pancasona

pancasona
Part 43 Gio


__ADS_3

Malam ini, aku dan wisnu sedang menonton tv di apartment nya.


Rumahku belum di perbaiki akibat insiden kemarin. Sehingga wisnu pun tidak mengijinkan ku tinggal disana. Untuk sementara waktu aku harus tinggal bersama nya. Lagipula arya dan rani juga masih dirumah sakit.


"Kamu udah laper?" tanyaku.


"Mmm... Lumayan.."


"Aku masakin sesuatu ya." kataku lalu beranjak dan berjalan menuju dapur.


Ku masakan makanan simple untuk wisnu. Saat aku memasak, tiba tiba wisnu memelukku dari belakang.


Sontak aku terkejut atas perlakuan nya. Aku bahkan sampai menghentikan kegiatanku dan sedikit menoleh ke belakang. Wisnu menyandarkan kepalanya di bahu kananku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku kangen sama kamu"


Deg!!!


"Kan sekarang kamu udah disini."


"Hmm.. Iya sih. Tapi namanya juga kangen, gimana lagi coba. "


"Hehehe.iya deh-- iya. Udah -- ih. Sana dulu. Masakan ku gosong nanti."


"Mau aku bantuin?"


"Gak usah.. Kamu duduk aja. Bentar lagi juga selesai."


"Hmm.. Oke deh kalau gitu.. Oh-- iya!!! aku lupa!" pekik wisnu sambil menepuk jidatnya yg lebar.


Aku lantas menoleh padanya," kenapa?"


" air minum abis nih. Padahal aku udah sms agen nya. Tapi kok belum dateng ya." katanya sambil celingukan agak kesal," aku ke minimarket aja ya. Daripada nanti kita kehausan."


"Oh gitu. Ya udah gak papa. "


Akhirnya wisnu melenggang keluar apartment membawa galon air minum.


Kebetulan minimarket yg dia maksud berada tidak jauh dari sini. Jadi palingan dia pergi juga sebentar. Karena masakan ku pun, sebentar lagi matang.


Baru 10 menit berlalu, tiba tiba pintu diketuk.


Aneh,kok cepet banget ya. Apa mungkin, wisnu ketemu agen air minum nya sebelum dia pergi?


Aku pun segera melepaskan apron, dan ku lempar saja di kursi meja makan.


"Sebentar ,nu." aku pun sedikit berlari kecil ke arah pintu.


Namun,saat aku mengintip di peephole, yg kulihat seorang pria membelakangi pintu . Namun,tidak ada galon air minum. Berarti dia bukan wisnu ataupun agen air minum yg biasanya datang.


Siapa ya?


Aku agak ragu untuk membukanya. Ku intip sekali lagi ke peephole.


Saat ku lihat lagi,pria itu berbalik dan ternyata dia sedang membawa bungkusan paket, berupa amplop coklat.


Sebelum aku keluar, kuambil terlebih dahulu ,raket listrik yg biasa kupakai memukul nyamuk. Dan Ku sembunyikan di belakang tubuhku.


Klek.


Ku buka sedikit pintu itu," ada apa ya?" tanyaku penuh curiga.


"Maaf ,bu. Saya mau mengirimkan paket." dia mengambil kertas yg disimpan disaku bajunya," dari pak reza, katanya ini dokumen untuk besok, pak reza sudah berangkat ke singapura tadi sore"


Memang benar,mas reza hari ini akan pergi keluar negeri karena ada beberapa pekerjaan disana.


"Oh iya-- ya udah. Makasih ya." kubuka pintu itu agak lebar dan mengambil kotak itu.


Ku tutup lagi pintu itu dan kuletakan amplop itu di meja depan tv.


Ponselku berdering.


'Hallo... Ya ,nu. Gimana?'


' baru dapet nih ,air minum nya. Kamu mau nitip apa lagi ,sayang?'


' eum.. Gak usah deh kayaknya. Oh iya ,mas reza ngirim dokumen nih. '


'Reza? Dokumen apa?'


' aku gak tau. Dibungkus amplop coklat.'


Wisnu terdiam beberapa saat.


'Jangan kamu apa- apa kan bungkusan itu. Kalau bisa kamu agak menjauh,nay.'


'Hah? Kenapa? '


' reza gak mungkin ngelakuin itu. Kalau dia mau, dia pasti kirim lewat email. Ini aneh.'


