pancasona

pancasona
Part 60 Penyergapan


__ADS_3

Bau nasi goreng tercium di hidung Abimanyu. Ia mengerjap. Matanya sedikit terganggu oleh pantulan cahaya di dekatnya. Korden jendela sampingnya tersingkap sedikit karena satu jendela sudah dibuka, dan tentu semilir angin mulai masuk ke dalam. Hawa pagi ini terasa sejuk dan dingin. Membuat Abi merapatkan selimut yang menempel di atas tubuhnya. Menikmati pagi yang cukup nyaman untuk dilewatkan. Namun baru beberapa saat ia hendak kembali ke alam mimpi, Abi langsung duduk dan segera menatap jam dipergelangan tangannya.


"Ah, sial! Untung belum terlambat, "gumamnya lalu beranjak. Masih ada waktu 30 menit lagi untuk sampai cafe.


"Hai ... pagi," sapa Ellea yang masih menggunakan Appron sambil menuangkan nasi goreng yang uapnya masih mengepul ke dalam dua piring lebar yang diberi tambahan timun dan tomat di atasnya.


"Pagi." Abimanyu segera masuk ke kamar mandi yang letaknya dekat dapur. Ia membasuh wajahnya agar terlihat segar. Apartment Ellea tidak terlalu besar. Tapi fasilitasnya lengkap. Saat pintu dibuka, ada koridor sepanjang 2 meter yang diberi rak sepatu, stand hanger untuk meletakan jaket, dan gadis itu memberikan sedikit pajangan bunga juga foto-foto pemandangan. Masuk lebih dalam, disebelah kiri langsung terdapat mini kitchen dengan peralatan masak yang komplit. Ada kamar mandi di dekatnya. Di samping dapur ada ruang santai. Tv layar datar tertempel kokoh di tengah. Sofa panjang dan sebuah nakas di sampingnya. Di sebelah kanan tentu kamar Ellea. Memang hanya ada 1 kamar di apartment ini. Hanya saja cukup luas karena ada kamar mandi di dalamnya. Dekat ruang santai ada gudang yang memang dipakai Ellea untuk menyimpang barang-barang Yang tidak terpakai. Lalu balkon Yang menjadi favorit gadis itu, kala sendiri.


"Loh kamu mau ke mana?" tanya Ellea yang melihat Abi sudah bersiap akan pergi. Abi yang sedang memakai jaket menoleh. "Aku harus ke cafe."


"Setidaknya makan dulu sarapanmu. Aku sudah memasak pagi-pagi sekali." Ada gurat kecewa di wajah gadis itu. Abi menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Ada dua piring nasi goreng dan dua gelas susu. "Hm. Baiklah."


Mereka sarapan bersama. Dan Abimanyu benar-benar melakukannya dengan cara cepat. "Hati-hati. Nanti tersedak."


Dalam 5 menit nasi goreng dan susu sudah Abi habiskan. "Terima kasih. Aku pergi dulu."


"Hey! Kau ini ...." Ellea yang hendak protes langsung terdiam namun terus mengumpat kesal.


Ia berencana ingin pergi bersama Abi ke cafe. Tapi pria itu malah pergi meninggalkannya lebih dulu. Dan sarapan Ellea juga belum ia sentuh sedikitpun. Terpaksa pagi ini ia sarapan sendirian, lagi.


____


Abimanyu berlari menuju cafe. Beruntung jarak apartmen Ellea ke cafe tidak begitu jauh. Walau berkali-kali ia juga menunggu bus kota yang mungkin lewat agar bisa mengantarnya lebih cepat. Namun nyatanya ia sudah sampai cafe hanya dengan bantuan kedua kakinya sendiri. Keningnya basah oleh keringat. Bahkan pakaiannya sedikit lembab.


"Astaga, Abi. Kau pasti baru bangun. Dan ... ugh. Pasti kau belum mandi. Menjijikan," sindir Alicia yang sebenarnya dilebih-lebihkan. "Lekas mandi, anak muda. Pelanggan akan risih melihatmu dengan keadaan seperti itu."


