
Mereka sampai di KBRI di Roma, letaknya ada di Piazza San Marco. Tidak begitu jauh dari San Polo. Karena pekerjaannya, Vin memiliki banyak koneksi dari berbagai kalangan. Dari mafia, pedagang kaki lima, sampai pejabat pemerintahan. Faizal. Salah satu staf bagian komunikasi. Vin dan Faizal adalah teman lama sejak mereka masih duduk di bangku SMU.
Vin menghubungi Faizal begitu sampai di depan KBRI. Tak lama Faizal keluar. Lama tidak bertemu membuat keduanya berbasa-basi sedikit, menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing. Abi hanya diam, menatap mereka jengah. Melihat kawannya mulai bosan, Vin segera membicarakan pokok permasalahan yang ingin mereka tanyakan.
"Bisa lu cariin semua informasi tentang orang ini? Kalau bisa duanya," tunjuk Vin pada foto yang mereka temukan tadi.
Faizal menatapnya beberapa saat, ia menyentuh dagunya yang memang tumbuh janggut tipis di sana. "Rasanya dia nggak asing. Bentar gue inget-inget dulu," kata Faizal yang seakan membawa angin segar untuk Abi. "Yuk, masuk saja. Eh bentar ini teman lu berapa lama mau di sini?" tanya Faizal menunjuk Abimanyu.
"Belum tau, kenapa?"
"Sudah lapor KBRI belum? Nanti kalau ada apa-apa, kan, gampang ngurusnya. Soalnya muka-mukanya kayak bakal cari ribut ini orang," gumam Faizal, berjalan masuk ke dalam, diikuti Vin dan Abi. Dua pria di belakangnya hanya saling tatap, Vin menahan tawa sementara Abi melotot sebal. "Emangnya muka gue kenapa?!" gumam Abi yang ditanggapi dengan telunjuk kanan Vin yang diletakan di depan bibir. Pertanda, "diam saja."
Mereka di bawa masuk ke sebuah ruangan dengan beberapa komputer di sekitarnya. Faizal menyapa salah seorang kawannya dengan bahasa Spanyol, mungkin sebagai basa-basi penjelasan keberadaan dua orang asing yang ia bawa barusan. Kini jemari Faizal mulai mengetik, meng-copy foto yang barusan ia dapatkan. Hanya menunggu sekitar 5 menit saja, informasi langsung muncul.
"Ketemu!" pekik Faizal dengan mata berbinar," Pantesan dia nggak asing. Rupanya Alan Cha!" katanya lagi entah berbicara dengan siapa.
"Alan Cha, siapa?" tanya Abimanyu.
"Dia ketua gangster Wah Ching. Salah satu gangster di San Paz. Dulu Wah Ching sama Asia Boyz pernah bentrok antar geng. Rame. Sampai-sampai San Paz sempet ditutup karena banyak korban jiwa karena perseteruan dua kubu itu."
"Masalahnya apa?"
"Katanya Alan Cha melanggar kerja sama yang sudah mereka sepakati. Dan Austin, pemimpin Asia Boyz nggak terima, dia berencana mau bunuh semua anggota gangster itu, bahkan sampai keluarganya. Sekarang di San Paz, Wah Ching udah nggak ada lagi, tempat mereka sudah mirip gedung berhantu. Gue juga nggak tau mereka masih ada apa nggak."
"...."
"Kalau cewek ini? Namanya Ellea, dia pernah lapor statusnya nggak, Zal?"
"Bentar ...." Faizal kembali mencari nama Ellea. Berkali-kali ia mengetik dan mencari melalui foto , tapi tidak pernah ditemukan apa pun tentang identitasnya di KBRI. "Nggak ada. Nama dia. Lu yakin namanya Ellea?"
"Yakin banget."
"Dan yakin kalau dia ada di sini?"
'Iya, Zal. Gue pernah ketemu dia beberapa waktu lalu. Nah makanya kami mau cari dia, soalnya dia aneh. Tiba-tiba hilang gitu saja."
"Mungkin dia nggak pernah datang ke sini buat lapor."
"Itu lebih masuk akal sih."
