pancasona

pancasona
Part 205 Hutan Rougarou


__ADS_3

Mereka mulai memasuki daerah yang rimbun dengan pepohonan. Menurut GPS yang sejak awal menjadi penunjuk jalan mereka, perjalanan mereka tinggal sebentar lagi. Sebuah makam kuno yang digadang-gadang menjadi tempat Azazil dikurung.


Jalanan beraspal mulai habis, berganti bebatuan dan semak belukar. Gio menghentikan caravan karena tidak memungkinkan melanjutkannya lagi. Mobil yang ia bawa cukup besar, sementara di depan sudah mulai memasuki rimbunan pohon yang cukup sempit untuk dilalui kendaraan.


"Kayaknya kita harus jalan kaki mulai sekarang," ujar Gio menatap teman temannya satu persatu.


Mereka tiba di tempat itu saat hari mulai beranjak petang. Matahari sudah mulai terbenam sejak satu jam lalu. Tetapi mereka memutuskan untuk terus berjalan menuju makam kuno tujuan mereka di awal.


Hutan terasa begitu mengerikan saat malam hari. Mereka sudah membawa perbekalan cukup, dan tentu senjata untuk berburu. Karena jika benar tempat ini yang mereka cari, maka di hutan ini akan banyak hambatan yang menghalangi mereka untuk sampai ke makam kuno.


Belum ada manusia lain yang datang ke tempat ini setelah beratus tahun lalu. Dan kini mereka berenam termasuk pemecah rekor terbaru. Hal ini diperkuat dengan keadaan hutan yang terlihat rimbun tanpa ada jalan setapak yang biasa dilewati manusia selama ini.


"Kita lanjutin besok aja, bagaimana?" tanya Nayla yang mulai kelelahan berjalan. Ia bersandar pada sebuah batang pohon besar di dekatnya. Arya memberikan botol minum pada wanita itu. "Ya sudah, lagian sudah malam, kan? Berbahaya kalau kita lanjutkan," bela Arya sambil menoleh menatap satu persatu kawannya.


Mereka pun sependapat dengannya, dan memutuskan mendirikan tenda untuk tidur malam ini. Rupanya hutan ini cukup luas, dan mereka tidak sanggup menaklukannya dalam semalam. Tenaga mereka sudah terkuras, dan butuh beristirahat.


Ada dua buah tenda yang mereka dirikan. Anggota mereka masih tetap sama. Berjumlah 6 orang. Sejak kepergian Wira yang sudah kembali ke langit, mereka bersyukur kalau Elang ada di tengah tengah mereka. Berjuang kembali bersama adalah hal yang cukup mustahil jika keadaan dunia baik baik saja. Justru kekacauan lah yang menyatukan mereka.


Apa unggun sudah dibuat. Nyala api cukup untuk menghangatkan mereka dari dinginnya udara malam, sekaligus pelindung dari hewan buas yang mungkin masih ada di hutan liar tersebut. Tidak banyak disebutkan apa saja yang ada di hutan itu, yang pasti akhir perjalanan ini tidak mudah.


"Jadi elu sama Dewa masih sering ketemu, Lang?" tanya Gio penasaran. Mereka sedang membakar ikan yang  dibeli dari pasar sebelum  datang ke tempat ini.


"Yah, lumayan. Gue sama Dewa juga punya bisnis bareng. Jadi kami cukup sering komunikasi."


"Perusahaan gimana, Om?"


"Gue nggak tau, Bi. Udah nggak ada niatan buat ngurusin perusahaan di mana anak sama istri gue dalam bahaya gini. Sejak Nabila pergi, Shanum nggak sadarkan diri. Jadi buat apa gue kerja? Buat siapa?" tanya Elang menatap teman temannya satu persatu dengan sorot mata dingin.


"Kita pasti bakal bawa Nabila pulang," cetus Arya Menepuk bahu Elang berusaha menguatkan nya.


Malam semakin larut, satu tenda dipakai Nayla dan Ellea untuk tidur, sementara tenda satunya ada Gio dan Abimanyu. Elang dan Arya memutuskan berjaga malam ini di dekat api unggun. Kini ada jagung bakar yang sedang mereka santap untuk menahan lapar yang sangat mudah dirasakan saat udara dingin, seperti sekarang.


Dua orang sahabat lama itu sudah lama tidak berjumpa, walau penampilan mereka cukup kontras. Lebih mirip ayah dan anak, bukan sahabat.


"Bagaimana rasanya kembali lagi dari kematian?" tanya Elang terkesan meledek.


"Menurutmu? Menyenangkan?'


"Yah, setidaknya kau bisa terus terlihat muda, Ya." Elang meneguk habis kaleng yang berisi minuman bersoda. Perkataannya membuat Arya terkekeh.


