiki tangga dengan menekan tengkuknya. Ia lelah. Sudah lama dia tidak bertarung menyelamatkan dunia, lagi. Tadi hanya permulaan. Dan karena alasan ini, ia terpaksa mengirim istri dan anaknya ke luar negeri. Memberikan tempat aman, serta menyembunyikan mereka, sampai masalah ini selesai.
Kini mereka memutuskan kembali ke kamar masing-masing. Tak perlu sungkan, karena Elang bukan tipe orang yang sulit, ia paham kondisi ini, dan memang dia harus turun tangan membantu, bahkan dalam bentuk apa pun.
________
Kamar yang dipakai Gio kini berubah mirip markas polisi golden time. Ia memasang banyak layar monitor yang ia hubungkan ke beberapa tempat. Usaha yang dilakukan Bajra tidak akan Gio sia-sia kan. Kini giliran dirinya yang melakukan tugas itu.
"Maya di mana, Wan? Sekarang kamu nggak bisa sembunyiin dia lagi. Takutnya, mereka udah nemuin Maya," kata Abimanyu saat mereka ada di kamar Gio, membagi tugas masing-masing.
"Maya ada di kota, Bang. Dia tinggal sama Tante. Om ku mantan tentara, jadi kau pikir Maya bakal aman di sana."
"Jauh dari sini?"
"Enggak begitu jauh, kemarin aja kita lewati rumah tante. Bagaimana, Bang? Apa aku perlu jemput dia?"
"Jangan. Biarkan saja," sambar Wisnu.
"Kenapa begitu?"
"Justru dia satu-satunya jalan kita mengundang mereka datang. Kita harus pancing mereka. Dan target terakhir, adalah cara terjitu. Karena mereka pasti bakal dateng buat Maya."
"Tapi itu terlalu berbahaya!" kata Nabila, protes.
"Terus, lu ada cara lain?" Gio menambahkan.
"Biar gue saja yang gantiin Maya."
"Hello, Bil. Elu tau, kan, kalau yang mereka incar Maya. Kalau elu yang nongol ya nggak bakal dateng mereka!" protes Gio.
"Gue bakal nyamar, seolah gue ini Maya. Pakai baju Maya, dan beraktifitas seperti Maya, bagaimana?" tanya Nabila antusias. Semua orang masih diam, mencoba mengira-ira apa baik buruknya rencana ini.
__ADS_1
"Nggak ada salahnya, sih. Gue setuju."
"Oke."