pancasona

pancasona
Part 67 Wira


__ADS_3

Pagi ini rumah terasa sepi. Dua orang yang biasa saling hujat, kini tidak ada. Elang yang mendapat kabar tentang kondisi pulau saphire, memutuskan pergi ke sana pagi-pagi sekali.


Abimanyu duduk di samping Elang. Dua wanita pujaan mereka duduk manis di belakang dengan berbagai obrolan khas wanita. Shanum dan Ellea memang cocok satu sama lain. Sedangkan Abi dan Elang, memiliki watak yang berbanding lurus. Sepertinya mereka pasangan yang cocok.


Matahari belum sepenuhnya muncul dari ufuk timur, namun senja sudah mulai terlihat. Mereka sudah mulai membelah jalanan yang masih sepi, guna mempercepat waktu agar bisa segera sampai di pulau yang dimaksud Adi.


Baik Elang, maupun Abimanyu belum pernah mendengar tentang pulau tersebut. Bahkan Elang yang notabennya orang terlama di Argenis, tidak tau seluk beluk tempat itu. Ia berfikir jika pulau itu hanya sebuah mitos. Ternyata ... Tidak demikian.


Beberapa kali Abimanyu melihat sosok kalla yang berpapasan dengan mereka, maupun ada di pinggir jalan. Tapi, ia bungkam. Baginya bukan itu tujuan mereka sekarang, tapi segera sampai di pulau Saphire.


Masuk ke desa ini, Elang melihat langit di atasnya berwarna gelap. Hawa kehidupan di tempat ini terasa panas, karena ia membuat jendela sampingnya karena tengah menyulut sebatang rokok.


"Bi, kau lihat itu?" tanya Elang menatap langit daru kaca depan. Abimanyu mendongak, dan mengerutkan dahi. "Ada apa dengan langitnya, paman?"


"Tempat ini terkutuk!" Elang membuang putung rokok yang masih panjang, menutup kembali kaca mobilnya.


"Pasti telah terjadi hal buruk di desa ini," cetus Abimanyu, menatap sekitar.


"Lebih tepatnya ada sesuatu di desa ini!" Elang mempercepat laju mobil.


Sementara dua gadis di belakang mereka hanya diam menyimak obrolan ini.


Saat mereka sampai pelabuhan, beberapa aktifitas sudah ramai di sana. Orang-orang juga hendak menyebrang ke beberapa pulau. Tidak hanya pulau Saphire, tapi juga ada beberapa pulau lainnya.


Mobil di parkir di sudut pelataran parkiran yang luas itu. Elang menatap mobil Gio yang sudah sejak kemari menempati lahan parkir sampingnya. Baru semalam, rupanya kondisi mobilnya cukup kotor karena debu tebal mengelilingi. Wajar saja, debu dan pasir pantai sering betebaran karena embusan angin laut yang cukup kencang.


Bip!


Suara mobil yang terkunci terdengar. Mereka mulai berjalan ke arah dermaga. Mengejar perahu kecil yang akan mengantar mereka ke sana. Bau tubuh Kalla tercium sejak tadi. Elang berkali-kali mengendus sekitar. Menatap Abimanyu yang menatap tajam ke beberapa orang di sekitar mereka. Abi memang dapat melihat dengan jelas, manusia mana saja yang patut ia cemaskan. Ia segera menarik Ellea kasar, yang berdiri dekat seorang pria. Ia salah satu dari Kalla.


Satu persatu naik ke jembatan kayu penghubung ke perahu. Ellea berjalan lebih dulu, disusul Abimanyu. Jembatan kayu ini memang sempit, hanya bisa dilewati satu orang. Elang naik terlebih dulu, lalu mengulurkan tangan kanannya ke Shanum yang masih ada di bawah. Walau sudah berjalan dijembatan itu, Elang tidak melepaskan tangannya dari Shanum. Bahkan makin menggenggamnya erat.


Perahu ini mampu membawa sepuluh bahkan dua puluh orang. Walau bukan kategori kapal feri, karena pulau di seberang memang tidak begitu jauh dari dermaga ini, tapi cukup aman.


Perahu mulai berjalan. Bau khas laut benar-benar menghipnotis Abimanyu. Netranya menatap lurus ke arah hamparan laut luas itu. Kenangan bersama Arya mendadak muncul. Saat mereka surfing, maupun menyelam, kerap dilakukan dulu. Bagaimana ia mengalahkan sang ayah, dan membuat ibunya cemas karena terlalu lama menyelam. Tanpa sadar, ia tersenyum getir.


