pancasona

pancasona
Part 118 Rumah Allea


__ADS_3

Suara ledakan terdengar nyaring di luar. Mereka berempat menoleh ke arah sumber suara. Kemudian saling pandang, waspada. "Jangan-jangan," kata Vin tak melanjutkan perkataannya.


"Yang tadi mau tembak kita pas di luar!" sahut Ellea dengan mata tegas dan tajam.


"Gawat! Sembunyi!" pekik Abimanyu. Allea masih merasakan sakit di kepalanya, terpaksa harus dipapah oleh Vin. "Ke mana nih?" tanya Vin yang berjalan di belakang Abi dan Ellea.


Rumah ini terlalu besar dengan banyak ruangan di mana-mana, mereka tersesat, dan juga bingung harus ke mana. Sementara suara derap kaki terdengar ramai tak jauh dari mereka. Hal itu membuat mereka mulai panik. "Ke sana," tunjuk Allea ke sebuah lukisan sebesar 1,5 meter yang menempel di tembok dekat mereka.


"Jangan ngaco lu, All, ke mana sih? lukisan itu mau kita tabrak?" cetus Vin sedikit sewot. Tapi Allea segera melepaskan pegangan tangan Vin, berjalan ke lukisan yang ia tunjuk. Tiga orang itu melongo saat tubuh Allea masuk ke dalamnya. Rupanya lukisan ini adalah pintu yang di lukisan 3D, untuk mengecoh orang-orang rupanya. Atau memang lorong ini adalah tempat persembunyian para penghuni rumah ini?


Mereka terus berjalan makin dalam. perlahan ruangan ini gelap, mereka yang sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan jarak pandang yang terbatas mulai bisa berjalan dengan santai tanpa kepanikan seperti awal tadi. "Ini jalan ke mana, All?" tanya Ellea yang berjalan di belakangnya persis.


"Ini ke suatu tempat. Kita pasti aman," ucap Allea datar.


"Dari mana elu tau?" Vin menanggapi.


"Karena aku ingat semuanya sekarang," ucap Allea dengan tatapan dingin ke mereka semua.


"Lalu kita ke mana sekarang?" tanya Abimanyu menegaskan arah tujuan mereka.


"Ke tempat kakek," jawab Allea singkat, kembali berjalan lagi, dan mau tidak mau mereka mengikuti gadis itu.


Di ujung lorong gelap itu, kini terlihat ada seberkas cahaya. Mereka makin mempercepat langkah dan segera menuju cahaya di depan sana. Mata mereka silau karena terlalu lama ada di tempat gelap, dan kini cahaya matahari itu terasa menyakiti mata mereka. Telapak tangan ada di atas alis, mata yang awalnya terpejam, perlahan dibuka.


"Welcome home, Ell," ucap Allea dengan senyum mengembang.


Sebuah halaman dengan hamparan rumput jepang ditambah beberapa bunga tulip di pinggiran taman membuat mereka merasa bagai di surga. Langkah Allea makin dipercepat menuju sebuah rumah pondok di tengah padang rumput itu. Tempat ini lebih sunyi, hanya ada rumah itu, tidak ada bangunan lainnya lagi. Udara terasa melimpah, karena angin berembus sepoi-sepoi dan membuat paru-paru mereka dapat rakus menikmatinya.


"Kakek!" jerit Allea setiba di depan pintu rumah itu. Gadis itu langsung membuka pintu rumah itu. Berjalan masuk memanggil nama kakeknya. Ellea, Vin , dan Abi mengekor di belakang Allea, tapi hanya sampai ruang tamu. Tempat ini terasa lebih hangat dan hidup. Foto-foto keluarga makin banyak terlihat di sepanjang sudut ruangan. Semua menampilkan dua bayi kembar itu. Dan foto masa kecil Allea tentunya.


Ellea menyentuh sebuah foto keluarga yang hampir sama dengan yang mereka temui di rumah tadi. Ada foto saat mereka masih bayi, yang digendong oleh sepasang suami, lalu di belakang mereka kakek dan neneknya. Di sisi lain, ada sebuah foto yang membuat Ellea tercengang. Ia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri yang sejak tadi menganga.


"Itu orang tua kamu, Ell," kata Abi mewakili kalimat yang ingin Ellea lontarkan. Kalimat keterkejutan yang ingin segera mendapat jawabnya.


