
"Za. Faza!" panggil Kak Rayi sambil mengetuk pintu rumah besar itu. Saat kami sampai di halaman rumah Kak Faza, aku merasakan hawa aneh yang ada di sekitar rumah ini. Sesuatu yang gelap dan pekat. Sementara Kak Rayi mengetuk pintu rumah itu, aku justru berjalan melihat-lihat halaman rumah ini.
Tempat ini memang rindang, sejuk, karena banyak pohon-pohon besar di sekitarnya. Namun, aku merasa tidak nyaman berada terlalu lama di sini. Ada sesuatu yang jahat yang kurasakan di sini, terlebih di dalam rumah itu. Aku menatap rumah besar di depanku, di mana Kak Rayi terus mengetuk dan memanggil nama Kak Faza.
Sampai akhirnya Kak Rayi menyerah, ia lantas menoleh padaku. Menaikkan kedua bahunya ke atas dengan kedua tangan berada di pinggang. "Mungkin dia pergi, Bil. Padahal dia nggak masuk sekolah hari ini. Dan waktu aku chat dia tadi, katanya di rumah. Huh." Kak Rayi terlihat putus asa.
Sebuah bayangan terlihat di balik jendela rumah itu, seseorang muncul dan membuatku menggeser tubuh sedikit, agar dapat melihat sosok itu dengan jelas. Kak Rayi yang melihatku memperhatikan ke dalam rumah itu, lantas menoleh ke belakang. "Lah ini Faza!" serunya.
Pintu dibuka perlahan, Kak Faza muncul dari celah pintu yang tidak dibuka sepenuhnya. Ia hanya terlihat mengintip dari dalam. Aku penasaran, dan ikut mendekat ke Kak Rayi. Kedua sahabat itu tampak sedang mengobrol saing menanyakan kabar, sementara itu Kak Faza terlihat kacau. Wajahnya suram dan sikapnya terlihat aneh, tidak seperti biasanya.
"Gue boleh masuk nggak, Za? Kebetulan lagi sama Nabila nih, kita khawatir sama keadaan lu."
Kak Faza diam beberapa saat seolah ragu untuk membuka pintu rumahnya itu. Tetapi Kak Rayi terus memohon dengan banyak cara agar kami dibolehkan masuk ke dalam. Aku tau kalau mereka berdua adalah sahabat karib, karena saat kami latihan taekwondo mereka selalu bersama, bahkan saat sparing, mereka selalu menjadi pasangan yang tangguh. Jika mereka bertarung, kami harus menunggu waktu lama agar salah satu dari mereka kalah.
Pintu dibuka lebar-lebar, kini wajah Kak Faza terlihat jelas. Pucat, dengan lingkar hitam di matanya. Bibirnya terlihat putih, memang dia terlihat aneh tidak seperti biasanya. Dan aku yakin ini bukan wendigo. Ada sesuatu yang lain, dan aku akan segera mengetahuinya, itu pasti.
Kami berjalan masuk ke dalam, suasana rumahnya terlihat sepi. Sepertinya dia sepertiku, sering sendirian di rumah karena orang tuanya yang sibuk bekerja. Siapa yang tidak tahu siapa Kak Faza, dia salah satu murid yang populer di sekolah. Yah, mereka berdua lebih tepatnya. Bahkan banyak siswi-siswi di kelasku yang tergila-gila pada mereka berdua. Dan, kalau di kantin mereka akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Terutama kaum hawa. Kak Rayi memiliki sebuah geng di sekolah. Selain Kak Faza, ada Kak Roger, dan Kak Bintang.
"Duduk," suruh Kak Faza pada kami. Kini kami berada di kamarnya. Hawa di dalam kamar terasa pengap, jendela tidak dibuka entah sudah berapa lama. Aromanya tidak sedap, dan bahkan korden masih tertutup rapat. Kak Rayi lantas berjalan ke arah jendela. "Gila, lu. pengap banget. Se-mager itu, kah? Buat buka jendela saja nggak mau," sindir Kak Rayi.
Begitu korden di buka, Kak Faza menjerit. "Tutup!"
Sontak aku dan Kak Rayi saling lempar pandang dan merasa aneh dengan sikap Kak Faza. Keadaan Kak Faza makin tidak tenang, dia gelisah. Dan seperti ketakutan. "Za, lu nggak apa-apa?" tanya Kak Rayi ragu, tangannya masih berada di ujung korden. Korden yang terbuka setengah, kini perlahan ia geser kembali, dan kini ia buka cepat korden jendela tersebut.
