
Tiga pria dan seorang wanita memasuki perpustakaan dengan tergesa-gesa. Mereka berpencar mencari keberadaan Nayla. Lorong demi lorong ditelusuri namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya saat mereka bertemu lagi di depan pintu perpustakaan, Erica menyapa dengan ekspresi datarnya.
"Nyari apa?" tanyanya sambil menatap mereka di balik kaca mata minus yang bertengger di hidungnya.
"Anda lihat perempuan yang kemarin datang sama saya?" tanya Arya dengan wajah tegang.
"Nayla?"
"Iya!"
"Belum lama dia pergi sama Bu Rahayu," kata Erica santai.
Keempat orang itu saling menatap bingung. Lalu segera pergi dari perpustakaan.
"Duh, gimana ini. Nayla dalam bahaya dong!" rengek Retno sambil mengikuti langkah dua orang di depannya yang terkesan setengah berlari.
"Put, lacak di mana rumah Bu Rahayu!" suruh Arya tanpa menoleh ke pemuda di belakangnya.
"Siap."
"Kita naik mobilku saja," kata Wira lalu menggiring mereka ke sebuah mobil yang terparkir di sudut kampus. Mobil dengan mesin yang berkapasitas 2995 cc itu merupakan salah satu mobil mahal di dunia. Interiornya membawa material kulit yang mewah serta kabin yang luas, dan dapat menampung 5 penumpang.
Jangan heran dari mana Wira bisa mendapatkan mobil mewah ini, karena cukup hanya dengan satu jentikan jari, ia bisa mendapatkan semua yang ia kehendaki. Semua masuk ke dalam. Wira dan Arya duduk di kursi depan, sementara Retno dan Putra di kursi belakang. Putra mulai membuka laptop dan mencari semua informasi tentang Rahayu.
"Jalan Cokrodiningratan nomor 189."
Mobil melaju cepat menembus keramaian jalan. Kedatangan Putra membawa banyak manfaat bagi mereka. Terlebih ketertarikannya dengan misteri dan semacamnya membuat Putra lebih mudah direkrut oleh mereka. Setidaknya dia bisa dipercaya karena kakaknya salah satu teman Ucok yang dulu pernah membantu menumpas pengikut sekte ANKH.
Arya melirik ke Wira yang sedang fokus dengan kemudinya. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Yaitu sebuah tato yang sama persisi seperti yang ia miliki di pergelangan tangan kanannya. Namun Arya menahan untuk bertanya lebih jauh. Rasanya bukan waktu yang tepat untuk bertanya sesuatu yang awalnya ia anggap tidak penting itu.
Mereka sampai di alamat yang disebutkan Putra. Sebuah rumah khas joglo terlihat di balik pagar besi yang menjulang tinggi. Halamannya luas, namun di dominasi oleh pohon dan semak yang cukup rimbun, membuat rumah di dalam terlihat agak samar. "Ini rumahnya? Yakin?"
"Yakin, gaes. Ini bener. Lihat, ada di berita 5 tahun lalu," tunjuk Putra ke sebuah artikel yang ia cari di internet.
"Oke, kalian tunggu di sini sambil awasi sekitar. Kalau ada yang masuk ke sana, kabarin. Aku sama Wira ke dalam!"
Semua sepakat dengan rencana Arya itu. Dua pemuda itu turun dan menyeberang ke rumah yang dimaksud. Mereka mendekat ke gerbang yang memang dikunci dari dalam. "Gimana nih?" tanya Arya sambil memegang gembok yang melingkar di sana.
"Naik!" ajak Wira segera memanjat dan melompat ke dalam dengan cepat. Ary akhirnya menyusul sambil memperhatikan sekitar. Tidak mungkin jika mereka harus terpergok oleh warga dan malah diteriaki maling nanti.
Sampai di dalam, kedua nya mengurangi intensitas berbicara dan menggunakan bahasa isyarat dalam bertindak. Mereka memutuskan berpencar. Arya masuk lewat pintu depan, sementara Wira lewat pintu samping. "Aneh, mobil bu Rahayu di mana, ya?" batin Arya bertanya pada dirinya sendiri.
