
"Pulang yuk, May," ajak Abimanyu ke Maya yang masih setia menemani Risna yang bahkan sudah terlelap sejak beberapa menit lalu. Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Abimanyu juga tidak enak jika mengantar Maya pulang terlalu larut. Andrew dan timnya kini masih menunggu Risna tapi mereka memilih ada di ruang tunggu tak jauh dari ruangan Risna. Karena sudah ada 3 orang polisi yang berjaga di depan pintu kamar Risna, maka kekhawatiran mereka sedikit menipis.
"Pak, kami pulang dulu," pamit Abi pada Andrew yang tengah berdiskusi. Andrew hanya mengangguk menanggapi diikuti lambaian tangan Andika dan Jesika.
"Ridwan pulang jam berapa biasanya?" tanya Abi saat berjalan bersisian dengan Maya menuju lift.
"Paling udah lagi di jalan, Bang," jawab Maya sambil menatap jam dipergelangan tangannya.
"Ya udah. Kita langsung pulang aja, ya. Besok kamu sekolah, kan?"
Anggukan Maya tepat saat lift terbuka. Ada seorang perawat dengan masker di wajahnya yang akan keluar dari lift. Di tangannya ada sekotak peralatan suntik seperti jarum yang sudah diisi cairan berwarna gelap. Abi melirik sekilas sambil tetap mendengarkan obrolan dari Maya.
Perawat itu keluar dan kini di lift hanya tinggal mereka berdua.
Sampai pelataran parkir, Abi menyempatkan menengok ke atas. Menghitung letak kamar Risna yang mungkin ada diantara ruangan-ruangan itu.
"Bang?! Ayok!" seru Maya yang sudah duduk di dalam mobil.
_____
Perawat itu menuju kamar Risna. Salah seorang polisi mencegatnya dan bertanya keperluan dirinya.
"Sudah waktunya ganti infus, Pak," kata perawat pria itu. Salah seorang polisi masuk dan memeriksa kantong infus Risna yang ternyata memang tinggal menyisakan sedikit cairan saja di sana. "Biarin masuk, Rip!" katanya setengah berteriak, memberikan komando pada temannya yang berjaga di depan.
Polisi yang di depan kemudian minggir agar perawat itu bisa masuk. Sementara polisi yang satu, masih tetap di dalam. Melihat apa yang perawat itu lakukan.
"Memang mengerikan, ya, Pak. Kejadian pembunuhan itu. Saya saja sampai takut kalau dapat jatah shift malam seperti sekarang," kata perawat itu sambil mengganti kantung infus Risna. Risna masih terlelap karena efek obat yang diberikan dokter beberapa saat lalu.
"Iya, Mas. Tapi jangan khawatir. Penjagaan sekarang cukup ketat. Banyak polisi berjaga di beberapa titik kok. Untuk keselamatan warga," jelas Pak Polisi sambil berjalan ke arah jendela.
Perawat tadi lalu mengambil sebuah jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan aneh. Tanpa sepengetahuan polisi yang berjaga, jarum itu berhasil masuk ke dalam selang infus Risna.
"Sudah selesai, Pak. Saya permisi dulu." Perawat tadi buru-buru pergi meninggalkan polisi jaga seorang diri.
Malam ini bunyi guntur terdengar di langit. Hujan sepertinya akan kembali mengguyur desa seperti beberapa malam terakhir. Andrew beberapa kali terus menatap pintu ruang rawat Risna. Di sana masih ada dua polisi yang berdiri siaga di tempatnya.
Namun, saat pintu dibuka, polisi yang ada di dalam ruangan Risna berteriak."Dokter!" Saat itu, Andrew segera merangsek masuk ke dalam.
"Ada apa?!"
"Maaf, Pak. Saya kecolongan," tunjuknya ke Risna yang sedang kejang-kejang." Tadinada perawat yang masuk, mengganti infus. Tapi ... Setelah itu Risna begini."
Berkali-kali mereka berteriak memanggil dokter, bahkan Jesika sampai berlari ke ruangan perawat yang hanya menyisakan seorang perawat wanita saja.
