pancasona

pancasona
Part 143 Kemunculan werewolf


__ADS_3

"Apa? Manusia?" tanya Abimanyu sedikit memekik. Dari nada bicaranya ia agaknya tidak begitu percaya. Bukan pada cerita Lulu, melainkan pada apa yang ia pikirkan sejak kemarin malam. Justru cerita dari Lulu membuktikan bahwa apa yang ia pikirkan justru benar.


"Yakin, Lu? Nggak salah lihat, kan? Kamu lihat nggak bagaimana wajahnya? Mungkin bisa jadi, dia salah satu warga desa sini?" tanya Maya. Lulu diam sambil mencoba mengingat bagaimana bentuk wajah orang yang mengejarnya tadi. "Rasanya aku nggak kenal siapa orang itu. Terlalu gelap, May. Nggak jelas. Cuma memang dia berbulu ... giginya bertaring, ih serem banget pokoknya. May, ayok pulang saja," rengek Lulu yang terlihat sangat ketakutan.


Maya menatap Abi yang masih memeriksa keadaan sekitarnya. "Bang, bagaimana? Pulang saja, yuk."


Abi akhirnya mengangguk, dan kembali mengantar mereka pulang. Kebetulan jarak rumah mereka sudah tidak begitu jauh. Rumah Maya dan Lulu berdampingan, dan kebetulan di daerah sekitar rumah mereka masih banyak pemukiman penduduk. Setelah memastikan Maya dan Lulu masuk rumah masing-masing dengan selamat, Abi lantas segera pulang.


Kembali ia melewati tempat tadi. Tempat di mana Lulu merasa di kejar oleh seseorang atau sesuatu. Dan malam ini Abi memutuskan mencari makhluk itu. Ia merasa penasaran dan tentu merasa terganggu atas musibah yang sedang menimpa desanya. Daerah yang akan ia lewati mulai sepi, hanya ada suara hewan malam di sekitarnya. Lolongan serigala kembali terdengar dari kejauhan. Mungkin itu semacam kode untuk kawanan serigala lain. Serigala memang hewan nocturnal, yang hanya aktif di malam hari. Dan lolongan itu memiliki arti yang cukup banyak.


Abi menatap langit hitam di atasnya, ia kembali fokus pada sinar bulan di atas sana. Tapi tiba-tiba saja sekelebat bayangan melintas di sampingnya. Berlari menyusuri semak belukar yang ada di dalam hutan. Abi sontak mengejarnya. larinya sungguh kencang, dalam keadaan gelap, Abi berusaha melihat siapa orang yang tengah berlari menghindari dirinya. Rasa-rasanya ia merasa tidak asing pada apa yang ada di depannya itu.


Dengan sekuat tenaga Abi terus mengejar, ia mencari arah lain agar dapat menghalau orang itu. Sampai di dekat air terjun, Abi lantas mencegat kedatangannya dari seberang pondok kayu yang memang terbengkalai cukup lama. Orang itu berlari dari arah sebaliknya dan akhirnya mereka bertemu pada satu titik. Abi terhenyak saat melihat makhluk di depannya. Dongeng dari sang ayah sebagai pengantar tidur, kini tampak nyata ada di depannya. Manusia dengan tubuh yang dipenuhi bulu lebat, namun berwajah mengerikan layaknya serigala pada umumnya. Giginya runcing dan tajam. Ini, kah, yang disebut werewolf? tanya Abimanyu pada dirinya sendiri di dalam hati. Makhluk itu hanya berdiri di depan Abi, ia terlihat terpojok dan hendak berusaha menyelamatkan dirinya. Gelagat sikap nya terlihat jelas. Membuat Abi seolah mampu membaca pergerakan makhluk di depannya ini. Werewolf ini tampaknya hendak melarikan diri, bukannya malah menyerang Abi. Padahal dengan kemampuannya yang di atas manusia normal, bahkan berpuluh-puluh lipat lebih kuat dari manusia, membuatkan menang jika sampai terjadi pertempuran malam ini. Wajahnya memang mengerikan, tapi sorot matanya begitu dalam. Ada gurat kesedihan di dalamnya. Matanya tampak sendu dan berkaca-kaca.


Ia melolong kencang, menengadah ke langit. Lolongannya kencang, dan mendapat sahutan dari tempat lain dengan suara yang sama. Seolah seperti saling memberikan kode pada sesamanya. Tangan Abi mengulur ke belakang tubuhnya, berusaha mengambil sebilah pisau perah dari balik bajunya.


