pancasona

pancasona
Episode 109 End


__ADS_3

Lift berhenti. Listrik padam dan membuat keadaan menjadi gelap gulita. "Bagaimana ini?" tanya Nabila, panik. Mungkin kalau menit awal itu bukan hal yang patut dicemaskan. Tapi dalam keadaan seperti sekarang, tidak ada yang akan menolong mereka kecuali diri mereka sendiri. "Senter!" pinta Abi pada mereka berdua. Rizal menyalakan lampu dari dalam ponselnya. Keadaan sedikit terang tapi makin lama udara makin menipis.


"Kita harus keluar," kata Abimanyu melihat ke bagian atas lift. Rizal yang mengerti maksud Abi, kemudian ikut membantu. "Gue apa elu yang naik?" tanya Abi.


"Elu saja. Biar gue di bawah, elu naik ke bahu gue." Rizal memposisikan tubuhnya, jongkok. Abi lalu naik ke atas pundak Rizal. Dengan begini atap lift dapat mereka jangkau. Abi berusaha membuka penutup atas. Sekuat tenaga ia membukanya akhirnya kini udara mulai masuk ke dalam, rasa pengap hilang sudah. Abi mulai menginjak pundak Rizal, hingga pemuda di bawahnya sedikit meringis menahan berat tubuh Abi yang cukup lumayan itu.


Beruntung Abi cukup sigap, hingga kini ia sudah ada di atap lift, "Kalian mau ikut atau di sini dulu? Nanti gue cari bantuan."


"Kami di sini saja, Bi. Nggak usah khawatir, lu pergi saja," kata Rizal, Nabila pun mengiyakan saran Rizal tadi. Abi agak lama berpikir, ia juga merasa cemas akan keselamatan dua orang itu. Takut jika mereka tiba-tiba tertangkap oleh gangster yang baru datang tadi. "Mereka nggak akan bisa nyakitin kami," sambung Rizal dengan menatap nanar pada Abimanyu, lalu mengangkat senjata yang ia pegang, seolah tau apa yang ada di pikiran Abimanyu.


"Gue bakal balik lagi, tunggu, ya." Abi segera naik makin ke atas dengan memegang kabel besar yang membawa lift ini naik dan turun. Ia melompat saat melihat pintu di atasnya. Dengan susah payah, ia mencoba membuka pintu  besi itu, bahkan hingga kukunya mengelupas. Abi sampai lantai atas lantai yang tadi.


Ia sangat berhati-hati sekali, saat menginjakkan kaki di koridor lantai ini. Satu persatu ruangan ia buka, ada beberapa orang yang tergeletak di lantai begitu saja, entah pingsan atau mati. Abi mengambil beberapa senjata yang ada di lantai, bagaimana pun juga ia harus kembali menyelamatkan dua temannya di bawah.


Abi turun lewat tangga, sementara di tempat lain, Rizal dan Nabila sudah terpojok. Lift berhasil dibuka oleh gangster tadi. Kedua tangan mereka sudah mengarah ke atas, pasrah. Mereka dalam posisi jongkok di dalam lift. Segala hinaan kasar terlontar dari mulut orang-orang yang memakai penutup kepala ini. Rizal di pukul hingga pelipisnya berdarah. Nabila masih diam di tempatnya, menatap sinis orang-orang yang telah mengintimidasi mereka.


Abi mengintip dari pintu darurat, melihat sekeliling, saat merasa keadaan menguntungkan baginya, ia lantas keluar dan langsung menembak mereka secara brutal. Nabila dan Rizal yang melihat kesempatan ini segera mengangkat kembali senjata mereka dan menghabisi mereka satu persatu.


Semua musuh tergelak di lantai, beberapa ada yang mencoba bertahan, tapi Abi mendekatinya. Tanpa belas kasih, ia menembak tepat di kepalanya hingga berlubang. "Ayok ke atas." Mereka bertiga kembali berjalan lewat tangga ke atas, listrik masih padam, tapi mereka harus segera sampai atas, karena kini rombongan mobil lain baru saja datang. Mobil yang sama seperti yang dikendarai gangster tadi. BAhkan lebih banyak lagi. "Gawat! Cepat!" bisik Rizal. Mereka berlari agar menghindari kawanan orang tadi. Bagaimana pun juga mereka kalah jumlah. Mereka bertiga dan kelompok tadi mungkin ada 30 orang dengan setiap orang memiliki minimal  2 senjata api.


