
Matahari belum menampakkan sinarnya. Aku dan Tante Jean sudah berkemas walau sekedar membawa beberapa potong pakaian dan makanan. Beruntung aku membawa tas Carrier, sehingga memudahkan perjalanan kami nanti. Sejak tadi aku dan Tante Jean lebih banyak diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Jujur saja, baru kali ini sangat mencemaskan keadaan Papa. Aku belum pernah secemas ini. Walau berkali-kali Tante Jean dan Tante Rani selalu menenangkanku, tapi semua tidak cukup.
"Bagaimana? Sudah siap, Bil?" tanya Tante Jean. Aku mengangguk dan membawa tas keluar kamar. Keadaan di rumah besar ini masih sepi, hanya kegiatan yang berada di dapur terdengar sedikit riuh. Karena sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi mereka. Sampai di ruang tengah, Om Opon sudah bersiap dengan tas ranselnya. Sedikit lebih kecil, karena dia hanya akan memberikan petunjuk ke arah Papa dan yang lain pergi. Om Opon yang baru aku ketahui bernama Septian, itu masih berumur cukup muda. Setidaknya umur kami tidak terpaut jauh, dan aku baru tau kalau Opon adalah panggilan keluarga yang diberikan kakek. Karena Om Septian adalah cucunya.
Ada Kakek yang juga akan melepas kepergian kami. Wajahnya terlihat lesu, ada gurat kecemasan di sana. Dia memang orang tertua di tempat ini. Terlihat garang di awal, tapi sebenarnya dia baik.
"Kalian berhati-hatilah. Maaf tapi Opon tidak bisa mengantar sampai ke tempat itu. Di sana termasuk wilayah yang tidak boleh kami masuki," jelas Kakek.
"Baik, Kek. Kakek tidak usah khawatir. Kami akan meneruskan perjalanan sendiri. Kami bisa kok," sahut Tante Jean. Namun tiba-tiba Tante Rani muncul dari kamarnya dengan pakaian rapi bahkan membawa tas yang sama seperti kami. Tentu saja semua orang terkejut.
"Ran? Kamu?" tanya Tante Jean tidak melanjutkan pertanyaannya, walau semua orang juga ingin menanyakan hal yang sama, dan juga berpikiran sama. "Ikut?" sambung Tante Jean. Tante Rani mengangguk yakin, walau dia terlihat berat sambil sesekali menatap anggota keluarganya.
"Mereka juga teman-temanku, Jean. Jangan sampai mereka mengalami hal seperti Dewa. Jangan sampai!" cetus Tante Rani. Keadaan sedikit tegang, apalagi saat Tante Jean melirik ke kakek.
Kakek yang sepertinya sadar, lantas menarik nafas panjang sebelum mendekat ke tante Rani. "Kamu hati-hati, Nantun." Kakek memegang tangan Tante Rani lalu memberikan kalung yang ada di lehernya. "Semoga ini bisa menjaga kalian nanti." Tante Rani mengangguk ragu.
Alhasil kami akan pergi berempat sekarang. Om Opon, begitulah aku memanggilnya, walau konsepnya sangat salah. "Berapa jauhnya, Om?" tanyaku saat kami sudah mulai meninggalkan desa. Memasuki kawasan hutan yang masih cukup gelap. Sinar matahari yang belum muncul ditambah dengan kondisi pepohonan yang rimbun menambah kesan gelap di dalam hutan ini.
"Masih beberapa kilometer lagi, Bil. Pokoknya kalau sudah ketemu sungai, nanti kita seberangi dan di sana letaknya. Tapi maaf, saya hanya bisa antar sampai sungai. Suku kami dilarang masuk ke daerah itu," jelas Om Opon.
"Santai, Om. Kami bisa meneruskan sendiri, asal sudah tau arah yang harus dituju. Iya, kan, tante?" Aku menoleh dan meminta persetujuan pada dua wanita di belakang kami. Mereka yang sedang berdiskusi lantas mengangguk.
__ADS_1
"Kalau kalian bingung, saya ada PETA nya." Dia langsung mengambil sebuah kertas dari balik tas ranselnya. "Nih, kamu bawa kompas, kan?" tanyanya dan berakhir dengan anggukan kepala.
Kami berhenti untuk memeriksa PETA tersebut. Tante Rani yang katanya pernah ke sana juga sedikit kebingungan, karena semua tempat adalah pohon. Jika orang yang baru beberapa kali ke sini, pasti akan tersesat. Apalagi aku dan Tante Jean yang baru pertama kali datang ke sini. Kami benar-benar buta medan yang akan dilalui nanti.
