
Abimanyu, Gio, dan Hidayat, kini mulai berlari memasuki sebuah toko kelontong yang mirip seperti minimarket. Mereka terpaksa bersembunyi di sini karena jarak ke tempat makan yang mereka pakai beristirahat tadi cukup jauh.
Pintu ditutup dan dikunci. Mereka bersembunyi tak jauh dari pintu dan jendela. Bagaimana pun juga, mereka harus melihat apa dan ke mana para makhluk mengerikan itu pergi. Dan tentu yang paling Abi khawatirkan adalah kekasih dan ibundanya.
"Bagaimana Ellea dan Ibu, Paman! Apa mereka baik baik saja?!" bisik Abimanyu ke arah Gio yang bersembunyi di bawah jendela, dekatnya. Jendela di belakang mereka, setengahnya adalah kaca, sehingga keadaan di luar akan tampak jelas dari dalam. Begitu pula sebaliknya.
"Semoga mereka baik baik aja. Gue yakin kalau Ellea dan Nayla tau harus bagaimana." Gio berbisik sambil sesekali mengintip keluar jendela. Suara derap langkah banyak orang mulai mengusik pendengaran mereka. Hidayat makin menyembunyikan tubuhnya. Ia benar benar takut pada makhluk di luar sana. Bahkan ia yang paling terlihat ketakutan di antara mereka bertiga.
Makhluk itu mulai menyusuri tiap sudut bangunan dan semua tempat di desa ini. Mereka seperti sedang mencari sesuatu. Sampai pada akhirnya ada beberapa makhluk yang mendekati tempat persembunyian mereka, Hidayat yang paling dekat dengan jendela yang berseberangan dengan mereka yang ada di luar, lantas mulai mundur agar posisinya agak jauh dari mereka. Ia khawatir keberadaannya akan terlihat oleh mereka yang ada di luar.
Namun, karena tidak melihat ke belakang, Hidayat menabrak sesuatu hingga benda tersebut menimbulkan bunyi. Botol minuman soda yang berjejer di rak belakangnya, terjatuh hingga botol tersebut pecah dan hancur berantakan. Hidayat, Abi dan Gio melotot tajam ke botol yang sudah pecah tersebut. Wajah mereka pucat. Dan kini Hidayat menatap ke jendela di depannya yang memang terlihat jelas. Sekat dari kaca tersebutlah yang membuat keberadaannya terlihat oleh salah satu makhluk di luar.
Makhluk itu menyeringai dan menunjuk Hidayat yang sudah tertangkap basah. Hidayat menjerit kemudian lari makin ke dalam toserba. Ia panik dan berusaha membuka pintu belakang yang ternyata dikunci. Hidayat terus memukul mukul pintu, berusaha mendobraknya sekuat tenaga. Para makhluk di luar, kini berusaha masuk. Pintu toserba yang memang sudah di halangi oleh Abi dengan gagang pel, membuat mereka tak habis akal. Mereka mulai memecahkan kaca jendela hingga semuanya hancur berantakan. Abi dan Gio lantas beranjak dan keluar dari persembunyian nya. Mereka yang masih memegang benda yang dipakai untuk menguburkan Endri, lantas memakainya untuk mempertahankan diri.
Makhluk itu mulai masuk melewati jendela yang masih tajam dengan kaca yang belum pecah sempurna. Perut atau tubuh mereka robek karena kaca yang tajam tersebut. Darah. Mereka mengeluarkan darah segar dari daging yang membungkus tulang mereka.
Abi menoleh ke belakang, di mana Hidayat sedang berusaha membuka pintu belakang. Abi lantas kembali fokus pada musuh di depan. Dia dan Gio segera menyerang mereka dengan senjata di tangan mereka itu.
Tombak besi itu, menancap dalam hingga menembus tubuh menjijikan musuh di depannya. Abi mencabutnya cepat dan ia kembali menghunus jantung lain, hingga mereka segera tewas dengan cepat.
Gio bahkan berhasil menebas kepala salah satu dari mereka. Darah yang muncrat membuat bajunya belepotan darah segar tersebut. Menjijikan, sampai sampai wajah Gio terkena percikan darah itu.