Pintu depan di buka oleh Arya, ia mulai masuk ke dalam perlahan, mengendap-endap, hingga tak mengeluarkan bunyi sedikit mungkin. Suasana di dalam sungguh gelap, seperti tidak ada penghuninya. Arya terus menelusuri tiap ruangan yang ada di rumah itu. Sampai akhirnya Wira sudah muncul dari belakang, dan mereka sama - sama berhenti di sebuah kamar terakhir yang belum diperiksa. Keduanya lantas saling memberikan isyarat, Arya mulai memegang gagang pintu, sementara Wira yang sudah memegang sebuah pemukul kasti bersiap akan menyerang. Wira mengangguk, membuat Arya mulai menggerakkan tangannya. Saat pintu dibuka, mereka melihat seorang pemuda yang sedang melukis di dalam. "Eric?!" pekik Arya.
____________
__ADS_1
Rahayu masuk ke sebuah gedung mewah yang cukup besar, dengan beberapa kaca sebagai sekat di bagian atasnya. Lalu di tengah ruangan, ada sebuah batu besar dengan simbol ANKH berbahan emas murni. Tubuh Nayla mulai dibawa oleh seorang pria tinggi besar dengan memakai hoddie di kepalanya. Beberapa pengikutnya sudah berbaris rapi di sepanjang red carpet yang sudah disiapkan sejak dulu. Mereka telah mendapatkan korban baru untuk dipersembahkan. Tidak hanya untuk digilir untuk disetubuhi tetapi pada akhirnya Nayla akan dibunuh untuk menghilangkan jejak seperti nasib korban - korban lain beberapa tahun lalu.
Seluruh pengikut sekte ini sudah berkumpul, karena hari ini adalah hari terakhir persembahan untuk dewa mereka. Kalau mereka tidak bisa memberikan persembahan, maka seluruh harta dan tahta yang mereka miliki akan hilang secara otomatis. Semua yang ada di ruangan ini berasal dari berbagai kalangan elit. Mereka sengaja melakukan ini untuk mendapat kekuasaan dan harta yang mereka ingin kan.
***
Wira dan Arya terlihat keluar dari rumah itu dengan Erik. Mereka segera berlari menuju mobil dan akhirnya mendapat banyak pertanyaan dari Retno dan Putra.
"Nanti kita jelasin di jalan, Nayla dalam bahaya!"
Mobil melaju cepat, beruntung jalanan sedang tidak begitu padat. Eric, menjadi korban atau malah kambing hitam atas masalah ini. Kejadian beberapa tahun lalu murni rekayasa ibundanya. Erik sendiri tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan padanya. Dia adalah mahasiswa teladan. Dan karena untuk menyelamatkan ibunya, ia rela menjadi kambing hitam. Menerima semua tuduhan yang sebenarnya dilakukan ibunya, bukan dirinya. Tetapi karena Rahayu melakukan tindakan ini lagi, maka Eric tidak akan tinggal diam. Rahayu harus dihentikan agar korban tidak terus berjatuhan.
Nayla sudah berganti pakaian. Ia memakai jubah selutut dan diikat di atas tempat persembahan. Gadis itu mulai menggeliat karena pengaruh biusnya sudah habis. Ia lantas terkejut saat mendapati dirinya dalam keadaan terikat. Ia menjerit sekuat tenaga minta dilepaskan, ia meronta agar ikatannya dilepaskan.
Semua pengikut sekte, berkumpul. Memutari Nayla. Mantra mulai diucapkan Rahayu. Bahasa yang tidak mudah dipahami, mirip bahasa latin kuno yang memang sudah ia hafal sejak dulu.
Rahayu memegang sebuah belati dengan ukiran unik. Mengangkat tinggi-tinggi benda mengkilap itu ke atas, lalu mengucapkan kalimat terakhir. Belati itu mulai didekatkan pada urat nadi Nayla, darah Nayla harus ditumpahkan di lantai dan harus mengenai batu yang berlapis emas di bawahnya.
Tetapi saat benda itu sampai di kulit Nayla, hal aneh terjadi. Kulit Nayla justru memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Membuat Rahayu mengernyit lalu mundur. Cahaya itu lenyap dalam beberapa detik kemudian. Semua pengikut Rahayu juga menyaksikan kejadian langka ini. Rahayu kembali mendekat, ia hendak melakukan hal itu lagi namun kini berganti ke pergelangan satu Nayla yang satunya.
