pancasona

pancasona
Part 146 kedatangan Ellea


__ADS_3

Werewolf, atau biasa disebut manusia serigala, bukan merupakan legenda belaka. Mereka hidup di belahan bumi terdalam, yang sangat jauh dari peradaban manusia. Werewolf memiliki beberapa jenis kelompok. Natural wolf, Lycanoid, Manwolf, Hound, Bloodhounds, Berseker, Lycans, dan Therians. Sebagian dari mereka dapat mengubah wujud menjadi manusia saat melihat sinar bulan. Tapi sebagian lagi hanya akan berwujud serigala sungguhan.


Beberapa mitos menyebutkan, mereka adalah makhluk yang dikutuk. Tapi mampu menularkan gen serigala yang mereka miliki kepada manusia. Tentu dengan tujuan dan keadaan tertentu. Mereka hidup berkelompok, atau biasa disebut pack. Rendra adalah termasuk dalam jenis Lycans. Sementara pada werewolf yang baru mengalami perubahan di desa, adalah jenis Lycanoid. Karena saat mereka mengalami perubahan dari manusia ke serigala, mereka tidak akan mengingat apa pun. Mereka juga sangat kejam dan akan menyerang orang yang ada di sekitarnya. Bahkan sebenarnya mereka tidak menyadari kalau di dalam darah mereka sudah ada gen serigala, dan tentu mereka tidak tau, kalau mereka adalah manusia serigala.


Sementara Rendra dulunya merupakan jenis Lycans, masih memiliki kesadaran saat dirinya berubah menjadi serigala, dan tentu mampu mengendalikan perilakunya untuk tidak menyerang orang sembarangan. Hanya saja, jika ia sedang menjadi serigala, dia tidak bisa berbicara. Ia tidak menyerang manusia, kecuali memang ingin menambah jumlah anggota, sangat kuat dan hidup berkelompok. Memiliki hiriarki yang ketat pada pemimpinnya, Alpha.


Tapi karena keadaan, Rendra akhirnya memilih pergi dari packnya. Dan memilih hidup sendiri. Karena keadaannya yang sekarang, maka ia menjadi seorang Bloodhounds. Ia kini mampu mengontrol perubahan wujudnya. Dan tidak tergantung pada sinar bulan.


"Jadi ada berapa anggota dalam pack itu?" tanya Abimanyu. Yang ia maksud adalah pack saat Rendra bergabung dengan kelompoknya, yang akhirnya ia pergi karena merasa tak lagi sejalan.


"Tinggal tujuh orang. Awalnya pack itu memiliki 20 anggota."


"Wow, pantas saja, mereka kini merekrut manusia untuk dijadikan anggota, ya."


"Siapa alpha kalian?" tanya Gio.


''Alpha apaan, Om?" tanya Vin.


"Yah, bisa disebut pemimpin dari tiap pack. Dia yang paling kuat dan berpengaruh."


"Namanya Ares. Sementara Beta dipegang oleh Ax dan Gamma adalah Caesar. Dua wanita yang pasangan Ares dan Ax, adalah Aida dan Alodia, dan dua orang terakhir adalah Dante dan Danial. Yah, hanya sebuah keluarga kecil, tapi ... mematikan."


"Ngomong-ngomong kamu dulu sebagai apa di sana?" tanya Gio, yang memang lebih paham tentang bangsa werewolf. Ia adalah salah satu penggemar novel fantasi yang menceritakan legenda makhluk satu ini. Ia bahkan sangat menyukai cerita fiksi yang mengangkat tema werewolf.


"Beta. Dan akhirnya posisiku digantikan oleh Ax." Ia menarik nafas dalam, dan membuat kenangan saat dirinya masih menjadi bagian dari Pack-nya. Tiba-tiba Rendra mengendus sesuatu, dan membuat wajahnya berpaling menatap keluar halaman rumahnya. "Mereka datang!"


"Siapa?"


"Lycanoid!" ucapnya lantang sambil mengeluarkan belati perak miliknya. Rendra memiliki banyak peralatan membunuh untuk werewolf. Padahal dirinya sendiri adalah werewolf, tapi karena ia membangkang, maka banyak yang ingin dia mati.


