
"Eh ... Kalian sadar nggak sih? Kok ini kayak tempat camp kita tadi?" tanya Leni.
Alhasil mereka semua menoleh ke sekitar. Mencoba memperhatikan dengan seksama. Apakah yang dikatakan oleh Leni benar atau tidak. Atau dia hanya salah mengira saja. Tapi rupanya mereka mulai sadar kalau kawannya itu memang benar. Padahal mereka sudah berjalan jauh sekali hampir 2 jam perjalanan. Tapi ternyata mereka kembali lagi ke tempat semula.
Mereka semua kesal. Mendengus sebal, hingga berteriak dengan umpatan sebagai bentuk rasa kecewa.
"Terus gimana dong ini! Kok kita balik lagi sih?"
"Ya ampun! Salah apa sih kita?!"
"Ini udah nggak bener nih! Pasti ada yang nggak beres nih!"
Begitulah reaksi sebagian orang. Tentu saja wajar sekali jika mereka kesal, kecewa, sedih, dan ingin mengamuk. Mereka terjebak di sana, dan seakan akan tidak bisa keluar. Leni langsung duduk begitu saja di tanah. Bayangan peristiwa buruk yang kemarin mereka alami kembali terulang di memori otaknya. Bagaimana teman temannya kesurupan, penampakan setan yang dilihat beberapa orang, hingga perasaan tidak nyaman yang memang dia rasakan sejak mereka tiba di tempat itu.
Dana, selaku pemimpin tim diam membeku. Dia terus di teror dengan kalimat pertanyaan dari teman temannya. Hanya saja dia memang bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
"Lebih baik, kita buat api unggun lagi. Terus masak untuk makan siang. Ini sudah siang, kita perlu makan. Nanti setelah makan, baru pikirkan lagi rencana selanjutnya," ucap Rea berusaha menenangkan teman temannya.
"Re! Rencana apa lagi? Bahkan gue rasa tempat ini belum pernah dilewati orang lain. Sejak kemarin nggak ada, kan, orang lain yang lewat sini! Kita salah ambil jalan, dan mungkin memang nggak sesuai jalur yang seharusnya!" ungkap Fauzan.
"Jadi menurut lo, ini salah gue karena nggak bisa mencari jalan yang benar?" Kali ini Dana mulai terpancing emosinya.
"Iya! Salah lo, Dan! Kita tersesat itu salah lo! Kan lo pemimpinnya. Kita sejak awal selalu ikutin instruksi lo. Terus tadi pun juga, kan? Lihat hasilnya?" Ozan seakan akan ingin sekali mencari kambing hitam atas peristiwa yang sedang mereka alami sekarang.
"Ya sudah. Kalau lo merasa bisa cari jalan keluar, silakan. Gue ikutin cara lo. Gue nggak masalah. Yuk, sekarang ke arah mana kita harusnya pergi? PETA ini," ucap Dana sambil mengangkat tinggi tinggi kertas yang sudah kusut karena sering dibuka dan lipat terus menerus. "Nggak ada gunanya, jadi mendingan gue robek aja!" kata Dana tegas.
Namun saat Dana bersiap merobek kertas itu, Rea justru menahan tangan Dana dan mengambil alih benda tersebut.
"Udah udah. Jangan saling menyalahkan. Dana nggak salah. Dia sudah berusaha sebaik mungkin menjadi pemimpin di tim kita kok," tandas Hana.
"Berusaha sebaik mungkin apanya? Mana? Hasilnya nggak ada baik baiknya!" Ozan sepertinya sudah sangat kesal atas apa yang terjadi pada mereka.
"Terus kalau misal lo yang jadi pimpinan, apa lo bisa menjamin kita bisa pergi dari sini? Bisa lo jamin?" tanya Blendoz santai. Dia justru duduk di sebuah batang pohon sambil menyesap rokok elektriknya.
"Bisa lah! Gue bakal keluarin kalian dari tempat ini!" kata Ozan yakin.
"Oh ya udah, mulai sekarang lo aja yang jadi pemimpin tim! Buktikan kalau lo bisa buat kita keluar dari hutan ini!" kata Dana mulai terpancing lagi emosinya.
"Oke! Mana sini PETA nya! Kasih ke gue!" pinta Ozan dengan tatapan kesal ke Dana.
Rea menatap keduanya bergantian, lalu menarik nafas panjang dan memberikan benda di tangannya ke Ozan.
"Gitu aja nggak becus. Modal bacot doang!" gumam Ozan.
"Apa lo bilang? Coba bilang sekali lagi!" Dana menaikkan nada bicaranya dan mulai maju, hendak menghampiri Ozan.
"Apa? Kenyataan kok! Lo pikir gue takut sama lo?" tantang Ozan.