Beberapa tubuh yang sudah tewas, tergeletak begitu saja di lantai. Makhluk di luar makin banyak dan mulai mengerubungi toserba itu. Gio dan Abi mulai kewalahan. Mereka lantas menyusul Hidayat yang masih berusaha membuka pintu belakang. Mereka merobohkan rak rak belanjaan agar mempersulit musuh musuh mereka. Keributan terdengar nyaring di toserba itu. Gio menendang pintu berkali kali, agar dapat terbuka. Hingga akhirnya ia merusak gagang pintu tersebut, dan membuat pintu dapat dibuka.
Mereka segera keluar dari pintu belakang. Berusaha mencari kawan kawan yang lain. Terutama melihat keadaan dua wanita itu. Ellea dan Nayla.
Di sisi lain, Wira dan Arya masuk ke sebuah rumah yang paling besar di desa itu. Mereka merasa tertarik dengan rumah itu, berharap mendapatkan senjata apa pun, karena di ruang tamu, ada beberapa hiasan dinding dengan kepala rusa dan hewan lainnya. Ada pula sebuah patung macan yang sudah diawetkan. Wira yang dapat melihat mengenali dengan jelas, yakin kalau patung itu memang asli seekor macan yang sudah diawetkan. Kemungkinan besar pemilik rumah ini seorang pemburu. Apalagi topografi desa ini di kelilingi hutan yang cukup luas. Pasti masih banyak binatang buas yang memang menjadi sasaran pemburu.
Masuk ke ruang keluarga, ada sebuah foto besar dengan ukuran satu meter, yang menampilkan sosok pria dengan memegang kepala beruang di tangan kanannya. Ia memegang senjata api di tangan kirinya juga.
Wira dan Arya sangat yakin, kalau di rumah ini pasti ada senjata api yang bisa mereka gunakan sekarang. Tentu semoga dilengkapi dengan peluru nya juga sebagai amunisinya.
"Kamu ke atas, aku periksa bawah!" kata Arya berbisik. Namun belum sempat mereka bergerak, suara riuh membuat perhatian mereka terpecah belah. Keduanya saling tatap dengan pikiran yang bermacam macam. Karena penasaran, Wira dan Arya kemudian mendekat ke jendela, dan melihat keadaan di luar. Berusaha mencari sumber suara yang mengusik mereka.
"Siapa yang teriak?" tanya Arya ke Wira, mereka masih bersembunyi di balik korden ruang tamu. Mencari pergerakan apa pun yang mencurigakan.
Mereka pun menyadari kalau langit memang sudah gelap. Membuat jarak pandang mereka juga terbatas. Tetapi, Wira melotot saat melihat ke arah timur mereka. Beberapa orang terlihat berlarian dengan wajah panik. Ah, tiga orang. Makin lama penglihatan mereka makin jelas, dan rupanya mereka mengenal tiga orang itu.
"Ngapain mereka pada lari?" gumam Wira lalu membuka pintu.
__ADS_1
Ketiga orang tersebut terkejut saat melihat Wira yang baru saja keluar dari sebuah rumah besar di depan. Mereka berhenti lalu langsung menerobos masuk ke dalam dan juga menarik Wira ikut ke dalam.
"Ada apa sih?" tanya Wira heran, meminta penjelasan atas apa yang sudah di alami ketiga teman mereka itu. Abi, Gio, dan Hidayat berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis. Mereka menatap dua pria yang masih menonton mereka bagai telah mengikuti lomba lari saja.
"Itu, mereka datang!" tunjuk Gio ke arah mereka datang tadi.
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Arya bingung.
"Makhluk itu, Ya! Yang mirip teman dia ini," jelas Gio dengan menunjuk Hidayat yang terlihat sangat ketakutan, melebihi yang lain.
"Apa? Loh bukannya mereka bakal muncul saat tengah malam, yah?" tanya Arya tak habis pikir. Wira lantas kembali ke pintu dan menahannya dengan kursi. Korden ia tutup rapat hingga tidak ada celah untuk mengintip dari luar.
"Tunggu! Gimana sama Nayla dan Ellea?!" tanya Arya yang satu pemikiran dengan Abimanyu tadi.
"Kita juga belum tau keadaan mereka, karena tadi waktu kami mau coba ke sana, mereka malah muncul dan kami kewalahan. Jumlah mereka terlalu banyak, sementara kami nggak punya senjata cukup. Semua orang terdiam selama beberapa detik, berusaha memikirkan cara untuk menyelesaikan semua masalah ini. Terutama membawa kembali dua wanita yang kemungkinan ada di caravan depan desa.
