
Tubuh Apri berubah menjadi makin aneh. Urat urat di sekujur tubuhnya menyembul keluar. Kulitnya berubah menjadi kehitaman dengan garis-garis merah di setiap urat nadinya.
Raja menatap sambil menelan ludah berkali-kali. "Raja, Jangan biarkan dia mengembangkan tubuhnya. Karena jika sampai tubuhnya membengkak, maka seluruh pembuluh darahnya akan pecah. Itu berbahaya untuk gadis itu," bisik Pak Wiryo yang berada di belakangnya.
Raja diam sambil menundukkan kepala. Dia menahan emosinya dan berusaha fokus pada apa yang hendak dia lakukan. Yah, dia ingin menggunakan kemampuannya. Karena lawan dia kali ini bukanlah manusia biasa. Apalagi ada sebuah tubuh dengan nyawa yang harus dia selamatkan sekarang. Apa yang dilakukan oleh makhluk itu berbahaya bagi Apri. Karena jika dibiarkan makan nyawa gadis itu dalam bahaya. Tentu saja Raja tidak ingin ada yang terluka dalam hal ini. Apalagi jika yang terluka adalah manusia seperti dirinya.
Tubuh Apri Masih berbentuk aneh. Urat-urat nadinya justru semakin menghitam. Tubuhnya semakin lama semakin membesar. Seakan-akan berisi udara yang membuatnya menggembung dari tubuh aslinya. Raja mulai menggumamkan doa di dalam hati. Di sekitar tubuhnya mulai timbul sedikit terang berwarna putih. Hawa tubuhnya menjadi menghangat yang berasal dari pancaran sinar putih tersebut.
Udara di sekitar tubuh Raja mendadak kering. Suasana yang yang awalnya terasa Sunyi, kini mulai terdengar Riuh di salah satu sudut di hutan. Rea yang mendengar hal tersebut langsung menoleh ke arah sampingnya.
Dia mendengar seperti ada keributan yang berasal dari semak-semak yang tak jauh dari mereka. Ada semacam sesuatu yang sedang berusaha berlari mendekati mereka. Anehnya hanya Rea saja yang bisa mendengar keributan itu.
Karena semua orang hanya fokus menatap ke arah depan di mana Raja dan Apri yang hendak bertarung. Apalagi setelah melihat perubahan yang akan terjadi pada tubuh Apri, mereka bergidik ngeri dan cukup was was jika sampai terjadi hal buruk dengan temannya itu. Rea memperhatikan orang-orang di sekitarnya, namun tidak ada yang merasa terganggu dengan suara berisik yang mulai mendekati mereka. Pada suara yang ia dengar cukup kencang, Rea khawatir jika ada hewan buas akan menghampiri mereka.
Ditambah dengan terdengarnya suara auman dari seekor harimau. Rea terkejut. Karena suara yang ia dengar cukup keras. Yang artinya ada harimau di dekat mereka sekarang. Tapi teman-temannya masih saja terlihat tenang.
" Kalian Dengar itu?" tanya Rea pada orang orang yang berada paling dekat dengannya.
Mereka saling tatap lalu mengerutkan kening sambil menggeleng. " dengar apa?"
"Suara harimau!" pekik Rea.
"Harimau? Nggak ada kok. Mungkin kamu salah dengar," sahut Dana.
"Masa sih? Tapi aku yakin itu suara harimau. Masa kalian gak dengar. Tuh, dia bersuara lagi!" pekik Rea baru saja mendengar suara harimau lagi.
Raja Mendengar pembicaraan tersebut. Dia sedikit menoleh namun tidak sepenuhnya membalikkam tubuh untuk menyimak percakapan orang-orang di belakangnya. Namun dia sudah hafal suara siapa yang ia dengar barusan. Raja hanya menarik sebelah bibirnya. Dia kini kembali fokus kepada lawan di hadapannya. Suara geraman dari harimau kembali terdengar dengan langkah lari yang cukup cepat.
Akhirnya dari semak-semak kini muncul seekor harimau putih. Rea semakin terkejut. Apalagi binatang buas itu melompat ke atas kepala Dana yang berdiri di sampingnya. Tapi Rea semakin kebingungan, karena teman temannya tidak terkejut sama sekali. Mereka bahkan seolah-olah tidak melihat makhluk buas itu di hadapan mereka. Rea kebingungan karena hanya dia saja yang melihat harimau putih itu muncul di tengah-tengah mereka.