                                              ________


Elang mencekik leher David. Anehnya ia tidak terlihat kesakitan, justru wajahnya bahagia, ia tersenyum padahal cengkraman tangan Elang cukup keras. Wajah David yang putih makin pucat, bahkan setengah biru. Disisi lain Andareksa sedang memegang nyawa Gio dan Adi. Kuku miliknya sudah menembus leher dua orang itu. Elang melihat hal itu, langsung melempar David asal. Tapi David kini malah memegangi kaki Elang agar tidak bisa menolong dua temannya. "Lepasin, kakek tua! Atau kutendang kepalamu!" ancam Elang tidak main-main. Ia sudah sangat tersulut emosi. Bahkan yang awalnya iba, kini mendadak muak melihat David.  Benar saja, Elang menendang kepala David. Tak hanya sekali tapi berkali-kali, darah mengucur dari kepala David, tapi pegangan tangannya tidak mengendur sedikit pun. Elang makin kesal. Ia meraih vas bunga yang ada di meja nakas, menghantamkannya pada kepala David. Tetap saja David hanya melebarkan senyum tanpa melepaskan tangannya. Di saat yang bersamaan Abi datang. Sepanjang koridor lantai ini listrik menyala. Karena hanya di sini, dipasang lampu emergency. Abi melihat keadaan di dalam, dengan tatapan tak percaya. Elang merasa kedatangan Abi bagai penyelamatnya. "Bi, tembak dia!" tunjuk Elang ke David.


Abi sempat diam beberapa saat, nuraninya seolah menolak bersikap brutal padaa seorang kakek yang sudah babak belur dihajar Elang. Tapi melihat Gio dan Adi yang sudah hampir kehabisan darah, ia menarik pelatuk dan mengenai tepat di kepala David. Ia pun tewas.


Rizal dan Nabila menutup pintu. Menghalanginya dengan menggeser meja yang cukup berat. Elang langsung lompat dan mencekik Andareksa. Tubuhnya kuat sekali. Bahkan cekikan Elang seolah tidak berpengaruh apa-apa bagi pemilik tubuh tinggi dengan otot yang menyembul di hampir semua bagian tubuhnya. Abi lantas mendekat. Membantu Elang yang kewalahan. Ia langsung menembak pria itu di bagian perut. Andareksa hanya melirik sekilas, lalu tetap mencekik dua paman Abi itu. Sebentar lagi mereka bisa mati kalau Andareksa dibiarkan.


Bisma sudah tewas dengan darah yang mengalir dari perut dan kepalanya. Karena kesal, Abi meraih samurai panjang yang menjadi pajangan di ruangan itu. Ia memotong tangan Andareksa. Darah muncrat. Dari tangan Andareksa juga leher Gio dan Adi.

__ADS_1


Nabila melihat dua pria itu terkapar. Ia segera mendekat. melepas syal miliknya dan merobeknya menjadi dua. Ia membalut leher Gio dengan syal itu, Abi membalut leher Adi seperti apa yang dilakukan Nabila. Rizal yang kewalahan, menghadapi serangan dari luar, mencoba terus bertahan.


"Zal, tahan dulu, bisa, kan?" pinta Nabila, dan hanya ditanggapi dengan anggukan Rizal. Sebenarnya ia kewalahan, tapi semua orang di sini juga sudah terkuras tenaganya. Tapi mereka harus bertahan.