Deg!


'Terus,aku harus gimana? Aku keluar aja gimana?'


' iya,nay. Mending kamu keluar aja. Terus turun kebawah. Minta tolong satpam. Aku langsung balik nih.'


'Iya ,nu.'


Telepon dimatikan.


Segera saja kuraih cardigen hitam yg biasa ku gantung di stand hanger dekat pintu.


Klek..klek..klek..


Mati aku!! Kok ke konci??


Entah kenapa pintu malah tidak bisa dibuka. Padahal sudah ku buka kunci nya,tapi tetap saja sulit ku buka.


Aku makin panik.


Bagaimana tidak? Terkunci di sebuah ruangan dengan bungkusan aneh. Yg aku tidak tau itu apa.


Bisa jadi sesuatu yg bisa meledak? Seperti bom? Aku pasti akan hancur berantakan disini jika aku tidak segera keluar.


Braaakk.. Braaaak.. Braaaak.


"Toloooong.. Bukain pintu nya.. Toloooooong.." aku berteriak sekeras mungkin. Siapa tau ada orang yg lewat dan bisa membantuku keluar dari sini segera.


Doooorrrr!!!


Terdengar bunyi letusan dari arah belakangku.

__ADS_1


Saat aku menoleh ,paket itu meledak dan mengeluarkan asap putih yg banyak sekali.


Baiklah,itu mungkin bom asap.


Kulepaskan cardigen ku dan kupakai untuk menutup hidung dan mulutku.


Aku pergi ke kamar dan kututup pintu itu.


Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja disini. Aku bisa mati sesak karena asap makin lama makin banyak.


Akhirnya ku buka jendela kamar wisnu, aku keluar dari jendela. Bagaikan memakan buah simalakama, jika aku tidak berhati hati,aku juga bisa terjatuh ke bawah dan mati seketika.


Tapi jika aku berdiam diri didalam, aku bisa mati kehabisan udara dan sesak. Aku bahkan tidak tau asap apa itu.


Mungkin racun? Bisa jadi kan?


Aku berusaha berpegangan pada tembok dan terus menempel pada tembok. Pijakan ku hanya selebar satu telapak kaki saja,jadi aku berjalan dengan pelan dan waspada. Sedikit saja tergelincir, aku pasti akan jatuh.


Aku terus berjalan ke samping. Menuju kamar sebelah. Agar aku bisa ikut masuk kesana dan bisa keluar dengan selamat lewat kamar sebelah. Karena tidak mungkin aku terus menerus ada diluar seperti ini. Angin kencang dan badanku sudah gemetaran,karena aku agak takut ketinggian.


Namun,saat tiba di kamar sebelah, seperti nya keadaan sepi. Tidak ada orang disana. Dan jendela juga terkunci.


Kuambil ponsel dari saku celana tidurku.kuhubungi wisnu.


'Ya ,nay? Gimana? Kamu gak papa kan? Aku udah sampai lobby. Mau naik keatas nih.'


'Sejauh ini, aku baik-baik aja kok.' ucapku sambil melongok ke bawah.


'Kamu lagi dimana? Kok suaranya berisik banget?'


'Aku--- aku---- aku lagi diluar.'


'Luar mana? '


'Luar kamar. Dijendela.. Kamu jangan masuk kamar. Kamar penuh asap. Aku takut itu asap beracun.'


'Luar jendela???,ya ampun, nay. Ya udah. Tunggu aku. Kamu jangan kemana mana. Disitu aja. Kamu dikamar bu aini kan? Depan jendela bu aini?'


'Iya, aku di depan jendela kamar bu aini. Tapi gak ada orang didalem.. Aku masih diluar nih. Gimana donk.' rengek ku


' iya,sayang. Sabar ya. Sebentar lagi aku sampai. Aku udah keluar dari lift nih. Lagi jalan ke sana.'


'Cepet ya..aku takut...'


Praaaanggg!!!


Terdengar sesuatu yg pecah dari arah kamar wisnu.


Aku mencoba melongok ke sana,dan melihat ada apakah gerangan disana. Karena suara makin berisik saja.


Jangan jangan, mereka mulai masuk ke kamar wisnu.


Aku pun langsung bersembunyi makin merapat ke jendela bu aini agat tidak terlihat oleh mereka.


Ponselku bergetar.


Ada pesan dari wisnu.


