
"Bi, bangun! Ada orang di luar!" kata Vin, menggoyang-goyangkan tubuh Abimanyu. Pemuda itu lantas perlahan membuka mata dengan malas-malasan. "Apa sih, Vin?"
"Ada orang di luar!"
Mendengar kalimat itu, Abi langsung melotot, " Bangunkan yang lain!"
Vin berlari ke kamar Allea dan Ellea, sementara Abimanyu mengintip dari jendela. Ia menyibak korden dan memperhatikan pergerakan di luar. Ada sekitar 10 orang memakai pakaian serba hitam, penutup kepala, dan masker wajah. Tidak hanya itu, ada rompi anti peluru yang melindungi tubuh mereka. Mereka memakai perlindungan yang sangat aman. "Siapa, ya?" tanya Abimanyu bergumam sendiri.
"Bi! Ayok!" panggil Vin di ujung pintu, ada Ellea dan Allea juga di sana. Mereka keluar dari kamar, lantas menuju koridor yang mengarah ke pintu belakang. Saat pintu dibuka, rupanya orang-orang itu sudah mencegat mereka di semua penjuru rumah. Mereka terpojok. Tapi, seseorang berjalan mendekat, ia lantas melepaskan masker wajahnya. "Ayok! Anak buah Austin sebentar lagi ke sini, kita harus pergi sekarang juga!" ucap Ronal dan membuat mereka semua lega.
"Astaga! Gue pikir siapa!" kata Vin menekan dadanya.
"Ron? Mereka siapa?" tanya Abimanyu masih memasang tampang curiga.
"Mereka komplotan Wah Ching. Alan Cha menyuruhku menjemput kalian!" tutur Ronal, ia gelisah, terus menatap ke belakang dan sekitar. "Ayo, cepat!"
Akhirnya Abi pun menurut. Mereka segera pergi dari tempat itu, melewati rumah utama tadi, tapi anehnya ia tidak memakai jalan keluar seperti saat mereka masuk ke lukisan 3D kemarin. Dahi Ellea berkerut tapi pegangan tangan Abi membuat langkahnya tidak berhenti.
"Kita mau ke mana, Ron?" tanya Ellea setengah menjerit.
"Pergi dari sini! Ke mana lagi memangnya?" cetus Ronal yang memimpin di barisan terdepan. Abi, Vin, Ellea dan Allea berada di tengah pasukan itu. Mereka juga terus memperhatikan sekitar, waspada jika ada musuh yang mendekat. Beberapa barisan pohon tinggi sudah mereka lewati, perjalanan mereka masih belum menemukan titik akhir. Hingga Ellea meminta berhenti sejenak.
"Bentar. Aku capek," katanya dengan nafas tersengal, dan menahan tangan Abi yang sejak tadi terus menggenggam tangannya. Ellea membungkuk, membuat Abi iba melihatnya. Abi berjongkok dan menatap wajah Ellea yang penuh peluh. Pemuda itu menoleh, "Ron, istirahat bentar."
"Huh, ya sudah!"
Allea dan Vin ikut mendekat, dan mencemaskan keadaan Ellea. Gadis itu melirik ke sekitar.
"Ell, kamu nggak apa-apa, kan? Masih kuat jalan nggak?" tanya Allea, cemas.
"Ada yang aneh!" kata Ellea, berbisik. Abi dan Vin yang mendengar itu menjadi waspada dan memperhatikan sekitar mereka. Takut kalau obrolan ini didengar mereka.
"Maksud kamu?"
"Kalau Ronal itu anak buah Kakek, kenapa dia nggak lewat rumah utama saja? Kenapa harus keliling tempat ini dan membuang waktu. Padahal tempat terbuka kayak gini jauh lebih berbahaya, kan?" tanya Ellea meminta pendapat mereka.
"Mungkin orang-orang Austin menunggu di dalam rumah, jadi Ronal nggak bisa lewat rumah utama," jelas Allea mencoba menelisik jawaban dari pertanyaan yang dituturkan Ellea tadi.
__ADS_1
"Tapi, aku merasa aneh. "
"Kita harus tetap waspada," tambah Vin.