Elang terus naik di bahu Andareksa, ia berusaha menjauhkan tangan pria itu yang masih terlihat menggelepar bagai ikan yang kehabisan udara. Ia memiliki ajian pancasona. "Bi! Bakar tangan itu!" jerit Elang. Abi mengangguk dan langsung mencoba membakar dua lengan tangan itu. Ia melemparkan nya ke perapian yang ada di dekat sofa. Menyalakan api dengan susah payah. Andareksa membanting tubuh Elang ke lantai. Bunyi berdebum terdengar cari. Bersamaan dengan itu pintu sudah hampir terbuka. Keadaan di luar sudah mulai nampak dari dalam. Tembakan beruntun menembus pintu, membuat Rizal mau tidak mau menjauh.


"Kubunuh kau, kalau sampai tanganku kau bakar!" ancam Andareksa. Ia berjalan pelan mendekati Abimanyu yang masih siaga memegang korek api dan siap melemparnya ke perapian. Pintu makin terbuka, musuh makin dekat. Tapi tiba-tiba terdengar suara helikopter di luar. Makin lama makin dekat. Sebuah pengeras suara memberikan aba-aba, agar mereka mundur. Suara itu jelas sekali berasal dari seseorang yang Abi kenal. Wisnu.


Benar saja, Wisnu ada di sana dengan beberapa orang lain yang bersenjatakan laras panjang besar. "Merunduk!" jerit Elang. Abi merunduk seperti yang lain. Tembakan bertubi-tubi menyerang seluruh ruangan ini. Bahkan saking dahsyatnya bahkan peluru ini mampu menembus tembok di luar ruangan ini, mengenai gangster yang memberondong di luar. Satu persatu tubuh mereka terkena berondongan pistol. Menembus daging bahkan tulang mereka.  Andareksa tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Merasa keadaan aman, Wisnu turun dari helikopter. Masuk ke dalam dan memeriksa keadaan. Beberapa temannya juga ikut masuk. "Kalian baik-baik aja?" tanya Wisnu. Abi mengangguk, i harus menyelesaikan tugasnya pada tubuh Andareksa. Abi menyeret tubuh itu dan melemparkannya ke dalam kobaran api. Tak langsung terbakar, karena dia bukan Kalla yang mudah dibakar oleh api. Tapi, Wisnu mengambil botol minuman keras, dan langsung melempar ke dalam. Langsung saja api menjadi cepat membesar. Keadaan Gio dan Adi cukup mengkhawatirkan, tapi Wisnu sudah mengirim ambulance ke tempat ini. Bahkan kini anak buahnya sudah ada di lantai bawah untuk membereskan kekacauan ini. Menembak setiap orang yang masih bernafas. Bukannya mereka kejam, tapi jika hal itu dibiarkan, maka koloni ini akan terus berkembang tanpa ada habisnya.


Ambulance sudah membawa Gio dan Adi ke rumah sakit terdekat. Elang hanya mengalami luka ringan, jangan tanya tentang keadaan Abimanyu. Walau pakaianya koyak di beberapa bagian, tapi tidak ada 1 luka gores pun yang ada di tubuhnya.


"Koloni mereka sudah habis. Gue berhasil nemuin markas mereka yang lain," kata Wisnu agar Elang dan Abi tidak cemas. BD Coorporation sudah tutup. Tidak ada lagi anggota mereka yang selamat, itu sudah dijamin oleh Wisnu tadi. Diam - diam ia bergerak di belakang, mencari semua informasi mengenai BD Coorporation, dan perlahan memutus akar masalah dan kejahatan mereka hingga ke dalam. Memastikan kalau komunitas ini, Gangster ini punah. Dan tidak ada lagi Black Demon lain di kemudian hari.


Rizal dan Nabila benar-benar kembali ke kesatuannya, perjuangan mereka menorehkan hasil dengan kenaikan jabatan untuk keduanya. Gio dan Adi sementara harus dirawat di rumah sakit untuk memulihkan stamina mereka. Sementara itu, Ridwan tewas. Tidak ada tanda penganiayaan, karena ternyata ia bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.


Maya yang sudah tau tentang niat buruk kakaknya, sebenarnya berusaha menerima semuanya dengan lapang dada, tapi Ridwan yang merasa malu lebih baik mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.