_________
Mencari keberadaan Ellea di Venesia bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Mereka harus mengulur satu persatu jerami dan selalu menemukan fakta baru. Bagaimana bisa Ellea mengenal Alan Cha, gembong mafia dari Wah Ching. Bahkan mereka terlihat begitu dekat. Mirip kakek dengan cucunya. Tapi Abi sangat yakin kalau Kakek Ellea sudah meninggal.
Ponsel Abi berdering. Tertera nama Shanum di layar. Abi segera menggeser dan meletakan benda pipih itu di telinganya.
"Ya."
"...."
"Belum. Kacau, Sha. Makin nggak ngerti gue Ellea lagi di mana dan ada masalah apa."
"...."
__ADS_1
"Kemarin malam, gue liat dia lagi di kejar orang, mereka masuk ke San Paz, nah tadi gue sama Vin nyari ke sana, tapi nggak ketemu. Terus kami ke alamat yang lu kasih kemarin. Dia nggak ada juga."
"...."
"Gue curiga, ada indikasi Ellea ada hubungan sama gangster di sini, Sha. Cuma kami belum tau masalahnya apa. Hah! Pusing gue."
"...."
"Iya. Oke."
Telepon dimatikan. "Shanum?"
Abi mengangguk, dan perhatiannya kembali ke benda pipih yang masih ia genggam. Kini nomor asing yang menghubunginya. Nomornya aneh. Alhasil ia menunjukkan ke Vin, "Nomor sini itu. Elu kasih nomor ke siapa?"
Abi mencoba mengingat apa yang ia lupakan dengan nomor telepon asing ini. "Jangan-jangan ... KOV!" pekik Abi dengan mata berbinar.
"KOV? Apa sih?" tanya Vin yang tidak paham. Abi tidak menggubris dan segera menerima panggilan itu.
"Ya? Ronal?"
"...."
"Really?! Oke." Abi terlihat sangat bersemangat dan menarik tangan Vin menuju mobil. "Apa sih? ke mana?" tanya Vin yang sebal.
"Buruan ke coffe shop itu."
"Coffe shop mana?" tanya Vin lalu masuk ke mobilnya dan duduk di belakang kemudi.
"KOV. King of the fork!"
"Ron?! Where is she?" tanya Abi menyapu pandang sekitar. Vin yang menyusul sedikit tertinggal. Ia menundukkan tubuhnya mirip orang sedang ruku dalam salat.
"She's gone. You are late. But she left a message." Ronal mengulurkan secarik kertas. Cepat-cepat Abi membukanya. Di sana tertulis sebuah alamat. "Thanks, Ron." Ronal tidak menjawab hanya melambaikan tangannya ke atas.
Mereka kembali mencari alamat yang diberikan Ronal. Sebuah tempat yang agak jauh dari perkotaan. Vin menanyakan banyak hal tentang pertemuan Abi dengan Ronal.
"Kok bisa saling tukeran nomor ponsel begitu?"
"Iya, gue nunjukin foto Ellea. Dia bilang Ellea sering ke sana, dan gue minta tolong buat kabarin gue kalau Ellea dateng."
"...."
Abi menatap tulisan tangan itu. Sekilas bayangan Ellea masuk ke dalam memori ingatan Abi. Saat mereka masih dekat dulu, mereka kerap pergi ke perpustakaan. Saling membaca buku atau pun novel. Dan akan berakhir dengan saling memberikan tanya jawab lewat tulisan yang mereka tulis di masing-masing kertas berbeda. "Tunggu!"
"Kenapa?" tanya Vin tanpa mengurangi atau menghentikan mobilnya.
"Ini bukan tulisan tangan Ellea!" ucap Abi, yakin.
"Maksud lu? Ronal bohongin kita?"
"Hm, entahlah. Tapi ini bukan tulisan tangan Ellea. Gue yakin banget."
"Oh, sial! Terus bagaimana? kita tetap ke sana atau balik lagi buat kasi pelajaran tu orang?"
__ADS_1
Abi menoleh ke Vin. "Menurut lu gimana baiknya, ya?"