Namun, sebelum itu terjadi, pintu depan didobrak paksa. Beberapa orang kini mulai merangsek masuk dan membuat semua orang terkejut.
Rahayu menoleh dan langsung menyuruh para pengikutnya untuk menghadang Arya dan Wira. Terjadilah pertempuran di antara kedua belah pihak. Ditambah dengan Eric yang kini justru melawan ibunya sendiri.
Eric mendekat ke ibunya. Tatapannya dingin dan datar. Ia sungguh sangat kecewa atas semua perilaku Rahayu yang sudah keterlaluan. Kini dirinya tidak mau lagi membela sang ibunda.
"Kamu anak durhaka, Eric! Berani betul kamu membawa pengacau itu ke sini! Kamu nggak tau, apa yang ibu lakukan semata-mata demi kebaikan kamu! Kamu itu sudah nggak punya masa depan lagi! Mau dari mana kamu makan selain dari ibu!"
"Aku seperti ini justru karena ibu! Ibu yang sudah merusak masa depanku. Aku rela menjadi kambing hitam agar nama baik ibu tidak tercemar, ibu sudah berjanji, kan? Tapi sekarang? Kenapa ibu ulangi lagi!" jerit Eric.
"Kamu nggak tau apa-apa! Kamu nggak tau pentingnya semua ini bagi kami, bagi ibu! Dan juga bagi kamu!"
"Aku lebih baik mati, daripada punya ibu pengikut aliran sesat!"
"Sesat kamu bilang?!"
Rahayu memerintahkan sebagian anak buahnya untuk menghajar Eric. Namun Putra dan Retno ikut membantu Eric dengan keterbatasan mereka. Tiga orang itu memang bukan lah petarung hebat. Tidak seperti Arya dan Nayla. Retno mulai mendekat ke Nayla dan berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu tangan dan kaki gadis itu. "Tahan, Nay."
Ikatan tangan Nayla mulai terlepas, namun saat mereka hendak melepaskan ikatan kakinya, ada salah satu pengikut Rahayu yang menghalangi. Ia mengayunkan sebuah pedang ke arah Retno. Beruntung Nayla melihatnya dan langsung menjerit sambil mendorong Retno mundur. Retno tersungkur tapi setidaknya dia selamat.
Nayla yang melihat orang itu hendak melukainya, menjerit lalu menutup wajahnya. Tetapi setelah ditunggu beberapa lama, tidak terjadi apa pun pada dirinya. Hingga akhirnya ia beranikan diri melihat ke sekitar. Kepala orang itu sudah lepas dari tubuhnya. Anehnya, darah yang dikeluarkan warnanya hitam. Bukan normalnya manusia. Ah, mereka memang bukan manusia, kan? Mereka lebih mirip iblis!
Arya berdiri di belakang tubuh yang menggelepar itu. Ia segera melepaskan ikatan Nayla. Lalu membantu gadis itu turun. Arya menatap Nayla intens. Lalu melihat ke arah lain sambil melepas jaketnya. "Pakai!" Nayla yang malu- malu segera memakai jaket Arya karena pakaian yang ia kenakan sangat transparan.
"Ayok pergi!" ajak Arya, menggandeng Nayla keluar dari tempat ini. Retno mengikuti mereka bersama Putra. Sementara Eric masih memiliki urusan yang belum selesai dengan ibunya.
__ADS_1
"Kalian di sini dulu, hubungi polisi!" suruh Arya yang sudah membawa mereka keluar dan aman di dalam mobil. Saat Arya hendak kembali ke dalam, Nayla menahan tangan pemuda itu. "Arya, hati hati!" kata Nayla dengan sorot mata dalam. Arya hanya mengangguk sambil menarik salah satu sudut bibirnya. Ia sempatkan mengelus pucuk kepala gadis itu lalu segera kembali masuk, menyusul Wira dan Eric.