Sinar matahari pun segera masuk ke dalam kamar. Kak Rayi juga membuka jendela agar udara dari luar masuk. Anehnya Kak Faza terlihat makin cemas, dia terlihat ketakutan. Kak Faza menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Za? Lu kenapa sih?!" tanya Kak Rayi lagi, lalu mendekat.
"Yi, gue takut. Dia ... nggak biarin gue pergi dari rumah ini, dia selalu mengikuti ke mana pun gue pergi!" katanya dengan wajah panik. Kak Rayi menoleh padaku. Ia terlihat kebingungan.
Suara benda terjatuh membuatku beralih ke lemari pakaian. Tidak hanya aku saja yang mendengar, tetapi Kak Rayi dan Kak Faza juga mendengarnya. Bahkan Kak Faza makin beringsut dan menutup semua tubuhnya dengan selimut. Aku penasaran, dan mulai melangkahkan kaki menuju lemari besar itu.
"Nabila!" panggil Kak Rayi, aku menoleh dan dia justru menggeleng. "Nggak apa-apa, Kak," kataku meyakinkannya.
"Jangan!" Jangan dibuka!" raung Kak Faza yang masih berada di balik selimut. Aku menjadi ragu, namun rasanya ada sesuatu yang memang harus aku tau, dan jika aku tidak membuka lemari itu, maka semua akan terus abu-abu.
Kak Rayi mendekat padaku, kami saling pandang. Dan mengangguk. Saat sampai di depan pintu lemari pakaian itu tanganku menjulur ke pegangan pintu, sebelum membuka lemari itu, aku menatap Kak Rayi terlebih dahulu. Kak Rayi meraih stik golf yang berada di dekat lemari dan bersiap memukul sesuatu yang mungkin sedang bersembunyi di dalam sana.
Hawa dingin makin terasa pekat, namun di belakang kami justru suasana terasa panas, bahkan sejak kami masuk ke kamar ini. Aku sempatkan menggenggam tanganku sendiri, untuk mengurasi sensasi dingin dari dalam.
"Dingin, ya?" tanya Kak Rayi yang memang merasakan hal yang sama.
Tanganku sedikit bergetar, jantungku berdegup dengan ritme cukup cepat. Nafasku terasa pendek, entah lah, rasanya seperti udara di sekitar kami mulai menipis. Aku tidak tau apakah Kak Rayi juga merasakan hal yang serupa atau hanya aku saja.
Ujung jemariku sudah menempel pada pegangan lemari, kini dengan hati-hati aku mulai membuka pintu lemari pakaian tersebut. Bunyi derit kayu terdengar nyaring. Kak Rayi yang berada di sampingku sudah bersiap untuk mengayunkan stik golf tersebut, tetapi yang kami temukan hanya ruang gelap di dalam dengan beberapa gantung pakaian.
"Nggak ada apa-apa, Bil?" tanya Kak Rayi, lalu lebih mendekat dan menyibak pakaian Kak Faza yang menggantung di sana. Ia lantas menoleh ke temannya, "Za, Nggak ada apa-apa kok,"ujarnya masih membiarkan pintu lemari terbuka.
Tapi aku melihat sesuatu yang lain, mataku mulai membulat sempurna. Karena sebuah bayangan terlihat muncul di belakang Kak Rayi. Aku mulai mundur perlahan, tatapan mata tak lepas dari sesuatu di belakang Kak Rayi.
"Bil, kenapa?" tanyanya yang melihatku aneh.
"Kak ... awas!" kataku langsung menarik tangan Kak Rayi. Kami terjatuh ke lantai dengan posisi dia ada di atas tubuhku. Namun bayangan yang tadi ada di dalam lemari pakaian, kini mulai menampakkan wujudnya lebih jelas. Dia terlihat seperti manusia yang memakai penutup kepala. Semua yang berada di dalam kain besar itu menutupi semua tubuh di dalamnya. Kak Rayi memindahkan tubuhnya dan kini berada di sampingku dengan posisi sama. Kami terlentang dan terus menatap bayangan hitam itu.
Tiba-tiba dia mendekat dengan cepat ke arah kami, kami menjerit karena merasakan sesuatu menabrak tubuh kami. Dingin dan panas yang bercampur menjadi satu. Tapi tiba-tiba hilang begitu saja. Aku dan Kak Rayi saling tatap, dan mencari di mana sosok tadi. "itu tadi apa?" tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng, karena memang benar-benar tidak tau.
