pancasona

pancasona
Part 206 Akhir kisah


__ADS_3

"Argh!" suara erangan terdengar nyaring dan sontak membuat semua orang terbangun. Arya yang sedang tidur di samping Gio terkejut dan langsung duduk sambil memperhatikan temannya itu. IA lantas segera membangunkan Gio yang masih memejamkan mata namun terus menjerit. Khawatir terjadi hal buruk padanya, karena semalam dia baru saja digigit oleh Rougarou. "Gio! Kenapa lu! Gio! Sadar, Gi!" jerit Arya sambil memukul pipi Gio agak kencang. Sementara teman teman mereka yang lain ikut menerobos masuk ke dalam tenda itu.


"Gio kenapa, Ya?" tanya Elang yang masuk terlebih dahulu. Tak menjawab pertanyaan Elang, Arya masih terus berusaha menyadarkan Gio. Hingga akhirnya satu tamparan keras Arya berikan dan sontak membuat Gio membuka matanya.


"Hah! Gila!" jerit Gio sambil menatap teman temannya satu persatu. Sementara mereka hanya menatap heran ke Gio dan sedikit ngeri melihatnya.


"Hey! Lu nggak apa apa?" tanya Arya, kembali menggoncangkan tubuh Gio. Gio yang masih berada di antara sadar dan tidak sadar, menatap Arya intens. Wajahnya tampak kebingungan, lalu ia memegangi wajah dan tubuhnya sendiri.


"Gue ... Gue," katanya sambil melihat luka bekas gigitan Rougarou kemarin, yang sudah mulai mengering. "Iya, elu kemarin digigit Rougarou. Bagaimana perasaan lu sekarang?" tanya Arya, cemas.


Gio menatap Arya sambil memegang wajahnya, "baik. Gue baik baik aja, Ya. Gue nggak berubah. Lihat, kan?" tanyanya sambil menunjukkan kuku tangan, dada, serta giginya. Semua memang tampak normal. Itu membuktikan kalau pengobatan mereka kemarin berhasil. Gio selamat.


Semua orang akhirnya dapat bernafas lega mengetahuinya. Langit mulai menampakkan cahaya terang. Fajar mulai muncul dan membuat kabut tipis perlahan menguar. Sensasi dingin perlahan berkurang, namun tetap masih terasa dingin bagi sebagian besar orang.


Mereka membuat sarapan terlebih dahulu. Beberapa makanan kaleng dan mie instant adalah menu wajib mereka jika sedang berada di tempat seperti ini. Biasanya mereka akan menyantap makanan normal dan sehat jika sedang berada di kota saja. Setelah sarapan, saat nya membereskan tenda dan mematikan api unggun. Memungut sampah dan membakarnya sebelum mereka benar benar pergi dari tempat ini.


"Ayok, jalan lagi," ajak Elang. Di antara mereka berenam, dia adalah orang yang paling antusias. Rasa rindunya pada buah hati membuatnya ingin segera menemukan Nabila dan membawanya pulang.


Semua sudah siap melanjutkan perjalanan, berbekal kompas, mereka menuju ke arah utara. Sesuai dengan petunjuk yang didapatkan sebelumnya. Tas ransel berada di punggung masing-masing, menyimpan perbekalan mereka dan semua bekerja sama. Bahkan Gio yang kemarin terluka, juga tidak cengeng dan manja. Dia membawa tenda yang tidak enteng.


Mereka mulai berjalan, menyusuri lahan yang rimbun, bahkan terkadang mereka harus menebas semak belukar yang menghalangi jalan. Hutan ini benar benar masih terlihat asri, bahkan terkesan masih alami. Sudah sangat jarang manusia yang memasuki tempat ini.


Langkah mereka terus menuju ke arah mata angin. Terus ke arah yang sama dengan bantuan kompas di tangan Elang. Arya yang berjalan di sampingnya membantu membuka lahan, jika menemukan rintangan kayu atau pohon yang mengganggu.


