
[Titip Ellea dulu ya, All. Sampaikan sama dia, aku minta maaf buat semuanya.] Pesan itu Abi kirimkan sesaat setelah dirinya sampai di rumah. Tak menunggu balasan dari Allea, Abi malah melempar ponselnya asal ke sofa. Kemudian berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi.
Mobil Gio baru saja sampai di halaman rumah. Ia baru pulang mengantar Amy ke rumahnya. Rupanya rencana mereka membawa Ellea ke psikiater gagal total. Sejak kejadian werewolf beberapa bulan lalu, Ellea menjadi pemurung. Ia kerap kali bermimpi buruk, entah berteriak saat tidur, menangis, atau bahkan ia tidur sambil berjalan. Ia bukan lagi Ellea yang ceria dan aktif. Gadis itu sangat terobsesi dengan buku. Semua yang berkaitan dengan Archangel dan sejenisnya.
Bahkan saat Allea akan menikah, Ellea tidak begitu mempermasalahkan nya. Padahal dulu ia juga ingin segera menikah dengan Abi. Tapi sekarang jangankan menikah, bersikap manja pada Abi pun sudah jarang terjadi.
Beberapa alasan itulah yang membuat Abi terpaksa ingin mengajaknya ke psikiater. Ia takut terjadi sesuatu pada Ellea. Tapi rupanya niat baiknya tidak bisa diterima baik pula oleh Ellea. Ia justru merasa terintimidasi dan merasa kalau Abi dan yang lainnya menganggapnya gila.
"Gimana Ellea?"
"Huh, biar dulu aja nginap di rumah Vin. Mungkin dia pengen sendiri dulu, Paman."
Dua pria itu kini duduk di sofa, menonton acara TV dengan kopi di meja yang berada tepat di depan mereka. Gio masih santai dengan sesekali berselancar di sosial media dengan gawai yang baru beberapa bulan lalu ia beli. Ia mulai bertemu banyak teman baru dan bertemu teman lama lewat benda pipih itu. Tak jarang Gio sering terlihat tertawa sendiri saat asyik dengan gawainya.
Lain halnya dengan pemuda di sampingnya. Ia terlihat seperti pria yang sedang putus cinta. Tatapan matanya kosong dengan terus menatap ke layar lebar itu. Gambar film action tak mampu membuat mood-nya membaik. Ia terus memikirkan Ellea. Tapi di sisi lain, justru gadis itu memikirkan orang lain.
Allea terus membujuk saudara kembarnya agar mau makan, tapi sejak ia tiba di rumah ini, Ellea justru hanya diam di dalam kamarnya saja. Ia membayangkan pria lain. Pria yang tadi ia temui bersama Abimanyu di café. Dan pria itu juga yang tadi sempat melintas di depan rumah ini. Pria yang tetap sama dalam pandangan Ellea. Mengerikan. Terlebih saat kedua matanya berubah hitam, walau itu hanya berlangsung beberapa detik saja.
Ellea masih bertanya-tanya makhluk apa yang tadi. Manusia tetapi rasanya aneh, dan membuatnya takut. Ia merasakan hawa jahat di dalam tubuh itu. Dan Ellea bingung kepada siapa ia harus menceritakan semuanya. Kini ia sudah ada di kamar tamu yang memang Allea siapkan untuk saudaranya itu. Ia juga kerap mengajak Ellea menginap jika Vin sedang pergi ke kota karena urusan pekerjaannya. Dan malam ini, Allea maklum jika Ellea kini melakukan aksi melarikan diri dari Abimanyu. Ia juga sadar, jika sikap Abi agak keterlaluan. Tapi ia juga tau alasan Abi melakukan hal itu demi kebaikan Ellea sendiri. Dan Allea berada dalam dilema, memilih siapa yang pantas untuk ia bela. Karena keduanya sama-sama benar dan juga sama-sama salah.
