pancasona

pancasona
Part 72 Lian dan Ayu?


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja? Astaga. Kepalamu berdarah, Lang. Aku ambilkan obat dan pakaian. Tunggu sebentar!" Shanum panik saat melihat Elang pulang dengan kondisi berantakan. Kepalanya berdarah, bajunya koyak, wajahnya lebam dan banyak luka lecet.


"Biyu? Are you oke?" Ellea mendekat, ikut cemas karena melihat keadaan Elang yang cukup kacau. Gadis itu menatap Abimanyu lekat-lekat. Tapi tidak menemukan hal yang sama seperti apa yang dicemaskan Shanum.


"Aku baik-baik saja. Ell, kamu bawa Lian ke kamar, dan berikan dia pakaian, juga tolong rawat lukanya," pinta Abimanyu, menoleh ke gadis yang masih berdiri di ujung pintu dengan ragu. Tubuhnya hampir sama seperti Elang dan Adi.


Ellea menatap Abi dan Lian bergantian. Tatapannya menyelidik. "Dia sekretaris Elang," kata Abimanyu seolah paham apa yang ada dipikiran Ellea. Ia berlalu, naik ke kamarnya. Walau kondisinya lebih baik dari Elang, tapi ia juga kelelahan karena sejak tadi menyetir mobil bersama Gio.


"Hai, kenalkan, namaku Ellea, kamu?" Ellea menjulurkan tangannya ke Lian.


"Lian," sahutnya tanpa semangat.


"Ya sudah ayo kita ke kamar."


_____


Shanum sudah membawa baskom dengan handuk kecil dan air hangat. Netranya liar mencari Elang.


"Elang di kamarnya," kata Gio yang sedang menonton TV bersama Vin.


Tanpa menyahut apa pun, gadis itu segera naik ke kamar Elang.


Pintu diketuk pelan. Sahutan Elang yang mengijinkannya masuk, membuat Shanum sedikit kesusahan membuka pintu karena membawa baskom air. Saat pintu sudah terbuka,  ia melihat Elang sudah bertelanjang dada. Hanya memakai celana panjang yang tadi ia pakai. Elang melirik sekilas. "Taruh saja di meja, biar kubersihkan sendiri," kata Elang membelakangi Shanum. Ia melepas jam tangan bermerknya yang sedikit pecah di bagian kacanya. Ia menarik sudut bibirnya. Tiba-tiba matanya membulat sempurna, saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


Shanum menangis dibalik punggung Elang. Sementara tubuh Elang mendadak kaku. "Kau ... Kenapa?"


Isak tangis Shanum sedikit reda. Ia mencoba menetralkan perasaan gundah yang sejak tadi dirasakan karena tau nyawa Elang dalam bahaya. "Aku takut... Aku takut terjadi hal buruk padamu."


Entah mengapa, jantung Elang berdesir. Ia bahkan berusaha menekan bagian tengah, di atas perut tubuhnya. Agar rasa ini memudar. Rasa yang jarang ia miliki. Dan merasa hanya ada dalam bayangannya saja. Kekasih Elang sebelumnya saja tidak mampu membuat hatinya bergelora. Itulah mengapa Elang tidak berniat melanjutkan hubungan itu lagi.


Tapi Shanum berbeda. Sekuat apa pun Elang menolak, Shanum justru makin mendekat. Hal-hal sepele yang orang anggap tidak penting, malah membuat Elang merasa penting. Elang merasa dimiliki oleh seseorang. Kini ada seseorang yang menunggunya. Ada seseorang yang begitu mencemaskannya. Bahkan ia selalu menyembuhkan tiap luka yang ada ditubuh Elang.


Sekalipun teman-temannya menyebut Elang batu karang, tapi justru kini ia telah menemukan ombak yang terus memecah kerasnya batu karang itu. Membuat riak ombak yang membuat hidup Elang lebih ramai. Tidak kosong seperti selama ini yang ia rasakan.


Elang melepaskan tangan Shanum kasar. Hal itu membuat gadis bermata cokelat ini sedikit terkejut. Ia menunduk karena takut sikapnya barusan telah memancing emosi Elang. Tapi di luar dugaan, justru Elang tiba-tiba mendaratkan bibirnya ke bibir Shanum. Melumatnya pelan dengan kedua mata mereka yang terpejam. Tangan Elang menarik pinggang Shanum mendekat ke tubuhnya. Sementara tangan Shanum seolah otomatis melingkar di leher Elang.