Sampai tiba tengah hari, Abimanyu yang berjalan paling belakang berhenti. Ia mendengar sesuatu yang aneh dari belakang. Suara langkah seekor kuda yang berlari ke arah mereka.


Melihat Abimanyu bersikap aneh, Ellea yang berjalan di depannya, menoleh dan memanggilnya.


"Kalian denger, nggak?" tanyanya sambil terus menajamkan pendengaran.


"Dengar apa?" tanya Ellea yang kini mendekat ke suaminya.


"Suara kuda."


Semua orang akhirnya ikut diam dan mendengarkan. Dan rupanya apa yang dikatakan oleh Abi memang beralasan.


"Iya, kok ada kuda di sini!" pekik Gio.


"Dari arah sana, kan?" tanya Arya sambil menunjuk belakang mereka. Perlahan suara itu makin keras. Dari jauh mulai terlihat sesuatu bergerak ke arah mereka. Dan memang benar kalau ada seekor kuda di depan mereka yang sedang berlari mendekat.


Mereka diam, sambil terus menunggu. Siapa orang yang duduk di atas pelana kuda tersebut. Karena kuda itu memang tidak sendirian.


"Apa-apaan!" pekik Abimanyu saat kuda tersebut makin dekat.


"Gue yang salah lihat atau benar, kalau orang di atas kuda itu ... Nggak punya kepala?" tanya Gio bergidik ngeri.


"Om nggak salah lihat, memang dia nggak pakai kepala, tapi dia membawa kepala ada di tangannya," jelas Ellea yang terpaku di tempatnya berdiri.


"Dullahan!" seru Nayla.


"What?! Apalagi itu!" tanya Elang sedikit kesal.


Abi mengeluarkan pedang dari balik tubuhnya, mereka juga mengikuti jejak Abi. Bersiap dengan serangan yang akan dilakukan oleh manusia tanpa kepala itu.


Kuda itu berhenti, semua orang diam. Manusia tanpa kepala yang masih duduk di atas kuda, mengulurkan tangannya ke depan. Kepalanya terlihat mengerikan, dengan mata yang melotot pada semua orang di depannya.


"Kalian yakin, kalau senjata kita bisa membunuh dia?!" tanya Gio berbisik.


"Nay, makhluk apa itu??" tanya Elang meminta penjelasan.


"Malaikat kematian!" sahut Arya yang memang tau siapa yang sedang mereka hadapi. Ia lantas berjalan mendekat, dan berdiri di depan Abimanyu dan Ellea. "Mau apa kamu?!"


Dullahan, Legenda Penunggang Kuda Tanpa Kepala. Diantara sekian banyak legenda yang berkenaan mengenai malaikat kematian, Dullahan kiranya salah satu yang paling mengerikan.


Dia digambarkan sebagai manusia tanpa kepala yang selalu naik kuda. Konon tujuannya adalah agar tangan dapat mengangkat kepala tinggi-tinggi sehingga Dullahan bisa melihat lebih jauh daerah sekitarnya. Wajah Dullahan digambarkan putih pucat, dengan mulut sobek lebar dari satu telinga ke telinga lainnya. Matanya yang kecil bewarna hitam dan menatap dengan sangat tajam; saking tajamnya sampai-sampai siapapun yang melihatnya akan terpaku seketika. Kepala Dullahan juga diliputi aura kehijauan. Aura tersebut membantu Dullahan untuk melihat keadaan sekeliling, jadi kepalanya juga berfungsi sebagai lentera penerang.


Ciri khas Dullahan lainnya adalah cambuk yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi, dimana cambuk tersebut konon dibuat dari sulaman tubuh manusia yang sudah meninggal. Penggambaran perawakan Dullahan dari leher ke bawah, memiliki variasi yang lebih beragam. Namun pada umumnya ia memiliki tubuh yang tinggi dengan balutan jubah bewarna hitam.


Alasan mengapa Dullahan begitu ditakuti adalah karena penampakan Dullahan biasanya menandakan kematian. Setelah menemukan targetnya maka Dullahan akan bergerak mengikutinya, tepatnya ketika si target sendirian. Versi lain menyebutkan bahwa jika Dullahan berhenti di depan seorang manusia yang masih hidup makan orang tersebut akan segera meninggal.