[Ellea nggak mau makan, Bi.] Pesan masuk ke gawai Abimanyu. Ia yang sudah tidak bersemangat kini langsung beranjak mengambil ponselnya yang ia lemparkan asal tadi ke sofa satunya. Dahinya berkerut saat membaca pesan Allea. Akhirnya ia menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia lalu menjambak rambutnya sendiri. Dan hal itu disadari Gio. Ia tertawa melihat keponakannya seperti orang gila.
"Aku nggak gila, Paman!" raung Abimanyu, kesal. Gio meledeknya dengan sebutan 'gila' dan Gio justru makin tertawa saat mendengar Abi marah. "Nggak terima, kan, lu. Dibilang gila? Nah, sama kayak Ellea. Walau elu nggak secara langsung bilang dia gila, tapi sikap lu! Seolah anggap dia bener-bener gila, Bi. Gue kemarin bukan menyetujui ide elu yang mau bawa Ellea ke psikiater. Gue kan udah tanya ke elu, yakin mau bawa dia ke sana? Elu bilang yakin banget. Lihat, buktinya sekarang?!"
"...." Abimanyu terdiam. Ia memang sependapat dengan kalimat Gio barusan. Tapi enggan mengakuinya. Dan kini ia diliputi rasa bersalah yang teramat sangat. Seharusnya di saat seperti ini, dialah yang lebih mengerti kondisi Ellea. Ellea tidak gila. Dan Abi yakin ada alasan tersendiri dia bersikap seperti itu. Sementara dengan keegoisan Abimanyu yang berharap keadaan kembali seperti sedia kala, membuat mental Ellea semakin down.
Dengkuran keras terdengar saling bersahutan. Dua pria itu tidur di sofa yang ada di depan tv. Gio yang sudah terbiasa menjadikan ini singgasana keduanya, sudah sejak tadi terlelap sambil masih memegang ponselnya. Sementara Abimanyu hanya bergelung dengan bantal sofa di pelukannya. Di tempat lain, Ellea masih terjaga dengan buku di meja. Ia masih membaca buku pemberian dari Rendra. Ia benar-benar maniak buku.
"Iblis?!" ucapnya dengan dahi nya berkerut. Ia bahkan seolah tidak percaya dengan perkataannya sendiri. Tapi buku ini jelas menulis dengan benar. Semua ciri-ciri yang Ellea cari memang tertuju pada makhluk itu.
_______________
Pagi-pagi sekali Abimanyu sudah ada di teras rumah Vin. Vin, Allea dan Ellea yang hendak sarapan akhirnya sedikit heran dengan tamu yang datang se-pagi ini. "Biar aku yang buka," kata Vin yang sebenarnya tidak tau kalau orang di depan adalah Abimanyu.
"Lah ngapa lu pagi-pagi di rumah gue?" tanya Vin basa basi. Abi berkali-kali mencoba mencari keberadaan Ellea dari teras. Berharap gadis itu terlihat di tempatnya berdiri. Vin yang memang tau alasan Abi datang se-pagi ini. Tentu pertengkaran pasangan ini sudah terendus oleh semua orang.
"Ellea."
"Hm. Yuk, masuk."
Abi menatap liar, mencari keberadaan Ellea. Dan rupanya dua gadis kembar itu sedang sarapan bersama di meja makan. Kedatangan Abimanyu membuat perhatian mereka teralih. Ellea menatap jengah pada pemuda itu, sementara Allea melirik keduanya bergantian, lalu menatap suaminya sambil saling menaikkan kedua bahu mereka bersamaan.
Sarapan yang cukup mengerikan, karena diselimuti perselisihan sepasang pria dan wanita yang biasanya sangat akur dan membuat iri banyak orang. Tapi kini justru membuat takut beberapa orang. Ellea hanya melirik Abi sinis. Ia merasa belum ingin bertemu dengan pemuda itu. Sementara Abi menatapnya nanar. Ia sangat berharap bisa kembali memperbaiki hubungan mereka.
"Sarapan, Bi?" tawar Allea untuk mencairkan situasi.
__ADS_1
"Iya. Udah." Abi langsung menempatkan dirinya duduk di kursi depan Ellea. Ellea masih bersikap dingin dan seolah tidak melihat keberadaan Abimanyu di depannya.