"Lang, aku pinjam mobilmu du...," Adi yang tiba-tiba masuk ke kamar Elang, lantas tertegun pada adegan di depannya. Elang menatapnya tajam, tanpa melepas pagutan bibirnya dengan Shanum. Sebuah isyarat pengusiran yang jitu. Karena Adi benar-benar segera keluar dari kamar Elang. Dan menutup pintu kamar itu, perlahan.


____


"Sshh!" Elang mendesis. Wajahnya terlihat meringis karena menahan sakit. Shanum segera meniup pelipis Elang yang baru saja ia bersihkan dengan handuk basah. "Maaf, apakah aku terlalu kencang menekannya?"


"Tidak. Kau justru terlalu lembut memperlakukanku," cetus Elang, tanpa melepaskan pandangannya pada Shanum.


Pipi Shanum merona. Ia segera membereskan peralatan yang ia bawa tadi, dan meninggalkan Elang seorang diri. Elang tersenyum, merasa geli karena melihat tingkah malu dari Shanum karena reaksi dari dirinya yang sebenarnya wajar. Atau Elang memang tidak peka?


Ah, dasar batu karang!


____


Tok. Tok.


"Masuk!" sahut Ellea yang sedang membantu Lian membalut perban ke telapak tangan gadis itu. Tali panjang tadi telah membuat luka di sana. Dan Lian terlalu kuat untuk menahannya. Walau akhirnya ia merasa sakit juga.


Abimanyu muncul. Ia menatap Ellea dan Lian bergantian. "Lekas turun. Kita makan bersama," ajak Abimanyu pada dua gadis itu.


Meja makan milik John, berganti. Awalnya hanya sebuah meja makan berbentuk bulat saja. Kini meja itu menjadi meja makan panjang di ruang makannya. Rumahnya kini menjadi ramai. Dan John termasuk tuan rumah yang baik. Ia terus memperlakukan tamu-tamunya bak raja.


Gawai Gio berdering nyaring. Ia mengerutkan kening karena melihat nama yang tertera pada layar pipih itu.


"Wisnu?"

__ADS_1


"Hai, Gi. Bagaimana kabarmu?"


"Sehat. Kupikir kau sudah mati, Nu."


"Ouh, maaf kau harus kecewa karena kabarku baik-baik saja di sini. Florida sedang cerah. Cuacanya stabil. Ayu juga sedang mengandung lagi."


"Kau gila, Nu? Mau berapa anak lagi yang kau produksi, hah?"


"Sekarang saja sudah 5. Ditambah yang kini ada dikandungan Ayu. Semua 6. Ah, iya. Kau sedang bersama Elang, bukan?"


Gio melirik Elang yang fokus menyantap makanan di depannya. Merasa diperhatian oleh Gio, Elang lantas meliriknya tajam. "Apa?"


"Dasar gila!" umpat Gio pada Elang. Terkadang reaksi Elang sering berlebihan memang. Sehingga candaan yang Gio buat seakan tidak pernah berhasil padanya.


"Iya, Nu. Kami sedang berkumpul di sini. Kau mencari Elang atau aku? Kalau mencari Elang sebaiknya kau hubungi saja ponselnya. Membuang waktuku saja!" omel Gio.


"Aku mencarimu, Gi."


Gio bahkan menatap benda pipih, ditelinganya. Seolah tidak percaya. "Benar, kah?" 


"Tolong sampaikan ke Lian, gadis yang sedang bersama kalian saat ini, agar dia menyalakan ponselnya. Ayu sejak tadi tidak bisa menghubunginya."


Netra Gio berpindah ke Lian yang sedang meneguk susu hingga tandas.


"Bagaimana kalian mengenal dia?" bisik Gio.


"Lian adalah adik Ayu."


"Apa kau bilang?!" seru Gio langsung beranjak dari duduknya. Reaksinya kini memancing perhatian semua orang yang sedang makan.


"Lian adalah adik kandung Ayu, bodoh! Harus berapa kali aku mengatakannya? Jadi katakan padanya untuk menyalakan ponselnya."


"Astaga, Nu," seru Gio, melongo. panggilan beralih ke video call. Kini mereka bisa saling menatap wajah masing-masing.


Gio menurut. Membalik ponselnya dan mengarahkan ke Lian, ia tingkatkan volume panggilan agar Lian mendengar suaranya.