"Setelah melewati sungai, kalian berjalan terus ke utara. Nanti di sana kalian akan menemukan tebing. Tapi perhatikan sekeliling ini," tunjuknya ke bagian timur dan barat PETA. "Di sini akan ada banyak rintangan, beberapa suku pedalaman tinggal di sana. Tak hanya itu, ada beberapa hewan buas juga. Hm, jujur, saya berharap kalian mengurungkan niat untuk ke sana. Kalau kalian nekat, sama saja kalian menyetor nyawa." Kalimat itu terdengar mengerikan, dengan harapan yang dalam, agar kami kembali saja ke rumah. Kami bertiga diam.
"Nggak apa-apa, Om. Saya tidak akan kembali sebelum bertemu Papa," jelasku.
Om Opon menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Ya sudah, kalau tekad kalian sudah bulat. Ayo kita lanjutkan perjalanan." Om Opon kembali memimpin barisan, aku terus berusaha menjajari langkahnya. Berbagai pertanyaan aku lontarkan untuk mengisi waktu dan agar perjalanan kami tidak terlalu membosankan. Lagi pula aku juga masih asing dengan tempat ini.
"Apa? Nenek Sanja?" tanya Om Opon langsung menghentikan langkah, dan menatapku dalam, seolah tidak percaya pada semua cerita yang keluar dari mulut ku.
"Kenapa memangnya? Om Opon kenal Nenek Sanja?" tanyaku menyelidik. Reaksinya sungguh mencurigakan, karena jika memang dia tidak mengenalnya, maka dia pasti tidak akan se-terkejut ini.
"Keramatkan itu maksudnya apa?" tanyaku yang memang tidak paham.
"Dia bukan orang sembarangan, Bil. Bisa dikatakan kalau Nenek Sanja itu orang yang melindungi suku kami."
"Wow. Iya, kah? Tapi kenapa dia muncul ke aku?"
"Hm, mungkin dia mau melindungi kamu. Jarang sekali ada orang yang bisa melihat Nenek Sanja. Bahkan selama ini hanya kakek saja, dan para sesepuh lain terdahulu."
__ADS_1
Perjalanan kami mulai menemukan titik akhir. Suara riak air terdengar nyaring di telinga. Aku bersorak bahagia dan berjalan makin cepat ke sumber suara tersebut. Kini hamparan air jernih terlihat di depan kami.
"Ini sungainya, Tiam?" tanya Tante Rani memperjelas keadaan kami.
"Iya, ini sungainya." Om Opon menatap ke sekitar dengan tatapan yang tidak bisa kutebak.
"Terus gimana kami melewati sungai ini dan sampai ke sana?" tanya Tante Jean.
"Ya kalian harus berenang ke sana," jawab Om Opon enteng.
"Oh, yang benar saja!" pekikan Tante Jean membuat Om Opon sedikit menarik sudut bibirnya. Walau hanya sedikit. Aku merasa dia sedang mencemaskan sesuatu.
Hari sudah beranjak petang, bahkan perjalanan ini memakan waktu seharian, pasti karena kami banyak istirahat tadi. Maklum saja, kami jarang berjalan jauh selama ini. Sedangkan mobil tidak bisa memasuki kawasan hutan ini. Barisan pohon yang cukup dekat membuat kendaraan sulit lewat, dan juga tidak ada jalur khusus untuk kendaraan di sini. Tempat ini memang masih sangat jarang terjamah manusia.
"Sebaiknya kita berkemah di sini saja, dan kalian bisa meneruskan perjalanan besok pagi, saat terang."
"Kenapa nggak sekalian aja, Om? Sungai ini nggak terlalu lebar dan dalam juga rasanya," sahutku.
"Saya bilang besok, ya besok. Terlalu berbahaya. Kalian nggak tau siapa yang tinggal di wilayah itu!" sergah Om Opon dengan wajah serius. Tante Jean mendesis pelan, lalu menggeleng samar padaku.
"Oke, kita buat tenda di sini," sahut Tante Jean.
__ADS_1
Akhirnya kami mulai mempersiapkan segalanya. Tenda-tenda kami dirikan di pinggir sungai. Sambil menunggu malam tiba, dan mempersiapkan segalanya untuk esok hari. Pasti akan sangat berat. Papa, tunggu Nabila.