"Biar aku yang jemput mereka, dan bawa mereka ke sini. Kalian cari senjata apa pun yang bisa dipakai untuk melawan mereka, kalau kalau mereka berhasil masuk ke sini. Sepertinya ini tempat teraman," jelas Wira yang kini sedang mengintip dari balik korden. Ia melihat keadaan di luar yang memang sangat riuh dengan makhluk mengerikan yang bahkan mereka belum tau nama dan jenisnya. Tidak ada yang tau apa atau siapa mereka. Manusia atau siluman atau makhluk aneh lainnya.
"Biar aku ikut!" kata Arya menawarkan diri. Tapi Wira langsung menggeleng dengan aksi penolakan keras. "Jangan, aku bisa menangani mereka. Kalian harus bertahan di sini, dan cari petunjuk apa pun untuk mencari kunci yang kita cari itu!" perintah Wira.
Arya, Abi dan Gio lantas mengangguk setuju. Bagaimana pun juga, mereka tentu tau siapa Wira sebenarnya, dan mereka yakin kalau Wira pasti bisa membawa Elea dan Nayla kembali pada mereka. Semoga saja mereka berdua baik baik saja di caravan. Hanya itu harapan Abi dan Arya, walau tidak mereka ungkapkan secara blak blakan. Hidayat berlari menaiki tangga yang memang ada di rumah ini. Rumah ini adalah paling besar dengan dua lantai. Sementara Wira pergi keluar, dengan sembunyi sembunyi, mereka yang tinggal di rumah langsung mencari petunjuk yang memungkinkan ada di rumah ini untuk mencari benda yang mereka cari. Rasanya mereka sudah muak dan ingin segera keluar dari desa ini. Meneruskan perjalanan selanjutnya dan ingin segera mengakhiri semua hal aneh ini.
Wira menggunakan kekuatannya. Untung desa ini tidak seperti desa Amethys, jadi dia bebas menggunakan kekuatannya untuk melawan para mayat hidup ini. Dalam sekejap Wira sudah ada di dalam caravan. Nayla dan Ellea langsung menjerit karena terkejut, namun segera kembali menutup mulut mereka dan mengecilkan nada suara mereka. "Astaga! Wira! Ngagetin saja!" omel Nayla sambil memukul lengan kekar Wira. Wira hanya tersenyum sambil memperhatikan keadaan di luar.
"Kami baik baik saja. Pasti mereka udah muncul di desa, kan?" tanya Nayla serius.
"Yah, makanya aku ke sini mau jemput kalian. Yang lain ada di tempat aman, eum, sementara waktu sih. Kita harus ke sana sekarang. Aku yakin kalau mayat hidup itu pasti bakal mencari kita, karena mereka udah ketemu sama Abi, Hidayat dan Gio," jelas Wira.
"Ra, aku udah nemu artikel tentang desa ini!" kata Nayla sambil menunjukkan smatphone miliknya.
"Apa katanya?" tanya Wira sambil menatap benda pipih yang ada di tangan Nayla.
"Kalau kata kamu apa tadi, Ell?" Nayla beralih menatap gadis di dekatnya itu.
"Mereka itu disebut Vivum Vunus."
"Vivum Vunus?" gumam Wira sambil mengingat sesuatu.
"Mendingan sekarang kita berkumpul dulu, baru aku sama Ellea jelasin," pinta Nayla. Wira lantas mengangguk, lalu memegang bau kedua wanita itu. Dalam hitungan detik mereka menghilang dan kini sudah sampai di rumah persembunyian Arya dan yang lainnya.
__ADS_1
Rumah tersebut gelap, karena memang sengaja agar tidak terlihat oleh para mayat hidup di luar. Arya langsung memeluk Nayla erat. Menanyakan keadaan kekasihnya tersebut, Abi juga melakukan hal yang sama pada Ellea, tapi bedanya, Abi juga memperhatikan Nayla dari jauh. Memastikan juga kalau keadaan Nayla baik baik saja seperti Ellea.
Semua berkumpul di lantai dua. Setelah memastikan semua akses pintu masuk dan keluar di kunci rapat dengan pengamanan ganda.