Dokter masuk ke dalam, namun semua sudah terlambat. Risna sudah tewas dengan penyebab yang sama seperti korban-korban sebelumnya. Darah keluar dari mata, hidung, mulut dan telinga.
"********!" jerit Andrew kesal. Ia mengepalkan tangan dan memukul tembok di dekatnya. "Cari orang itu sampai dapat!" suruh Andrew kesal.
"Biar saya periksa kamera CCTV," Andika menyahut dan langsung keluar kamar. Jesika ikut keluar bertanya pada perawat tentang informasi perawat laki-laki yang tadi masuk ke kamar Risna.
"Di bangsal ini nggak ada perawat laki-laki, Bu. Semua perempuan." Jesika makin frustasi. Bahkan polisi yang tadi berjaga di kamar Risna tidak melihat bagaimana wajahnya.
"Bi! Risna!" Andrew menghubungi Abimanyu yang masih dalam perjalanan pulang. "Risna tewas!"
Mobil berhenti mendadak karena Abi mengerem begitu saja. Beruntung ia sudah mengantar Maya pulang. Sehingga kini ia berniat memutar arah dan kembali ke rumah sakit.
"Perawat laki-laki tadi!" kata Abimanyu. "Dia aneh, Pak!"
"Iya. Kami pun mencurigai dia. Sebentar, kamu ketemu perawat itu, kan? Kamu ingat? Apa dia ada ciri-ciri khusus?"
Abi diam sambil berfikir. Mengingat kembali orang yang baru saja temui beberapa saat lalu. "Postur tubuhnya kecil, dan pas dia lewat saya mencium bau. Eum, baunya seperti bau kaporit, Pak."
"Bau kaporit?"
"Iya. Kaporit."
Setelah menyebut kata kaporit, Abi langsung melebarkan matanya. Ia teringat akan sebuah tempat di desa ini yang khas dengan bau kaporit.
__ADS_1
"Ah, bener! Di sana!"
"Apa maksudmu?!"
"Kolam renang yang ada di perbatasan desa. Dulu jaman saya masih sekolah, kami selalu berenang di sana. Tapi belakangan kolam renang itu ditutup karena pernah ada beberapa anak yang iritasi. Mereka memakai kaporit yang cukup banyak di air."
"Di mana itu?"
"Saya share lokasinya begitu sampai di sana."
Abi segera menjalankan mobil ke tempat yang ia curigai sebagai persembunyian Riki. Jalanan sudah sunyi. Bahkan sangat sunyi karena ini sudah lewat tengah malam. Walau ia tetap menemukan banyak pedangan nasi goreng atau gorengan di beberapa ruas jalan.
Sampai di lampu merah, Abi berhenti. Walau jalanan sudah sangat sunyi. Bukan karena ia taat berlalu lintas, tapi karena ada dua pria yang mencegatnya di depan. "Anak ini! Enak enakkan dia keluyuran." Gio segera berjalan ke samping kiri pintu mobil. Adi mendekat ke pintu kemudi Abi. "Ke mana sih? Kirain ke rumah sakit?!" tanya Adi.
"Ceritanya panjang. Paman cepat naik. Kita harus kejar Riki!"
"Apa lu kata? Riki?" mendengar hal itu Adi menempatkan diri duduk di jok belakang mobil.
Dalam perjalanan Abi menceritakan setiap detil hal yang ia temui tadi. "Memang aku curiga pas papasan sama perawat di lift tadi. Apa yang dia bawa aneh. Warnanya nggak wajar. Dulu pas paman Gio masuk rumah sakit aja, suntikan yang di dapat warnanya selalu bening, kan? Sementara tadi berwarna gelap. Aneh. Satu lagi, lirikan orang tadi bener-bener mengganggu. Dia seolah kenal aku. Ah, bodoh! Kenapa aku nggak cegah dia tadi!" Abi merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukil setir mobil.
"Udahlah, Bi. Semua udah terlambat. Sekarang kita harus menangkap pelakunya."
"Bener, Paman. Karena masih ada 5 orang target lagi, kalau sampai dia lolos kali ini."
Mereka sampai di kolam renang yang Abi maksud. Ia segera mengirim lokasi ke Andrew. "Ayo masuk!" ajak Gio lalu turun dari mobil. Ia menggerak gerakan tubuhnya layaknya orang yang sedang senam.