Abimanyu terus menatap dalam sorot mata Ellea yang masih diliputi kecemasan. Ia menyapu peluh di dahi Ellea, dan membuat Ellea tersenyum. "Aku nggak apa-apa. Maaf, ya."
"Sst, kenapa minta maaf? Kalau kamu nggak kuat jalan, aku gendong aja, ya," kata Abi merapikan anak rambut Ellea yang berantakan. Ellea menatap Abi dan sengaja membuat telapak tangan pemuda itu tetap berada di pipinya. Ia merasa tenang. "Nggak usah, Biyu. Aku masih kuat kok," jawab Ellea.
Vin merasakan silau di salah satu sudut yang ada di atas sebuah bangunan. Rumah-rumah di sekitar memang masih dapat mereka lihat bagian atapnya, karena bangunan di sini semuanya dibuat tinggi-tinggi. Ia menoleh dan mencari benda apa yang menyilaukan matanya di tengah gelap malam ini. Padahal beberapa jam lagi matahari akan tampak di ufuk timur. Tapi keadaan sekarang masih cukup gelap, mengakibatkan jarak pandang mereka menjadi terbatas. Ada sebuah titik di atas, Vin terkejut karena ada titik merah di bagian tubuhnya. Itu adalah sinar laser dari sebuah senjata api jarak jauh.
"Bi!" kata Vin seolah tidak mampu lagi berkutik, ia terus memperhatikan titik merah itu yang kini berpindah ke salah satu rekan Ronal. Mereka berempat yang pertama kali menyadarinya, lantas perlahan mencoba menyingkir, mencari tempat aman, dibalik pohon yang batangnya cukup besar.
"Hey! Kalian mau apa?" tanya Ronal, menunjuk mereka berempat yang berperilaku tak lazim. Perlahan Ronal menyadari kalau ada bahaya menintai mereka. Titik merah yang awalnya hanya satu, kini sekejap berubah makin banyak. Tiap tubuh yang berdiri di sana ada sekitar 5 titik merah. Ronal berteriak agar anak buahnya bersembunyi, tapi di waktu yang bersamaan, berondong peluru dilesatkan dan membuat mereka kocar kacir. Walau mereka memakai rompi anti peluru, tapi kaki, dan tangan tak bisa bebas dari hujaman peluru yang menembus hingga ke dalam tulang. Darah muncrat ke mana-mana, Abi dan Vin mengajak Allea dan Ellea pergi menghindari serangan brutal itu. "Balik ke rumah saja!" kata Vin.
Saat mereka berlari kembali ke rumah, Ellea malah menarik tangan Abi dan membuat mereka berbelok ke rumah utama Allea. Vin dan Allea mengekor, di saat seperti ini mereka tidak boleh berpencar. Masuk ke koridor gelap, lagi. Nafas mereka tak beraturan, tapi setidaknya mereka masih aman sejauh ini. Sampai di ujung koridor, mereka berhenti sejenak. Mencoba menajamkan pendengaran, apakah di luar aman atau sebaliknya.
"Kayaknya aman," kata Vin. Abi mengangguk menyetujui pendapatnya. Saat mereka keluar, jantung mereka seakan berhenti berdetak. Mereka dikelilingi orang-orang dengan masing-masing memegang senjata.
"Kata kunci!" ucap salah seorang dari mereka menggunakan bahasa Spanyol.
"Nosotros somos una familia." Mendengar kalimat tersebut terucap dari mulut gadis itu, pistol diturunkan dari kepala Allea.
"Come'on!" katanya lalu berjalan lebih dulu dan meminta mereka mengikutinya.
Mereka keluar dari rumah itu, dikawal orang-orang bersenjata lengkap menuju sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan utama. Mereka menyadari kalau mobil ini sejak kemarin sudah ada di sini, dan kini mereka tau siapa pemiliknya. Mereka masuk dan kini di bawa pergi.
"All, kita mau di bawa ke mana?" bisik Ellea dengan pertanyaan yang sangat wajar terucap di suasana genting ini. Mereka di bawa orang asing, dan entah akan ke mana mereka pergi. Sementara mereka juga tidak tau siapa orang-orang yang membawa mereka sekarang. Apakah kawan atau malah lawan.