"Baiklah. Kau sungguh cerewet." Abi langsung masuk ke ruang karyawan, menuju loker miliknya. Seragam berwarna hitam tergantung di sana. Ia segera mandi. Agar Alicia  berhenti mengomentari bau badannya.


Keadaan cafe mulai ramai. Kursi dan meja yang sudah dibersihkan mulai terisi beberapa pelanggan yang memang menjadi langganan di tempat ini. Cafe ini memberikan menu sarapan pagi yang menggugah selera dan kopi di tempat ini juga Yang terbaik. Walau Pak Jack sudah tidak lagi bekerja sebagai barista di sini, tapi ternyata kopi buatan Abimanyu juga tak kalah enak. Wajar saja, karena Abi juga pernah menjadi barista sebelumnya di cafe milik ayahnya. Dan semua pelanggan di sana kini sangat merindukan kopi buatannya.


Ellea muncul dari pintu dan langsung mencari di mana Abi berada. "Seperti biasa," pintanya pada pria yang kini tengah membuat americano untuk salah seorang pelanggan. Abi hanya melirik gadis itu dan tetap melakukan ritual membuat kopi. Ellea duduk di tempat biasa. Laptop dibuka dan segera dinyalakan. Netra Abi terus mendarat pada gadis itu. Ellea tidak mudah ditebak. Terkadang dia bersikap manja, terkadang dingin. Begitulah wanita. Memusingkan.


Kali ini, kopi dan pancake diantar oleh Alicia. Karena antrean kopi lain sudah menunggu Abi untuk segera meraciknya. Sesekali Ellea melirik ke arah pria berbaju hitam yang juga sedang menatapnya. Alicia menatap keduanya lalu tersenyum. "Kopimu, Ell."


"Thanks, Al."


Alicia segera meninggalkan meja Ellea sambil senyum-senyum. Sepertinya Alicia sangat pintar dalam menebak situasi. Pintu cafe terbuka kasar. Gio masuk diikuti Elang. Tentu saja mereka sedang mencari Abimanyu.


"Hei, kau tidak pulang semalam. Ke mana saja, bodoh?!" tanya Gio, khawatir bercampur kesal. Abi yang memang memiliki wajah datar, hanya menanggapi pamannya dingin. "Aku menginap di rumah kawan." Secangkir black coffe siap. Ia segera mengantarnya pada seorang pria yang duduk di sudut cafe yang tengah membaca koran.


"Bi, buatkan aku secangkir americano. Tanpa gula," ucap Elang yang duduk di depan meja bar yang memang disediakan  5 buah kursi. Gio masih menatap Abi dengan kesal. Sementara Elang justru bersikap santai.


"Ke mana paman Adi?"


"Dia sedang bepergian keluar kota," sahut Elang menatap keadaan cafe. Atmosfer pekerja sibuk di pagi hari mulai terasa. Sementara dirinya memang sengaja tidak pergi ke kantor pagi ini. Semua pekerjaan ia serahkan pada sekretarisnya. Mood nya sedang tidak baik. Bahkan rambutnya yang biasa mengkilap dan rapi karena gel buatan C.D. murray itu kini dibiarkan tergerai begitu saja tertiup angin.


"Kau kenapa, paman?" tanya Abi yang dapat melihat gelisah di hati Elang.


Elang menatap Abi lalu mengacak asal rambutnya. Tepat saat americano untuknya sudah tersedia di hadapannya. Jemari Elang mulai bermain di pinggir cangkir yang memperlihatkan uap panas kopi. "Entahlah. Aku hanya merasa lelah." Ia menghirup aroma kopi yang cukup segar dan menenangkan. Elang merupakan pecinta kopi. Cocok dengan Abi sebagai pembuat kopi.


"Dia sedang patah hati. Kekasihnya pergi meninggalkannya," kelakar Gio yang diakhiri tawa yang penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Diam, kau, brengsek!"