Dan kini dia berhenti di depan mereka semua.


"Ini pertanda buruk," kata Nayla dengan raut wajah cemas.


Dullaha tersebut tidak berkata apa pun. Hingga akhirnya Nayla berjalan ke depan, dan menarik Arya menjauh. "Kita lanjutin aja perjalanan, dia nggak akan menyerang kita secara beramai ramai seperti ini," jelas Nayla.


"Serius kamu, Nay?" tanya Ellea setengah tidak percaya.

__ADS_1


Nayla melirik ke Arya, kedua menyiratkan tatapan yang aneh. Tapi akhirnya mereka kembali meneruskan perjalanan. Dan memang Dullaha tersebut tidak berbuat apa pun.


Matahari tidak lagi terlihat terik. Mereka makin masuk ke dalam hutan dengan pohon yang sangat rimbun. Sehingga langit tidak terlihat jelas karena tertutup pohon pohon tinggi di atas mereka. Suasana makin dingin. Bahkan kini ada kabut tipis yang berada di sekitar mereka. Padahal jika melihat jam sekarang, saat ini masih dalam katagori siang hari. Tetapi seperti sudah akan gelap.


Suara langkah kuda Dullaha masih terdengar, namun samar. Setidaknya dia tidak akan bergerak selagi mereka masih bersama sama.


"Nay, perasaanku nggak enak. Siapa yang akan dia jemput?!" bisik Arya dengan pertanyaan yang memang juga sedang Nayla pikirkan.


"Aku juga nggak tau. Aku takut, Ya, gimana kalau salah satu dari kita nanti ...."


"Sst. Jangan berfikir jelek dulu. Kita harus optimis. Kita bisa melakukannya."


"Tapi, yang kita hadapi ... Azazil! Kamu tau, kan, bagaimana dia?!"


Arya segera meraih tangan Nayla yang masih berjalan di sampingnya. "Aku bakal terus jaga kamu, Nay."


Nayla menarik nafas panjang. Ia sedikit frustrasi. Ia sendiri tidak yakin dengan keberhasilan rencana mereka nanti.


Mereka makin dekat ke tempat tujuan. Dan kini sebuah tanah lapang mulai terlihat. Tanah lapang dengan banyak nisan di sekitarnya. Mereka telah sampai di makam kuno, tersebut.


"Yakin ini tempatnya?" tanya Gio begitu mereka sampai. Makam ini berada di dekat tebing yang berbatasan langsung dengan lautan lepas. Suara deburan ombak yang terpecah karena karang terdengar sampai telinga mereka. Aroma laut yang khas juga tercium di pangkal hidung mereka.


"Yah, sudah sejak lama gue cari tau tentang tempat ini. Karena di sinilah gerbang itu berada," jelas Elang, lalu menatap sekitarnya dengan ekspresi berat.


Ini adalah perjalanan terakhir mereka. Tempat di mana kunci ke sepuluh berada. Sekaligus tempat terakhir ke sepuluh kunci itu seharusnya. Apa yang mereka lakukan cukup beresiko. Mengeluarkan seorang iblis yang tidak seharusnya berada di bumi. Tetapi tentu mereka juga akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka nantinya. Pertanggung jawaban yang sangat besar. Melepaskan Azazil sekaligus membunuhnya.


Gerbang makam yang terbuat dari besi sudah banyak yang berkarat. Bunyi pintunya sudah sangat nyaring terdengar. Suasana kematian terasa kental di sekitar mereka. Kuburan kuburan tua di depan mereka tampak mengerikan. Kondisinya sudah banyak yang rusak. Bahkan banyak burung gagak sering melintas di atas mereka.


Semilir angin membuat suasana makin terasa mencekam. Bau anyir dan busuk kian kuat tercium.


"Hey, lihat! Itu, kah?" tunjuk Elang ke sebuah bangunan tua. Satu satunya bangunan yang ada di makam ini. Tempat itu memang mirip gua. Karena terbuat dari batu yang sengaja dipahat oleh manusia. Di depannya ada sebuah pintu besi yang terkunci Dengan rantai besar dan banyak.