Allea kembali lagi dengan wajah kebingungan. Ia mengacak-acak rambutnya masih tengak-tengok ke sekitar, sepertinya ia tidak menemukan apa yang ia cari.


"Nggak ada orang. Kakek ke mana, ya?" tanyanya. Sebuah pertanyaan di mana semua orang di ruangan ini tidak akan ada yang bisa menjawabnya.


"All, itu ... siapa?" tunjuk Ellea ke foto sepasang pria dan wanita bersama kakek mereka.


"Itu orang kepercayaan Kakek. Aku juga nggak pernah ketemu mereka. Kenapa?"


Tubuh Ellea luruh ke lantai, kenyataan pahit yang sebenarnya sudah bisa ia tebak sebelumnya kini jelas. Adrian dan Ruth memang bukan orang tua kandungnya. Abimanyu mendekat. Ia jongkok sambil menyentuh pipi kanan Ellea. "Are you oke, Ell?" tanya Abi mencoba memastikan. Ellea menatap pria di depannya, air matanya mulai turun melewati pipinya yang makin tirus. "Aku beneran bukan anak Papa sama Mamaku, Biyu. Orang yang selama ini aku anggap orang tua ternyata bukan orang tuaku," kata Ellea dengan suara serak, menahan tangis yang sudah banjir. Abimanyu tidak tega melihat gadisnya menangis, lagi. Ia segera menarik Ellea ke dalam pelukannya. Abi mendesis. Mengelus punggung Ellea, berusaha untuk menenangkannya. "Nggak masalah siapa yang menjadi orang tua kandungmu, Ell. Bagaimana pun juga mereka tetap sayang kamu, kan? Nggak berkurang perlakuan mereka ke kamu walau kamu bukan anak kandung mereka. Iya, kan?"


Ellea meresapi perkataan Abi, dalam hatinya ia sependapat dengan kalimat itu. Sejak dulu, perlakuan Adrian dan Ruth tidak pernah berubah. Mereka menyayangi Ellea bak anak kandungnya. Bahkan Ellea tidak pernah diperlakukan tidak layak sebagai anak selama ini. Mereka adalah orang tua terbaik yang pernah ia punya. Papanya yang selalu melindunginya, Mama yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah. Ia rindu, kini Ellea sangat rindu kehadiran mereka. Banyak pertanyaan dalam benaknya yang butuh jawaban, tapi ke mana ia harus bertanya.


Allea mendekat, ikut mengelus punggung Ellea, "Aku yakin mereka punya alasan memisahkan kita. Dan kini kita sudah dipertemukan lagi, pasti ada alasannya juga."


'Lalu orang tua kita ... di mana?" tanya Ellea, menatap netra Allea penuh harap. Isaknya ia tahan, berharap mendapat jawaban yang ia inginkan. Namun raut wajah Allea murung.

__ADS_1


"Mom sama Dad, meninggal. Saat aku masih berumur 1 tahun. Kakek yang selama ini merawat aku."


Kedua saudara kembar itu sama-sama menangis, meratapi nasib buruk yang datang. Kehilangan orang-orang terkasih, dikejar orang-orang jahat, dengan segala pertanyaan yang tidak mereka pahami.


"Jadi sebenarnya ada masalah apa antara kakek dengan Austin? Kamu tau, All?" tanya Ellea, penasaran. Tidak hanya Ellea, Vin dan Abimanyu juga memiliki pertanyaan yang sama.


Allea menarik nafas panjang, mencoba mengingat hal yang mungkin tidak sepenuhnya ia pahami. Ia terlempar ke beberapa waktu lalu, saat dirinya masih kecil. "Hm, seingatku, saat itu kami tinggal di El- Monte, California. Cuma aku sama Kakek. Kakek sering ke luar negeri. Sementara Papa dan Mama meninggal saat aku berumur 1 tahun. Mereka dibunuh. Kakek nggak pernah mau membahas lagi kejadian itu. Bahkan saat aku bertanya soal saudara kembarku, kakek hanya diam."


"..."


"Aku dirawat oleh Bibi Darci. Dia sudah kuanggap ibu kandungku sendiri, kau beruntung, Ell, tinggal di lingkungan keluarga yang utuh, sementara aku? Kakek sering pergi ke luar kota, luar negeri untuk menjalankan bisnisnya. Bisnis gelap. Huh, aku bahkan sudah mulai belajar menembak saat umurku 5 tahun. Dan pernah menyaksikan sendiri jual beli yang sedang kakek lakukan dengan kliennya. Saat itu, kami di cegat oleh sekelompok orang. Kakek kena luka tembak, tapi untuk kakek kuat. Kami berhasil kabur dari tempat itu. Setelah kejadian itu kami pindah ke Las Vegas."