Hal itu mampu membuat dua sudut bibir Abi tertarik ke samping.


"Ah iya, Paman. Semalam ... aku menghabisi seorang Kalla," cetus Abi, mendekatkan tubuhnya pada kedua pria itu. Perkataan Abi mampu membuat netra Elang terfokus padanya, dan Gio melotot tak percaya.


"Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang kau lakukan semalam?" Gio makin menuntut penjelasan Abi. Bagaimana pun juga, keselamatan Abi adalah tanggung jawab dirinya.


"Kemarin, gadis itu," tunjuk Abi pada Ellea yang sibuk mengetik."Datang dengan seorang pria, yang ternyata Kalla. Saat aku hendak pulang, dia memesan kopi dan aku disuruh mengantar ke tempat tinggalnya. Rupanya salah satu tetangganya berpacaran dengan Kalla. Dan ... aku berhasil membakarnya di apartmentnya."


"Kau gila! Bahkan kau tidak punya kalung batu saphire, dan ... kau membunuh Kalla begitu saja?!" Gio kali ini hampir frustasi karena kelakuan Abimanyu.


Memang menghabisi Kalla tanpa batu saphire bukan ide bagus. Jika ada manusia yang melihat hal itu pasti dia akan dirudung ketakutan. Dan akan mudah diketahui Kalla. Tentunya ia akan menjadi korban kebrutalan makhluk keji itu.


"Apakah ada saksi?"


Abi menarik nafas panjang dan sedikit cemas. "Yah, wanita itu melihatnya. Dan juga wanita yang tinggal di sebelah apartmentnya. Kekasih Kalla yang kubunuh."


"Kalau begitu nanti kita harus bertemu mereka. Kita hapus ingatan mereka."


"Memangnya bisa?" tanya Gio yang terkejut sama seperti Abi.


"Tentu saja. Kalung ini tidak hanya bisa menghentikan waktu, tapi menghilangkan sebagian memori seseorang."


"Hei-Elang, apakah kau tidak memiliki kalung seperti itu lagi untuk kami?"


"Tentu saja ada." Elang meletakan dua kalung di meja, yang memang sengaja ia bawa untuk mereka berdua. Gio segera meraihnya dengan mata berbinar. Ia menatap benda berwarna biru itu dengan terkesima. "Kampungan," sindir Elang, meneguk kopi yang ia pesan tadi. Gio tak menanggapi perkataan Elang dan segera memakai kalung miliknya dengan bangga.


Abimanyu mengambil benda itu. Menggenggam dan terus menatapnya. Ia terkesima. Kalung itu adalah benda ajaib pertama yang pernah ia lihat. Saat Adi menancapkan kalungnya dan waktu terhenti, Abimanyu sadar jika saat itulah ia benar-benar masuk dalam kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan seperti ayahnya. Sejak kecil ia selalu merasa dirinya adalah manusia aneh. Ia mampu menyembuhkan diri jika terluka. Ia selalu merasa menjadi satu-satunya orang aneh di desa.


Sampai pada akhirnya Arya menceritakan kisahnya. Seolah terlihat seperti seorang anak kecil yang mendapat cerita dongeng dari ayahnya. Hanya saja itu bukan dongeng belaka, tetapi hal yang benar-benar dialami oleh ayahnya. Anak sekecil itu, harus mencerna tiap kata dari sang Arya tentang masa lalunya. Beruntung Abimanyu adalah tipikal anak yang cerdas. Ia segera mengerti dan mulai menerima dirinya sendiri sebagai salah satu manusia yang normal. Ia beranggapan jika apa yang ia punya adalah sebuah karunia dari tuhan.


Karena ia tidak perlu takut lagi terjatuh, berdarah, ataupun patah tulang. Walau rasa sakit itu tetap terasa, tapi ia pasti akan segera lekas sembuh seperti sedia kala. Tentunya sang ibu tidak akan cemas.