Semua pengikut Rahayu sudah ditangkap. Rahayu sendiri tewas karena tertembak oleh salah satu pengikutnya yang salah mengarahkan pistol. Seharusnya peluru itu menembus jantung Eric tetapi justru malah mengenai sang ibunda. Semua anggota sekte itu, ditangkap. Beberapa korban juga dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.
Akhirnya tugas mereka selesai. Kasus ini akan segera ditindak lanjuti oleh polisi. Mereka kembali pulang, karena hari sudah malam. Kesaksian mereka.yang sudah diberikan di kantor polisi, membuat tubuh mereka lelah. Satu persatu mereka diantar pulang oleh Wira.
Hingga sampai di rumah kos Nayla, hanya tinggal Arya, Wira, dan Nayla. Mobil berhenti tepat di samping trotoar jalan yang langsung terhubung dengan pintu gerbang kos Nayla.
"Thanks semuanya. Makasih banyak, ya. Aku masuk dulu," kata Nayla pamit dengan nada lemah.
"Tunggu, Nay. Biar Arya nemenin kamu dulu di kos, gimana?" tanya Wira sambil melirik pemuda di sampingnya. Arya mengerutkan dahi mendengar kalimat Wira. "Buat jaga-jaga, Ya. Takut Nayla kenapa kenapa lagi," jelas Wira.
Arya mencium kebohongan dari sorot mata Wira, namun, apa pun alasannya dirinya memang ingin memastikan Nayla baik-baik saja malam ini. Mereka berdua akhirnya turun dan masuk ke dalam.
Wira tak langsung pergi, tetapi diam sambil mengamati sosok di bawah pohon yang sangat mencurigakan. Ia kemudian turun dari mobilnya dan mendekat ke pengintai itu. Mengetahui persembunyiannya di ketahui Wira, pria dengan tutup kepala itu segera lari menjauh. Wira mengejarnya dan melupakan mobil yang ia tinggalkan.
"Masuk dulu, Ya. Aku bersih-bersih dulu, ya," pamit Nayla saat ia sudah membuka pintu kamarnya. Arya tidak menyahut, namun segera masuk dan duduk di lantai yang beralaskan karpet merah itu. Nayla mengambil pakaian terlebih dahulu dari lemari nya, lalu segera masuk ke kamar mandi. Sambil menunggu Nayla selesai mandi, Arya keluar, memeriksa keadaan di lingkungan kos yang Nayla tinggali.
Lingkungan di kos ini sunyi. Walau semua tempat sudah diisi, tapi tidak ada interaksi antar satu dengan lainnya. Hanya sekedar menyapa, itupun hanya orang- orang tertentu saja. Beberapa kali Arya melihat tetangga kos Nayla yang aneh. Menatap ke kamar Nayla dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. Tetapi Arya yakin, kalau tatapan itu tidak bersahabat dan memiliki niat tersembunyi. "Bahaya juga Nayla tinggal di sini. Kebanyakan laki laki dan mereka aneh," gumam Arya. Ia segera menutup pintu kembali. Bertepatan dengan Nayla yang sudah selesai mandi.
"Kenapa, Ya?"
"Eum, nggak apa apa. Udah?"
"Udah."
"...."
"Eum, kamu mau pulang atau ..."
"Aku nginep sini nggak apa- apa? Kayaknya masih rawan kalau aku ninggalin kami sendirian malam ini. Apalagi setelah kejadian tadi."
"Oh, ya nggak apa apa sih. Aku juga sebenarnya takut sendirian di kos. Oh iya, Kebetulan aku punya sleeping bag."
"Nggak usah. Aku tidur di karpet aja."
"Oke." Nayla duduk di pinggir ranjang, sungkan.
"Ya udah, sana kamu tidur."
"Eum, huum. " Nayla lantas naik ke ranjang sambil memeluk guling menghadap tembok. Ia masih sungkan karena ada pria lain di kamarnya. Tapi ia yakin kalau Arya tidak akan berbuat macam macam padanya.
Lampu dimatikan, Nayla merasakan selimut di bawahnya bergerak, naik ke atas tubuhnya. "Selamat tidur," kata Arya yang telat menyelimuti Nayla lalu ia merebahkan diri di karpet itu.
Nayla tersenyum.
__ADS_1