"Lian?! Kau membuat kakakmu murka. Hadapi dia sendiri." Wisnu menyingkir dan kini berganti wajah Ayu dengan tatapan membunuh.


"Hei! Kau ke mana saja?! Kenapa ponselmu tidak bisa kuhubungi? Kakek marah besar karena kau pergi begitu saja! Pulang, Lian!"


"Kak, aku sudah besar. Kau cerewet sekali, sih?! Aku baik-baik saja! Sudahlah, aku sedang makan."


"Tunggu! Ada apa dengan wajahmu? Atau kamera ponsel Gio yang kotor? Kau berkelahi lagi?!" Nada suara Ayu terus meninggi. Entah mengapa setelah menikah dia berubah menjadi garang.


"Brisik sekali sih!" kata Lian acuh.


"Hei, Gio! Ada apa dengan adikku?" Gio kembali mengarahkan ponselnya ke depan wajahnya. Ekspresinya bingung, lalu menatap Adi dan Elang yang seolah cuci tangan terhadap masalah ini. Kalau Ayu sudah marah, rasanya lebih baik mereka menghadapi 10 Kalla saja, daripada menghadapi Ayu.


"Jawab, Bodoh! Kau punya mulut bukan?" Suara Ayu terus menggelegar. Sementara Gio bergantian melihat Adi dan Gio meminta diselamatkan.


"Aku sudah selesai," kata Elang, beranjak dan pergi ke halaman rumah.


"Aku juga sudah." Adi menyusul Elang. Dan Gio, sudah tidak bisa lari lagi.


"Yu, kau bisa tenang dulu? Nanti akan aku ceritakan semua. Tapi kau harus janji, jangan marah pada kami."


"Cepatlah, Gio!" Alih-alih menjawab permintaan Gio, Ayu malah terus menekannya.


Gio akhirnya menceritakan semua kejadian demi kejadian. Hingga bagaimana Lian terlibat di dalamnya.


"Astaga! Apalagi sekarang. Kalla? Sayaang, mereka mendapat kesulitan lagi, kamu dengar, kan?" Ayu mencari suaminya yang sedang sibuk dengan laptop tak jauh darinya. Wisnu mendekat dan mengambil ponsel Ayu.

__ADS_1


"Mana Elang?"


"Lang, Wisnu mencarimu!" jerit Gio.


Wisnu dan Elang terlibat obrolan yang hanya mereka berdua saja yang tau. Elang memilih mencari tempat sepi. Sudah cukup lama mereka berdua tidak saling berkirim kabar. Karena Wisnu juga sudah jauh dari mereka. Dan Elang memang tidak ingin mengusik kehidupan Wisnu yang sudah tenang bersama Ayu dan anak-anak mereka.


Sejak awal Elang memang sudah tau kalau Lian adalah adik Ayu. Itu sebabnya saat Kalla mulai gencar bermunculan, ia sengaja memindahkan Lian ke kantor lain. Ia tidak ingin Lian terluka. Walau pada akhirnya  Lian juga terluka, dan terlibat dalam pusaran masalah ini.


"Kalau begitu, aku titipkan Lain padamu, Lang. Tolong jaga dia. Maaf, kami belum bisa membantu apa-apa. Pekerjaanku di sini benar-benar menyita waktu. Bahkan kami belum bisa berkunjung ke sana."


"Tidak apa-apa, Nu. Kau fokus saja dengan kehidupanmu di sana. Lebih baik kau tidak usah terlibat. Tetapi kau harus tetap waspada. Tidak menutup kemungkinan Kalla sudah berkeliaran di sana."


"Terima kasih, Lang. Kabari kami sesering mungkin perkembangan kalian di sana. Jika ada yang bisa kami bantu, kami pasti akan usahakan. Apa pun itu."


"Baik, Nu. Terima kasih."


____


Perapian dinyalakan. Malam ini cukup dingin dari biasanya. Angin malam masuk ke dalam celah-celah lubang angin. Membuat kobaran api menari-nari menciptakan ilustrasi seni yang memanjakan mata.


Mereka duduk berkeliling, saling berdiskusi mencari cara menghadapi masalah yang tengah mereka alami.


John menunjukan simpanan amunisinya. Batu saphire cukup ampuh melumpuhkan Kalla daripada peluru biasa, atau peluru perak. Hanya saja untuk Kallandra, tidak bisa semua itu dilumpuhkan. Dan hanya bisa dilakukan oleh simbol Aldabaro.


