pancasona

pancasona
Part 1 New season (SMU MOORTUS 116)


__ADS_3

Bayu kulempar jauh sampai jatuh di atas kursi bekas yang memenuhi gudang ini. Ia meringis kesakitan sambil memegang punggungnya. "Lepaskan dia!" ancamku menunjuk Zidan, salah satu teman sekelasku yang kini menjadi ring tinju mereka. Wajahnya babak belur, dan terlihat sudah tidak berdaya.


Tiga orang lainnya mulai mendekat. Dan terjadilah perkelahian di antara kami. Aku sangat tidak suka melihat sikap mereka selama ini di sekolah. Bertindak seenaknya dan menyiksa murid lain yang tidak mereka suka karena alasan sepele.


Satu pukulan mentah di leher kakak kelasku itu, membuatnya terhunyung jatuh ke lantai. 4 orang itu akhirnya tak berdaya lagi, bahkan untuk bangun saja mereka kesulitan. Aku mendekat ke Zidan dan membantunya berdiri. "Kamu bisa jalan, kan? Aku nggak mungkin gendong kamu turun ke bawah!" kataku menegaskan.


"Bisa kok, Bil. Thanks, ya." Kubantu Zidan berjalan, karena kaki kanannya terluka. Kami turun ke lantai bawah dan segera kubawa dia ke taman sekolah yang berada di belakang kelas kosong, yang sudah lama tidak terpakai. Bagian sekolah ini, memang sedang taraf perbaikan.


"Aku beliin kamu minum dulu, sama cari obat. Tunggu di sini."


Ini baru pukul 11 siang. Dan aku yang seharusnya berada di kelas, justru terlibat masalah di luar. Sebenarnya aku tidak sengaja melihat Zidan diseret oleh mereka ke gudang lantai dua tadi. Awalnya aku ingin ke toilet untuk mencuci muka. Sejak sejam lalu aku sangat mengantuk, karena semalam aku tidur larut akibat menonton film. Tapi rupanya aku malah melihat sesuatu yang menarik, ketimbang harus duduk di kelas dan mendengar ocehan Bu Herlina yang membosankan.


Zidan bukan anak nakal atau sering berbuat ulah, justru dia anak baik-baik. Dia bahkan salah satu murid pintar di kelasku. Tampangnya yang bodoh memang sangat pas menjadi sasaran empuk hinaan orang. Yah, tipe anak culun sekolah memang pantas ia sandang. Tapi dia sebenarnya anak yang baik.


"Nih, minum dulu," kataku sambil mengulurkan botol air mineral dingin yang tadi kubeli di kantin.


"Thanks, Bil. Kok kamu nggak di kelas?" Ia meneguk air mineral itu dengan tidak sabaran.


"Iya. Kamu sendiri, ada masalah apa sama mereka? Kenapa kamu dipukuli gini?" tanyaku sambil menunjuk wajahnya yang kacau.


"Karena aku kemarin nganterin pulang Clara," sahut Zidan sambil menempelkan botol tersebut ke sudut bibirnya.


"Clara pacarnya Bayu?"


Dan anggukan Zidan membuatku geleng-geleng kepala. Kini aku tau alasan dia menjadi bulan-bulanan Bayu dan teman-temannya. Bayu merupakan salah satu gangster di sekolah yang cukup ditakuti beberapa orang. Mereka adalah kakak kelas kami.


Diskusi kami terhenti, saat aku mendengar jeritan minta tolong yang terdengar cukup dekat dari tempat kami duduk. "Denger, nggak?" tanyaku pada Zidan sambil terus menajamkan pendengaran. IA juga terlihat mendengar jeritan itu.


"Iya, kayaknya di aula deh, Bil. Cek, yuk?" ajaknya.


Kami segera berlari menuju aula yang terletak di tengah sekolah. Keadaan sekolah tampak sepi, karena hampir semua orang sedang berada di ruang kelas masing-masing. Sampai di aula, kami melihat dengan jelas seorang pria dengan setelan hitam sedang mencekik seorang siswa. "Heh! Lepasin dia!" jeritku. Orang tersebut menoleh tanpa melepaskan tangannya dari leher siswa itu. Aku tidak tau siapa mereka. Yang jelas pria yang mencekiknya itu bukanlah warga sekolah. Dan anak yang dicekik adalah salah satu senior kami. Ia meringis dan menampilkan giginya yang runcing.