Tapi anehnya hewan buas itu perlahan mendekat ke Raja. Tidak ada aksi menyerang secara membabi buta. Harimau putih itu justru berdiri di belakang Raja. Rea kembali memperhatikan sekitar, mencoba melihat kembali ekspresi teman-temannya. Tapi dia benar-benar yakin sekarang kalau harimau itu bukanlah harimau biasa. Dan anehnya hanya dia yang bisa melihatnya. Sementara teman-temannya seakan-akan tidak bisa melihat keberadaan harimau putih tersebut. Karena tidak ada satupun dari mereka yang menjerit histeris atau terkejut saat ada hewan buas itu berada di tengah-tengah mereka.
Rea kembali dikejutkan dengan sebuah fenomena aneh lainnya. Harimau putih itu tiba-tiba menembus tubuh Radja, dan tidak lagi terlihat di manapun. Namun saat melihat Raja tampak berbeda membuat Rea yakin kalau harimau itu sudah merasuki tubuh Raja.
Tanpa aba-aba lagi, Raja langsung mendekat ke arah Apri. Mereka akhirnya terlibat pertarungan sengit. Rea terus memperhatikan raja, yang terlihat lebih terang dari sebelumnya. Kemampuannya pun semakin bertambah. Dan sikap Raja menyerang dengan membabi buta, membuat Rea sempat menelan ludah, dan berfikir Harimau yang ia lihat adalah sosok tak kasat mata yang sengaja membantu Raja saat ini. Kini Rea mulai teringat dengan istilah khodam pendamping. Rea yang Awalnya sempat cemas dengan kehadiran harimau putih itu, kini sedikit lebih lega karena dia yakin kalau sosok tersebut berada di pihak mereka. Apalagi melihat kemampuan raja yang meningkat pesat hanya dalam hitungan menit saja Apri sudah tidak berdaya.
Meski cenderung pendiam, tetapi orang yang didampingi Khodam cenderung emosional. Walau sebenarnya orangnya lebih pendiam, tetapi begitu disakiti hatinya tidak akan tinggal diam.
Untuk itulah, orang yang memiliki Khodam Harimau putih harus berhati- hati dan bisa mengontrol emosi. Sebab jika salah, maka akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dengan sorot matanya yang sangat tajam tersebut, orang yang bertatapan secara langsung tidak akan kuat. Dengan sorot mata yang tajam itulah, orang lain akan merasa takut dengan sendirinya hanya dengan menatapnya.
Perkataannya akan diikuti oleh banyak orang. Dan cenderung orang yang memiliki Khodam Harimau putih ini, perkataannya akan diikuti oleh orang lain.
Selain itu orang yang memiliki Khodam Harimau putih ini suaranya agak berat dan akan diikuti banyak orang. Orang yang memiliki Khodam Harimau putih, akan sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Orangnya sangat pemberani dan tidak kenal takut.
Mempunyai jiwa kepemimpinan yang bagus. Sehingga, ketika dimanapun berada, biasanya di dalam komunitas, pemilik khodam harimau putih ini akan dijadikan pimpinan.
__ADS_1
Tubuh Apri yang awalnya tampak mengerikan dengan urat nadi yang menyembul berwarna gelap, mendadak mulai kembali seperti semula. Tubuhnya tidak lagi menunjukkan reaksi aneh. Apri sudah terbaring di atas tanah dan terlihat tidak berdaya untuk bahkan membuka matanya.
Raja gini mendekati Apri. Dia memeriksa kondisi Apri lalu menoleh ke belakang. " dia sudah baik-baik saja. Sebaiknya kita bawa dia pulang sekarang juga," tukas Raja sambil menatap semua teman-teman Rea.
"Kamu yakin?" tanya Leni yang ikut mendekat dan memeriksa kondisi Apri dengan hati-hati.
"Udah nggak kesurupan lagi, kan, Leni?" tanya Ita. Yang juga ikut mendekat sama seperti Leni. Alhasil mereka semua pun ikut mengerubungi Apri yang memang sedang tidak sadarkan diri.
Setelah Memastikan kondisi Apri baik-baik saja, mereka pun mulai melanjutkan perjalanan pulang.
Rombongan mulai berjalan meninggalkan hutan satu persatu. Tidak ada lagi Barisan orang yang berdzikir dan berdoa sepanjang jalan seperti yang mereka lakukan saat berangkat tadi. Namun saat mereka semua mulai berjalan menjauh, Rea yang hendak mengikuti langkah mereka berhenti. Dia menoleh ke salah satu sudut hutan. Menatap ke arah itu dengan Tatapan yang intens dan penuh Waspada.
"Kenapa, Re?" tanya Hana.