"Rupanya banyak hal yang aku lewatkan, Yah?" tanya Arya. Keduanya menatap lurus ke depan, di mana rimbunan pohon dengan kondisi gelap berada. Cahaya terang di tempat ini hanyalah api unggun yang mereka buat. Elang tersenyum sinis, "Memang banyak hal yang kau lewatkan. Dan kalian berhutang banyak pada kami, karena telah menjaga Abimanyu selama ini," ujar Elang bergurau.


"Baiklah, terima kasih untuk kalian semua, mungkin kalau ...." Perkataan Arya terhenti, saat dia mendengar suara aneh yang ada di salah satu sudut gelap tak jauh mereka. Ia menaikkan tangan kanannya ke samping, di mana Elang duduk. "Kau dengar itu?" tanyanya.


Elang yang awalnya tidak memperhatikan, lantas menajamkan pendengarannya. Suara geraman terdengar samar, namun dalam suasana sesunyi ini tentu suara sekecil apa pun akan terdengar. Elang beranjak diikuti Arya. Senapan yang memang ada di samping mereka bawa. Arya mengokang senjatanya dan berjalan mendekat ke tenda. Elang waspada sambil terus memperhatikan sekitar.


Elang lantas mundur, mendekat ke tempat di mana Arya berdiri. Arya yang sedang membangunkan Gio dan Abimanyu. "Ya!" panggil Elang pelan. Tatapan matanya tidak lepas dari sesuatu yang berada di depannya.

__ADS_1


Dua titik merah terlihat kontras dengan suasana gelap di sekitar mereka. Arya lantas menoleh, dan ikut menatap ke arah yang Elang tatap.


"Itu ... Apa?" tanya Elang memelankan suaranya. Arya memincingkan matanya, memperhatikan dengan seksama makhluk yang ada di balik semak semak. Sorot mata merah itu begitu ia kenali. "Rougarou!"


"Hah?!" pekik Elang tidak paham.


"Sejenis manusia serigala. Cuma berbeda saja penyebutannya."


Salah satu legenda yang paling ditakuti adalah Manusia serigala atau yang lebih dikenal dengan nama Rougarou. Siluman berkepala serigala-berbadan manusia ini dipercaya menghantui rawa-rawa di sepanjang tempat ini dengan matanya yang merah menyala dan taring yang tajam.


Bukan pertama kali bagi Arya menghadapi Rougarou. Dalam kehidupan lampau, ia bahkan sudah berkali kali menghadapi makhluk mengerikan seperti Rougarou, vampire atau yang lainnya.


Tiba tiba bayangan masa lalu melintas kembali di ingatan Arya. Ia melihat dirinya sendiri sedang menjelajah hutan. Dengan pakaian kuno, mengkilap bagai besi. Di tangannya ada senjata tajam seperti tombak dengan ujung runcing, dan sebuah samurai yang berada di punggungnya.


Sendirian, dengan sorot mata liat mencari sesuatu. Dan sampai akhirnya, ia melihat sesuatu menyala terang dengan warna merah.


Rougarou.


Tidak hanya satu, tetapi ada sekawanan Rougarou, yang berjumlah 10 makhluk mengerikan itu. Arya yang terjebak di antara mereka terlihat tenang, tidak sedikit pun ada gurat ketakutan di wajahnya. Saat salah satu Rougarou maju untuk menyerangnya, Arya langsung menusuk jantungnya dengan tombak di tangan kanannya. Makhluk itu tumbang dan membuat kawanannya yang lain murka. Mereka menyerang Arya dengan membabi buta.


"Arya!" panggil Elang dengan menggoncangkan tubuh Arya. "Kenapa?"


"Hah? Apa?" tanya Arya balik.


"Astaga! Malah melamun!" omel Elang, kesal. "Lihat sekeliling, Ya! Kita terkepung! Bangun, kan, yang lain!"


Arya langsung masuk ke tenda dan membangunkan yang lain. Mereka lantas keluar tenda dan melihat Elang yang berdiri sendirian dengan tatapan dingin.


"Mereka ... Apa?" tanya Nayla yang sudah mengetahui kehadiran makhluk lain di sekitar mereka.


"Rougarou," sahut Arya datar. Menatap beberapa pasang titik merah di sekitar mereka yang makin banyak.


"Wow!"


"Ambil senjata kalian!" suruh Elang, yang sudah memegang sebuah samurai di tangannya.


"Jangan sampai tergigit. Atau kalian akan menjadi seperti mereka!" jelas Arya.


Mereka segera mengambil senjata yang sebagian besar disimpan di tenda tenda.


Makhluk itu mulai keluar dari persembunyian. Sesosok tubuh manusia dengan kepala anjing atau serigala muncul dan membuat mereka sedikit mundur perlahan. Tidak hanya satu, tapi ada 10 Rougarou.


Bayangan itu kembali memasuki pikiran Arya.. Potongan memori yang sempat terpotong tadi, seolah berkelanjutan. Dalam ingatannya, Arya berdiri di antara tumpukan Rougarou. Dengan percikan darah di sekujur tubuhnya. Nafasnya tak beraturan, tapi ia berhasil membunuh kawanan Rougarou tadi.