"Kamu tadi bilang apa, All?" kini Vin dibuat penasaran atas kalimat yang diucapkan Allea beberapa waktu lalu dengan bahasa Spanyol. Allea mendekatkan tubuhnya kepada mereka bertiga. "Itu kalimat yang dulu orang-orang ucapkan saat akan masuk ke rumah kami. Kakek selalu membuat kata kunci dan hanya orang-orangnya saja yang bisa menjawab, jadi kalau ada penyusup, mereka bakal langsung ketahuan."
"Apa mereka orang-orang kakek?" tanya Ellea.
"Mungkin."
"Tapi Ronal ... tadi?" tanya Vin dengan tangan menunjuk tempat tadi.
"Entahlah. Kita nggak bisa sembarangan percaya sama orang lain. Walau penjelasan Ronal masuk akal, tapi belum tentu dia benar-benar ada di pihak kakek, kan?" jelas Allea. Dan kalimat itu masuk akal sekarang.
__ADS_1
"Kita lihat saja, mau dibawa ke mana kita sekarang."
Perjalanan terasa agak lama, karena kini fajar sudah mulai terlihat di langit. Sinar matahari pagi membuat pikiran mereka tenang. Semua diam dengan pikiran masing-masing. Ellea melingkarkan tangannya ke lengan Abimanyu, bersandar di bahu pemuda itu, menatap pemandangan di jendela samping Abi. Diam tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka.
Di kursi belakang, Vin dan Allea sama-sama menatap sisi yang sama, Allea bersandar di lengan Vin walau tak memeluk pemuda itu sama seperti Ellea. Mereka mulai memasuki sebuah jalanan panjang dengan sebuah tempat yang dikelilingi tembok tinggi dan tebal. Kawat tajam ada di atas tembok membuat tempat itu sulit untuk dimasuki.
Pintu gerbang dibuka, menampilkan halaman yang cukup luas, dengan hamparan rumput hijau yang tertata rapi. Sebuah bangunan besar ada di tengahnya. Di sini, banyak sekali penjaga yang tersebar di seluruh titik. Mesin mobil dimatikan, sopir dan orang yang duduk di depan turun. Pintu samping penumpang juga dibuka dari luar. Dua orang berpenampilan sama seperti yang lain, menunduk saat mereka berempat keluar dari mobil. Tangannya mempersilahkan mereka untuk segera masuk ke dalam.
Seseorang muncul dari dalam, seorang wanita paruh baya yang sangat Allea kenal. Mata Allea berbinar saat melihat wanita itu di depan sana. "Bibi Darci!" pekiknya lalu segera berlari mendekatinya. Mereka berpelukan seperti seorang anak yang baru pulang merantau jauh dan kini rindu dengan ibunya. Allea memang menganggap Bibi Darci seperti ibunya sendiri. Darci yang sudah merawat Allea sejak kecil, juga menganggap anak perempuan ini adalah anaknya. Kasih sayangnya yang tulus, membuat Alan terus memperkerjakannya untuk merawat sang cucu. "Kakek mana?" tanya Allea.
"Di dalam," sahut Darci dengan seulas senyum, ia beralih menatap tiga orang di belakang Allea yang perlahan mendekat walau dengan langkah yang ragu. Allea yang sadar atas tatapan Bibinya, lantas berbisik," Itu Ellea, saudara kembarku," katanya.
Darci menatap gadis kecilnya yang kini sudah dewasa, "Akhirnya kalian bertemu juga."
____________
Masuk ke dalam, sudah bebas dari para penjaga. Sepertinya penjaga memang hanya ada di luar rumah. Ruangan ini besar, bahkan lebih besar dari rumah Allea tadi. Beberapa pajangan yang terlihat mahal memang menunjukkan kalau pemiliknya adalah orang kaya. Foto yang sama, juga ada di sini. Dan sebuah foto Alan Cha yang ditempel di tembok dengan ukuran paling besar dari foto dan lukisan lainnya. "Itu kakek!" tunjuk Allea mencoba memperkenalkan pada Ellea.
Ellea tersenyum tipis, menatap wajah seorang pria yang akan ia panggil kakek, sama seperti Allea. Suara langkah kaki terdengar dari dalam. Semua orang menatap arah datangnya suara itu. "Itu kakek," kata Darci menatap ke sebuah sudut dengan korden yang menutupinya separuh.