"Damn it!" pekik Zidan pelan. "Bagaimana ini, Bil."


"Kamu cari bantuan."


"Tapi, Bil ..."


"Sekarang!" kataku setengah menjerit dan menoleh padanya, sungguh-sungguh. Zidan mengangguk lalu segera pergi meninggalkan aula.


Pria itu melempar siswa pria itu, hingga pingsan. Ia kemudian berjalan mendekatiku perlahan. Aku tau dia bukan manusia, dan dia bukan makhluk aneh pertama yang kulihat seumur hidupku. Tapi aku belum bisa menyimpulkan makhluk apa yang ada di depanku sekarang. Jika dia vampire, itu tidak mungkin, karena vampir tidak akan muncul saat tengah hari begini.


Aku terus mundur sambil mencari cara untuk melawannya. Sampai akhirnya aku menemukan hal mengerikan lainnya. Sebuah tubuh yang masih berbalut pakaian seragam sekolah, terlihat tidak utuh lagi. Beberapa bagian tubuhnya sudah hilang. Sepertinya ia sudah menjadi santapan makhluk di depanku. Ia melirik ke jasad manusia yang sedang kutatap.


"Kau mengganggu makan siangku, jadi kamu akan menyusul temanmu itu!" katanya dengan kesulitan berbicara, mungkin karena gigi-giginya yang berantakan dan tajam barangkali.


"Cih, jangan mimpi!" kataku. Netraku tertuju pada sebuah tombak panjang yang biasa dipakai untuk lempar lembing. Saat dia berlari ke arahku, aku segera meraih benda itu. Dan menancapkan ujungnya di perutnya. Ia menjerit kesakitan. Suaranya seolah tertahan namun aku mampu melihat, kalau dia kesakitan. Sangat.


Tangannya menjulur ke leherku. Ia mencekikku dengan cukup erat. Kuku-kuku tajamnya terasa menusuk kulit leherku. Kembali aku mencoba mencari benda lain yang bisa kugunakan untuk menyerangnya. Tanganku terus berusaha bergerak, dan sebuah belati berhasil kuambil. Aku menusuk mata kanannya. Ia kembali menjerit dan akhirnya leherku berhasil terlepas darinya. Tapi lenganku terkena cakarannya, cukup dalam. Segera aku memegang luka itu, karena terasa panas dan pedih. Darah mengalir deras. Bahkan mengotori kemejaku yang berwarna putih. Aku mengerang, karena rasanya sungguh menyakitkan. Sambil melihat makhluk mengerikan itu. Ia masih kesakitan sambil memegangi matanya. Kesempatan ini tidak akan aku lewatkan begitu saja. Kuraih sebuah pisau perak yang kusimpan di ikatan paha. Lalu kutusuk jantungnya saat itu juga. Ia tewas.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke aula. Aku yakin Zidan sudah membawa bantuan. Tubuhku lemas, dan saat mereka masuk, mereka sangat terkejut melihat pria mengerikan itu sudah terkapar di lantai dengan bersimbah darah. Tubuhnya menyusut menjadi kurus sekali. Jemarinya terlihat makin mengerikan dengan kuku-kuku tajamnya.


"Nabila!" jerit Zidan langsung mendekat padaku. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya panik melihatku dengan bekas darah di beberapa bagian tubuhku.


"Aku nggak apa-apa." Kubuka lengan yang tadi terluka, dan kini luka itu sudah kembali menutup. Rasa sakit itu pun menghilang. Zidan melihatku aneh, dan beralih ke makhluk di depan kami. Beberapa orang mulai berkeliling aula dan menemukan korban lain yang tadi sedang disantap makhluk itu.


"Bil? Kamu apain dia?" tanya Zidan lagi.


"Nggak sengaja, Dan. Cuma membela diri. Kamu sih kelamaan, untung aku masih hidup," kataku berpura-pura kesal.


"Sorry, Bil."