"Jadi menurut artikel ini, makhluk di luar itu adalah warga desa ini. Mereka menghilang tiba tiba dalam satu malam. Tapi tiap malam, mereka kembali dalam keadaan seperti tadi. Mereka kembali ke desa dan melakukan aktivitas normal lainnya. Mereka memasak, bekerja dan semuanya," jelas Nayla.
"Tapi anehnya, setiap pagi datang, mereka hilang lagi. Makanan yang sudah mereka masak, juga nggak ada, semua hanya piring kotor penuh debu seperti desa yang kita lihat tadi, pas kita pertama datang ke sini," tambah Ellea.
"Lalu apa yang bikin mereka hilang? Dan kembali dengan keadaan seperti itu?" tanya Gio.
"Sihir!" cetus Wira.
"Sihir?"
"Yah, aku baru ingat kalau ada satu fallen angel yang memang selalu menyengsarakan manusia. Dia membuat wabah penyakit dan membuat sebuah kaum hilang hanya dalam semalam. Angel yang sekarang sudah menjadi demon itu, akan mendapat kekuatannya dari jiwa jiwa manusia yang diambilnya. Jadi mereka yang ada di luar sebenarnya memang manusia, bisa mati. Tapi sayangnya mereka tanpa jiwa. Makanya mereka nggak merasakan sakit dengan kondisi tubuh seperti itu!" jelas Wira lagi.
"Oke, jadi kita bisa bunuh mereka seperti menghadapi manusia pada umumnya, kan? tanya Arya semangat. Wira mengangguk.
"Pantas, tadi mereka mati. Awalnya aku takut kalau mereka bisa hidup lagi setelah dipenggal atau dilukai," tukas Abimanyu sambil mengingat kejadian yang belum lama ini ia lalui bersama Gio.
"Tapi di mana iblis itu?" tanya Arya.
"Rasanya kita harus membunuh mereka semua dulu, aku yakin dia pasti akan muncul nanti." Wira mengerutkan kening sambil memperhatikan ke arah pintu. "Kalian denger?" tanya Wira sambil menajamkan pendengarannya. Semua orang diam. "Tunggu! Mana Hidayat?!" pekik Gio yang merasa kehilangan satu anggota kelompoknya.
"Oh sial!" umpat Abimanyu lalu berlari ke arah pintu. Namun saat sampai di ujung tangga, ia malah mundur teratur. Wajahnya pucat lalu kembali masuk ke dalam ruangan tadi.
"Kenapa?" tanya Arya ikut panik.
"Sepertinya, Hidayat kabur dan buka semua pintu. Dan, mereka akhirnya masuk!" jelas Abimanyu. Ia lantas mengambil senjata yang sudah dipersiapkan sejak tadi. Hal ini membuat semua orang mengikuti apa yang dilakukan nya.
Gio yang berada di depan pintu, menatap mereka semua yang sudah mempersiapkan diri dalam peperangan ini. Senjata sudah berada di tangan masing masing. Tidak hanya para pria, Ellea dan Nayla juga akan ikut bertarung. Gio menggangguk, ia lalu membuka pintu itu lebar lebar.
Tembakan mulai meluncur dari pistol yang ada di tangan mereka. Sebuah anak panah, melesat menembus kepala salah satu mayat hidup itu. Panah itu berasal dari Nayla yang menemukan senjata itu dan langsung menyukainya.
Wira tidak memakai senjata apa pun. Ia hanya mendekat ke para mayat hidup itu, lalu menekan dada mereka. Sinar biru yang menyilaukan, membuat mereka mati dalam sekejap. Yah, begitulah malaikat bekerja. Luar biasa.
Sudah banyak mayat bergelimpangan. Dengan darah yang cukup banyak tercecer di lantai, tembok dan perabotan lainnya. Begitu cepat mereka memusnahkan Vivum Vunus.
Sampai pada akhirnya, bumi terasa bergetar. Mereka panik namun berpegangan pada apa pun di dekat mereka.
__ADS_1
Sesuatu muncul. Sebuah asap hitam tebal masuk melalui jendela. Dan akhirnya berubah wujud menjadi seorang manusia. "Galiyan?!" gumam Wira yang mengenal sosok di depan mereka.
"Samael?"