Wajah yang baru saja mereka lihat di lukisan dan foto rumah ini, kini muncul secara nyata di depan mereka. Sosok Alan Cha yang ternyata kakek dari Ellea dan Allea sekarang ada di depan mereka. Allea tersenyum lebar, ia lantas berhambur memeluk pria itu dengan tongkat di tangannya.
"Kakek ke mana saja? Kenapa kakek nggak datang tolong Allea?" rajuk gadis itu dengan bibir yang mengerucut.
Alan hanya tersenyum melihat tingkah cucunya. Mengelus pucuk kepalanya dan menatap ke gadis lain dengan wajah yang sama dengan Allea. "Ellea?" panggil Alan dengan pertanyaan yang ingin diyakinkan oleh pemilik nama yang ia sebutkan. Allea melepas pelukan ke kakeknya, berlari kecil ke Ellea dan menariknya mendekat. "Kek, ini Ellea."
Mata Alan berkaca-kaca, ia terlihat berusaha keras menahan air matanya. Rasanya rindu, rasa bersalah membuat Alan tidak bisa berkutik saat melihat cucunya yang lain. Wajahnya sama seperti Allea, tapi dia berbeda. Mereka memiliki daya tarik yang berbeda. Dan itu sangat Alan sadari. Ia melebarkan kedua tangannya, memberikan ruang lebar untuk Ellea memeluknya. Tanpa disuruh lagi, Ellea langsung memeluk Alan tanpa malu dan ragu lagi. Tangis mereka pecah, tak hanya mereka berdua. Allea ikut larut dalam kesedihan ini. Alan membuka satu tangannya dan menyambut cucunya yang satu lagi untuk bisa bergabung dengannya. Mereka bertiga akhirnya berkumpul lagi. Vin dan Abimanyu menoleh ke arah lain, karena rasanya pemandangan di depan mereka akan membuat air mata mereka ikut meronta keluar. Sementara Darci sudah berkali-kali menyapu air mata yang sudah jatuh bebas sejak beberapa saat lalu. Ia lega kalau Ellea kini sudah ada bersama mereka.
_________
Meja makan sudah penuh dengan banyak makanan, mereka akan sarapan bersama. Suara tawa mulai menggema di seluruh ruangan. Alan terus melebarkan bibirnya sambil mendengarkan cerita mereka satu persatu. Walau ia sudah tau banyak tentang Ellea, Abi, maupun Vin, tapi ia tetap suka mendengar mereka menceritakan itu berulang kali. Alan terus menempatkan anak buahnya di dekat Ellea sekalipun ia tidak ada di samping cucunya itu. Alan selalu mendapat informasi tentang semua kegiatan Ellea. Bahkan ia tau kalau Abi dan cucunya sudah lama menjalin kasih. Tapi sejak kematian Adrian, komunikasinya dengan orang-orang suruhannya putus. Austin benar-benar bertindak dengan cepat dan membuatnya kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Adrian dan Ruth adalah salah satu anak buahnya yang paling ia percaya, saat kejadian penyerangan Austin beberapa tahun lalu, Alan sengaja menyuruh Adrian membawa Ellea pergi. Karena keadaan di rumah yang tidak kondusif. Ia mengirim Adrian jauh-jauh ke Indonesia, sekaligus mengurus bisnisnya di sana. Yah, bisnis gelap. Dan Ellea memang tidak tau apa pekerjaan Ayahnya, Adrian. Yang ia tau, Adrian adalah seorang pengusaha yang cukup sibuk.
"Lalu Ronal?" tanya Abimanyu, mengingat kejadian tadi.
Alan menarik nafas dalam-dalam. "Dia awalnya adalah anak buahku, orang kepercayaanku. Aku menyuruhnya membawa Ellea dan Allea kembali ke sini, tapi ternyata dia berkomplot dengan Austin dan berkhianat."
Yah, memang benar. Jangan sembarangan menaruh kepercayaan pada orang lain, karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang labil, sekarang dia bisa menjadi orang terdekat yang kita percaya, tapi suatu saat nanti, mereka akan dengan perlahan menusuk kita dalam-dalam.
__ADS_1