pancasona

pancasona
Part 181 Rian tewas


__ADS_3

Mereka sampai di sebuah rumah kosong yang sudah mirip rumah angker. Beberapa perabotan masih utuh di dalam rumah ini, hanya saja sudah tidak layak digunakan karena sudah usang dengan banyak debu di sekitarnya. Ketebalan debu ini bahkan hampir mencapai 1 sentimeter.


Rian masih terikat di sebuah kursi dengan perangkap iblis di bawahnya. Ia tidak bisa berkutik apalagi tali yang digunakan untuk mengikatnya, adalah sebuah tali yang memiliki sejarah religius terkenal. Tali pengikat juru selamat yang dipercaya mampu mengikat makhluk apa pun dan tidak akan mudah terlepas jika sudah terikat tali tersebut. Arya sempat heran, bagaimana Nayla bisa mendapatkan benda tersebut. Dan pemuda itu makin terkesima dengan sikap Nayla yang ternyata jauh dari perkiraannya. Nayla cukup berani dan sadis.


Rian sudah berdarah darah. Wajahnya mulai terlihat memar dan mengalir darah dari pelipis, sudut bibir dan kepalanya karena hantaman dan pukulan dari Nayla. Beberapa kali dia juga menyiramkan air panas, hingga kulit Rian terlihat memerah dengan kepulan asap yang berbau gosong. Ia terus menjerit kesakitan, namun saat Nayla meminta penjelasan tentang siapa Wira dan alasan para iblis mencarinya, Rian malah tertawa. Ia menginginkan pertukaran. Informasi dan kebebasannya. Tentu Nayla sangat menolak keras hal itu. Karena baginya tidak ada satu iblis di dunia ini yang bisa ia percayai.


"Baiklah, satu kesempatan terakhir. Kalau tidak ada informasi apa pun darimu, bersiaplah kamu kembali ke neraka!" Nayla mengambil sebuah buku usang dengan tulisan latin di cover nya. Dia akan melakukan pengusiran setan. Biasanya setiap ruh atau iblis yang terlepas dari inangnya, akan dikirim kembali ke neraka. Tempat di mana mereka disiksa dan tidak bisa kembali ke dunia.


"Biar aku yang ngelakuin, Nay!" pinta Arya menengadahkan tangan kanannya. Nayla menatap Arya heran, tapi tetap memberikan buku di tangannya. "Halaman 102."


Arya menatap Nayla, lalu mengangguk pelan. Pemuda itu membuka halaman demi halaman dengan cepat hingga akhirnya menemukan tulisan yang dimaksud.


"


Exorcizamus te, omnis immundus spiritus, omnis satanica potestas, omnis incursio infernalis adversarii, omnis legio, omnis congregatio et secta diabolica. Ergo, omnis legio diabolica, adiuramus te"


Rian menjerit kencang. Suaranya memekakan telinga. Tapi, Nayla dan Arya tidak memperdulikannya. Karena sekeras apa pun Rian berteriak, tidak ada orang yang bisa mendengarnya.


"Stop!"


Nayla mengisyratkan Arya untuk berhenti. "Jawab pertanyaannku!" mata Nayla sambil mendekatkan tubuhnya ke Rian. Rian yang wajahnya sudah babak belur, menatap sinis ke Nayla. "Go to heel!"


Nayla geram, ia kembali menyuruh Arya melanjutkan kalimatnya.


"cessa decipere humanas creaturas, eisque æternæ perditionìs venenum propinareVade, satana, inventor et magister omnis fallaciæ, hostis humanæ salutisHumiliare sub potenti manu Dei; contremisce et effuge, invocato a nobis sancto et terribili nominequem inferi tremuntAb insidiis diaboli, libera nos, Domine. Ut Ecclesiam tuam secura tibi facias libertate servire, te rogamus.... "


"Oke, oke, baiklah! Aku jawab. Tapi, please berhenti meneruskan kalimat itu!"


Arya dan Nayla saling tatap, kemudian mengangguk pelan. Arya menutup buku itu, lalu mendekat ke Rian. "Lebih baik kamu mulai ngomong! Atau aku teruskan kata terakhir!" ancamnya serius.


"Oke, oke. Gini, menurut gosip yang beredar, kalian berdua sedang dicari Azazil. Kabarnya dia sedang menghimpun pasukan untuk melawan langit."


"Kenapa harus kami?" tanya Nayla.


"Karena kalian makhluk terkutuk, langit tidak menerima dan bumi mengasingkan! Kini pilihan kalian hanyalah neraka!"


"Terkutuk?!" tanya Arya setengah kebingungan.


"Lalu siapa Wira?"


"Dia Archangel. Dan tugasnya datang ke sini, untuk membunuh kalian berdua!"


"Nggak mungkin!" elak Nayla.


"Kamu masih ragu setelah beberapa kali memergoki dia melakukan hal aneh, Nay? Kamu sendiri nggak yakin, kan, kalau Wira itu orang baik?"