"Udah? Sarapan apa lu? Angin? Muka aja masih kusut, entah udah mandi apa belum, ngaku-ngaku udah sarapan," ejek Vin. "Makan sini. Nanti nggak bakal sarapan lu kalau udah di café."
Ellea dengan santainya mengambil nasi goreng dan meletakkan di piringnya, ia juga makan seperti biasa, sambil membaca buku yang belum selesai ia baca semalam.
"Ell, aku mau minta maaf," kata Abimanyu tiba-tiba. Elea masih berusaha tidak menghiraukan Abimanyu dan tetap fokus pada apa yang ada di hadapannya. "Aku nggak akan paksa kamu buat nurutin mauku, aku janji."
Ellea terus makan hingga suapan terakhir. Dan setelah sarapannya habis, Ellea segera beranjak hendak pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotornya. Tetapi Abi yang merasa diabaikan, segera menarik tangan Ellea hingga gadis itu berbalik dan menatapnya.
"Please jangan gini, Ell. Maafin aku, ya," bujuk Abi dengan mengiba. Ellea tersenyum sinis.
"Aku bakal buktiin kalau omonganku bener, Biyu. Aku mau kamu percaya sama aku."
"Iya, aku percaya."
"Bohong!"
"Ell ...."
"Sampai aku belum kasih bukti, kita nggak usah deketan dulu. Aku bakal kasih bukti semua. Biar kamu percaya. Kalau aku nggak berkhayal." Ellea menghempaskan tangan Abi begitu saja. Dan tentu saja Abimanyu pasrah. Bagaimana pun juga, keputusan Ellea tidak akan bisa diubah, dan Abi harus menerimanya. Ini juga merupakan konsekuensi yang harus ia terima.
____________
Mobil berhenti di butik milik Ellea dan Allea. Vin memang tidak bisa mengantar Allea pergi ke butik karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan kebetulan Abimanyu sedang ada di rumahnya. Tentu jika mereka berdua pergi bersama hanya akan ada perselisihan, dan tugas Allea sebagai penengah memang tepat. Tidak ada perubahan apa pun dalam perjalanan tadi, Abimanyu dan Ellea masih bersikap cuek satu sama lain. Ah, sebenarnya bukan Abi yang bersikap cuek, tapi hanya Ellea saja. Dan setiap kali Abi ingin memulai pembicaraan, Ellea pasti langsung menutup telinga dan kembali tenggelam pada buku di pangkuannya.
Sampai di café, Abi sempat heran melihat kedatangan Rendra yang jarang sekali terjadi. Apalagi pagi-pagi seperti sekarang ini. Ia sudah mendapatkan secangkir kopi dan ditemani Maya. Begitu melihat Abi datang, Maya pamit melanjutkan pekerjaannya, sementara Abi langsung menuju meja Rendra.
"Tumben pagi banget?"
"Iya, sekalian sarapan. Sama ini buku, kasihin ke Ellea, ya, Bi. Ketinggalan nih kemarin. Lupa kemarin gue cuma kasih buku yang itu aja. Padahal ini seri keduanya. Lebih komplit lagi isinya," terang Rendra.
Abi memperhatikan buku ditangannya, membolak-baliknya sambil mencoba memahami isi tumpukan kertas tebal ini. "Satan or Demon?!" pekik Abi saat membaca blurb yang ada di belakang buku.
"Yup. Beberapa hari ini pacar lu nyari buku dengan tema sama. Yah, awalnya tentang para Archangel sih. Kalau itu gue ngerasa wajar, karena melihat posisinya yang sebagai a maid of archangel pasti dia penasaran, kan. Tapi nggak tau kenapa makin ke sini bacaan dia mulai berat. Dia nyari tau soal ... setan, juga," bisik Rendra serius.
"Ini kenapa lu bawa ke sini? Nggak dikasihin ke Ellea sekalian?"
"**** emang. Kan buat alasan elu deketin dia terus! Gimana sih?!"