"Nggak papa kok. Aku cuma merasa ada orang yang sedang mengawasi kita di sana. Tapi mungkin cuma perasaanku saja. Ayo kita pulang," ajak Rea lalu menarik tangan Hana.
Saat Raja mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut Rea, dia lantas ikut menatap ke arah yang Rea tunjuk. Dahinya berkerut, matanya menatap serius ke arah tersebut. Lalu Raja justru menoleh kembali Ke Rea yang kini sudah berjalan lebih dulu sambil bercanda dengan teman-temannya.
Selama perjalanan pulang kembali ke desa, tidak ada lagi kejadian aneh lainnya. Blendoz membawa tubuh Apri pulang, seakan-akan tidak merasakan lelah sepanjang jalan. Apri yang memiliki berat badan 55 kg, mendadak terasa lebih ringan saat Blendoz membawanya tadi. alhasil mereka bisa cepat sampai kembali ke desa. Adzan subuh berkumandang. Warga yang baru saja tiba kembali ke desa, akhirnya pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap menjalankan ibadah salat subuh di mushola dekat Balai Desa.
Radi yang sejak tadi menjaga rumah akhirnya pun merasa lega saat melihat mereka semua kembali dengan selamat.
"Gimana dia?" tanya Raja sambil menunjuk ke arah kamar Fauzan.
"Alhamdulillah gak ada masalah, Bang. Walau dia tadi sempat teriak-teriak dan menggedor gedor pintu, Tapi sekarang sudah lebih tenang."
"Kamu sudah periksa dia di dalam kamar?" tanya Pak Wiryo.
"Betul, Pak Kades, 5 menit yang lalu saya memeriksa kamar itu Fauzan masih berada di tempat tidur. Sepertinya dia sedang tidur sekarang," jelas Yonas.
"Ya sudah. Kalau begitu kalian pulang saja sekarang. Siap-siap untuk salat subuh berjamaah di mushola. Terima kasih ya atas bantuannya," ucap Pak Wiryo ramah.
"Sama-sama, Pak Kades. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Yonas lalu mengajak Radi ikut pulang bersamanya.
Setelah kejadian semalam yang cukup menyita waktu dan tenaga mereka, rombongan Dana terlihat lunglai sambil merebahkan tubuh secara asal. Beberapa memilih langsung tidur di kamar masing-masing. Tapi beberapa lainnya terutama para laki-laki, lebih memilih duduk di kursi ruang tamu dan ruang tengah. Mereka malah menyeduh kopi untuk menyegarkan tubuh serta matanya. Apalagi saat kepala mulai terasa berat akibat kurangnya tidur selama beberapa hari terakhir.
"Pak, sepertinya kita harus melakukan pagar di desa. Supaya mereka tidak lagi bisa masuk dan mengusik anak anak ini," bisik Raja pada sang ayah.
"Ya sudah, kamu atur saja. Lakukan lah yang terbaik. Karena kamu yang lebih paham mengenai hal ini."
"Baik, Pak. Nanti setelah salat subuh, saya akan memasang pagar gaib tersebut ."
"Tapi bukannya waktu itu kamu sudah memasang pagar gaib di desa kita?" tanya sang ayah.
" Iya Ayah. Memang Waktu itu saya sudah memberikan pagar Ghaib di sekitar Desa kita. Hanya saja saat saya datang tadi pagar itu sudah lenyap. Sehingga saat saya mulai masuk ke desa Saya melihat beberapa makhluk halus yang mendiami beberapa tempat di desa kita. Pocong Karta sepertinya kembali lagi ke rumahnya."
" Astaga Benarkah demikian? Pantas saja anak-anak muda ini kesurupan bergantian. Rupanya memang tidak ada pagar yang melindungi Desa kita lagi? Tapi kenapa bisa pagar itu hilang?"
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, Pak. Sepertinya adap seseorang yang sengaja membuka pagar itu dengan tujuan tertentu."
" ada yang membukanya? Siapa?"
" Saya belum tahu tapi akan saya cari tahu secepatnya. Kalau begitu mari kita pergi ke mushola untuk salat subuh berjamaah," ajak Raja.
Akhirnya kedua pria berbeda generasi itu meninggalkan Homestay dan melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mushola yang menjadi satu-satunya tempat beribadah warga desa sudah mulai ramai dikunjungi. Beberapa dari mereka yang baru saja datang segera mengambil air wudhu. Sebagian lainnya sudah mulai melakukan Ibadah sunnah sebelum salat berjamaah dimulai.