"Paman ... Apakah kau tau sekalipun Ayahku sudah melebur ilmu pancasona, tapi ia masih kebal terhadap apa pun?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Dan hal itu membuat Elang mengerutkan dahi. "Tentu saja aku tau."


"Jadi ... bagaimana ayah dan ibu meninggal? Apakah Kalla mengetahui kemampuan ayah? Sehingga mereka mampu membuat ayah tewas?"


Elang nampak berfikir sejenak. Ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana cara Arya mati.


"Mereka berhasil mendapatkan ibumu terlebih dahulu, membuat ayahmu tak berdaya dengan menjadikan ibumu sebagai sandera. Saat Ayahmu lengah, salah satu dari mereka memenggal kepala Arya. Dan membakarnya di depan ibumu. Setelah itu ... mereka membunuh ibumu." Elang menceritakan semua hal yang ia tau, tanpa menatap Abimanyu.


Itu adalah sebuah tragedi kehilangan yang amat sangat bagi mereka. Arya dan Nayla yang benar-benar mereka sayangi, telah meninggal dengan cara tragis. Arya adalah orang pertama yang mengetahui keberadaan Kalla. Tentunya itu adalah hal buruk yang terjadi di keluarga mereka. Kalla mulai menganggu dan berniat membinasakan Arya dan seluruh keluarganya karena merasakan ancaman besar menanti ras mereka. Begitulah Kalla. Jika ada manusia yang mengetahui keberadaan mereka maka Kalla tidak akan membiarkan hal itu begitu saja. Bahkan Elang dan Adi hampir setiap hari berurusan dengan para makhluk itu.


Maka dari itu, keselamatan Ellea dan Shanum memang perlu diperketat. Sekalipun Kalla mati, tapi setiap kematian makhluk itu akan diketahui kawanannya yang lain. Seolah memberikan sinyal, bagaimana cara mereka mati, siapa pembunuhnya, dan siapa saja yang mengetahuinya.


____


[Fredi ada di sini]


Sebuah pesan singkat masuk ke gawai Abimanyu. Ia yang sedang membersihkan meja bar segera pamit pada Alicia. Sebelumnya Abi sudah mengirim pesan juga pada para pamannya, dan tentu mengirim lokasi rumah Ellea.

__ADS_1


Abi berlari menuju kediaman Ellea. Sampai di depan apartment, ia bertemu Shanum. "Kenapa kau?" tanya gadis yang sedang membawa satu plastik belanjaan dari supermarket.


"Aku harus bertemu Ellea."


"Hei... Tunggu," cegah Shanum yang segera menarik ujung baju Abi.


"Apa lagi?" tanya Abi jengah. Ia memang sangat terburu-buru sekarang. 


"Aku  ... Melihat mereka. "


"Siapa maksudmu? " tanya Abi, antusias.


"Baru saja masuk ke dalam. Mereka tidak sendirian."


Abi nampak berfikir sejenak. Sebuah mobil berhenti di trotoar jalan. Abi hafal betul, siapa pemiliknya. Elang, Gio, dan Adi turun. Mereka datang tepat waktu. "Bi! Bagaimana? "tanya Elang, melepas kacamata hitamnya, saat sudah dekat dekat Abi dan Shanum.


"Kalla sedang ada di atas," ujar Abimanyu, serius.


"Hei... Berhati-hatilah dalam berkata, " sindir Adi melirik ke samping Abimanyu.


"Tidak apa-apa, paman. Dia bisa melihat mereka. Dia wanita yang kuceritakan tadi."


"Wanita apa?" tanya Adi yang memang tidak tahu menahu atas cerita itu.


"Ya sudah. Lebih baik, kita bergerak cepat," suruh Elang, masuk terlebih dahulu. Abimanyu menyusul diikuti Adi. "Tapi bagaimana dengan dia?" tanya Gio menunjuk Shanum yang masih diam di tempatnya berdiri.