'Oh iya juga, ya. Tapi ... gue rasa Ellea belum mau ketemu gue. Jadi ...."
"Jadi elu mau nyerah? Payah! Lu mau dengerin saran gue?"
"Apa?"
__ADS_1
"Lu baca dan pelajari juga apa yang sedang Ellea cari tau. Misal soal Demon ini. Karena kalian butuh bahan obrolan yang menarik. Dan ... Ellea sedang tertarik tentang semua hal yang berbau demon, jadi elu tau harus gimana, kan?"
"Gue harus gimana sih, Ren?" tanya Abi dengan tampang polos.
"Astaga! Temen gue bloon banget! Ya cari tau juga tentang demon itu! Gimana sih lu!"
"...." Abi masih diam sesaat sampai akhirnya ia bersorak bahagia. "Bener juga, Ren. Ellea bilang dia mau buktiin ke gue kalau kata-katanya bener. Mungkin gue harus kerja sama buat nyari tau hal ini bareng dia, ya?"
"Nah!" seru Rendra sambil meneguk kopi miliknya. Abi langsung tersenyum, seolah mendapat lotre. Rendra memperhatikan sekeliling, dan tatapannya tertuju pada pria yang baru saja datang dan kini duduk di kursi yang ada di halaman. Maya yang sedang mencatat pesanannya terlihat mencoba ramah. "Dia lagi," gumam Rendra tanpa mengalihkan perhatian darinya. Abi ikut menatap apa yang Rendra tatap.
"Kenapa?"
"Dia warga baru atau gimana sih, Bi?"
"Nggak tau," sahut Abi sambil membaca buku di depannya.
"Lu ngerasa ada yang aneh nggak sih, Bi? "
"Apaan?"
"Akhir-akhir ini banyak pendatang datang ke desa kita. Penampilan mereka semua sama, dan satu yang paling gue nggak suka. Gue nggak suka tatapan mata mereka!" cetus Rendra.
Abi tiba-tiba tersadar karena kalimat Rendra barusan. Ia kemudian ikut menatap pria itu, cukup lama bahkan sampai ada beberapa kawannya yang ikut bergabung di meja itu. Abi ingat perkataan Ellea, kalau Ellea bilang orang itu mampu mengubah matanya. Dan anehnya baru kali ini Abi merasa ingin memastikan kalimat Ellea itu. Rendra melanjutkan menikmati roti bakar miliknya yang masih hangat. Abi terus memperhatikan gerombolan pria pendatang baru di sana.
Tiba-tiba kedua mata Abi melotot. "Damn!" umpatnya.
"Apa?" tanya Rendra heran.
"Bener kata Ellea ...." Abi menatap Rendra dengan sorot mata takut.
"Apa sih?" tanya Rendra bingung.
"Ren, kalau gue bilang mata orang itu berubah hitam selama beberapa detik, elu percaya?" tanya Abi.
Rendra menatap ke meja di mana orang yang dimaksud Abi berada. Ia terus menatap dan terus memperhatikan gerak gerik mereka. "Sial!" kata Rendra lalu merebut buku yang sedang dibaca oleh Abi.
"Apa sih?"
"Kalau apa yang lu bilang bener, mereka berarti bukan manusia, Bi!" kata Rendra sambil membolak-balik halaman buku itu.
"Maksud lu?!"
Rendra menunjukkan sebuah lembar yang ada gambar salah satu iblis mengerikan, "Lihat nih! Mereka berarti ... iblis! Iblis yang merasuki tubuh manusia." Abi yang tidak percaya, kembali merebut buku itu, dan membaca apa yang tadi Rendra tunjuk.
"Lu bilang, kan, kalau Ellea bersikap aneh sejak ketemu orang itu? Gue yakin Ellea juga melihat hal itu, apalagi dia itu sekarang bukan manusia biasa juga, Dude! Gue yakin dia bisa merasakan hawa negatif dari makhluk-makhluk itu."
__ADS_1
Abi meletakkan buku itu. "Gue ngerasa bersalah banget ke Ellea, Ren!"