"Kalau Ayahku memiliki tato yang sama, kenapa mereka bisa membunuh ayah dengan mudah?" Pertanyaan Abimanyu memang wajar dilontarkan. Karena Arya memang memiliki tato yang sama dengannya.


"Saat itu, kami tidak tau tentang simbol Aldabaro. Dan juga Kalla jauh lebih pandai, Bi. Mereka tau simbol itu melemahkan kemampuan mereka. Oleh sebab itu, saat mereka membunuh ayahmu, punggungnya ditutup kain. Dan cara kerja tato yang kau miliki adalah dengan menempelkan pada tubuh Kalla. Jadi jika hanya melihat tato itu, tidak akan berpengaruh apa-apa. Tapi saat kulit Kalla bersentuhan dengan tato milikmu, maka mereka akan terbakar."


Abi diam. Menarik nafas panjang. Ia merasa lemas. Harapan untuk kehadiran sang ayah kembali tidak akan terwujud.


"Wira berkata padaku, kalau Arya dan Nayla sudah bahagia di alamnya. Jadi kau jangan lagi bersedih, Bi. Percayalah kalau itu yang terbaik untuk mereka."


"Terbaik untuk mereka, tapi bukan untukku, Paman. Kau tidak tau bagaimana kesepiannya aku sejak mereka pergi. Bagaimana susah payahnya aku bertahan tanpa mereka. Bagaimana rasanya tiap malam aku begitu merindukan mereka. Aku sebatang kara, paman. Aku tidak punya siapa-siapa lagi," kata Abimanyu dengan menahan luapan air yang menggenang di pelupuk matanya.


Ellea yang duduk di sampingnya, lantas menggenggam erat tangan Abimanyu. Ia tidak berkata apa pun. Hanya mencoba membuat Abi tidak merasakan itu seorang diri.


"Kau tidak sendirian. Ada kami. Kita adalah keluarga, Bi!" cetus Gio.


"Itu benar. Kita bagai perkumpulan orang-orang kesepian. Jadi jangan beranggapan sendirian di dunia ini," sahut Adi dengan tertawa getir.


Baik Adi, Gio, dan Elang juga memiliki nasib serupa dengan Abi. Mereka hidup sebatang kara di dunia ini. Tanpa orang tua, tanpa keluarga.


"Mungkin karena inilah, kita dipertemukan di sini. Perkumpulan orang-orang kesepian yang harus berjuang melawan kerasnya kehidupan. Agar jika terjadi sesuatu pada kita, tidak akan berpengaruh banyak bagi keluarga kita nantinya." Perkataan Elang bagai anak duri yang menusuk pelan ke dada. Tapi juga sekaligus penyemangat mereka. Setidaknya hidup mereka tidak sia-sia. Setidaknya mereka mampu menyelamatkan orang banyak dari berbagai hal buruk yang kini mengintai. Walau mereka jauh dari kata bahagia.


Tapi Abi sadar, sejak ia datang ke kota. Satu persatu kebahagiaan masuk dalam hidupnya. Ketiga pamannya, Ellea, dan kini ia merasa punya keluarga.


____


"Bi," Ellea tiba-tiba saja berhenti di depan kamarnya dan menahan Abi yang hendak beristirahat juga.


"Apa?"


Ellea memeluk Abimanyu. Hal ini bukan lagi aneh bagi pria itu. Sikap Ellea yang tiba-tiba manja bukan lagi hal canggung diantara mereka.


"Ada aku di sini. Jangan pernah merasa sendirian lagi. Mengerti?" kata Ellea masih dalam pelukan Abi.


"Lebih baik kau tidur, Ell. Ini sudah malam." Abi melepas pelukan mereka. Merapikan anak rambut gadis itu dengan tatapan cinta.


"Baiklah." Ellea meraih kedua tangan Abi. Meletakan telapak tangan Abi ke pipinya. "Kau juga harus tidur. Jangan sampai lingkar hitam di matamu menebal. Kamu mirip mayat hidup tau. Sungguh mengerikan, Biyu," tukas Ellea yang membuat senyum Abi merebak. Ia mengecup kening Ellea. "Cepat masuk ke kamarmu."


Ellea mengangguk pelan. Saat ia hendak masuk, Abi menahan tangannya lagi. "Kenapa?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Ell."


__ADS_2