"Za! Elu liat nggak tadi?" tanya Kak Rayi menoleh ke ranjang di belakang kami. "Za? Faza?!" panggilnya lagi. Aku menoleh dan ternyata Kak Faza tidak ada di ranjang. Dan anehnya posisi ranjang itu masih rapi. Padahal kami ingat betul kalau tadi Kak Faza ada di atas ranjang dengan menutup tubuhnya memakai selimut, dan seharusnya jika dia pergi keadaan ranjangnya akan berantakan. Tetapi anehnya semua terlihat rapi. Kak Rayi berdiri, ia terus menatap kebingungan ke arah tempat tidur itu. Tangannya kemudian menjulur padaku dan membantuku berdiri.
Kami menyapu pandang ke setiap sudut ruangan ini. Hening. Kak Rayi juga kebingungan melihat keadaan kamar ini. Satu pertanyaan dalam benak kami, dan aku yakin Kak Rayi juga bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri. "Ke mana Kak Faza."
__ADS_1
Dering telepon memecah kesunyian, Kak Rayi segera meraih benda pipih yang ia simpan di saku celananya. "Kenapa, Tang?"
"...."
"Gue lagi di rumah Faza."
"...."
"Dia tadi nggak masuk sekolah, makanya gue tengokin. Sikap dia aneh belakangan ini."
"...."
"Loh kalian jadi ke camping kemarin?"
"...."
"Yang bener?!"
"...."
Wajah Kak Rayi pucat, dia mengakhiri panggilan telepon itu, sementara aku masih mendengar suara di balik telepon itu masih memanggil namanya. Kak Rayi justru menatapku nanar. "Bil ..."
"Kenapa, Kak?" tanyaku bingung.
Dia tidak menjawab, malah kembali menatap ranjang Kak Faza. Wajahnya pucat dengan sorot mata kosong. Aku mendekat dan menempatkan diriku berada di depannya. Menghalangi tatapan matanya yang terus menatap ke satu tempat tadi. "Kak, ada apa? Cerita sama aku."
"...."
"Siapa yang telepon tadi?"
"Bintang."
"Terus?"
"Oke, lalu?"
"Bintang bilang, kalau Faza hilang. Dia sama Roger baru sampai rumah tadi pagi. Jadi ... tadi siapa, Bil?" tanya Kak Rayi berbisik, ia terlihat ketakutan dan jujur, aku juga sedikit bergidik ngeri mendengarnya. Aku meraih tangan Kak Rayi, dan mengajaknya pergi dari rumah ini. "Kita ke rumah Kak Bintang saja, ya? Biar kita dengar cerita mereka langsung, dan kita pasti temukan Kak Faza."
Dia mengangguk lalu kugandeng dia keluar kamar ini. Aku masih merasakan ngeri di dalam rumah ini. Rasanya aku ingin menarik tangan Kak Rayi agar segera keluar dari rumah ini. Tapi aku tidak boleh panik, karena melihat kondisi Kak Rayi yang terguncang, itu akan berakibat buruk baginya.
Motor melesat cepat. Kami sudah memberi kabar pada Kak Bintang kalau sedang menuju ke rumahnya. Kak Rayi yang masih memakai seragam sekolah tidak begitu peduli dengan tatapan orang-orang yang menatap kami aneh. Ini masih jam sekolah, dan ada satu siswa yang berkeliaran dengan masih memakai seragam sekolah.
Rumah Kak Bintang ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Kak Faza. Hanya dalam 15 menit kami sampai di sebuah rumah besar. Dan aku yakin ini adalah rumah Kak Bintang. Pintu gerbang segera terbuka otomatis begitu Kak Rayi mengabarkan kedatangan kami. Begitu masuk ke halaman rumah besar itu, Kak Bintang menyambut kedatangan kami. IA terlihat sedikit terkejut melihatku yang berada di belakang jok motor Kak Rayi. Kami turun dari motor, lalu dua sahabat itu saling berjabat tangan. Kak Bintang menarik tubuh Kak Rayi dan berbisik sambil menatapku. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang aku tau pasti ada hubungannya denganku. Tetapi aku tidak tau apa yang mereka bahas, karena aku tidak memiliki kemampuan membaca pikiran manusia.