"Yuk, kita ke sana!"


Langkah mereka mantap mendekati tempat itu. Suara kuda yang sejak tadi mengikuti mereka makin dekat, bahkan kini Dullahan sudah berada di luar gerbang makam. Hanya diam, mengawasi gerak gerik mereka. Dan tentu membuat mereka risih.


Pintu gua itu di dorong pelan, suasana gelap langsung terlihat. Karena tidak ada penerangan sama sekali di dalam. Arya menyalakan senter, membuat ruangan sedikit agak terang. "Itu ada obor!" tunjuknya ke beberapa benda yang berada di sudut-sudut tertentu. Dengan sigap mereka mulai menyalakan pemantik, dan menyalakan obor tersebut. Gua yang berbentuk persegi, kini tampak jelas. Di sekitarnya ada tiga buah ruangan gelap dengan jeruji besi di depannya. Mirip ruang tahanan di kantor polisi.


Mereka berdiri di tengah gua. Saling memperhatikan ketiga ruangan berjeruji besi tersebut. Ketiga ruangan itu tampak kosong, memang jika dilihat sekilas hanya sebuah ruangan kosong saja. Namun sebenarnya ada satu sosok mengerikan di salah satu ruangan itu.


"Yang mana nih?" tanya Gio sambil tengak-tengok.


"Hei, ini!" jerit Gio menunjuk ke salah satu ruangan gelap itu. Semua orang tentu mendekat. Elang dan Abi mengeluarkan ke sepuluh kunci yang sudah mereka simpan. Kunci kunci yang mereka dapatkan dengan susah payah. Jeruji besi yang ada di sekitarnya dilengkapi dengan ukiran-ukiran simbol aneh.


"Ini apa?" tanya Gio, menyentuh simbol-simbol itu.


"Mantra. Agar dia nggak bisa lolos dengan mudah. Berarti memang ini tempatnya," sahut Arya. "Tunggu!" Arya mengambil sebuah botol berisi cairan hitam kental yang ia dapatkan dari Wira beberapa hari lalu. Arya lantas menyiramkan cairan itu memutar, membentuk sebuah lingkaran.


"Itu apa, Ya?"


"Cairan ini akan menahan dia, setidaknya kita bisa menyerangnya terlebih dahulu." Sampai pada cairan terakhir dan kini sudah membentuk lingkaran yang sempurna. "Sudah. Lanjut, Lang."


Elang memasukan satu kunci. Bunyi klek membuat mereka saling tatap. Dan artinya kunci itu cocok. Satu persatu kunci di masukan. Sampai akhirnya saat kunci terakhir sudah berada di tangan Elang, ia menatap teman temannya terlebih dahulu. Menyiratkan kalau perang akan segera dimulai, dan mereka harus siap sekarang.


Derit pintu terdengar nyaring, pintu besi ini pun sama seperti pintu di gerbang makam tadi, berkarat dan tua. Namun masih tetap kuat. Semua orang mundur teratur, di luar lingkaran yang tadi Arya buat. Mempersiapkan akan serangan makhluk mengerikan yang pasti ada di dalam. Keadaan ruangan itu yang awalnya gelap, perlahan mulai terlihat terang. Ada sebuah cahaya yang muncul dari atasnya. Dan kini sesosok makhluk di dalam mulai terlihat.


Seorang manusia dengan penutup kepala. Dan juga dua buah sayap hitam yang berada di punggungnya. Dia adalah Azazil, bapak dari bangsa jin. Dan sebelum dia menjadi iblis, sebenarnya dia adalah seorang malaikat yang paling kuat, tapi karena kesombongannya, akhirnya dia diusir dari langit. Wajahnya yang dulu sangat tampan dan indah dipandang, kini berubah mengerikan. Azazil membuka penutup kepalanya, Tuhan mengubah kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti ketel tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring **** hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.