Suara jeritan Elang membuat Arya kembali pada kesadarannya. Kini semua orang mulai bertarung menghadapi serangan Rougarou. Jeritan serta erangan membuat hutan ini ramai. Perkelahian manusia dan Rougarou malam ini terasa sungguh pelik. Namun kerja sama yang baik di antara mereka membuat mereka lebih unggul. Terlebih lagi, Abimanyu dan Arya yang selalu bisa bangkit lagi walau tubuh mereka terkoyak karena cakaran atau bahkan gigitan Rougarou. Tapi mereka berdua tidak terkontaminasi oleh virus yang ditularkan Rougarou, dan mereka tetap menjadi manusia.


Satu persatu Rougarou tumbang dengan jantung yang ditusuk atau kepalanya yang dipenggal. Sampai akhirnya, Gio menjerit kesakitan, saat salah satu Rougarou terakhir menggigit lengannya. Hal ini membuat semua orang panik, dan satu yang ada di pikiran mereka, Gio akan tertular dan berubah menjadi Rougarou.

__ADS_1


"Astaga! Om Gio!" jerit Ellea langsung mendekat dan memeriksa luka gigitan itu. Nayla ikut mendekat dan menatap Gio cemas.


"Gimana dong ini! Om Gio digigit!" rengek Ellea dengan mata berkaca kaca. Arya dan Abi mendekat. Sementara Elang memukul Rougarou terakhir yang telah mengigit Gio barusan. Mereka kembali terlibat pertarungan sengit. Elang sangat marah. Dan terus memukuli makhluk itu, tak peduli dirinya akan terluka.


Gio mengerang kesakitan. Kulit bekas gigitan tadi terlihat merah dan terasa panas. Gio makin histeris berteriak. Urat nadi nya terlihat mulai menghitam, pertanda racun makhluk tadi sudah mulai menyebar.


"Sebentar lagi dia bakal berubah!" kata Arya.


"Kita harus bagaimana? Pasti ada cara, kan, untuk menolong Om Gio?!" tanya Ellea penuh harap.


"Hey, Arya! Bukannya ini bisa disembuhkan? Asal Gio belum makan jantung manusia, dia bisa disembuhkan!" kata Nayla antusias.


"Ibu yakin?"


"Iya, aku pernah dengar. "


"Gimana caranya, Nay?" tanya Arya.


"Gio harus diberi darah dari Rougarou yang menggigitnya!" jelas Nayla sambil melihat ke Elang yang kini sedang mengapit leher makhluk itu.


Kepala Rougarou itu sudah dipenggal Elang, mereka sudah menampung darahnya dalam sebuah cawan untuk diberikan pada Gio.


"Elu yakin?!" tanya Elang memastikan lagi. Saat memberikan cawan itu ke Nayla.


"Yakin! Percaya deh. Tapi bukan cuma darahnya saja. Tapi kita butuh mantra!"


"Apa? Mantra apa, Nay?!"


Nayla mendekatkan cawan berisi darah itu ke mulut Gio.


"Restitueretur ei sanitas," kata Nayla sebelum memberikan cairan kental merah itu ke Gio.


Ellea membantu Gio meminumnya hingga habis. Wajah mereka terlihat tidak nyaman saat Gio meminum darah Rougarou tersebut.


"Ugh, menjijikan," gumam Elang menatap arah lain.


Darah itu sudah habis diminum Gio. Mereka menatap Gio dengan penuh harap. Perlahan warna hitam pada urat nadinya mulai memudar. Dan kembali seperti semula. Gio yang sejak tadi menjerit kesakitan, mulai tenang. Bahkan luka gigitan itu mulai mengering.


"Wow, berhasil!" ungkap Abimanyu takjub.


Malam yang sungguh berat. Tapi lagi lagi mereka berhasil melewatinya. Mereka masih hidup dan melewati malam dengan jantung yang masih berdetak.


"Kalian istirahat saja, biar aku berjaga lagi," kata Elang.


"Aku temani, Om Elang. Ayah istirahat saja, temani Om Gio."


Waktu sudah melewati tengah malam, namun pagi masih harus mereka lewati beberapa jam lagi. Sesuai dengan kesepakatan tadi, Gio dan Arya berada di tenda. Begitu juga Ellea dan Nayla yang sudah masuk tenda lainnya.

__ADS_1


Mereka kembali mencoba memejamkan mata, untuk mengistirahat kan tubuh serta jiwa yang tidak pernah bisa tenang beberapa minggu belakangan. Bayangan peperangan dengan Azazil adalah momok besar dan dirasa sulit untuk mereka, yang hanya sekelompok manusia biasa. Tapi mereka yakin, kalau mereka pasti berhasil. Setidaknya itu yang membuat mereka terus semangat sampai titik akhir.


_______


__ADS_2