"Yuk, Bil, " ajak Kak Rayi melambaikan tangannya padaku. Aku mendekat dengan sungkan, karena baru kali ini aku bertatap muka dengan Kak Bintang. Selama ini aku hanya bisa melihat sepak terjangnya sebagai salah satu atlet basket sekolah yang cukup aku idolakan. "Ini Bintang, aku yakin kamu udah tau dia, kan? Tang, ini Nabila, junior gue di taekwondo sekolah."
Aku mengangguk dan mengulurkan tangan kepadanya. "Hai, Nabila," katanya ramah. Rupanya apa yang selama ini aku pikirkan salah, Kak Bintang tidak sombong atau angkuh. Aku memang mengidolakannya sebagai salah satu pemain basket sekolah. Karena beberapa kali aku melihat permainannya setiap kali ada lomba basket di sekolah. Hanya menyukai kemampuannya, bukan orangnya. Karena anggapanku, dia adalah orang yang sombong.
"Yuk, masuk." Kami bertiga masuk ke dalam. Rupanya sudah ada Kak Roger juga di sana. Kondisi Kak Roger jauh lebih parah, ada beberapa perban di tangan dan kepalanya. Aku pun kembali melihat keadaan Kak Bintang, dan ternyata dia terlihat baik-baik saja.
"Lu kenapa, Bro?" tanya Kak Rayi langsung mendekat ke sahabatnya itu. Kak Roger memang terlihat kacau. Mereka yang sedang duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu tebal segera larut dalam pembicaraan antar teman.
"Kamu mau minum apa, Bil?" tanya Kak Bintang.
"Eum, apa aja, Kak."
"Oke, aku ambilin dulu, ya," katanya lalu berjalan menuju dapur yang memang terlihat dari ruang tengah rumah ini. Karena sungkan, aku mengikuti Kak Bintang ke dapur. Mungkin aku bisa membantunya sedikit. Atau mungkin memperoleh informasi tentang Kak Faza.
"Kak, kenapa Kak Roger luka-luka seperti itu? Memangnya ada apa?" tanyaku sambil menunjuk Kak Roger yang sedang antusias mengobrol dengan Kak Rayi. Sepintas aku mendengarkan dan tau kalau mereka sedang membahas tentang kejadian yang mereka alami saat camping di hutan kemarin.
__ADS_1
Kak Bintang yang sedang mengambil gelas, lantas tersenyum tipis. Namun raut wajahnya berubah menegang saat aku bertanya hal itu. "Eum, kamu pasti sudah dengar sedikit dari Rayi, kan?" tanyanya dan aku langsung mengangguk cepat. Sirup berwarna orang ia tuang ke dalam empat 3 gelas tinggi dan bening.
"Jadi weekend kemarin kami camping tanpa Rayi. Tempat itu memang sudah kami incar sejak lama, karena di sana tempatnya bagus dan jarang ada orang yang mau camping ke sana."
"Memangnya di mana, kak?"
"Bukit Periculo. Kamu tau?" tanyanya.
Aku mengerutkan dahi dan mencoba mengingat nama tersebut, tetapi aku memang merasa asing dengan nama tersebut. Dan akhirnya menggeleng.
"Itu tempat dulu punya banyak sejarah kelam. Banyak orang yang hilang jika camping di sana. Ada satu wilayah yang memang dilarang untuk camping, tapi, kami nggak pergi ke wilayah itu. Kami cuma bikin tenda di dekat danau aja."
"Terus?"
"Tenda memang sendiri-sendiri, Bil. Malam itu, setelah makan, kami mau tidur. Tendaku ada di tengah, di antara Roger sama Faza. Dan kami juga nggak buat api unggu atau semacamnya, karena kami bawa senter besar, sinarnya memang cukup terang. Dan kami taruh di tengah, saat itu tenda kami menghadap ke danau. Terus samar-samar aku dengar, ada suara aneh di tenda punya Faza."
"Suara seperti apa, Kak?"
"Eum, mirip nafas seseorang. Nafas yang dekat banget sama telinga. DAn nggak lama setelah itu, FAza menjerit. Otomatis aku sama Roger keluar tenda kami, kan? Di situ, kami melihat Faza di seret sesuatu yang nggak kelihatan, Bil."
"...."