Semua bersiap dengan senjata masing-masing. Selain pistol yang sudah diisi peluru perak, mereka juga bersiap dengan pisau perak. Tidak ada cara lain untuk menyingkirkan mereka, karena membunuh mereka, itu adalah jawaban paling tepat. Mereka tidak lagi menjadi manusia normal pada umumnya. Keberadaan mereka akan sangat membahayakan orang lain. Apalagi mereka masih menjadi Lycanoid, yang bahkan mereka sendiri tidak tau kalau diri mereka adalah werewolf.


"Benar, kah, kita harus membunuh mereka? Nggak ada cara lain buat mereka sadar dan kembali lagi menjadi manusia seutuhnya?" tanya Abimanyu.


"Sayangnya nggak ada satu pun cara, untuk mengembalikan mereka menjadi manusia normal. Dan mereka berbahaya. Kita harus membunuhnya!"

__ADS_1


"Bahkan kita nggak tau siapa mereka. Siapa wujud asli mereka sat menjadi manusia, Ren?" Vin ikut menanggapi. Rasanya memang berat jika harus membunuh mereka, manusia yang tidak berdosa. Yang menjadi makhluk hina, hanya karena kesengajaan para Lycans untuk menambah anggota pack-nya.


"Aku tau bagaimana perasaan kalian, tapi kita tetap harus membunuh mereka. Aku pergi sendiri, atau kalian ikut?" tanya Rendra serius.


Mereka bertiga saling tatap, ada gurat keraguan dalam sorot mata mereka, tapi akhirnya mereka mengangguk, pertanda setuju. "Baiklah kalau begitu!" Rendra memberikan pisau perak miliknya ke Abimanyu. Abi malah menatapnya heran, "Aku tidak membutuhkan senjata itu. Kau lupa kalau aku bagian dari mereka? Dan aku akan bertarung dengan caraku!"


"Tapi semua senjata ini? Kenapa kamu memilikinya?" tanya Vin heran. Rumah Rendra memang terkesan misterius dan menyeramkan. Ada banyak hiasan senjata tajam dan senjata api. Ada juga kepala harimau yang menempel di tembok atas jendela ruang tamunya.


"Yah, jika kalian warga desa yang lain, maka aku tidak akan berubah wujud dan akan berburu dengan cara manusia. Tapi kalian, bukan manusia sembarangan, benar, kan?" Pertanyaan itu terdengar sebuah pancingan untuk saling terbuka satu sama lain. Tatapan mata Rendra tajam menatap ke Abimanyu yang berdiri paling dekat dengannya. "Ayo! Mereka sudah menunggu!" ajak Rendra.


Begitu mereka keluar rumah, angin malam berembus agak kencang. Terasa dingin dan kering. Dedaunan yang ada di atas pohon melambai kencang. Seolah merupakan pertanda ada bahaya besar mendekat. Dari kejauhan beberapa semak terlihat bergoyang dengan gerakan aneh. Mereka berempat berpencar di berbagai penjuru mata angin. Rendra yang berdiri di tengah, menatap bulan purnama di atasnya, ia melolong dengan suara khas serigala, dan perlahan tubuhnya berubah menjadi serigala besar. Abimanyu, Vin dan Gio terlihat takjub beserta ngeri melihat perubahan itu terjadi di depan mata mereka sendiri. Rendra lantas berlari ke arah depan. Di sudut gelap itu kemudian muncul sesosok makhluk yang hampir sama wujudnya seperti Rendra. Mereka terlibat pertempuran sengit. Tiga pria itu mulai bersiaga, dan mulai waspada jika ada gerakan mendadak seperti apa yang dilakukan salah satu makhluk mengerikan itu tadi.


Gio jatuh tersungkur ke samping, saat seekor serigala hitam menabraknya dari arah berlawanan. Ia yang tidak siap, akhirnya melempar senjata miliknya jauh dari dirinya. Abimanyu yang hendak menolong pamannya, justru mendapat serangan dari makhluk lain. Ia menahan kepala makhluk bergigi tajam itu kuat-kuat. Air liurnya menetes mengenai wajah Abi. Satu tangan Abi yang hendak meraih pisau perak yang ada di dekatnya, terlihat sangat kesulitan, hingga sebuah tembakan dari Vin mampu merobohkan makhluk itu dan jatuh menimpa Abimanyu.


Saat Vin hendak menembak lagi ke arah musuh Gio, ia justru malah diserang oleh makhluk yang sama lainnya. Abi yang baru bangkit dari pertempurannya, kembali harus melawan makhluk lain yang kini mulai banyak berdatangan ke rumah Rendra. Mereka terkepung dan tentu kalah jumlah.