Ellea tersenyum tipis, menatap pria di depannya. Ia paham apa yang tengah Abimanyu pikirkan. Mereka duduk berhadapan. Abimanyu dan Elang duduk di deoan Ellea dan Shanum.


Gadis itu menjulurkan tangan ke bawah, membuat jemarinya yang lentik terkena cipratan air laut. Ia lantas mencipratkan air laut itu ke wajah Abimanyu. Membuat Abi terkejut, namun tersenyum. "Jangan iseng, Ell! Awas saja nanti kubalas!" ancam Abi diiringi barisan gigi putihnya.


"Coba saja, wlee!" ejek Ellea yang merasa itu adalah awal yang bagus agar Biyu-nya tidak terus larut dalam kenangan itu.


Sementara Shanum hanya tersenyum melihat keakraban pasangan di sampingnya itu. Ia bahkan tidak sadar kalau pria di depannya sejak tadi terus menatapnya dibalik kacamata hitam yang bertenger di hidungnya. Tangan Elang masuk ke saku jaket yang ia kenakan.


Shanum tanpa sengaja melihat Elang yang terus menatapnya. Elang kepergok. Segera ia membuang muka ke samping. Hal itu justru membuat Shanum terkikik geli. "Kenapa? " tanya Elang yang merasa tawa itu ditujukan padanya.


"Tidak apa-apa," jawab Shanum, mencoba bersikap wajar.


Perahu sampai di dermaga Pulau Saphire. Jangkar diturunkan, suara nahkoda membuat penumpang bersiap turun. Shanum berdiri terlebih dahulu, namun tiba-tiba sebuah perahu yang juga baru datang menabrak pelan perahu yang mereka tumpang. Walau pelan, tapi mampu membuat Shanum terjatuh ke depan. Dan tepat jatuh di atas Elang. Elang dengan sigap menangkap Shanum. Melingkarkan kedua tangan ke pinggang gadis itu. Membuat kedua mata mereka bertemu. Beberapa detik, posisi itu mereka pertahankan. Namun saat Ellea berdeham, Shanum langsung melepaskan diri dari Elang. "Maaf."


Ia berjalan lebih dulu untuk turun. Dan Elang mengikutinya seperti tadi. Sementara Ellea menutup mulutnya karena ingin tertawa, Abi yang melihat Ellea mulai iseng, segera melotot, dan menggeleng pelan. Gadis itu hanya mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang menunjuk ke atas.


Abimanyu lantas mengelus pucuk kepala Ellea sambil geleng-geleng kepala. Tanpa ia sadari, hal itu membuat jantung Ellea berdesir. Wajahnya memerah karena malu. Abi berjalan lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih terpaku.


_____

__ADS_1


Sepatu mereka sudah basah karena ombak kecil yang masuk ke bibir pantai. Namun bagi Shanum dan Ellea itu adalah hal menyenangkan. Mereka bahkan melepas sepatu dan mulai bermain dengan air laut.


"Apakah mereka berfikir ini liburan?" tanya Elang pada Abi sambil menatap dua gadis yang asik bermain di pantai.


Abimanyu hanya mengerdikan bahunya, menyusul dua gadis itu. Elang mendengus sebal. "Hei, Bi! Coba kau hubungi ponsel Adi atau Gio. Baterai ponselku habis. Aku lupa mengisi dayanya semalam."


Abimanyu mengambil gawai dari saku jaketnya. Menekan beberapa tombol dan meletakkan benda pipih itu di dekat telinganya. Tak lama ia menoleh ke Elang. "Mereka akan menjemput kita sebentar lagi."


Mereka duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari pantai. Semilir angin membuat mata menjadi berat. Namun mereka tahan sebisa mungkin. Ellea bersandar di dada Abimanyu. Pria itu diam, tak bereaksi. Sementara Shanum dan Elang juga diam, menatap pantai dengan pikiran masing-masing.


"Paman ...."


"Apa?"


"Apakah kau merasakan pulau ini aneh?"


"Aneh? Maksudmu?" Elang melepas kaca mata hitamnya, menatap Abi yang tengah liat menatap sekitar.