__ADS_1


Kini ruangan aula dipenuhi oleh beberapa guru dan kakak kelas. Mereka kebanyakan dari anak-anak taekwondo sekolah. Pakaian yang mereka kenakan masih komplit, dan aku juga mengenal beberapa dari mereka. Bahkan Kak Rayi sejak masuk tadi menatapku terus. Aku merasakan kalau dia ingin mendekat padaku, tapi teman-temannya memanggilnya untuk menolong korban yang pingsan tadi.


Kejadian ini cukup menggemparkan. Karena mayat yang ditemukan adalah anak dari kepala sekolah yang membolos saat ada jam pelajaran. Naas dia justru bertemu makhluk kanibal yang entah datang dari mana. Tak lama polisi juga datang, aku dan Zidan juga dimintai keterangan sebagai saksi. Beberapa orang juga menatapku aneh.


Aku masih berada di UKS sekolah. Pak Feri, selaku wali kelasku, menyuruhku untuk beristirahat dulu di UKS. Mungkin dia pikir aku terguncang akibat kejadian tadi. Zidan yang wajahnya babak belur mereka anggap itu akibat dia telah melawan makhluk tadi, jadi setidaknya dia aman dari pertanyaan-pertanyaan Pak Feri. Tidak ada yang ingin dipanggil ke ruang BP karena kasus perkelahian. Karena hal itu bukanlah ide bagus saat masih menjadi siswa di sekolah ini. Masuk BP 3 kali, maka kau akan segera ditendang keluar sekolah. Dan aku sudah mendapatkan 1 tiket itu. Kasus ini ditutup dengan dugaan adanya orang tidak waras yang menganut ilmu hitam, sehingga dia kerasukan setan dan memakan manusia. Yah, cukup rasional. Tapi kabar ini tidak sampai menyebar, demi ketentraman seluruh penghuni sekolah.


_______________


Keputusanku untuk mengikuti ekstra kulikuler taekwondo selalu ditentang Papa. Dia sangat menginginkan seorang anak perempuan yang manis, baik, sopan, dan pandai memainkan piano, biola, cello atau harpa. Yah, setidaknya aku tetap mengikuti ekstrakulikuler piano di hari senin, dan ekstrakulikuler taekwondo di hari jumat. Dan, Papa hanya tau kalau aku mengikuti ekstra kulikuler piano saja.


"Bil, udah dijemput itu," kata Kak Rayi yang masih memakai Dobok. Aku yang sedang membereskan tas di ruang loker hanya menoleh sambil mengangguk. Kak Rayi berjalan menuju lokernya, mengambil tas dan baju ganti. Di tempat ini semua loker anak-anak yang mengikuti latihan digabung menjadi satu, baik perempuan maupun laki-laki. Semua dianggap sama, kecuali toilet. Tetap dipisah antara perempuan dan laki-laki.


*Dobok adalah pakaian khusus taekwondo


"Eum, Nabila."


"Kenapa, Kak?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.


"Terima kasih buat tadi."


"Tadi? Yang mana?"


"Aula. Faza selamat karena kamu dan Zidan," katanya memperjelas kalimatnya.


"Oh. Itu. Sama-sama, Kak. Kami kebetulan lewat, dan untung belum terlambat. Zidan yang banyak bantu."


"Yah, tetap saja, terima kasih, Bil," katanya dengan menatapku dalam. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Semua barang sudah aku masukan ke dalam tas. Aku harus segera pergi, jika tidak orang yang sedang menungguku di luar sana, akan murka dan menyeretku pulang. Apalagi jika dia tau aku sedang ada di ruangan ini.


"Aku duluan, Kak Rayi," pamitku.


Kak Rayi yang sedang menutup loker, menoleh. "Oke, take care, Bil. Sampai ketemu di sekolah besok."


Lorong koridor sekolah sudah nampak sepi. Beberapa siswa yang masih mengikuti kegiatan tambahan sampai sore terlihat mulai pulang, sama seperti ku. Sekolah ini akan segera tutup setelah petang nanti.


Mobil SUV warna hitam yang sedang parkir di pinggir jalan, langsung kukenali. Kaca mobil depan langsung otomatis turun ke bawah. Di dalam nya ada seorang pria Berjambang tipis dengan kaca mata hitam bertenger di hidungnya. Ia melirik ke arahku yang berjalan memutar ke pintu samping kemudi.