"..."


"Aku makin lama penasaran, tentang semua kejadian itu. Bibi Darci kupaksakan menceritakan semua. Akhirnya aku tau kalau Kakek dan Austin terlibat pertengkaran sejak kita masih berumur 1 tahun. Kata Bibi Darci, kakek membunuh anak Austin. Itu sebabnya Dad sama Mom juga dibunuh oleh Austin. Sampai sekarang mereka masih berseteru, aku juga nggak tau apa alasannya. Dan saat aku tanya soal saudara kembarku, Bibi Darci bilang, kamu ada di tempat aman sekarang. Dan, katanya kalau sampai kamu kami temukan, semua ini akan kembali berbahaya."


"Aku? Kok begitu? Kenapa?"


"Entah, Ell. Itu sebabnya aku nggak nyari kamu. Asal tau kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku dan kakek. "


"Dan semua berubah karena Ellea ke Venesia? Gitu?" tanya Vin, memperjelas.


Allea mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tau, "Mungkin. Entah ini sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan. Hm, coba kakek ada, kita bisa tau lebiih banyak informasi ini."


"Bibi Darci? Mungkin dia juga tau, All?"


"Bibi Darci, entah ke mana. Setelah kami ke Las Vegas, Bibi Darci juga kembali ke kampungnya."


Mereka memutuskan tinggal di rumah ini dulu. Tidak tau bagaimana keadaan di luar sana. Mungkin lebih aman jika mereka tidur dulu di sini. Langit mulai gelap. Suara guntur terdengar menggelegar di langit.


"Kayaknya mau hujan," kata Vin yang menatap luar dari jendela di ruang tamu. Allea mendekat, " Ronal bagaimana, ya? Dia tau kita ke sini nggak? Takutnya dia mencari kita."


"Gue tadi sudah tulis pesan di pintu kulkas," terang Abimanyu yang duduk di sofa, memeluk Ellea di depannya.


Allea dan Vin memilih menjauh dari sepasang sejoli itu. Mencari tempat yang mungkin tidak menimbulkan iri di hati mereka. Vin juga memilih menjauh, membiarkan sahabatnya saling melepas rindu. Ellea dan Abimanyu sudah mengalami banyak hal buruk hingga kini mereka bisa berkumpul kembali.


"Elu kuliah?' tanya Vin melirik gadis yang duduk di sampingnya. Mereka kini ada di teras, menikmati rintik hujan yang baru saja datang.


"Hm. Iya. Tapi belum selesai. Kami dulu sering berpindah tempat. Kadang datang ke negara berbeda dalam beberapa bulan. Kalau kamu? Bagaimana bisa kenal Ellea dan Abi?"


"Huh, ceritanya panjang. Dan pasti elu nggak percaya."


"Why?"


Vin melirik gadis itu, tersenyum, lalu menceritakan peristiwa pertemuan mereka. Saat mereka menghadapi Kalla dan segala hal yang terjadi setelahnya.


"Oh, kamu tentara? Waw. Dulu aku mau masuk militer, tapi kakek nggak mengijinkan."


"What? Cewek kayak elu mau masuk tentara? Cih," cetus Vin lalu tertawa mengejek.

__ADS_1


"Hey! Apa maksudmu? Kau mengejekku, ya?" Sebuah pukulan mendarat di lengan Vin karena Allea merasa diremehkan oleh pemuda itu. "Lihat saja, suatu saat nanti kamu yang akan kutolong dari kematian!" tantang Allea.


"Oke, gue tunggu saat itu." Netra Vin menatap sekitar. Halaman yang begitu luas dan sepi. "Elu nggak takut tinggal di sini? Nggak ada tetangga atau manusia lainnya."


"Wah, seorang militer yang sering ke negara konflik takut hantu?" sindir Allea dengan tawa geli.


"Cih, sama sekali tidak. Hanya saja, tempat ini aneh. Mirip setting di film pembunuhan."