Rea yang baru selesai berwudhu, hendak kembali masuk ke dalam mushola. Posisi tempat wudhu berada di samping kanan dan kiri musala tersebut. Tentu saja untuk kalangan pria dan wanita terpisah. Tempat wudhu untuk kaum pria berada di sisi kiri, sementara tempat wudhu untuk kaum wanita berada di sisi kanan. Pria yang sudah Suci pantas memasuki mushola. Namun kakinya sedikit tergelincir dan membuatnya hampir saja jatuh jika saja Raja tidak tubuhnya dari belakang. Rea terkejut lalu menoleh ke arah belakang tubuhnya. Rupanya Raja berhasil menangkapnya dengan ditutupi Sajadah yang ia pakai agar kulit mereka tidak saling bersentuhan. Karena jika kulit mereka saling bersentuhan maka wudhu yang dilakukan keduanya harus diulangi lagi karena sudah batal.
Mereka berdua saling tatap dalam waktu sepersekian detik. Hingga akhirnya Raja berdeham sebagai sebuah isyarat agar Rea memperbaiki posisi berdirinya. Pria yang canggung lantas mengucapkan Maaf dan terima kasih kepada Raja, lalu dengan malu-malu berlari kecil memasuki mushola. Melihat gadis itu bertingkah lucu membuat Raja menarik bibirnya tipis. Dia lantas memasuki mushola dengan tenang, dan mulai menjalankan ibadah sunnah seperti yang lain.
Sinar matahari mulai menerangi bumi, walau matahari belum juga muncul di langit, tapi suasana di sekitar sudah mulai terang. Pertanda pagi sudah datang. Setelah menjalankan ibadah salat subuh berjamaah, Rea tidak langsung kembali ke Home Stay. Dia berzikir cukup lama dengan tasbih pemberian ayahnya. Kejadian demi kejadian aneh yang ia alami selama ini, membuat Rea sedikit merasa lelah dan tidak berdaya.
Tiba-tiba saja dia merindukan ayahnya. Di mana selama ini Rea selalu dijaga dengan sebaik mungkin oleh Habibie. Mengalami kejadian mistis memang bukan hal baru bagi Rea. Dia memang sudah peka sejak kecil. Tapi selama ini dia tidak pernah merasakan sendiri ataupun ketakutan. Karena ada ayahnya yang selalu ada disampingnya terus setiap hari. Tapi sekarang di tempat yang sangat jauh dari ayahnya itu, Saya merasakan kosong, dan sebuah kerinduan yang mendalam untuk ayahnya.
Raja yang baru saja selesai berdoa dan berdzikir beranjak dari duduknya. Dia sedikit terkejut saat melihat masih ada jamaah perempuan yang sedang duduk di barisan paling belakang. Raja langsung mengenali wajah itu. Tapi ada satu hal yang membuat Raja tertarik menatap lebih lama ke arah Rea.
Karena tasbih di tangan Rea yang dia pakai untuk berdzikir, memancarkan cahaya putih yang terang. Hal yang jarang sekali bisa dilihat oleh ya selama ini. Raja menjadi tertarik dengan tasbih yang Rea punya. Karena Radja Yakin jika tasbih itu bukanlah tasbih biasa dan pemiliknya juga bukan orang biasa. Raja sadar kalau Rea berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dan Dia mulai penasaran dengan gadis itu sekarang.
Raja Sedang memakai sepatunya saat Rea baru saja keluar dari mushola. Pria yang menyadari kalau Raja ada di dekatnya mulai sedikit grogi. Memakai sepatu miliknya dengan sangat hati-hati. Entah mengapa tubuh Rea sedikit bergetar saat bertemu dengan Raja.
"Tasbih itu punya siapa?" tanya Raja secara blak-blakan dan berhasil membuat Rea menatapnya heran. Dia memperhatikan tasbih tersebut menunjukkannya kepada Raja
"Ini? Memangnya kenapa?"
" tasbihnya bagus."
"Oh, benarkah? Kebetulan ini milik ayahku. Dia sengaja membawakan Tasbih ini untuk aku."
"ayah kamu? oh, begitu ya."
"Iya, Memangnya kenapa?"
"Oh, tidak apa apa."
Ponsel Rea berdering. Dia segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Iya, baru selesai. Ini aku juga mau pulang kok. Kenapa?"
"...."
"oh, iya, oke. Aku udah mau jalan pulang. Tunggu sebentar ya." Rea beranjak lalu mematikan telepon tersebut.
"Aku duluan, ya," kata Rea pamit. Karena Hanya ada mereka berdua saja di sana. Orang-orang lain sudah kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
"Tunggu! Kita pulang sama sama saja. Saya juga mau ke home stay."
"Oh, oke."