"Saat kita naik perahh tadi, aku melihat pulau ini satu-satunya yang memancarkan warna biru terang. Dan rasanya, tubuhku seolah mendapat energi lain saat kita sampai di sini."


Elang diam. Mencoba menelaah ucapan Abimanyu. Ia juga baru menyadari hal ini. Perasaan tidak nyaman yang sejak tadi ia rasakan sebelum naik perahu, langsung luruh saat kaki mereka menginjak pasir pantai.


Ia segera beranjak. Berjalan ke arah pantai. Saat sampai di tengah, antara pantai dan tempat tiga orang temannya duduk, ia memejamkan mata. Merentangkan kedua tangan ke samping. Ia mencoba merasakan energi yang tidak ia sadari.


Elang keluar dari tubuhnya, terbang ke atas, melihat raganya di bawah, lalu pergi menelusuri seisi pulau. Mencari sumber energi yang memang ia rasakan kini. Di kejauhan, ia melihat sebongkah batu besar. Dengan sinar biru terang. Jika jiwanya masuk ke raganya, pasti tidak akan melihat sinar biru ini dengan indera penglihatannya. Ada hal aneh lagi di sekitarnya yang membuat perhatiannya teralih. Beberapa pasukan berpakaian perang, keluar dari semak pepohonan dan mengitari batu besar itu. Seolah merasa kehadiran Elang adalah ancaman. Mereka menatap Elang dengan tatapan tajam.


Elang turun ke bawah. Mencoba menyapa orang-orang itu. Orang-orang tak kasat mata. Penjaga pulau Saphire.


Seorang penjaga mendekat saat Elang sudah menginjakan kaki di tanah.


"Maaf, saya hanya penasaran, apa yang membuat pulau ini begitu terang dengan warna biru, seperti kalung ini," kata Elang menunjukan kalung yang ia pakai.


"Kau Argenis?!"


Elang mengangguk. Barisan orang itu menguar, saat langkah kaki seseorang terdengar di belakang mereka. Elang memiringkan kepalanya, berharap segera tau siapa orang itu. Karena ia seperti mengenal bau tubuhnya.


Seorang pria tinggi dengan pakaian khas kerajaan muncul dibalik penjaga pulau ini. Hal ini membuat Elang tercengang. Seluruh tubuhnya lemas, hingga ia luruh ke tanah.


"WIRA?!" pekiknya seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat.


Pria yang ia panggil tersenyum. Tatapannya teduh. Senyumnya membuat hati siapa saja merasa damai. Ia mengulurkan tangannya ke arah Elang. "Apa kabar, Lang?"


Elang meraih uluran tangan itu, ia lantas berdiri. Mereka berhadapan. Matanya berkaca-kaca. Ia sangat merindukan Wira. Wira sahabatnya. Tubuhnya bersinar terang. Wajahnya teduh dan menenangkan. Wira lantas menarik Elang, dan mereka berpelukan.


"Ternyata kau di sini? Kenapa kau tidak kembali dan menemuiku?!" kalimat Elang penuh dengan emosi. Marah, sedih, rindu, bahagia, semua bercampur menjadi satu.


"Maaf, aku mempunyai tugas baru di sini. Menjaga tempat ini. Ternyata aku berhasil membuatku menemuiku, ya." Wira tertawa lepas. Seolah puas mempermainkan Elang.


"Kau bodoh, Wira! Kubunuh kau!"


"Kau yang bodoh. Aku, kan, sudah mati."


Spontan tawa Elang membuncah. Sebuah pertemuan yang di luar dugaan. Pertemuan kembali dengan orang yang sangat Elang rindukan. Pasti Adi dan Gio tidak mengetahui hal ini.


"Bagaimana kau bisa ada di sini?!  Bukannya kau sudah mati? "

__ADS_1


"Benar. Aku memang sudah mati, bahkan kehadiranku tidak akan bisa sembarangan dilihat manusia biasa. Kematianku saat itu, bukan akhir dari hidupku. Pendahulu Argenis datang menyelamatkanku saat jiwaku hendak diambil Black Demon. Dan aku berakhir di sini. Menjaga pulau ini dari serangan musuh mereka. Itulah perjanjian kami saat itu. Aku harus menebus kesalahanku, dengan mengabdi untuk melindungi tempat ini. Karena ras Kalla akan membuat onar kehidupan manusia. Itu sebabnya aku nemilihmu sebagai pasukan Argenis yang baru. Aku percaya kemampuanmu, dan dedikasimu. Terima kasih, Elang. Karena kau selalu berjuang di jalan yang benar. Selalu menjadi Elang yang sejak awal kukenal. Terima kasih kau sudah menjaga Nayla."