Vin diam, menatap jalanan sekitarnya. Ia lalu meminggirkan mobil ke pinggir jalan. Merasa tempat ini aman, ia lalu menatap kawannya itu. "Gue yakin, Ronal ini punya maksud nyuruh kita ke sana. Entah di sana ada Ellea atau nggak, yang pasti ini ada hubungannya sama Ellea. Kalau kita ke sana, kita juga harus siap ketemu orang-orang kayak suruhan Diego kemarin. Gue yakin banget, masalah ini bukan masalah sepele."
"..."
"Ayo kita hadapi bersama. Kita cari Ellea sampai ketemu, apa pun resikonya." Vin kembali menyalakan mobil melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Matanya berapi-api membuat semangat Abi kembali berkobar. Yah, ia sadar tidak seharusnya dia pesimis. Di luar sana, mereka tidak tau di mana Ellea, apakah dia baik-baik saja atau sebaliknya. Dan tujuannya jauh-jauh datang ke sini, adalah mencari Ellea.
Sebuah gedung tua kini ada di hadapan mereka. Dari struktur bangunan dan beberapa patung di luar, mereka bisa menebak kalau ini adalah gereja. Hanya saja, gereja ini tampak sepi. Seperti sudah lama ditinggalkan. Tidak dipakai lagi untuk beribadah. Mereka turun dan masuk. Pintu besar itu di dorong pelan. Saat terbuka, hanya ada altar untuk berdoa dan deretan kursi yang masih utuh. Di bagian tengah ada seseorang yang tengah berdoa, memakai penutup kepala berwarna putih. Vin dan Abi saling lempar pandang, mereka tetap waspada. Belum tentu itu Ellea. Dan bisa jadi ini jebakan. Karena Ellea ... bukan kristiani.
Vin mengisyaratkan Abi untuk masuk lebih dulu. Sementara dirinya mengeluarkan revolver Glock meyer 22 miliknya. Abi melotot, sementara Vin malah menaikkan alisnya seolah bertanya. "Kenapa?"
"Ell?" panggil Abi lantang sembari melangkah masuk ke dalam. Wanita yang tengah berdoa di sana, bergeming. Kedua tangannya ia satukan di depan dadanya, dengan kepala menunduk. Ia terlihat khusyuk berdoa. Vin terus mengamati sekitar. Waspada jika ada yang menyerang mereka tiba-tiba seperti sebelumnya. Mereka sadar kalau yang mereka hadapi gembong mafia yang cukup disegani di sini. Apa pun masalahnya, pasti itu bukan masalah sepele.
Langkah Abi sudah makin dekat dengan gadis itu. "Ell?" Lagi, Abi memanggil dengan nada bertanya. Yah, ia ragu kalau gadis yang kini memakai terusan putih dengan motif brukat di bagian atasnya bukanlah Ellea yang ia cari. Gadis itu menurunkan kedua tangannya, ia menoleh ke dua pria yang sejak tadi mengusik ibadahnya.
Saat ia membuka penutup kepalanya, wajah itu terlihat. Lutut Abimanyu mendadak lemas. Tubuhnya ingin sekali luruh ke lantai yang ia pijak. Darahnya seolah berdesir, dengan irama jantung yang berdetak tak teratur. "Ellea?!" panggil Abi, ia langsung berhambur memeluk wanita di depannya. "Astaga, Ell, kamu ke mana saja? Dari kemarin aku nyari kamu!"
Tubuh Abi justru didorong mundur, bahkan ... Plak! sebuah tamparan tepat melayang mengenai pipi kanan Abimanyu. "Heh! Jangan sembarangan, ya. Main peluk-peluk. Mau kurang ajar, ya?!" omel wanita itu dengan terus menyerocos kesal. Abi dan Vin sama-sama kebingungan, melihat Ellea justru tidak mengenali mereka.
"Ell, kamu mau ngerjain aku, ya? Nggak lucu, Ell," tukas Abimanyu dengan mata nanar.