Abimanyu diserang oleh beberapa werewolf hingga berteriak kencang dan menyayat hati. Terlihat darah muncrat dari mata Rendra yang masih sibuk dengan lawan di depannya. Vin dan Gio akhirnya ikut menoleh dan mencemaskan keadaan Abi yang dikeroyok oleh makhluk mengerikan itu.


Tapi tiba-tiba sebuah pemandangan mencengangkan terlihat di depan mereka. 3 werewolf memekik, kesakitan dan kepala mereka ditarik begitu saja oleh manusia yang ada di antara mereka. Abimanyu. Darah mengucur deras dari leher akibat kepala mereka yang tidak lagi ada di tempatnya.


Mereka juga warga desa Amethys yang sering bertemu satu sama lain dengan Abi, Vin maupun Gio. Bahkan mereka juga pelanggan di cafe Pancasona.


"Gimana sekarang?" tanya Vin menatap mayat itu yang sudah mereka kumpulkan berjejeran menjadi satu. Dua orang pria di dekatnya tau, apa maksud pertanyaan Vin. Apa yang harus mereka lakukan pada mayat-mayat ini. Tak lama, Rendra kembali dengan sosok manusia. Ia mendekat dan menangkap kegelisahan yang dialami rekan-rekannya.


"Mereka lolos. Sepertinya Ares memanggil mereka."


"...."


"Kita gali tanah di belakang rumahku, dan kuburkan mereka semua di sana." Pernyataan Rendra hampir mendapat protes dari Vin. "KIta nggak mungkin bilang ke kepala desa kalau mereka mati karena kita! Ayo, cepat!" Rendra berjalan ke belakang rumahnya dan akhirnya tiga pria itu pasrah. Dan memang apa yang dikatakan Rendra ada benarnya juga. Tidak mungkin mereka menceritakan hal ini ke semua warga desa. Itu adalah hal yang sangat tidak akan mungkin diterima oleh mereka. Justru mereka berempat lah yang akan dituduh melakukan pembunuhan sadis ini.


_______________


Sinar mentari tampak menerobos celah jendela kamar. Abimanyu mengerjap karena suara ketukan dari pintu kamarnya. Bukan lagi ketukan, melainkan gedoran kencang, dan suara Vin mulai terdengar nyaring di telinganya. "Bi! Bangun! Telat nanti kita ke cafe! Buruan!"


Abi tidak membuka matanya, malah makin merapatkan selimutnya. Ia tidak peduli teriakan Vin dari luar sana. Matanya masih berat untuk terbuka. Rasanya baru beberapa jam saja ia tertidur, dan kini masih butuh beberapa jam lagi untuk bangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Hening.


Tidak ada lagi suara Vin yang berisik membangunkan Abimanyu. Ia akhirnya bisa bernafas lega akan kepergian alarm palsu itu. Abi bahkan sempat tersenyum dan menikmati lagi tidurnya. Tapi saat ia sudah hampir masuk ke alam mimpi, kembali suara nyaring Vin terdengar dari balik pintu kamarnya. Abi sengaja mengunci kamarnya karena tau bagaimana berisiknya Vin saat pagi hari. Vin ibaratnya seperti ibu-ibu pada umumnya, yang akan sangat rajin membangunkan anak-anaknya agar tidak terlambat datang ke sekolah.


"Bi! Ellea dateng! Mau bangun kagak lu!" serunya.


Sontak kedua mata Abimanyu mendadak segar mendengar nama Ellea disebutkan. Yah, ia lupa kalau Ellea akan datang hari ini. Terlalu sibuk mengurusi masalah werewolf membuatnya sedikit lupa pada gadis itu. Kini Abi segera bangun dari tidurnya, membereskan rambutnya yang berantakan, dan membuang tahi mata yang ada di sudut kedua bola matanya. Bersiap menyambut kedatangan Ellea yang membuatnya sedikit terkejut, walau ia sudah tau. Ah, dasar Abimanyu!


Suara riuh di ruang makan membuat Abi yakin kalau Ellea dan Allea sudah datang. Mungkin, kah, mereka sudah memasak se-pagi ini? atau mereka sengaja membawa makanan dari rumah untuk para pria malang di rumah ini? Gio sudah melahap setengah piring makanan di hadapannya. Mulutnya yang masih penuh makanan terpaksa terus mengobrol menanggapi pembahasan dua wanita berwajah sama itu. Vin juga sibuk menatap bidadari hatinya yang sedang menuangkan sayuran ke dalam piringnya. Netra Abimanyu langsung liar mencari sosok yang ia rindukan. Ellea. Gadis itu langsung menoleh saat merasakan kehadiran Abimanyu di dekatnya.