__ADS_1
"Ssst! Udah, Dan, udah. Jangan terpancing. Ayo, kita cari kayu bakar lagi," ajak Rea sambil menarik tangan Dana.
"Udah, Zan. Lo kalau ngomong jangan gitu kenapa sih! Demen banget berantem! Kita lagi di hutan, Bro! Udahlah, turunin ego!" cetus Hana menarik tubuh Ozan menjauh juga dari Dana.
Sementara teman teman yang lain hanya duduk menata mereka bergantian. Semua orang tentu sudah lelah, bahkan sebagian lagi sudah pasrah.
Akhirnya mereka mampu mengumpulkan kayu bakar lagi. Kini api unggun sudah siap digunakan. Peralatan memasak kembali dikeluarkan dari tas Blendoz.
"Persediaan makan kita tinggal ini. Rasanya ini jatah makan terakhir kita," ucap Hani yang memang menyimpan perbekalan logistik mereka semua.
"Serius tinggal ini aja?" tanya Diah.
"Iya, Di. Tuh, cek aja tas gue. Udah Habi semua."
"Terus gimana nanti kita? Nanti kita makan apa dong. Kita belum tau, kan, kapan kita bisa pergi dari sini?" rengek Apri.
"Yah, paling kita harus mulai cari makanan nih dari sekarang. Entah kita nanti akan pulang atau enggak, setidaknya kita harus mempersiapkan hal terburuk," tambah Ita.
"Iya, aku tahu, beberapa tanaman yang bisa kita makan. Tadi aku lihat ada beberapa di sekitar. Yuk, temenin ambil," ajak Diah ke Leni.
"Ayo. Kalian tunggu sini aja, sambil masak. Biar aku sama Diah yang cari makanan lagi."
"Kita juga cari, Han. Siapa tahu, ada kelinci atau babi hutan?" tanya Blendoz.
Hani hanya tengak tengok sekitar. Dia tampak tidak yakin akan perkataan temannya itu. "Tapi sejak kemarin gue nggak lihat ada hewan di sekitar sini deh. Bahkan ular pun nggak ada," kata Hani.
Di dekat api unggun hanya ada Hana, Ozan, Apri, dan Ita. Mereka berempat membuat api dan mulai memasak makanan untuk siang ini. Tenda tidak segera di dirikan, karena mereka masih belum tahu apa rencana selanjutnya. Sebenarnya yang memasak hanya Ita dan Apri saja. Hana dan Ozan hanya duduk duduk, menunggu makanan matang, dan teman teman mereka kembali dari tugas masing masing.
Rea dan Dana mulai mengumpulkan kayu bakar yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Mereka berdua memang tidak pergi terlalu jauh dari teman-teman. Tapi walau demikian posisi mereka berdua dengan teman-teman yang lain tidak dapat saling terlihat karena tertutup oleh pohon-pohon di sekitar.
Dana lebih banyak diam. Dia hanya memungut kayu yang ia temui di jalan. Sementara Rea sejak tadi sering mencuri pandang pada pemuda itu. Rea paham kalau Dana sedang kesal saat ini, hanya saja Rea tidak akan bertanya apa pun mengenai masalah tadi. Justru sebaliknya, Rea ingin mencari cara agar Dana bisa melupakan masalah tadi.
"Dan, aku pikir kamu mau masuk jurusan komunikasi. Eh ternyata kamu malah masuk jurusan Psikologi. Kok berubah pikiran?" tanya Rea dengan pertanyaan yang justru membuat Dana agak panik.
Dana tidak langsung menjawab. Dia bergumam untuk mencari jawaban yang masuk akal dan tepat. Tidak mungkin Dana akan mengutarakan alasannya, kalau dia masuk jurusan itu karena ada Rea di sana.
"Eum, iya. Aku ingin mempelajari tentang psikologis manusia. Soalnya ... Nenek mulai bersikap aneh."
"Nenek kamu kenapa?"
"Kata dokter sih, nenek menderita Alzheimer. Aku, sama Papa kan bingung harus gimana. Pengobatan Alzeimer itu lama. Sementara Papa nggak mau kalau nenek di rawat di panti jompo. Padahal Papa itu jarang di rumah. Yang selalu di rumah kan aku. Jadi aku tahu rasanya menghadapi sikap Nenek."
"Emangnya nenek kamu kenapa? Eum, maksudnya sikapnya yang membuat kamu merasa nggak nyaman. Apakah sudah parah penyakitnya?"
"Bayangin aja, Re, nenek itu sekarang seperti punya dunianya sendiri. Dia sering ngajak ngobrol sesuatu yang gak kelihatan. Dia sering menyuruh aku melakukan hal yang nggak masuk akal," pungkas Dana yang tampak antusias pada obrolan mereka kali ini.