"...." Nayla terdiam.

__ADS_1


"Nay?" panggil Arya sambil menarik tangan gadis itu menjauh. Nayla frustrasi, dan hal itu membuat Arya merasa ada yang Nayla sembunyikan darinya, terutama tentang Wira. Nayla menekan kepalanya dengan sikap yang tidak tenang. Ia gelisah hingga akhirnya Arya memegangi kedua lengan Nayla.


"Tenang dulu, Nay. Jelasin pelan-pelan ke aku. Apa maksud perkataan dia?!" tanya Arya menunjuk Rian yang sedang menggerak gerakan wajahnya karena rasa sakit di beberapa titik.


"Gini, aku juga nggak tau maksud dia apa, atau siapa Wira sebenarnya. Tapi aku ngerasa Wira itu aneh. Setelah aku pikir lagi, Wira memang seperti sengaja deketin aku, deketin kita. Jadi temen dekat kita. Tapi aku nggak tau maksud dia apa."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Nay?"


"Pertama, aku ketemu Wira di gedung kosong itu, gedung di mana Retno hampir dijadikan tumbal pengikut dewa RA, terus setelah semua yang kita alami, Wira itu seolah nggak asing atau seolah mengenal tentang iblis, dan semua hal yang sebagian besar orang anggap gila atau aneh. Seperti kamu. Sementara Wira selalu menerima dan seperti tau banyak tentang iblis, Dhampire, dan semua itu. Paham, kan, Ya?"


Arya diam, sambil berpikir tentang semua perkataan Nayla barusan. Ia juga merasakan keanehan dalam diri Wira. Kedatangannya yang tiba-tiba langsung menjadi salah satu bagian dari mereka. Bersama sama membasmi makhluk yang bahkan Arya anggap hanya tokoh fiksi film saja.


"Anehnya lagi, kemarin, pas kami disekap Anjas. Kamu tali pengikat yang ada di tangan dan kakiku?" tanya Nayla serius dan ditanggapi anggukan pelan Arya. "Dia bisa melepaskan itu dengan tangan kosong!"


"..."


"Omong kosong kalau dia bilang pakai ilmu sulap atau apalah itu! karena aku lihat ada bekas terbakar di beberapa bagian tali punya Wira itu. Dan dalam bayanganku, Wira punya kekuatan membakar sesuatu, mungkin." Nayla begitu berapi api dalam membicarakan hasil pemikirannya.


"Hm, Oke. Kita juga perlu selidiki siapa dia sekarang. Tapi kalau bisa, jangan sampai Wira sadar kalau kita udah curiga sama dia, gimana?"


"Oke. Setuju."


"Terus bagaimana soal Rian?"


"send him to hell!"


"Siapa namamu?" tanya Nayla.


"Cih, buat apa kamu tau namaku, Nayla?!"


"Untuk mengirimkan doa saat kamu kembali ke neraka, bodoh! Arya, selesaikan!" katanya melirik pemuda di sampingnya itu, Arya mengangguk.


"Exorcizamus te, omnis immundus spiritus, omnis satanica potestas, omnis incursio infernalis adversarii, omnis legio, omnis congregatio et secta diabolica. Ergo, omnis legio diabolica, adiuramus te "


"Hey! Kenapa kamu baca mantra itu lagi?! Kita sudah sepakat!" jerit Rian ketakutan. Arya tidak menghiraukannya dan terus membaca semua potongan kalimat dengan bahasa latin di buku itu dengan lantang. "cessa decipere humanas creaturas, eisque æternæ perditionìs venenum propinareVade, satana, inventor et magister omnis fallaciæ, hostis humanæ salutisHumiliare sub potenti manu Dei; contremisce et effuge, invocato a nobis sancto et terribili nominequem inferi tremuntAb insidiis diaboli, libera nos, Domine. Ut Ecclesiam tuam secura tibi facias libertate servire, te rogamus.... Audinos!"


Rian menjerit dengan sekuat tenaga, mulutnya melebar dan jeritan terakhirnya benar-benar memilukan. Setelah Arya berhenti, Rian pingsan tak sadarkan diri. Nayla segera mendekat dan memeriksa denyut nadinya.


"Masih hidup?" tanya Arya, cemas. Nayla mengangguk. Dan keduanya akhirnya lega. Malam yang cukup panjang bagi kedua insan manusia buruan iblis itu. Meski mereka berdua tidak tau kenapa para iblis mencari mereka. Dengan satu pernyataan iblis yang merasuki Rian, informasi yang mereka dapat tidaklah cukup. Mereka masih memiliki banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepala mereka.


Rian sudah mereka antarkan pulang ke rumah dengan selamat. Hari sudah melewati tengah malam, kini Nayla bingung harus tidur di mana malam ini. Tidak mungkin ia pulang ke kos, karena tidak mungkin juga dia bisa tidur dengan kondisi pintu rusak dan mampu terlihat dari luar.


