pancasona

pancasona
Part 21 Pertandingan basket


__ADS_3

"Pagi, sayang," sapa Kak Rayi yang kini sudah tiba di depan pintu rumahku. Kebiasaan kami akan kembali berlanjut seperti dulu. Sebelum dia terkena sihir dari Sabrina kemarin.


"Pagi. Udah sarapan belum?" tanyaku sambil memeriksa isi tas. Semalam aku terlalu lelah untuk membereskan buku-buku yang harus dibawa hari ini, sehingga pagi ini aku cukup sibuk dari biasanya.


"Udah kok. Kamu udah sarapan belum?"


"Udah, kak. Yuk, berangkat." Aku menutup tas, setelah memastikan semua sudah berada di dalamnya. Lalu menggandeng Kak Rayi menuju tempat motor nya di parkir.


Pagi ini suasana hatiku sangat baik. Tentu karena hubunganku dengan Kak Rayi sudah kembali seperti semula. Aku lega, karena ternyata dibalik sikap labilnya kemarin, itu hanya lah pengaruh ilmu hitam saja. Perasaan Kak Rayi masih sama seperti dulu. Dia masih menyayangiku tanpa berkurang sedikit pun. Pelukanku makin erat, motor melaju cukup kencang menuju sekolah. Tidak banyak hal yang kami bahas di perjalanan ke sekolah kali ini, karena semua sudah cukup kami obrolkan semalam. Lagi pula kami sedang terburu-buru agar tidak terlambat.


Motor masuk ke gerbang sekolah tepat saat bel masuk berdering. Beberapa pasang mata menatap kami diikuti bisik-bisik yang membuat aku sedikit tidak nyaman. Setelah memarkirkan motornya, Kak Rayi menggandeng tanganku berjalan ke arah kelas.


"Wah, Yi, balikan?" tanya salah seorang teman sekelas Kak Rayi.


"Bawel!" sahut Kak Rayi enteng. Tetap menggandengku terus berjalan. Tiba-tiba Sabrina berteriak memanggil Kak Rayi, otomatis kami berdua berhenti dan menoleh ke arah wanita itu yang kini sedang berlari mendekat. Dia berdiri di depan kami, menatapku penuh benci seolah ini menerkam ku saja.


"Apa?!" tanya Kak Rayi, dingin.


"Yi, kok kamu gitu jawabnya ... Aku tunggu kamu jemput tadi, aku telepon hand phone kamu, nggak aktif," rengeknya manja. Tangannya berusaha meraih tangan Kak Rayi, namun selalu ditepis bahkan terlihat sangat kasar. Sementara genggaman tangan Kak Rayi padaku justru makin erat. "Rayi ...."


"Brin, muka lu kenapa? Kok aneh begitu? Belum mandi?" tanya Kak Rayi sambil memperhatikan wajah Sabrina lekat-lekat. Sabrina lantas memegangi wajahnya dan sedikit menunduk.


"Kenapa? Mau ngaca? Ini," kataku sambil mengambil sebuah cermin dari dalam tas. Sabrina merebut cermin milikku dengan cepat, dia lantas memandangi wajahnya sendiri lekat-lekat. Ekspresinya sama seperti saat Kak Rayi melihatnya. Dia juga sama terkejutnya.


"Mukaku kenapa sih? Perasaan tadi baik-baik saja," rengeknya.


Wajah Sabrina tampak pucat, kusam, bahkan di pipi sebelah kanan terdapat kulit bekas terbakar.


"Kamu pernah kecelakaan?" tanyaku. Dia menoleh padaku cepat, "Dari mana kamu tau?"

__ADS_1


"Tuh, luka kamu masih kelihatan."


Sabrina terus menutupi kedua pipinya, lalu segera pergi dari hadapan kami. Kata Om Gio, pelaku yang melakukan sihir pada Kak Rayi, akan menunjukkan wujud aslinya saat bertemu dengan korbannya, yaitu Kak Rayi. Semua akhirnya terjawab sudah, dan terbukti, kalau ternyata memang Sabrina melakukan sihir pada Kak Rayi selama ini. Wajahnya buruk, aku tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya. Kenapa wajah cantiknya justru berubah sedemikian rupa, sehingga tidak tampak menarik lagi.