Elang menoleh, "ya sudah. Ayok ikut."


Mereka mulai menyusuri koridor mencari keberadaan Kalla. Adi memperhatian tiap kamar. Menajamkan pendengarannya untuk mengetahui suara mereka. "Hei... Bukan, kah, mereka ada di kamar Ellea?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Shanum.


Semua saling pandang. Seolah baru tersadar atas kebodohan yang mereka ciptakan sendiri. "Dasar bodoh! " umpat Gio, memukul kepala Adi. Orang yang dipukul hanya mengelus kepalanya sambil memasang wajah bodoh. "Hei... Mana aku tau? Bukannya kalian yang tau cerita itu? "


Di saat itulah Abi segera berlari ke tempat Ellea. Ia menekan tombol lift dengan tergesa-gesa. "Abi! Tunggu! " jerit Elang yang kini berhasil menyusulnya. Sebelum lift tertutup sempurna, Gio, Shanum, dan Adi berhasil masuk ke dalam.


Mereka mulai berjalan cepat ke kamar Ellea. Sampai di depan pintu kamarnya, Adi menajamkan pendengarannya. Ia menempelkan telinga di pintu. "Abi, kau mencium sesuatu? " Elang bertanya.


Abimanyu mengangguk yakin. Tatapannya serius penuh kecemasan. "Lalu... Bagaimana kita masuk. Jangan-jangan mereka sudah berbuat sesuatu pada Ellea? " Kekhawatiran Shanum memang beralasan.


Tiba-tiba Gio menendang pintu itu hingga roboh. Semua orang melongo. "Bagus, kawan," cetus Adi, menepuk bahu Gio yang masih berusaha menetralkan nafasnya setelah aksinya barusan. Elang dan Abimanyu masuk terlebih dahulu. Diikuti Shanum yang sebenarnya ketakutan. Ia masih, trauma dengan kejadian kemarin. Tetapi rasanya berada di sekitar kawanan ini membuatnya aman. Gio melirik ke kanan dan kiri, lalu menepuk baju dan celananya, seolah-olah banyak debu yang menempel ditubuhnya.


Kamar Ellea gelap. Semua korden tertutup rapat. Langkah mereka lamban agar dapat mendengar suara sekecil apa pun.


Kraaak!


Kaki Shanum menginjak vas bunga. Saat mereka melihat ke bawah, rupanya barang-barang Ellea berserakan di lantai. Mereka menajamkan netra masing-masing. Mencari keberadaan Ellea.


Kini suara koin terjatuh, terdengar nyari di suasana yang sangat hening ini. Koin itu menggelinding dan berhenti saat menabrak kaki Gio. Mereka menatap arah datangnya benda pipih itu. Tapi Abimanyu justru menatap ruangan lain. Kamar Ellea. Elang paham jika di ruangan ini ada banyak Kalla yang bersembunyi. Suara dengusan Dan nafas makhluk itu terdengar berisik di telinga Ellang. Ia memberikan isyarat agar mereka berpencar. Abi menepuk bahu Shanum dan menyuruhnya ikut Elang. Abi yakin kalau Elang lebih bisa menjaga gadis itu timbang yang lain. Karena kemampuan Elang yang lebih baik daripada yang lain.


Kini semua orang sudah berada di tiap pintu ruangan ini. Abi ada di depan pintu kamar Ellea, Elang di depan pintu gudang, Adi di jendela balkon, sementara Gio ada di pintu kamar mandi, dekat dapur. Elang memberikan isyarat agarmereka membuka secara bersamaan. Shanum yang bersembunyi di belakang Elang terus merapat pada pria itu.


Jari Elang menunjuk ke atas. Mengeluarkan jari telunjuk kemudian jari tengah dan saat jari manis ia keluarkan,  semua orang membuka tiap pintu.

__ADS_1


Mereka melotot bersamaan. Mulut mereka terbuka saat melihat makhluk itu menyerbu mereka. Banyak. Sangat banyak.


__ADS_2