"Hah? Contohnya apa?" tanya Rea.
__ADS_1
"Contohnya itu Nenek suka ngobrol sama anak kecil. Kamu taukan dunia anak kecil kayak gimana. Mereka main, pergi bahkan pernah bilang sama aku gini, 'eh itu bayi siapa sih yang nangis. Kasihan banget.' Padahal gak ada bayi nangis. Bahkan Aku nggak dengar ada suara tangisan bayi."
"Oh ya? Apa setan? Hm? Mungkin."
"Enggak ah. Mana ada setan. Mama itu rajin ngaji di rumah, setiap hari baca al quran. Masa ada setan?!"
"Oh gitu. Terus apa lagi contoh lainnya."
"masalah anak kecil itu sampai di situ. Pernah tuh, nenek mau keluar rumah alasannya ada temennya yang panggil, mau ajakin main masak-masakan di luar. Temen yang mana coba? Temen temen nenek itu udah meninggal semua! Cuma nenek yang masih di antara teman sebayanya."
Rea justru tertawa mendengar cerita dari Dana dan Rupanya dia berhasil mengalihkan perhatian dan pikiran
buruk yang Dana rasakan sebelumnya.
Mereka berdua justru sibuk dengan obrolan mengenai nenek Dana. Beberapa kali Rea tertawa mendengar kisah yang dialami oleh Dana akibat neneknya yang mulai bersikap aneh.
"Jadi karena ini kamu masuk psikologi?"
"Eum, salah satunya."
"Salah satunya?"
"Hm iya. Ada alasan lain, tapi kamu nggak perlu tau! Hehe."
Senyum Dana mengembang dan membuat pemuda itu terlihat manis. Ekspresi wajahnya sudah berbeda dari beberapa menit yang lalu. Dana sudah terlihat baik-baik saja. Seakan akan amarahnya sudah hilang begitu saja.
Mereka berdua merasa jika kayu bakar yang dikumpulkan sudah cukup untuk bekal hari ini.
Akhirnya mereka memutuskan kembali ke rombongan yang lain. Mereka mencari jalan yang berbeda dari sebelumnya. Sekaligus ingin mencari kayu bakar lain yang mungkin akan mereka temui di perjalanan nanti.
"Tapi seru juga, ya. Kalau aku dengar cerita tentang nenek kamu."
"Yang lebih lucu lagi, masa nenek panggil Mama dengan sebutan Mama juga!
Dalam pikirannya, dia itu merasa kalau Mamaku adalah mamanya dia juga, dan dia itu saudara aku. Aneh, kan!" kata Dana dan berhasil membuat tawa Rea meledak.
"Tapi sejak kapan sih, nenek kamu begitu? Udah lama? Aku pikir, dulu waktu kita kelas 1 SMA, nenek kamu masih baik baik aja deh."
"Iya, masih. Tapi pas kita kelas tiga udah mulai kumat tuh. Malah pernah dulu waktu aku mau berangkat sekolah. Tiba-tiba aku ketemu sama neneknya di jalan. Ternyata orang rumah nggak ada yang tahu kalau nenek udah keluar dari rumah. Aku tanyain mau ke mana. Eh
jawaban dia apa coba?" tanya Dana.
"Apa? Mau ke mana memangnya?"
"katanya mau sekolah. Dia lagi nunggu temennya di jalan. Itu posisi aku udah kesiangan. Akhirnya aku ajak pulang, eh nggak mau. Aku teriak dong manggil Papa. Kebetulan Papa masih di rumah. Papa datang. Eh mereka berdua ribut. Terus sama Papa langsung dibawa, digendong gitu. Nenek teriak teriak, bilang katanya lagi diculik. Itu tetangga yang ada di warung deket rumah ketawa semua. Astaga! Gokil banget nenek mah."
Tanpa sadar, mereka melewati sumur yang berada di tengah hutan itu. Rea tertawa saat mendengar cerita dari Dana. Tapi sorot matanya terus menatap sumur itu tanpa berkedip. Hingga setelah mereka mulai menjauhi tempat itu, Rea kembali menoleh. Ada hal aneh yang dilihat saat itu. Dengan cukup jelas Rea melihat ada bayangan yang berdiri di tengah-tengah sumur, dia memakai pakaian berwarna hitam dengan memakai penutup kepala, dan yang makin membuat Rea merasa aneh adalah sayap berwarna hitam yang berada di punggungnya. Walau dalam jarak sejauh itu, Rea bisa melihat kalau bayangan itu memiliki wajah yang kini sedang tersenyum menyeringai ke arahnya.
__ADS_1