Tawa Allea meledak seketika. Mendengar Vin mengatakan hal itu. Baginya itu kalimat yang menggelikan, tapi bagi Vin itu hal biasa saja. Ia tertegun mendengar tawa Allea yang lepas, baru kali ini ia melihat Allea tertawa. Dia sangat cantik. 'Ah, bukan, kah, dia sama seperti Ellea. Tapi kenapa aku nggak pernah liat Ellea secantik ini?' gumamnya dalam hati.


Obrolan mereka larut semakin dalam. Tak hanya sekali tapi beberapa kali Allea tertawa kembali hanya karena ocehan basi Vin. Ia merasa bangga, bisa membuat seseorang tertawa seperti ini. Biasanya tidak ada yang suka jika Vin sedang berceloteh, tapi Allea lain. Gadis itu justru sangat menikmati semua kisah yang Vin tuturkan.


"All, masuk, yuk. Udah malam. Kamu harus tidur," kata Vin yang mengganti panggilan elu gue dengan aku kamu. Allea tersenyum tipis, merasa perlakuan Vin sekarang berbeda padanya. Ia mengangguk, lalu masuk ke dalam diikuti Vin. Lampu teras dimatikan, juga lampu yang ada di ruang tamu. "Kamu masuk kamar dulu saja, All," suruh Vin saat bersiap mematikan semua lampu.


Ia melihat Ellea sudah terlelap di ranjang besar kamarnya. Allea tersenyum. Kini ia bisa bertemu dengan saudara kandungnya yang bertahun-tahun lalu dia rindukan. Ia pulang. Baginya rumah itu bukan tempat, tapi orang. Allea menemukan rumahnya yang hilang. Dan kini akan menjemput Kakeknya agar melengkapi rumahnya. "Kakek di mana?" gumam Allea.


Ellea menggeliat, mengerjapkan mata saat melihat seseorang duduk di samping ranjang, " All? Ayok, kita tidur. Sudah malam. Vin sudah kembali ke kamarnya juga, kan?"


"Sudah, Ell." Ia naik ke ranjang. Bersebelahan dengan Ellea. Allea memeluk tubuh mungil di sampingnya. "Akhirnya aku bisa melakukan ini. Tidur satu ranjang sama kamu. Dan berpelukan," ujarnya dengan kekehan kecil di balik tubuh Ellea. Ellea yang awalnya membelakangi Allea, lantas berbalik. Mereka kini saling berpelukan.


"Kamu sama Abimanyu serasi, Ell."


"Kamu juga, serasi sama Vin."


Allea mengendurkan tangannya dan menatap Ellea dengan dahi berkerut. "What?" tanya Ellea merasa mendapat tatapan tidak bersahabat dari Allea.


"Maksud kamu apa? Aku sama Vin?"


"Yes, kamu sama Vin. Dia pemuda yang baik, All. Gigih dan kalau udah sayang, sangat tulus."


'Apa sih kamu, Ell. Ayo tidur."


"Hey, lihat wajahmu memerah. Kamu malu, ya?" canda Ellea dan malah makin membuat Allea tersipu.


'No, please! Stop it, Ell."


"Oke, fine." Kembali mereka saling berpelukan erat. Berusaha merajut mimpi bersama. Hujan membuat tidur mereka makin cepat. Terlebih rasa lelah ditubuh mereka kini harus dilepaskan. Esok akan menjadi hari berat.


­­ ­­_______________


Bayangan beberapa orang terlihat menyelinap mendekati rumah itu. Hujan makin deras membuat jejak mereka tidak terdengar dari dalam rumah. Vin yang belum bisa tidur, hanya diam menatap langit-langit kamarnya. Mendengar dengkuran halus Abi membuatnya sedikit geli.


Krash!


Samar tapi jelas. suara ranting pohon yang terinjak membuat Vin beranjak. Ia menajamkan pendengarannya, dan kini mengintip keadaan di luar dari jendela kamar. Lampu sudah ia matikan sejak tadi, jadi bayangannya tidak akan terlihat di jendela. Vin terkejut, melihat ada beberapa orang mendatangi rumah ini. Merasa keadaan menjadi genting, ia lantas membangunkan Abimanyu.


"Bi, bangun! Ada orang di luar!" kata Vin, menggoyang-goyangkan tubuh Abimanyu. Pemuda itu lantas perlahan membuka mata dengan malas-malasan. "Apa sih, Vin?"


"Ada orang di luar!"

__ADS_1


Mendengar kalimat itu, Abi langsung melotot. "Bangunkan yang lain!"


__ADS_2