"Tapi Nayla.... "


"Yah, aku tau. Itu bukan salahmu. Semua takdir. Dia sudah bahagia di sana bersama Arya. Kau tidak usah merasa bersalah lagi."


"Wira ... Terima kasih, kau masih menjaga kami."


Wira tersenyum. "Aku juga pernah mengacaukan segalanya."


"Tapi kau tetap yang terbaik."


Wira menepuk bahu Elang. "Lebih baik kau kembali ke tubuhmu. Adi dan Gio sekarang cemas."


Elang menghapus air matanya. Mengangguk. "Sampaikan pada mereka, agar jangan terus bertengkar. Jangan sampai pertengkaran itu berubah menjadi cinta. "


Elang tertawa keras. Candaan Wira mampu membuat rasa sedihnya luruh. "Kau bisa saja!"


Wira tersenyum dan melambaikan tangan pada Elang. Melepas kepergian sahabatnya. Elang segera kembali ke tubuhnya.


_____


"Elang! Hei! Kau kenapa?!" jerit Gio sambil menampar wajah Elang.


"Jangan terlalu kencang, bodoh!"


Elang membuka matanya. Menatap Gio sebal. Bugh!  Satu pukulan mendarat di perut Gio.


"Dasar bodoh! Kau menamparku terlalu keras! "


Gio tersungkur ke pasir pantai. Hal itu membuat mereka tertawa. Adi tepuk tangan dan mulai menyusul perpecahan. "Pukul lagi, Lang. Jangan biarkan dia begitu saja! Dia berkali-kali menampar wajahmu. Bahkan lihatlah, pipimu merah karena ulahnya!"


"Brengsek kau, Di!" Saat ingin membalas ejekan Adi, Abimanyu menahan tubuh Gio. "Sudahlah, Paman. Jangan bertengkar terus. Ayo kita ke rumah Pak John. Aku sudah lapar! "


Gio yang mendengar itu, menoleh ke Abimanyu. "Kasihan sekali. Ya sudah, ayok. Aku juga lapar. "


Dipandu Adi dan Gio, mereka sampai di rumah John. Vin menyambut mereka hangat. Sementara sang tuan rumah langsung keluar dengan senyum mengembang. Sudah lama rumahnya tidak seramai ini. Sejak istrinya meninggal, putri tunggalnya pergi merantau ke kota. Padahal ia bersikeras melarangnya, karena tau kota bukan tempat yang aman. Dan sekarang terbukti. Putrinya meninggal, bahkan John tidak bisa melihat jenazahnya.


Semua makan bersama di meja makan. Berbagai pengalaman memenuhi riuh ruangan ini. Semua cerita bermacam-macam jenisnya, tapi akan bersumber pada satu hal, yaitu Kalla.


"Maaf, Pak John, sejak kapan tugu batu saphire pulau ini ada? Para penjaga itu, apakah anggota Argenis terdahulu?" Pertanyaan Elang mampu menarik perhatian John.


"Penjaga? Apa yang kau bicarakan, Pak Ceo? " tanya Gio sambil berbisik.


Elang tak menanggapinya, dan terus menatap John dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Kamu sudah tau, tentang tugu batu itu?"


"Hm, iya. Energi pulau ini sungguh kuat. Bahkan Abimanyu mampu melihat dari kejauhan. Benar begitu, Bi? " Netra Elang kini mendarat ke pria yang duduk di samping Adi. Abimanyu mengangguk sambil mengunyah makanannya. Dia sudah menambah dua piring. Nafsu makan Abi terkadang cukup gila.


"Tapi, paman... Aku tidak mengatakan soal penjaga pulau. Bagaiman kau tau? " Kini Abi dibuat penasaran. Begitu juga John dan yang lain.


"Aku menemui mereka tadi. Ruh ku mengitari tempat ini, dan mencari sumber kekuatan itu. Rupanya berasal dari tugu batu besar di tengah pulai sana. Dan, di sana... Aku bertemu... Wira."


Gio dan Adi melotot bahkan sendok yang mereka pegang, terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2