'Kamu dimana?'


' masih didepan jendela kamar bu aini.mereka udah masuk kamar kamu. Aku harus kemana?'


'Duh.. Gawat. Kamu bisa geser lagi,nay? Ke kamar sebelah bu aini. Kebetulan aku kenal.dia pasti ada didalem.kamu kesana aja.aku udah didepan kamarnya nih'


"Heh!!! Itu diaa!!" teriak seseorang dari arah belakangku.


Mampus !! Ketauan lagi.


Karena panik,aku agak mempercepat jalan dan akhirnya aku tergelincir. Namun tanganku masih dapat meraih pegangan diatasku. Walaupun begitu,aku tetap tergantung diatas sini.


"Tolooooong" teriakku.


Aku malah melihat ke bawah.dan hal itu makin membuatku panik.


Apalagi orang- orang itu juga makin mendekat. Aku pun pasrah. Jika aku harus mati hari ini ,ya sudahlah.


Pegangan ku makin melemah,bahkan kulepaskan satu tanganku karena sudah pegal.


Saat tanganku hampir terlepas semua, seseorang meraih tanganku dan memegangnya kuat kuat.


Wisnu!


Dibelakangnya ada pria seumuran kami juga ,berdiri sambil melihat ke black demon sambil Menodongkan pistol ke arah mereka.mungkin dia pemilik kamar sebelah bu aini. Aku memang tidak begitu mengenal nya. Karena aku jarang kesini. Hanya bu aini saja yg ku tau.


"Pergi kalian atau aku tembak sekarang juga." ancam pria itu.


Tapi para anggota black demon tidak gentar, bahkan mereka makin mendekat. Sambil menyeringai.


Doooorr... Dooorrrr...


Beberapa kali tembakan di letuskan oleh dia.


Tapi black demon seperti tidak merasakan sakit.


"Ayok, nay. Naik ! Buruan!" kata wisnu.


Aku berhasil naik kembali. Dan wisnu langsung membawaku masuk ke kamar gio. Pria bersenjata itu.


Sepertinya dia seorang anggota kepolisian. Dari postur tubuhnya juga sudah terlihat. Apalagi dengan pistol ditangan nya.


"Giii!! Masuk!!" teriak wisnu.


Gio pun ikut masuk seperti kami dan dikuncinya jendela itu.


Korden pun ditutup.


" gila!! Mereka orang atau zombie sih?" pekik gio panik.


Sekalipun ini diapartment ,tapi tiap kamar disini memiliki taman di balkon kamar. Dan disana ada tanah yg otomatis black demon akan dengan mudah hidup kembali walau ditembak ratusan kali oleh gio.


" ceritanya panjang ,gi." timpal wisnu dengan nafas memburu.


"Duh,gimana donk. Kalau mereka masuk. Mending kita pergi aja deh sekarang."


"Tenang aja. Mereka gak bakal bisa nembus kaca ku. Kacaku itu gak bakal gampang di pecahin." kata gio.


"Aku kok gak yakin ya?" sahutku sambil terus menggandeng lengan wisnu.


"Bener kata nayla, kita harus pergi,gi. Mereka sangat berbahaya." wisnu pun sependapat denganku.


Gio terdiam sebentar.


Braaak.. Braaaak..braaaak..

__ADS_1


Jendela pun digedor gedor kasar oleh mereka.


" ya udah. Kita pergi aja." kata gio.


Saat kami akan keluar dari kamar gio. Ternyata black demon


Sudah berada diluar kamar dan hendak masuk.


Akhirnya pintu pun ditutup lagi oleh gio.


"Kalian berurusan sama siapa sih?" dia makin penasaran.


"Kalau kita bisa pergi dari sini hidup- hidup,aku bakal cerita ."


"Ohh..shittt!!" umpatnya.


"Dia--- Polisi?" tanyaku berbisik ke wisnu.


"Bukan... Dia mah penjahat." wisnu ikut berbisik.


"Hah? Serius?" sambil ku lirik gio.


Gio yg merasa ku perhatikan lalu menoleh padaku," kenapa ngeliatinnya begitu?"


"Enggak papa." jawabku santai.


Dia lalu pergi ke kamarnya. Tak lama keluar lagi membawa kotak besar .saat dibuka,ternyata berisi bermacam macam senjata.


Ini orang ******* kali ya.