                                              ______


Kini Abi, Gio, dan Adi sudah kembali ke desa. Kembali pada rutinitas mereka sebelumnya. Maya kembali ceria, ia tetap menjadi gadis periang dan sudah Abi anggap seperti adiknya sendiri. Maya memutuskan membantu cafe sepulang sekolah. Walau Abi bersikeras menolaknya, tapi akhirnya ia luluh juga. Dengan dalih, agar Abi bisa mengawasi anak itu setiap saat. Sekali pun Maya pandai karate, tapi ia tetap harus dilindungi.


Mobil Elang terlihat parkir di halaman cafe. Senyum sumringah Abi terlihat jelas. Apalagi ia melihat Shanum menggendong putranya dan Elang.


"Wah, ada jagoan kecil rupanya?" tanya Abi ke Rajendra, seorang anak laki-laki berumur 7 tahun itu.


"Pagi, Om Abi," sapa Rajendra, hangat. Ia segera berlari menghampiri Abimanyu, menarik tangan pemuda itu agar mensejajari tubuh mungilnya. "Sini deh. Aku bisikin."


Abi menurut, ia mulai menyimak apa yang di sebutkan Rajendra. Keningnya berkerut. lalu ditatapnya anak kecil itu, dan mulai mengacak-acak rambutnya. "Kamu ih, masih kecil. Siapa coba yang ngajarin? Mama pasti? " tanyanya sambil melirik ke arah Shanum yang kini bingung ditatap seperti itu.

__ADS_1


"Apa?"


"Cerita apa lu ke bocah sekecil ini. Pakai bawa-bawa nama Ellea pula," kata Abi ketus.


"Jendra bilang apa memangnya?" tanya Shanum yang memang tidak mengerti.


"Katanya, ' Om kemarin ada tante Ellea di rumah. Nanyain, Om Abi'. Itu pasti ngarang kan lu. Sengaja banget sih, Sha?"


"Astaga, Bi. Lah bener kok yang dibilang Jendra. Kemarin Ellea memang ke rumah, kami ngobrolin elu sama keadaan di sini. Masalah kemarin juga dia tau. Jendra ini pasti nguping." Shanum mulai mencari putranya untuk meminta pejelasan.


"Ellea ... sehat tapi, kan, Sha?" Pertanyaan itu membuat Shanum berhenti menggoda putranya. Ia lantas menoleh dan tersenyum pada Abi.


"Sehat kok. Dia nitip salam. Eum, kamu jangan marah ke dia, ya, Bi. Dia punya alasan kenapa hilang selama ini. Tanpa kabar dan hubungin kamu."


"Iya, nggak apa-apa, kok, Sha. Itu hak dia, gue nggak apa-apa. Asal dia sehat, masih bernafas, itu sudah cukup buat gue."


"Denger, Bi. Dia sebenernya nggak baik-baik saja. Ibunya meninggal. Begitu juga ayahnya. Ia yatim piatu sekarang. Kasian. Dan kehidupannya nggak berjalan mulus. Gue liat ada yang disembunyikan Ellea. Dia ketakutan, Bi. Tapi dia nggak mau bilang kenapa. Gue kasian banget sama dia."


"Ketakutan? Kenapa dia nggak balik aja ke sini?"


"Justru dia takut kalau balik ke sini. Dia bilang ada yang nyari dia. Terus nggak sengaja gue pernah dengerin percakapannya di telepon, dia bilang ada yang mau bunuh dia."


"...."


"Elu nggak ingin temui Ellea? Nggak ingin tau dia kenapa?"


"...."


"Mungkin dia sebenernya nungguin elu, Bi. Tapi dia bingung."

__ADS_1


"Maksudnya?"


Belum sempat Shanum membahas hal itu, Rajendra kembali datang seolah sedang dikejar oleh sang ayah, Elang. Mereka sedang bermain kejar-kejaran, dengan Elang yang memakai topeng dengan wujud seram. Mengingatkan Abimanyu pada sosok Kalla yang pernah mereka hadapi dulu. Tak hanya itu, wajah Ellea juga kini terlihat jelas diingatannya. Wajah yang sebenarnya ingin dia lupakan, tapi mendadak malah kembali muncul dengan banyak pertanyaan. Abimanyu penasaran.


__ADS_2