"Ell? Maaf kalian salah orang! Saya bukan Ell yang kalian maksud." Ia lantas pergi meninggalkan dua pria yang masih dibuat bingung. Abi segera mengumpulkan lagi tenaganya yang sempat hilang tadi, karena terkejut pada apa yang ia temukan sekarang. Selanjutnya ia kembali mengejar gadis itu, dan terus membuntutinya.
"Hei! Anda tuli atau sengaja membuat saya kesal, hah?" teriak wanita itu dengan menepis tangan Abi yang terus menerus meraihnya.
"Oke. Sorry, sorry, tapi maaf, Mba siapa, ya?" kini Vin mengambil alih dengan pertanyaan yang lebih logis. Baginya mau didesak bagaimana pun wanita ini tidak mengakui kalau dirinya Ellea. Padahal mereka sangat mirip. Mereka bertiga diam. Menunggu jawaban gadis di depannya yang sepertinya ragu untuk menceritakan informasi dirinya.
"Saya ... Allea."
"Allea?!" pekik Vin dan Abi bersamaan.
________
Sebuah taman yang cukup rapi dan terawat, duduk di kursi kayu yang memang tidak begitu panjang, membuat Abi terpaksa berdiri di depan dua orang yang kini duduk di hadapannya, Vin dan Allea. Satu yang langsung terlintas sdi pikiran Abi saat mendengar nama Allea. Mereka berdua adalah saudara kembar. Tapi itu baru dugaan sementara saja. Karena Ellea sendiri tidak pernah menceritakan kalau dia punya saudara kembar. Ia adalah anak satu-satunya dari Adrian dan Ruth, yang merupakan anggota seorang pengacara dan ibunya yang bekerja menjadi staf di kedutaan Indonesia yang ada di San Fransisco. Namun, mereka akhirnya kembali ke Indonesia karena beberapa alasan yang tidak diketahui Ellea. Terlebih mereka jarang bertemu putri semata wayangnya itu, karena terlalu sibuk bekerja. Ellea yang juga memiliki kehidupan sendiri, akhirnya jauh dari orang tuanya, hingga kabar kalau ibunya sakit, membuatnya harus berkumpul dengan orang tuanya lagi.
"Saya nggak ingat apa pun. Sungguh."
"Apa?! Nggak ingat? Tapi barusan kamu bilang namamu Allea?" sergah Vin, merasa dibohongi.
"Iya, karena kalung ini. Di sini ada nama Allea," tunjuknya pada sebuah liontin dengan ukiran nama Allea di belakangnya. Ada sebuah foto dirinya di sana, dengan background hitam putih, mirip foto jaman dulu. Foto itu juga terlihat lama. Karena wajahnya yang sekarang sudah berbeda dengan yang ada di foto itu.
"Astaga!" jerit Abimanyu frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Kamu tinggal di mana?"
"Ca' Dorin apartments."
"Tunggu, ingatanmu hilang sejak kapan?"
"Sejak aku ada di sini. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa sampai di Venesia. Semua passport, kartu identitasku hilang. Aku cuma ingat kalau aku ada di Rumah sakit saat itu. Mungkin karena kecelakaan itu, aku hilang ingatan. Dokter bilang kalau aku sudah ada di Rumah sakit itu sejak seminggu lalu, tapi anehnya aku hilang ingatan seminggu setelahnya. Mereka memanggilku Allea. Dan sampai sekarang aku memakai nama itu."
Vin beranjak, menarik Abimanyu menjauh, berbisik sambil melirik gadis yang masih duduk di kursi cokelat tua itu. "Bi, tapi kemungkinan juga bisa jadi dia Ellea, kan dia hilang ingatan?!" Kalimat barusan entah mengapa menjadikan Abi juga berharap hal yang sama. Mungkin Ellea mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Tapi kalung itu ....
__ADS_1
"Ya sudah. Kita anter dia pulang saja dulu. Siapa tau ada petunjuk lain."
-Setiap harapan menjadi kekuatan sendiri bagimu. Entah itu akan sesuai keinginanmu atau sesuai kenyataan dan takdir Tuhan, hanya saja kita butuh harapan itu sendiri. Setidaknya itu alasan kita bernafas saat ini.-