"Udah lama gue nggak berantem," katanya sombong.
"Lagak lu! Jangan takabur. Dia bukan orang sembarangan. Yang kita hadapi Sekaran orang sakit mental!" saran Adi.
"Makhluk sekelas Kalla aja berhasil kita bunuh, kan? Masa manusia normal gitu kita kalah."
"Tapi sayangnya dia nggak normal, paman."
Mereka sampai di pintu masuk wahana kolam renang ini. Lampu padam. Dan membuat kondisi tempat ini gelap. Tempat ini memang sudah terbengkalai sejak lama. Ditutup begitu saja dan teronggok tanpa ada kepastian apa pun. Memberikan kesan seram bagi orang yang melihatnya.
"Yakin."
"Ya udah, ayo kita masuk."
"Dikonci, Gi!" kata Adi sambil memegang rantai besi itu.
"Kecil!" sahut Gio. Ia mencari sesuatu di sekitar. Menemukan sebuah kunci inggris yang tergeletak begitu saja. Dalam sekali hantam, rantai itu lepas. "Siapa dulu dong ... Gio!" kata Gio bangga.
"Sombong!"
Adi dan Abimanyu masuk begitu saja. Mereka menyalakan senter yang ada di ponsel masing-masing. "Berpencar!" suruh Adi.
"Hati-hati semua!"
"Pasti!"
Tempat ini walau tidak terlalu luas seperti wahana berenang di kota - kota besar, tetap terasa besar bagi mereka bertiga. Karena jarak pandang yang terbatas, membuat pencarian kali ini cukup sulit.
Air kolam masih memenuhi kolam kolam di dalam. Walau banyak daun daun kering juga sampah yang ikut mengambang di atas air. "Astaga!" jerit Adi yang mampu didengar Gio dan Abimanyu.
"Kenapa, Di?" teriak Gio yang ada di seberang kolam.
"Itu! Mayat!" tunjuk Adi ke tengah tengah kolam. Sampah sampah yang cukup banyak membuat sesosok tubuh tersamarkan.
"Gila!" Pekik Gio yang baru menyadarinya. Abimanyu mengambil bilah panjang yang ada di dekatnya. Biasanya ini dipakai untuk mengambil sampah yang ada di tengah kolam. Ia berhasil menyeret tubuh itu ke pinggir kolam walau sedikit kesulitan. Tubuh yang mengambang dengan posisi tengkurap itu kemudian ditarik Gio dan Adi ke pinggir kolam.
Mata mereka terbelalak saat melihat tubuh itu. Wajahnya tidak asing lagi karena sudah memenuhi beberapa poster di desa ini. Riki!
Tubuh Riki sudah biru. Mereka bertiga jongkok dan memeriksa keadaannya. Penyebab kematiannya yang masih menjadi misteri.
"Dia keracunan!" ungkap Gio yakin.
__ADS_1
"Yakin lu?"
"100%. Cuma karena dia lama di air aja, keliatannya kaya mati karena tenggelam. Coba besok gue telpon Akbar. Biar dia otopsi ni anak."
Brak!
Bunyi benda terjadi menjadi perhatian mereka bertiga. Senter menyorot ke asal bunyi tadi. "Siapa?" teriak Adi. Ia beranjak dan mendekat perlahan. Ada sebuah ruangan gelap dengan tumpukan meja dan kursi di sana. Begitu Adi sudah dekat, seseorang mendorong Adi hingga ia jatuh. Orang itu terus berlari.
"Kejar!" teriak Gio mengomando Abimanyu. Mereka berlari mengejar orang tadi. Larinya tidak terlalu cepat, sampai Abi bisa menggapainya. Abi menarik kerah baju orang itu hingga ia jatuh tersungkur ke belakang. Pria itu memakai pakaian hitam, masker wajah dan topi. Abi mengambil topinya. Tapi ia segera bangun kembali dan menyerang Abi brutal. Ia mengambil sebuah pisau dari saku celana dan menyabetkan pada tangan Abi. Lengan Abi berdarah. Adi datang dan langsung menendangnya. Pisau pun jatuh agak jauh. Melihat keadaan tidak memungkinkan, pria itu segera berlari memanjat tembok di belakangnya.
