
APA KAMU YANG SENGAJA DATANG? ATAU KITA YANG DIPERTEMUKAN TUHAN?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini Manda Sudah ada di Bandara Soekarno Hatta untuk bertolak ke Jepang. Dia duduk di kursi ruang tunggu sambil membuka beberapa sosial media miliknya. Tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
HAGA!
Haga : "AKU KANGEN KAMU!"
Manda hanya membacanya lalu menarik nafas panjang dan buru - buru mematikan ponselnya.
"Yuk, Tuh Kevin udah nunggu disana." tunjuk Habibi ke pintu masuk yang sudah ramai di penuhi orang- orang yang juga akan masuk ke pesawat menuju Jepang seperti mereka.
Selama kurang lebih 6 jam lamanya mereka di dalam pesawat, akhirnya pesawat pun landing di Bandar Udara Internasional Tokyo.
Manda, Kevin dan Habibi berjalan menuju pintu keluar untuk mencari jemputan yang sudah dipersiapkan Andre untuk mereka. Habibi memang tidak bekerja di Kantor Andre, Dan kedatangan Habibi bersama Manda adalah semata- mata untuk menemani Manda selama di Jepang. Amon sebentar lagi akan muncul, jadi pasti dia akan lebih intens menyuruh anak buahnya untuk mengusik Manda. Kemarin mungkin ada Abadon, besok entah siapa lagi yang akan datang.
Dari kejauhan terlihat papan nama bertuliskan "Manda dan Kevin dari Indonesia" , Mereka bertiga pun akhirnya mendekat ke pria tua yang sudah mereka kenal sebelumnya itu.
"Om John?" pekik Kevin sumringah lalu berlari kecil dan segera memeluk pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal yang tengah berdiri seorang diri bersama beberapa pria sangar berkaca mata hitam di sekitarnya.
"Gimana kabar kalian? Sehat kan?" sapa Om John lalu menatap mereka satu persatu.
"Alhamdulillah Om. Om sendiri gimana?" balas Manda sambil bersalaman dengan Om John.
"Ya beginillah. " sahut Om John sambil melebarkan kedua tangannya kesamping.
"Makin ganteng aja Om" puji Habibi lalu memeluk Om John erat.
"Halah. Kamu bisa aja, Bib. Kamu juga makin ganteng aja. Mirip Koko waktu muda." kelakar Om John diiringi tawa ringan dengan gaya nya yang khas.
"Ya iyalah,Om , mirip Pak Koko. Lah wong Bapaknya." cetus Kevin santai.
Habibi hanya cengengesan.
"Om kesini mau jemput kami?" tanya Manda lagi.
__ADS_1
"Ya iyalah. Mau jemput siapa lagi coba? Yuk, kita ke Rumah." ajak Om John lalu berjalan lebih dulu ke mobil.
"Om ... Mereka ...?" bisik Kevin sambil melirik ke orang - orang yang terus mengikuti mereka.
"Udah nggak apa - apa. Mereka orang- orang saya." jawab nya santai.
Dengan mengendarai sebuah mobil mewah, Om John yang tidak lain adalah Ayah dari Andre dengan sigap menyetir sendiri mobilnya dan membawa serta mereka berempat pulang ke Kediaman keluarga Lee yang ada di pinggir kota Tokyo.
"Welcome to my house...," ucap Om John hangat.
Rumah tradisional khas Jepang nampak dihadapan mereka saat mereka turun dari mobil.
Ada tembok pelindung rumah dengan blok beton mengelilinginya, didepan pintu ada papan nama dengan huruf kanji dan tulisan latin biasa.
"JOHNSON LEE"
Orang tua Andre memang masih keturunan Jepang. Ayah Om John,yang tidak lain kakek Andre adalah orang jepang yang menikah dengan Neneknya yang berasal dari Jawa. Kakek dan Nenek Andre dari keluarga Ibu nya juga berkewarganegaraan Jepang. Akan tetapi Tante Ayumi sudah sangat fasih berbahasa Indonesia dan lebih sering berada di Indonesia, seperti sekarang.
Saat memasuki halaman rumah ini, mereka disuguhi pemandangan taman yang penuh bunga sakura dan Ume/ Plum. Atap keramik yang luas, membuat seolah -olah berada di film -film bertema Jepang yang sering ada di Tv. Saat membuka pintu masuk ada genkan yang merupakan tempat untuk orang mengganti sepatu outdoor dengan sendal/ slipper. Teringat akan rumah di film doraemon jika melihat genkan disini.
"Tante kemana, Om?" tanya Manda bingung.
"Lagi pulang ke Indonesia. Mungkin minggu depan baru balik kesini lagi. Andre lagi ke luar kota, paling malem baru nyampe rumah. Jadi kalian santai aja dulu ya. Anggap rumah sendiri. Om tinggal dulu." Kata Om John lalu berlalu meninggalkan mereka.