"Papa udah lama?" tanyaku basa basi. Menutup pintu sekaligus memakai seltbelt.


"Iya. Kok telat pulangnya, Bil?"


"Tadi ada banyak anak baru, Pa. Susulan gelombang 1. Jadi kami mengulang lagi dari awal. Terus anggota makin banyak, jadi lama," jelas ku.


"Terus bagaimana perkembangan kamu?"


"Lumayan. Kan masih dasarnya aja, Pa."


Papa mulai melajukkan mobil, dan meninggalkan halaman sekolah. Yah, dia papaku. Orang yang setiap hari mengantar dan menjemput ku ke sekolah. Orang yang selalu marah jika aku pulang terlambat. Orang yang selalu mendidikku dengan keras. Orang yang selalu berdebat denganku jika aku harus memutuskan sesuatu. Karena aku dan Papa lebih sering berbeda keyakinan. Seperti sekarang, aku mengikuti taekwondo, dan tentu dia tidak mengizinkan. Maka aku harus diam-diam mendaftarkan diri, tanpa Papa tau. Dan sore ini papa menjemputku setelah pulang latihan piano, padahal aku ikut taekwondo.


"Inget. Kamu itu anak perempuan, Bil. Jangan ikut hal yang aneh-aneh."


"Aneh apanya? Pa, taekwondo itu bukan sesuatu yang aneh, kan? Coba, Papa bayangin kalau misal papa nggak ada, terus ada orang yang jahatin aku. Aku bagaimana? Aku harus bisa jaga diri, kan, Pa?!"


"Enggak! Pokoknya, enggak! Dan kalau papa udah nggak ada, Papa masih punya banyak anak buah buat jaga kamu, dan ada Om Gio yang akan menjaga kamu nanti!"


"Papa ngomong apa sih? Apa maksud Papa, nggak ada?!"


"Kan kamu duluan yang bilang, kalau Papa nggak ada, bagaimana? iya, kan?"


"Maksud aku bukan nggak ada yang ... Argh! Pah! Udah, ah!" Aku memalingkan wajah menghadap ke jendela samping. Melihat padatnya lalu lintas jalanan setiap sore sudah menjadi hal biasa bagiku. DAn berdebat dengan Papa seperti ini, bagai makanan sehari-hariku. Suara tarikan nafas berat papah terdengar jelas di telinga.


"Bil ... Papa nggak bermaksud gitu, cuma ...."

__ADS_1


Aku segera meraih headset dan menyumpalkan di telinga. Menyetel musik dengan volume keras. Beginilah akhir dari perdebatan kami. Tidak pernah menemukan titik temu. Dan akan berakhir dengan kekesalanku, bahkan sering aku mogok bicara pada papa.


Kami sampai di halaman rumah, Pak Dio membukakan pintu gerbang. Ia adalah supir papa, tetapi beberapa bulan terakhir ini Papa lebih sering menyetir sendiri. Dan itu membuatku risih, karena aku makin terkekang. Ke mana-mana harus bersama Papa. Aku benar-benar sangat terkekang. Menyebalkan.


Kubanting pintu mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Bi Wati menyambutku, namun aku tidak menghiraukannya dan segera berlari naik ke lantas atas. Ke kamarku. Kujatuhkan tas begitu saja ke lantai. Menghempaskan tubuh di atas ranjang. Langit-langit kamar adalah salah satu tempat yang selalu menjadi tempat pelarianku saat kesal dengan Papa.


Pintu kamar diketuk. Aku berdecak sebal, rasanya aku hanya ingin sendirian saja sekarang. Pasti Bi Wati yang ada di balik pintu untuk membujukku makan.


"Aku nggak laper, Bi," jeritku.


"Bil, buka dulu dong. Ini Om Gio. Padahal Om udah nungguin dari tadi, eh malah kamu masuk kamar gitu saja."


Aku sedikit tergoda untuk membuka pintu. Terakhir aku bertemu Om Gio adalah 3 bulan lalu. Tapi aku yakin kalau Om Gio disuruh Papa untuk membujukku keluar. "Aku capek, Om."


"Yakin? Om mau ajak kamu ke salah satu tempat favorit Om nanti malam. Om Gio yakin kamu suka. "


Aku diam, berpikir dan masih menebak-nebak.