"Biyu!" pekik Ellea dan langsung berhambur memeluk pemuda yang masih mematung diam di tempatnya dengan kondisi khas bangun tidur. "Aku kangen!" ujar Ellea masih mendekapnya erat. Abimanyu juga menyambut pelukan itu. Ia juga sangat rindu pada Ellea.


"Kok nggak nelpon? Kan bisa dijemput di terminal bus tadi?" tanyanya.


"Jemput apaan? Masih molor juga lu!" sindir Vin.


"Sudah nggak apa-apa. Kan kejutan. Kaget, kan, kalau kami dateng sekarang?"


Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sangat yakin kalau ini bukan kejutan. Karena Ellea selalu mengatakan hal ini jauh-jauh hari, kalau mereka akan datang ke sini dalam waktu dekat. Dan Abi memang tidak terlalu terkejut dengan kedatangan mereka. Jauh dalam lubuk hatinya ia malah cemas. Karena mereka datang di waktu yang kurang tepat. Di saat mereka sedang berkutat dengan werewolf yang belum selesai ditumpas. Apa yang harus ia katakan pada Ellea tentang masalah ini? Apakah ia harus jujur, setidaknya agar mereka waspada. Tapi bukannya itu justru akan membuat mereka panik nantinya. Apa yang mereka hadapi sekarang bukanlah mafia atau gengster lagi. Melainkan manusia serigala. Setidaknya Ellea sudah pernah berhadapan dengan Kalla dulu. Mungkin dia akan bisa menerima hal ini. Tapi tidak sekarang Ellea harus mendengar kejadian itu dari mulut Abimanyu. Biar saja Ellea dan Allea menikmati euforia kedatangan mereka ke desa ini.


Abi baru selesai mandi, kini di kamarnya sudah ada Ellea yang sedang membereskan ranjangnya yang berantakan itu. "Ell, biar aja. Nanti aku yang beresin," kata Abi, merasa tak enak kalau kekacauan kamarnya justru dirapikan oleh Ellea. Ia memang sangat lelah semalam, hingga tidak mempedulikan lagi kondisi kamarnya yang mirip kapal pecah.


"Nggak apa-apa. Kamu pasti capek, sampai-sampai nggak sempet ngerapihin kamar. Mumpung aku di sini, biar aku bantuin, ya. Sudah, kamu pakai baju dulu. Mau ke cafe, kan?" suruh Ellea yang melihat Abi masih bertelanjang dada, hanya memakai celana boxer dan handuk yang masih tersampir di lehernya. Abi mengangguk lalu segera mencari pakaian yang hendak ia kenakan di lemari.


Tumpukan kain di depannya membuat ia kebingungan memilih apa yang pantas ia pakai hari ini. Tidak seperti biasanya, karena hari ini ada Ellea, ia ingin tampil lebih baik dari biasanya. Tangan Ellea kini melingkar hingga ke perut Abi. Ia memeluk kekasihnya dari belakang. Mendengarkan detak jantung Abimanyu yang terdengar dari telinganya yang menempel di punggung pemuda itu.


"Vin katanya mau nikahin Allea," gumam Ellea pelan.


"Hm hmm." Ab mulai menemukan corak kemeja yang ia ingin pakai. Kemeja ini adalah salah satu pemberian Ellea dulu. Ellea pasti suka jika Abi memakainya lagi.


"Padahal mereka belum lama kenal, ya, Biyu. Vin benar-benar serius sama perasaannya. Lega kalau Allea bisa menikah sama dia."


Degh! Jantung Abimanyu terasa berdesir. Kalimat Ellea terasa menohok. Ia merasa kalau Ellea sengaja berkata demikian untuk menyindir dirinya yang tak kunjung melamar gadis itu. Padahal hubungan mereka terjalin cukup lama. Lebih lama dari hubungan Vin dan Allea.


"Eh, buruan dipakai bajunya. Nanti telat ke cafe. Aku tunggu di bawah, ya." Gadis itu melenggang pergi dari kamar Abi. Menutup pintu kamar itu sedikit lebih kencang sebagai salah satu usaha melupakan emosinya.

__ADS_1


"Duh, gawat!" gumam Abimanyu dengan wajah pucat.


__ADS_2