_____________


Sepulang sekolah aku dan Kak Rayi berniat menonton lomba basket antar sekolah di GOR yang berada tak jauh dari sekolah kami. Di sana ada Kak Roger yang menjadi salah satu pemain terbaik sekolah. Dia telah melewati berbagai ujian dan berakhir menjadi 6 besar pemain terbaik basket sekolah. Sementara Kak Bintang justru tidak terlihat sejak pulang sekolah tadi. Bahkan Kak Roger juga tidak tau dia ke mana.


Stadion terlihat ramai. Kursi terlihat penuh namun dibagi menjadi dua kubu. Kubu sekolah kami dan kubu sekolah sebelah. Beberapa atribut supporter sudah disiapkan, dari balon yang berbentuk huruf yang disatukan menjadi nama sekolah kami, terompet, bahkan terompet lidah yang akan menjulur saat ditiup tanpa menimbulkan bunyi yang kencang.


Pertandingan dimulai. Semua orang terus mendukung kubu masing-masing. Aku tak henti-hentinya meneriakkan nama Kak Roger dengan lantang jika bola basket berada di tangannya, dan bersorak sambil melompat-lompat di tempatku duduk. Kak Rayi ikut memberi semangat, namun tidak se-heboh diriku.


Pada menit terakhir, Kak Roger berhasil mencetak angka kemenangan bagi sekolah kami. Akhirnya, sekolah kami akan melanjutkan ke babak selanjutnya, yang akan diadakan satu minggu lagi.


Kak Roger dan team masih dalam suasana euforia di pinggir lapangan basket. Aku dan Kak Rayi hanya menatapnya bangga dari tempat kami duduk. Hingga setelah keadaan mulai sepi, Kak Roger bergabung bersama kami, dan akan pulang bersama-sama.


[Kalian di mana?] Sebuah pesan masuk ke ponselku, dan itu berasal dari nomor Kak Bintang.


"Kak, kata Kak Bintang, dia mau nyusulin ke sini."


"Oh ya udah, kita tungguin. Elu ganti baju gih!" cetus Kak Rayi menunjuk Kak Roger.


"Gini aja, ah, Yi. Males gue ganti bajunya lagi. Lagi pula cuma ada baju seragam, besok dipakai lagi, sayang kalau kotor."


"Dih, jorok!"


Aku paham kenapa Kak Rayi menyuruh Kak Roger ganti pakaian, karena keringatnya sangat banyak, dan baju basketnya hampir basah semuanya.


Kami duduk di taman yang masih berada di lingkungan GOR. Menunggu Kak Bintang. Akhirnya dia muncul juga. Kak Roger melambaikan tangannya, mengisyaratkan keberadaan kami.

__ADS_1


"Yah, udah kelar, elu malah baru dateng!" sindir Kak Roger.


"Sorry ... Gue ada urusan." Kak Bintang lantas duduk di antara aku dan Kak Rayi.


"Ini apa sih!" omel Kak Rayi.


"Gaes, tau nggak gue habis dari mana?" tanya Kak Bintang memberikan teka teki.


"Mana gue tau!"


"Gini, Sabrina! Tadi dia telepon gue pas pulang sekolah, kan. Akhirnya buru-buru gue ke rumahnya. Gila, bener apa yang kalian bilang tentang dia."


"Maksudnya?"


"Muka Sabrina berubah drastis! Nggak sangka gue. Kalian udah lihat, kan?" tanya Kak Bintang padaku dan Kak Rayi. Kami berdua tentu mengangguk. Sementara Kak Roger makin penasaran, karena belum tau masalah apa yang sedang terjadi.


Akhirnya kami menjelaskan padanya, tentang apa yang terjadi pada Kak Rayi semalam. Sementara Kak Bintang, memang sudah tau, karena semalam dia menelpon ponsel Kak Rayi, terpaksa aku mengangkatnya, dan dia tau semuanya.


"Jadi, kata Mama nya Sabrina, dia pernah kecelakaan beberapa tahun lalu, wajahnya rusak parah. Akhirnya dia operasi plastik, tapi, sialnya, dia kena malpraktek. Wajahnya nggak bisa balik semula."


"Loh, nggak bisa ganti dokter?"


"Bisa. Tapi orang tua Sabrina nggak punya uang lagi."


"Jadi karena itu, dia main dukun?" tukas Kak Roger blak-blakan.


"Terus keadaan dia gimana, Kak?"


"Hm, dia di rumah sakit sekarang, Bil. Dia stres. Kasihan."

__ADS_1


"Besok kita jenguk dia, ya," pintaku menatap mereka bertiga bergantian.


"Nggak salah lu?"


__ADS_2