"Yakin, nggak mau ikut nonton WWF ini? Malam ini ada pertandingan loh. Dan Om punya dua tiket. Kalau kamu nggak mau ...." Pintu kamar kubuka pelan, dan wajah Om Gio terlihat lebih segar di depanku. IA tersenyum sambil menunjukkan dua tiket di tangannya. "Ikut?" tanyanya.


Aku mengangguk bersemangat. Ia tersenyum dan aku segera memeluknya. "Tapi ... Papa?" tanyaku yang sadar akan masalah lain nantinya.


"Tenang saja. Papa mu malam ini pergi ke London. Makanya Om ke sini, jagain kamu. Jangan sampai kabur, katanya." Om Gio menatap sambil mencubit hidungku.


______________


Pukul 20.00 aku masih berada di meja belajar. Sebuah tugas dari Pak Galih membuatku harus cepat mengerjakannya sebelum tengah malam. Karena aku akan pergi bersama Om Gio saat tengah malam nanti. Ini adalah momen yang sangat aku tunggu selama ini.


"Bil ...," Panggil Papa di balik pintu. Aku diam, namun jantungku terasa berdetak makin cepat. "Papa pergi dulu. Ada urusan bisnis. Mungkin seminggu di sana. Kamu di rumah sama Om Gio. Jangan nakal, Oke?"


"..."


"Bil ... Papa minta maaf." Suara langkah kaki pergi dari depan kamar, membuatku bernafas lega sekarang. Akhirnya aku bebas, dan aku harus segera menyelesaikan tugasku sekarang.


Jam sudah berdentang 12 kali. Artinya sudah tengah malam, dan kini aku sudah memakai jaket tebal dengan sepatu kets favoritku. Om Gio sudah menungguku di ruang tengah dan kami akan segera pergi menonton pertandingan itu.


"Gimana sekolah kamu?" tanya Om Gio sambil fokus memegang kemudinya. Jalanan masih ramai, banyak kendaraan berlalu lalang, bedanya tidak ada jalan yang macet jika sudah malam begini. Dan, ini masih sore bagi sebagian besar orang di ibukota. Seperti kami.


"Biasa aja, Om. Masih seperti biasa, ikut ekskul piano sesuai keinginan Papa dan taekwondo secara diam-diam. Eh, tadi ada kejadian di sekolah," seruku antusias.


"Iya? Apa?"


Aku menceritakan semua yang kualami tadi, tiap detailnya tak luput kuceritakan pada Om Gio. Ia mendengarkan dengan antusias dan aku sangat suka responsnya. Tidak seperti Papa.


"Apa? Wendigo?! Gila!" pekiknya. Dengan mata berbinar.


"Iya, Om. Aku pikir vampire, tapi nggak mungkin dong vampire keluar siang-siang. Dan makan ... manusia."


Om Gio mengangguk sambil berpikir. "Rupanya kamu banyak belajar, Bil. Tapi kamu nggak terluka, kan?" Om Gio menatap tubuhku intens.


"Nggak, Om. Om lupa, kalau aku ini mutan? Yang nggak bisa terluka?"


Dia tertawa lepas. Kata 'mutan' memang sering kupakai saat aku kesal dengan tubuhku sendiri. Karena aku memang aneh. Separah apa pun luka yang kudapat, aku tidak akan mati. Bahkan luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya.


Dulu, aku pernah mengalami kecelakaan mobil bersama Pak Dio. Pak Dio bahkan harus dirawat di ICU selama 1 minggu karena mobil kami terlindas truk besar dan tergencet pembatas jalan. Tapi saat mobil ambulance datang, aku baik-baik saja. Luka di tubuh ku hilang hanya dalam hitungan menit saja.


Kami mulai memasuki lorong jembatan. Di daerah ini sudah mulai sepi. Perasaanku tidak nyaman, walau Om Gio terus mengoceh macam-macam menceritakan pengalamannya saat muda dulu. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di atas mobil kami. Aku dan Om Gio saling lempar pandang.


"Apa di atas, Om?"


Suara itu kini seperti seseorang yang sedang berjalan di atas. "Bil, pegangan!"

__ADS_1


__ADS_2