Ia menatap semua orang yang ada di sekitar. Menyeringai dengan tatapan mengerikan. Lalu terhenti saat melihat Arya dan Nayla. "Well, Samyaza dan Lilith. Para panglima perangku rupanya datang menjemput?" tanya Azazil sambil terus berjalan mendekat ke mereka berdua.


"Jangan terlalu senang, kami menjemputmu untuk menghabisi nyawamu, Azazil!" tukas Arya. Azazil terkekeh, mendekatkan tubuhnya ke arah dua orang itu. Tetapi garis batas itu ternyata berhasil, hingga dia memang tidak bisa melewatinya. "Wow, rupanya kalian mengurungku di depan kurunganku yang dulu? Apa kalian sadar, kalau ini," tunjuknya ke garis di bawah. "Tidak akan bertahan lama?" tanyanya.


"Yah, memang. Dan saat pengaruh cairan ini hilang, kami sudah membunuhmu!"


"Seyakin itu, kah? Bukannya kita akan bersama sama menghancurkan bumi ini, Sam?"


"Jangan mimpi!"


Azazil tertawa, tangannya menjulur hendak meraih Nayla yang sejak tadi diam di samping Arya. Tetapi dengan sigap, Nayla justru mengiris pergelangan tangan Azazil dengan sebuah pisau perak yang diukir dengan mantra seperti yang ada di jeruji kurungan Azazil. Makhluk itu mengerang kesakitan. Lengannya mengeluarkan darah berwarna hitam pekat. Tapi ia justru tersenyum sambil menatap Nayla."Lilith ... kamu masih sama seperti dulu. Garang, dan aku suka," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia lalu beralih menatap satu persatu orang yang ada di sekitarnya. "Siapa mereka?" tanyanya pada Arya dan Nayla.


"Mana putriku!?" tanya Elang spontan. Dia sudah tidak bisa menahan lagi rupanya.


Azazil menoleh ke Elang, dahinya berkerut. Lalu tersenyum, "Oh, rupanya kau ayah si gadis kecil itu?"


"Di mana anakku!" jeritnya sambil melangkah mendekat. Tetapi Abimanyu menahannya, agar tetap berada di luar garis.


"Tenang saja. Dia baik-baik saja. Keberadaannya itu sungguh membuatku tidak kesepian. Dia anak yang manis, pintar dan keras kepala. Sudah sejak lama aku mencari dia, dan akhirnya bertemu di kehidupan ini."

__ADS_1


"Kenapa kamu mencari Nabila? Dia cuma anak kecil yang bisa melihat jenismu. Dan dia bukan satu satunya, kan?" tanya Ellea.


"Yah, memang. Tapi cuma dia yang menjadi reinkarnasi Vangelina Demitri."


Semua orang yang asing mendengar nama itu hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


"Eum, kau ini ... Astaga! Nephilim?! Wow, kupikir semua sudah kubunuh!" kata Azazil menatap Ellea penuh benci.


"Oh, sayang sekali kalau kau melewatkan satu. Dan, kau akan mati di tanganku!" ancam Ellea tegas.


Azazil hanya tersenyum dan berjalan mundur. "Kita lihat siapa yang akan terkubur di tempat ini," katanya lalu merentangkan sayap hitamnya dan mengepakkannya hingga membuat gua ini bergetar. Semua orang bersiap menyerang, masing-masing sudah memegang senjata. Namun tiba tiba seorang anak kecil keluar dari kurungan Azazil. Ia masih memakai piyama tidur, sambil memeluk boneka teddy di tangannya.


"Nabila!" jerit Elang berlari menghampiri putrinya.