"Ya sudah, kamu tidur di rumahku saja," ajak Arya.


"Tapi, Ya," potong Nayla, ragu.


"Sudah ah!" Arya menarik tangan Nayla agar segera naik ke jok belakang motornya. Mereka berhasil membawa Rian dengan taksi karena tidak memungkinkan untuk membawa Rian naik motor, dengan kondisinya yang lemah.

__ADS_1


Motor melaju kencang menembus dinginnya malam. Nayla berpegang erat pada pinggang Arya. Malam yang cukup melelahkan. Dan hari hari yang mereka lalui akhir akhir ini memang cukup berat. Halaman rumah Arya sudah di depan mata. Suasana sekitar sudah sunyi. Beberapa lampu dimatikan karena pasti sebagian besar orang sudah tertidur. Mereka berjalan ke depan teras. Motor sudah parkir di garasi yang ada di samping rumah.


Arya merogoh ke sebuah pot yang menggantung di depan teras, sebelumnya ia menghitung pot itu, dan kemudian menemukan sebuah kunci. Ia lalu memasukkan kunci itu ke key hole, dan pintu berhasil terbuka. "Wow," gumam Nayla melihat keanehan itu. "Kamu nggak takut ada pencuri masuk karena kunci kamu taruh di situ?"


"Buat apa takut. Toh kalau ada pencuri, mereka mau mencuri apa, Nay? Keluargaku bukan orang berada. Kami keluarga sederhana. Kamu sendiri juga tau kalau bapakku cuma penjual makanan kaki lima." Ia lantas masuk ke dalam rumahnya dan mempersilakan Nayla ikut masuk juga.


"Ibu kamu di mana? Ikut jualan?" tanya Nayla yang segera duduk di kursi ruang tamu.


"Enggak. Ibu sama bapak lagi di luar kota, ke rumah saudara. Ada urusan."


"..."


"Kenapa?" Melihat Nayla berubah, Arya menatapnya heran.


"Eum, emangnya nggak apa apa, ya? Kalau aku nginep sini, sementara orang tua kamu nggak di rumah?"


"Ya nggak apa apa kok. Kenapa? Kamu nggak mau? Takut?"


"Nggak enak saja sama tetangga kalau tau, Ya."


Arya tersenyum, melihat kepolosan Nayla. "Santai saja. Ada kamar tamu kok di belakang. Aku tidur di kamarku sendiri. Nggak masalah, kan?" Nayla akhirnya mengangguk pelan,walau masih ada keraguan dari matanya, tapi akhirnya ia menurut saja. Lagi pula tubuhnya sudah cukup lelah, dan dia juga tidak tau harus tidur di mana sekarang kalau bukan di rumah Arya.


Malam yang cukup panjang dan melelahkan. Saatnya mereka tidur dan beristirahat, karena esok akan ada lebih banyak lagi kejadian mengerikan dan berbahaya melebihi apa yang mereka alami saat ini.


*****


"Nay, Nayla ... Bangun!" Arya mengoncang goncangkan tubuh Nayla yang masih berada di balik selimut. Gadis itu justru makin merapatkan selimut yang ada di atas tubuhnya, tak menghiraukan kehadiran Arya di sebelahnya. "Nay, bangun! Rian! Rian meninggal!" kata Arya.


Sontak Nayla langsung menyingkap selimut dan duduk sambil menatap heran Arya yang sudah duduk di samping ranjangnya. "Kamu jangan prank pagi pagi, Ya!" cetus Nayla.


"Astaga, ngapain kematian orang aku buat lelucon?! Putra baru saja kasih kabar, kalau Rian meninggal."


"Kok bisa? Jangan jangan karena kita semalam, Ya?"


"Bukan, Nay. Kamu tau bagaimana cara dia meninggal?" tanya Arya serius, Nayla menggeleng pelan sambil menunggu kelanjutan cerita dan informasi yang ia miliki.


"Perut Rian, terkoyak. Seluruh isi perutnya keluar, dia dibunuh!"


Nayla menelan ludahnya sendiri sambil mencoba mencerna apa yang sedang mereka bicarakan. Seluruh kepalanya terasa ditekan kuat, sakit dan berdenyut hebat. "Kita ke sana!" ajak Nayla.


"Tapi, NAy?!"


"Arya, bagaimana pun juga, Rian habis kita siksa fisiknya. Dan dia itu bekas inang iblis, aku yakin orang yang membunuh dia pasti ingin tau semua informasi tentang kita!"


"Aku tau, Nay. MAka dari itu, aku suruh Putra buat lihat TKP, buat nemuin bukti atau apa pun yang mencurigakan. Kita dapat satu nama. Nama yang Rian tulis sebelum dia meninggal."


"Nama?"

__ADS_1


"Azazil!"


__ADS_2