Aku pun agak bergidik ngeri melihat gio.


"Kenapa sih? Gue bukan ******* ya." ucapnya sambil mengeluarkan senjata miliknya.


Kok dia bisa tau yg aku pikirin?


" terus.. Itu apaan? Kamu bukan polisi. Tapi punya pistol sebanyak itu"


Dia berhenti,lalu menatap ku tajam.


" terserah deh,mau bilang apa."


Wisnu lalu berbisik padaku," gio itu mantan tentara, sayang. Tapi dia udah keluar. Trus sekarang dia jadi pembunuh bayaran. Snipper lah tepatnya."


"Ih-- serem juga ya."


"Tapi dia baik kok. "Kata wisnu menenangkan ku.


Braaaaakkkk!!


Pintu terbuka dengam kasar, bahkan hingga daun pintu itu hancur berantakan.


Kami berkumpul jadi satu. Akhirnya kami berkelahi juga dengan mereka.


Ternyata mereka semua sudah berhasil mempelajari pancasona. Sehingga saat kami menembak maupun menghunus mereka dengam pisau, mereka masih dapat berdiri tegak.


Aku heran,kemana semua orang. Apa mereka tidak mendengar suara berisik dari kamar gio?


Seharusnya sudah banyak orang datang kemari.


Memang ,apartment disini dilengkapi dengan peredam suara.tapi, bukan kah pintu berhasil terbuka,pasti suara berisik disini akan terdengar dari luar.


"Naaaaaay!!!" teriak wisnu padaku.


Saat aku menoleh, seseorang melayangkan samurai ke arahku.


"Aaaaaahhhhh" aku tutup mataku karena takut.bukan nya malah menghindar.


Namun,hening. Aku tidak merasakan sakit sedikitpun.


Saat aku mendongak kan kepalaku, ternyata ada arya sedang menahan samurai itu dengan tangan nya. Darahnya mengalir deras sekali.


Tapi wajahnya datar,seperti tidak merasakan sakit sama sekali.bahkan dia terus menatap tajam pria yg memegang samurai dihadapan kami.


Tidak hanya arya, ada dewa, adi dan beberapa kelompok mereka yg sering ku lihat selama ini.


" minggir nay." pinta arya dingin.


Aku mundur agak menjauh dari nya.dan seketika dipatahkan nya samurai itu beserta leher pria itu.


Adi maju dan memotong tubuh pria itu.


Aku ngeri melihat apa yg ada dihadapan ku.terpaksa aku melihat arah lain.


Wisnu yg melihat ku ,lalu menyuruhku untuk masuk kedalam kamar.


Karena aku tdk tahan, aku pun menurutinya.


Setelah masuk ke kamar, ku kunci pintu itu. Kamar gio penuh dengan gambar orang orang dan banyak peta maupun tulisan tulisan aneh. Benar- benar orang aneh.


Selama beberapa menit aku ada didalam kamar ini.


Tak lama, diluar keadaan terasa hening.


Kemana ya mereka?


Kuintip melalui lubang kunci. Dan saat aku intip,beberapa potong tubuh black demon dimasukan ke dalam tong besar oleh adi.


Aku kembali mundur. Aku tidak tahan melihat hal itu.bahkan kutahan rasa mual yg hampir ingin ku muntahkan tadi.


"Nay.. Udah ,nay. Kamu bisa keluar" kata wisnu.


Kubuka pintu itu dan hanya tersisa wisnu,gio, arya,dewa dan adi. Sisanya sudah pergi keluar.


"Gi.. Thanks ya. Pintu kamar kamu,besok aku betulin." kata wisnu sambil bersalaman dengan gio.


Arya hanya diam,sambil sesekali melirikku.


"Kamu kok bisa kesini?" tanyaku yg sudah tidak tahan bertanya sedari tadi.


" iya. Kenapa? Aneh?"


"Bukan nya kamu masih dirumah sakit?"


"Aku udah gak papa. Tugasku lebih penting." ucapnya lalu melihat telapak tangan nya yg terluka.


"Ya ampun,arya. Tangan kamu...." ku ambil cardigen ku lalu ku pakai untuk menutup luka arya.


Tapi dia malah menolaknya.


"Aku gak papa" lalu dia pergi keluar kamar.


"Nay-- nu... Kalian nginep rumah ku malem ini. Rani juga udah disana" kata dewa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2