"Elang, jangan!" pekik Arya. Namun semua terlambat. Elang sudah masuk ke dalam. Lalu tangan Azazil berhasil meraih lehernya dan mencengkeram erat. Elang memekik kesakitan. Ia kesulitan bernafas. Azazil membawa tubuh Elang ke udara dan melemparnya menghantam jeruji besi di belakangnya. Lehernya membekas cap tangan berwarna hitam. Panas dan terasa pedih. Ia berusaha bangkit dan terus memanggil putrinya. Tetapi Nabila kini bukanlah Nabila yang biasanya. Bola matanya semua berubah putih. Dia hanya diam tanpa ekspresi. Azazil mengelus kepala gadis kecil itu, "Nabila ... mereka hendak menyakitiku, tolong bunuh saja mereka," pinta Azazil dengan nada memohon pada gadis itu. Nabila mengangguk. Tangannya menjulur ke Gio, lalu menghempaskannya begitu saja. Gio terpental hanya dengan gerakan tangan Nabila, tanpa ia menyentuhnya. Tentu mereka kini harus lebih waspada.


"Nabila terkena pengaruh sihir Azazil. Dia nggak akan dengerin kita," kata Nayla.


"Lang, lu nggak bilang anak lu sakti!" ujar Gio berusaha bangkit sambil menahan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya. Elang tidak menjawab perkataan Gio, ia hanya menatap putrinya nanar.


Azazil menatap Abimanyu. "Sepertinya aku tau siapa kau, putra Sam dan Lilith?" Azazil menoleh ke Nabila, "Jadi dia, yang akan membunuhku, Nabila sayang?" tanyanya. Nabila mengangguk. Azazil tersenyum, ia menghempaskan tangan ke arah Abimanyu, dan membuat pria itu ikut terpental, punggungnya menghantam tembok. Melihat hal itu, Nayla berlari ke arah Azazil dengan mengarahkan pisau yang ia dapatkan dari Wira. Azazil yang mampu menebak pergerakan Nayla, langsung memegang tangan Nayla dan membanting gadis itu ke tanah. Arya menjerit, menyerangnya dengan samurai di tangannya. Pertarungan terjadi. Mereka saling serang dengan segala kemampuan masing-masing, berusaha saling menjatuhkan satu sama lain. Walau sejauh apa yang terlihat, Azazil jauh lebih unggul, tetapi mereka tidak menyerah.


Gio dan Elang sudah babak belur, darah sudah keluar dari mulut mereka. Bahkan jika dilanjutkan lagi, mereka pasti akan mati. Arya sedang menahan Azazil dengan sebuah rantai yang ia temukan di dekatnya. Berusaha mengikat iblis itu dibantu Nayla, yang kini meletakkan pisaunya tepat di jantung Azazil.


"Biyu, mereka tidak akan berhasil. Hanya kita berdua yang bisa membunuhnya. Percaya sama aku," kata Ellea berbisik saat membantu Abimanyu berdiri setelah di tendang jauh oleh Azazil.


"Bagaimana caranya, Ell?"


"Kita harus meledakkannya."


"Caranya?"


"Darah kita. Darahku akan menghambat pergerakannya, dan darahmu akan meledakkannya. Itu yang aku lihat di mimpiku tiap malam. Itu petunjuk, Biyu," kata Ellea dengan mata berkaca-kaca.


"Ell?"


"Kita harus mengorbankan diri kita, demi semua orang. Kalau Azazil lepas, dunia ini kacau, Biyu."


"Tapi, Ell?!"


Nayla ditusuk oleh Azazil dengan pisaunya sendiri. Arya menjerit dengan penuh amarah, ia segera berlari untuk menolong Nayla, walau sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi. Elang dan Gio sudah terkapar tidak berdaya. Tapi, saat Arya mendekat, pisau yang digunakan untuk menusuk Nayla, kini berpindah ke Arya.


"Ayah! Ibu!" jerit Abimanyu.


"Ayok!" ajak Ellea sambil menggenggam tangan Abimanyu. Abimanyu mengangguk menatap Ellea, mata memancarkan kesedihan mendalam, melihat kedua orang tuanya dibunuh di depan matanya.


Ellea mengambil pisau dari balik tubuhnya. Menggoreskannya ke semua bagian tubuhnya sendiri. Darahnya mengalir sepanjang ia berjalan. Setiap bagian tubuh Ellea kini mengeluarkan darah segar, ia lantass berlari ke arah Azazil yang masih menikmati menusuk Arya. Bagaimana pun juga, Arya dan Nayla adalah manusia biasa. Arya yang seharusnya bisa menyembuhkan dirinya sendiri, kini lemah, karena pisau yang dipakai oleh Azazil adalah pisau khusus yang akan dapat membunuh semua makhluk hidup di dunia ini, kecuali Archangel.