Mereka bertiga masuk ke Kamar masing- masing dan beristirahat sejenak.
Beberapa menit kemudian, Manda keluar dari kamar dan berjalan keluar rumah seorang diri, tanpa sepengetahuan Kevin maupun Habibi.
Wajahnya sedikit kusut, sesaat setelah Manda sampai di Tokyo, Haga kembali mengiriminya pesan singkat.
"AKU BUTUH KAMU!"
Dan kembali Manda tidak membalasnya. Namun hatinya malah terus berkecamuk. Pikirannya terus menerawang jauh kesana, ketempat dimana Haga berada. Ia mengingat kejadian demi kejadian dan kenangan nya bersama Haga. Dadanya sesak. Ia merutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya meninggalkan Haga tanpa pamit. Terkadang sifat kekanak-kanakannya memang sering muncul dan membuatnya bersikap layaknya anak gadis yang ngambek karena mainannya hilang. Dan cara satu satunya adalah menyendiri. Itulah yang biasa dilakukannya jika pikirannya sedang kalut, hatinya tengah berkecamuk dan jika suasana hatinya memburuk.
Tapi disudut ekor matanya, Ia merasa sedang diikuti.
Jepang adalah tempat yang indah namun asing untuknya. Beberapa kali terlihat bunga sakura mekar disisi kanan dan kiri jalan yang dilalui Manda. Beruntung dia datang di saat musim semi tiba. Kata orang, musim semi memberikan energi tersendiri untuk memulai sesuatu yang baru dan merupakan musim yang paling ditunggu-tunggu. Selama beberapa saat Manda terlalu nyaman dengan hanya menikmati pemandangan bunga sakura yang baru pertama kali dilihat nya secara langsung. Setelah lelah mengitari jalanan Tokyo, perut Manda sudah mulai berdemo minta diisi. Beberapa kali dia keluar masuk resto hanya untuk mencari resto yang halal. Hingga sampailah dia di sebuah kedai ramen yang bersertifikat halal.
__ADS_1
Ia pun segera masuk, namun saat sudah di dalam resto, rupanya resto sudah cukup ramai pengunjung. Diedarkan pandangannya kesekitar mencari sebuah kursi yang masih kosong, sampailah Ia disebuah meja kosong yang ada di pojok resto. Manda pun berjalan dengan langkah yang agak dipercepat agar segera menguasai meja itu. Rasa lapar mulai benar benar menggerogoti perutnya. Saat dia hendak duduk, tiba tiba kursi yang dia pegang juga di tarik seseorang. Bahkan beberapa orang berkulit putih kini berada disekelilingnya.
"GUE DULUAN! JADI ELO MINGGIR SEKARANG!" gertak seorang pria yang tak asing baginya.
"ELO?!" pekik Manda sambil melotot menatap pria dihadapannya sekarang.
"Kenapa? Biasa aja kali reaksinya. Atau jangan - jangan Elo kangen sama Gue ya. Hayo ngaku...," canda pria itu.
"NAJIS! Cih...," seru Manda sambil seolah -olah meludah kesampingnya.
"Apa Loe bilang?" tanya pria itu lalu perlahan mendekatinya.
"Kenapa? Lagian heran Gue. Kenapa harus ketemu bajingan kayak Elo sih disini? Lagian ya Ben ... Kayaknya emang hobi Elo ngikutin Gue terus ya!" sindir Manda sinis.
"Pede banget sih jadi cewek! Ngapain juga Gue ngikutin Elo? PENTING YA?" tanya Beni dengan gaya sok nya.
"NGGAK USAH BELAGA BEGO! ELO NGIKUTIN GUE DARI TADI KAN?!" bentak Manda lalu mencengkram kerah baju Beni.
Tiba-tiba Beni menarik pinggang Manda hingga tubuhnya dengan mudah berada dipelukan Beni sekarang. Manda pun langsung mendorong Beni kuat-kuat. Namun, kekuatannya tidak mampu membuatnya terlepas dari dekapan Beni. "LEPASIN !!" teriak Manda.
Tiba- tiba ...
BUUUG!
Seseorang menarik tubuh Beni hingga Manda terlepas dari nya lalu mendaratlah bogem mentah di geraham nya.
"BRENGSEK!!" Umpat Beni dengan mulut yang berdarah- darah.
Pria tadi tidak memperdulikan Beni yang terus mengumpat. Malah berjalan mendekati Manda. Manda sampai - sampai melongo melihat pria itu.
"Kamu nggak apa- apa kan, Ai?" tanya nya lalu mengulurkan tangan membantu Manda berdiri.
"KAMU ...," seru Manda dengan tatapan bingung.
Namun Haga hanya menyungggingkan senyum sembari terus menatap Manda yang ada dihadapannya.
Ada rasa bahagia, sedih, lega, semua bercampur menjadi satu tatkala Manda melihat Haga ada dihadapannya kini.
__ADS_1