"Aku sama Roger nyusulin Faza, kami cari dia malam itu juga. Muterin hutan dan semua tempat yang mungkin di datangi Faza. Nggak ketemu juga! Sampai akhirnya kami menyerah dan balik ke tenda, niatnya mau telpon polisi, tapi begitu kami balik ke tenda, Faza udah ada di sana. Dia lagi duduk di dalam tenda, posisinya kayak si Rayi itu," tunjuknya ke Kak Rayi yang sedang menyilangkan kaki ke depan. "Tapi Faza cuma diam, menunduk. Aku sama Roger agak takut dong, Bil. Karena jelas-jelas Faza tadi diseret jauh banget, kan aneh kalau tiba-tiba dia ada di tendanya."
"Kalian nanya, nggak? Kalau Kak Faza tadi ke mana?"
"Tanya. Dia bilang dia nggak ke mana-mana. Dari tadi cuma diam di tenda. Akhirnya Roger narik aku buat balik ke tenda kami. Kami coba lupain kejadian itu. HAbis itu kami coba tidur, kan? Baru saja aku tidur, aku terbangun lagi. Sekarang suara Roger nyaring banget. Dia menjerit minta tolong, aku keluar tenda dan nyari dia di tendanya, nggak ada. Akhirnya aku nemuin dia di mana coba, Bil?" tanyanya padaku seolah membuat kuis saja. Aku kembali menggeleng dengan tampang bingung. "Dia terikat di atas pohon, dengan posisi kakinya di atas. Tubuhnya kacau, berdarah di mana-mana. Aku turunin Roger, dan akhirnya aku bawa balik ke tenda. Dan, saat aku mau nyari perban dan obat-obatan di tenda Faza, dia udah nggak ada lagi di sana. Hilang," jelas Kak Bintang dengan sorot mata penuh keyakinan. Dan ini adalah cerita horor pertama yang aku dengar dari seseorang. Cerita horor mengerikan yang benar-benar mengancam nyawa mereka.
Minuman dingin sudah siap dibuat oleh Kak Bintang, kami berdua berkumpul bersama Kak Rayi dan Kak Roger.
"Sumpah gue yakin banget, ada sesuatu yang mengikat kaki kanan gue dan menyeret gue sampai ke atas pohon. Cuma nggak kelihatan, Yi!" Sepertinya kelanjutan cerita versi Kak Roger belum kulewatkan banyak.
"Kalian mencium bau aneh nggak?" tanyaku memotong pembicaraan ini.
"Bau aneh? Oh iya, pas sebelum Faza hilang, yang aku bilang ada suara nafas orang, itu ada bau busuk di sekitarku. Semacam bau lumpur gitu deh," jelas Kak Bintang.
"Lumpur?"
"Menurut kamu apa, Bil?" tanya Kak Rayi.
"Tunggu, dia siapa sih? Gebetan baru lo, Yi?" tanya Kak Roger menunjukku.
"Heh! Kalau ngomong yang bener! Dia Nabila, adek kelas kita."
"Ah, yang bener? Kok gue nggak pernah lihat?"
"Mana pernah lu lihat, yang lu lihat kan yang seksi-seksi!" sindir Kak Bintang.
"Oh iya, bener juga, ya? Dia mah seleranya si Rayi," gumamnya namun masih dapat kudengar jelas. Kak Rayi melirikku dan terlihat salah tingkah, lalu memukul kepala Kak Roger kesal. "Diem lu! Sembarangan saja kalau ngomong!"
"Heh, sudah! Malah berantem! Jadi bagaimana, Bil? Aku yakin kamu bisa bantu kami, kata Rayi kamu ini yang bantu Faza kemarin, kan? Semua orang cuma tau kalau Faza hampir dilukai sama orang sakit jiwa, padahal kami yakin dia bukan orang sakit jiwa seperti yang guru-guru bilang. Iya, kan?" tanya Kak Bintang terlihat antusias.
Aku menatap mereka bertiga bergantian. Lalu menarik nafas dalam-dalam. "Oke, menurut cerita kalian, ada kemungkinan kalau Kak Faza masih ada di hutan itu. Mungkin danau itu sumber masalah ini. Karena kata Kak Bintang, kakak mencium bau lumpur, kan? Mungkin makhluk itu berasal dari danau itu."
"Makhluk? Makhluk apa?" tanya Kak Roger.
"Aku belum tau."
"Jadi kita balik lagi ke sana dong?"
__ADS_1
"Iya, kita harus balik ke sana dan jemput Kak Faza sebelum terlambat."