"Bi?! Nggak apa-apa?" tanya Adi membantunya berdiri. Gio berlari dan menyusul pria tadi yang melompat ke tembok.
"Kejar dia, Paman!" pinta Abi yang merintis kesakitan memegang lengannya.
Adi mengangguk dan berlari ke luar. Sampai di luar Andrew, Jesika dan Andika datang.
"****! Orangnya kabur tuh! Kejar ke sana!" ungkap Adi terus berlari ke arah tembok samping.
Tiga orang itu yang masih bingung segera mengikuti Adi. Abimanyu membalut lukanya dengan sapu tangan yang ada di sakunya. Ia masih diam di tempat itu dan mengamati sekitar. Ia baru menyadari kalau ada sebuah ruangan yang terbuka dengan kondisi lampu menyala. Abi lantas berjalan ke tempat itu.
Hanya tempat ini yang terlihat rapi dan bersih. Berbanding terbalik dengan keadaan sekitar kolam yang kotor dan berantakan. Tempat ini hanya sebuah ruangan luas. Dengan kasur di Tenga ruangan, dapur mini dan sisi lain yang hanya menampilkan papan tulis besar. Dengan beberapa tempelan gambar dan tulisan di tiap sudutnya.
"Gila!" Abimanyu menatap satu persatu foto yang tertempel di sana.
Ada 11 foto di sana. Dengan wajah anak kecil. Namun Abi bisa dengan mudah membaca, siapa saja anak anak itu. Mereka adalah target Riki. Karena lima foto sudah ia beri tanda silang berwarna merah. Menandakan mereka sudah tewas. Tinggal 6 orang lagi.
"6 lagi? Siapa yang satunya?" cuma Abi kebingungan.
"Astaga! Kamu di sini?" tanya Adi yang tergopoh gopoh masuk ke ruangan ini.
Abimanyu hanya diam. Tak lama terdengar derap langkah beberapa orang yang ikut masuk ke dalam.
"Tempat apa ini?" tanya Jesika.
Tak hanya Jesika, semua orang di tempat ini juga pasti bertanya tanya.
"Lihat ini!" tunjuk Abi ke papan tulis besar itu.
"Ini markas Riki?"
"Bukan cuma Riki. Ternyata Riki punya komplotan."
"Ah, dia lolos tadi!"
Andrew dan yang lain menatap foto foto itu. "Lima orang sudah tewas. Jadi masih ada lima orang lagi. Kita harus waspada dan bersiap akan pembunuhan ke enam. Walau Riki sudah tewas, tapi kita tau, kan, kalau dia punya komplotan?" tanya Andrew.
"Bukan lima lagi, Pak. Tapi 6 target selanjutnya." Abimanyu menunjuk sebuah foto anak kecil berambut pirang. Wajahnya tidak dapat diidentifikasi karena posisi foto itu menghadap ke belakang. "Lima orang lainnya kita tau siapa. Tapi dia ... Kita belum tau siapa dia."
"Tidak apa-apa. Asal kita bisa cegah kematian selanjutnya setelah Risna. Maka pembunuh itu pasti berhenti."
"Siapa selanjutnya?"
"Eliza! Eliza putri."
"Bagus. Kita bisa perketat penjagaan untuk dia."
"Masalahnya, Eliza ada di luar kota."
"Kalau gitu, kita harus ke kota."
Polisi datang, menutup TKP dan membawa mayat Riki untuk diotopsi. Kemungkinan besar Riki dan pria tadi bersekongkol dan terjadi perbedaan pendapat. Yang akhirnya Riki terbunuh dengan racun yang biasa mereka gunakan untuk membunuh korban korbannya.
"Pantesan! Kolam renang ini dulu punya keluarganya Riki."
"Jadi ini tempat persembunyian dia. Pintar sekali."
"Bener, kan? Kalau dia sakit mental. Kita harus waspada walaupun dia manusia biasa. Tapi otaknya selicik Kalla. Jangan sampai kita lengah. Karena musuh kali ini, seorang iblis bertubuh manusia!"
__ADS_1