Ellea merobohkan Azazil. Tubuhnya yang sudah berdarah cukup banyak, rupanya berhasil membuat Azazil seolah terikat kuat padanya. Azazil tidak bisa bergerak, karena darah nephilim membuatnya lemah. Abimanyu menggoreskan pergelangan tangannya dan mengucurkan darahnya ke mulut Azazil.


"Om Gio, Om Elang, pergi dari sini! Cepat!" jerit Abimanyu kepada dua orang itu. Mereka yang belum sepenuhnya pingsan, berusaha bangkit dan membawa Nabila keluar. Abi dan Ellea saling tatap, kedua tangan mereka saling menggenggam. Ellea harus menahan Azazil sampai tubuh iblis itu meledak, dan Abi harus terus mengucurkan darahnya sampai Azazil binasa. Keduanya akan tetap berada di sini, sampai akhir.


"Ell, aku sangat mencintaimu," kata Abimanyu dengan air mata yang menetes di kedua bola matanya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Biyuku. Selamanya!" Ellea tersenyum getir.


Tubuh Azazil mulai retak, dengan sinar terang yang menyilaukan. Abimanyu memeluk Ellea, sampai akhirnya ledakan itu terjadi.


Gua itu runtuh dengan kondisi hancur lebur. Bahkan semuanya kini sudah berubah menjadi debu, rata dengan tanah. Gio dan Elang yang sudah berada di luar gua, duduk begitu saja di tanah. Gio menjerit memanggil nama Abi, Ellea, Arya dan Nayla. Ia memukul mukul tanah di depannya dengan perasaan sedih yang teramat dalam. "Tidak! Bi! Ell! Arya! Nayla!"


Mereka sudah tiada. Meninggalkan kenangan yang teramat dalam bagi rekan rekannya. Elang menepuk bahu Gio dan memeluknya. "Udah, Gi. Lu harus ikhlasin semuanya. Ini adalah yang terbaik, gue yakin, mereka sekarang sudah berkumpul di sana. Mereka baik-baik saja," kata Elang sambil memperhatikan langit di atas mereka. Serpihan butiran mengkilap membuat langit gelap di sekitar mereka terlihat terang bercahaya dengan indah. Nabila sudah kembali pada dirinya, pengaruh sihir Azazil sudah hilang dari gadis itu. Di usianya ia sudah melihat kejadian mengerikan sekaligus menyedihkan yang dialami sahabat ayahnya.


Mereka bertiga masih duduk di tanah begitu saja. Diam sambil menatap langit, berharap ada keajaiban yang datang. Setidaknya itu yang biasa terjadi. Tapi rupanya semua, sia sia.


Dalluha juga sudah tidak terlihat lagi di luar makam. Karena dia, sudah menyelesaikan tugasnya. Membawa 4 jiwa yang kontraknya sudah habis di dunia. Membawa mereka kembali ke tempatnya. Surga.


 


0


 


***Hallo teman-teman, sedih nggak bacanya?Sedih dong, pastinya. Karena aku ngetiknya juga sambil nangis. Sumpah . Hiks.


Tapi kisah ini akan berlanjut. Hanya saja tokohnya akan diganti. Mohon maaf, kalau nanti banyak yang protes, dan pasti kalian bakal demo sama saya, ya? hehe. 'Balikin Arya, Nayla, Ellea, Abi dong.'


Maaf, gaes. Begitulah kehidupan, ada pertemuan ada perpisahan. Ada kelahiran, ada kematian. Dan begitulah kehidupan normal sejatinya...

__ADS_1


Semoga kisah selanjutnya akan tetap menarik bagi kalian, dan semoga kalian tidak akan meninggalkan saya seperti 4 tokoh utama kita.


Happy reading, All***.


__ADS_2