"Kau siapa?" tanya Abi terdengar seperti sebuah kalimat retorik. Karena siapa pun akan tau kalau makhluk di depannya ini adalah jelmaan. Setengah manusia, setengah serigala. Atau orang biasa menyebutnya werewolf. Tentu makhluk yang diajak komunikasi tidak menyahut apa pun. Walau terlihat jelas di matanya kalau ia mengerti maksud dari perkataan Abimanyu.


Pisau sudah ditangan, dengan gerakan tiba-tiba, Abimanyu menyerangnya. Ia menancapkan pisau perak itu di tangan kiri makhluk mengerikan itu. Hingga membuatnya berdarah dan terluka. Ia memekik kecil, dan mundur dari posisinya tadi. Pisau masih menempel di telapak tangannya. Ia mencabut benda berkilau itu dan membuangnya asal. Tak membalas perlakuan buruk Abi, malah pergi ke sudut gelap lain dari hutan ini. Abi tak lagi berniat mengejarnya. Kepalanya di penuhi banyak pertanyaan tentang makhluk yang baru saja ia temui.


Akhirnya Abi memutuskan pulang ke rumahnya. Ia berjalan gontai hingga sampai di depan rumah dengan selamat. Dua pria yang awalnya berada di teras rumahnya kini berlari mendekat pada Abi yang bahkan belum sampai di halaman rumahnya sendiri. "Lama banget, Lu! Ke mana saja, sih?" tanya Vin dengan ekspresi cemas sambil memperhatikan tubuh Abimanyu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Kenapa pada di luar? Kok nggak masuk?"


"Nungguin elu, Bi. Bagaimana? ketemu yang aneh-aneh nggak?" tanya Gio.


Abi menatap dua orang itu dengan tatapan lesu, tak lama mengangguk. Ia kembali berjalan melewati mereka. Rasa-rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh penatnya di atas kasur kesayangan. Gio dan Vin terus membuntuti Abi hingga kini mereka sudah ada di teras rumah. Saat akan masuk ke rumah, suara lolongan serigala terdengar kembali. Ketiga pria itu sontak menoleh dan menatap ke dalam hutan yang gelap dan luas di sekitarnya.


"Ngeri!" gumam Vin sambil masuk ke dalam rumah. Gio menatap keponakannya, dan yakin kalau Abi telah melewati malam yang berat.


"Yuk, masuk," ajak Gio sambil menepuk bahu Abi.


Pintu ditutup. Jendela sudah mereka periksa sejak sampai di rumah, memastikan kalau keamanan rumah sudah maksimal. Abi duduk di sofa, Gio terus menunggunya berbicara. Sementara Vin kembali dengan sebuah nampan dengan 3 cangkir kopi hitam pekat yang cukup menggugah selera dari aromanya saja.


"Terus Lulu liat nggak siapa dia?"


"Enggak. Tapi gue berhasil ngejar dia."


"Serius? Tapi lu nggak apa-apa, kan, Bi?"


"Nggak apa-apa. Tapi aneh," gumam Abimanyu.


"Aneh? Kenapa?"

__ADS_1


"Iya, kami saling berhadapan, dan tatap muka satu sama lain."


"Terus?" tanya Vin, antusias.


"Dia werewolf. Gue yakin banget itu. Tubuhnya manusia, tapi dia nggak layak disebut manusia dengan tampilannya mirip seriigala."


"Kok baju lu nggak robek-robek, Bi?" tanya Gio. Ia tau, kalau Abi terluka, pakaiannya pasti akan berlumuran darah dan robek di beberapa bagiannya. Tapi yang Gio hadapi justru sebaliknya. Tubuh maupun pakaian Abi utuh, tanpa noda apa pun.


"Itulah, Paman, kenapa Abi bilang itu aneh."


'Eh, maksudnya bagaimana sih?" tanya Vin tak paham.


"Dia ... nggak ada niatan menyerang. Dia justru menghindar. Dan takut ketemu gue, Vin. Itu aneh! Karena menurut penuturan ayah, dan beberapa buku yang gue baca, mereka pasti akan menyerang manusia. Karena kita memang buruan mereka. Tapi yang tadi, aneh. Dia justru mau menghindar!"


"Iya juga, ya. "


'Elu bisa kenalin wajahnya, nggak? Gue yakin, dia warga desa kita." Gio juga memiliki beberapa informasi tentang werewolf, jadi dia tau bagaimana werewolf itu. Abi justru menggeleng.


"Ah, tapi aku melukai telapak tangan kirinya. Apa itu bisa kita pakai buat melacak siapa dia sebenarnya, paman?"


'Yah, semoga. Semoga dia nggak punya kemampuan menyembuhkan diri!" kata Gio sambil melirik Abimanyu.

__ADS_1


__ADS_2