pancasona

pancasona
Part 31Bala bantuan


__ADS_3

Suara jangkrik membuat malam ini tidak terlalu sunyi. Beberapa hewan malam juga mulai eksis bersuara. Dari burung hantu, atau suara melengking dari serangga lainnya. Hal ini bukan sesuatu yang baru bagiku. Karena pengalaman berkemah pernah aku alami saat bersama Kak Rayi, Kak Bintang dan Kak Roger dulu. Yah, walau pada akhirnya berakhir dengan kejadian horor yang tidak akan pernah aku lupakan sampai saat ini. Kehilangan Kak Faza membuatku tidak ingin merasakan kehilangan orang-orang terdekatku lagi sekarang. Jadi sekarang aku harus mencari Papa dan yang lainnya. Aku yakin mereka masih hidup.


Ponselku bergetar. Pesan Kak Rayi masuk beruntun, aku yang awalnya hendak tidur mendadak kembali membuka mata lebar. Aku tersenyum sambil membalas pesan darinya, sengaja menghemat baterai dengan mematikan daya. Karena aku tidak tau akan berapa lama berada di hutan untuk mencari Papa. Sementara aku tidak punya power bank yang dapat membantu mengisi daya ponselku.


Aku langsung membalikkan tubuh saat bayangan seseorang melintas di belakang tenda. Berusaha tidak menimbulkan suara apa pun, dan waspada akan sekitar. Beruntungnya, keadaan di dalam tendaku tidak akan terlihat dari luar. Apalagi dengan api unggun yang sudah tidak lagi menyala, hanya meninggalkan bara api bekas pembakaran tadi. Om Opon sengaja tidak banyak mencari kayu bakar, karena memang tidak banyak kayu bakar yang berada di sekitar kami.


Aku duduk dengan gerakan perlahan. Aku masih diam, sambil terus menajamkan pendengaran. Mencari tau siapa yang ada di luar. Mungkin Om Opon, atau Tante Jean dan Tante Rani. Walau rasanya aneh jika mereka berkeliaran di luar di jam ini. Aku yakin mereka akan lebih memilih tidur agar besok kondisi tubuh menjadi lebih segar. Perjalanan esok hari aku yakin tidak akan mudah.


Suara berisik terdengar lebih intens, karena sunyinya keadaan malam ini. Seperti ada keributan di luar, aku yang penasaran lantas berusaha mengintip dari celah jendela kecil yang ada di dekat pintu tenda. Beberapa bayangan orang terlihat di luar. Mereka sepertinya bukan bagian dari kelompok kami, karena memakai penutup kepala dan hanya menyisakan kedua bola mata yang terus liar memperhatikan sekitar.


Kobaran api terlihat membesar berasal dari salah satu tenda. Aku menutup mulutku lalu mencari alat yang bisa kugunakan melawan mereka. Kami terkepung. Ada sekitar 10 orang di sekitar. Om Opon di tarik kasar keluar dari tendanya. Tante Jean juga bernasib sama, namun masih melakukan perlawanan saat tangannya di tarik keluar dengan paksa. Tante Jean tidak kenal ampun dalam memukul mundur lawan - lawannya. Tante Rani menangis histeris. Tubuhnya di angkat dan dibopong oleh salah satu orang - orang itu. Salah satu dari mereka menunjuk tendaku, aku mulai sadar kalau akan menjadi target selanjutnya. Aku mundur, bersiap untuk menyerang siapa pun yang akan masuk ke dalam tendaku.


Sebuah pedang panjang menghunus tendaku dan membuat bagian depan robek. Saat salah satu dari mereka hendak masuk, aku langsung menendangnya kuat - kuat. Hal itu memicu kemarahan teman - teman komplotannya. Mereka berbondong - bondong masuk ke dalam tendaku. Mereka hendak berbuat kasar seperti perlakuan mereka pada teman - teman ku. Aku terus memukul, dan menyerang mereka. Kondisi tempat yang sempit membuat pergerakan kami cukup sulit. Sampai akhirnya tenda ini roboh.


Rambutku ditarik kasar. Bahkan dijambak hingga ke tanah. Salah satu dari mereka berada di atasku. Dia mencekik karena aku telah berhasil melukai bahu kanannya hingga berdarah. Pisau lipat yang sengaja kubawa ternyata cukup berguna untuk melumpuhkan mereka. Aku terus berusaha melepaskan diri dari orang tersebut, cekikannya sungguh menyiksa dan membuat aku makin sulit bernafas.


Tiba - tiba seseorang memukul kepala orang itu hingga dia jatuh ke samping tubuhku. Aku yang sudah terbebas dari cekikan itu, batuk - batuk, menarik nafas dalam - dalam agar paru - paruku yang sempat kehabisan oksigen segera pulih.


"Bil, kamu nggak apa - apa?" tanya seseorang. Suaranya sangat kukenal, walau pandanganku belum sepenuhnya jelas karena mendadak buram saat perkelahian tadi. Kepalaku dipukul cukup keras bahkan menyebabkan dengung di telingaku. Dia jongkok di depanku, dan berusaha membantuku duduk.


"Kak Rayi!" jeritku dengan mata berbinar. Dia tersenyum lalu memelukku erat. "Kok Kakak bisa di sini?" tanyaku setelah melepaskan pelukan kami.


"Iya, aku cemas sama keadaan kamu."


Beberapa orang yang menyerang kami lari tunggang langgang. Tidak hanya Kak Rayi yang datang, ternyata dua pria yang aku rindukan juga datang menyusulku ke sini. Kak Bintang dan Kak Roger. Kondisi sudah stabil, walau tenda milik kami semua rusak. Yang penting nyawa kami masih selamat.


Api unggun kembali dibuat. Kak Roger, Kak Bintang dan Om Opon telah selesai membuat tenda yang dibawa oleh Kak Rayi. Sebuah tenda yang cukup besar, walau tidak semewah tenda terakhir saat kami kemah di danau dulu. Tapi setidaknya kami bisa berlindung di dalamnya hingga pagi nanti.

__ADS_1


"Setelah kamu bilang mau mencari Papa kamu, aku sama teman - teman langsung memutuskan datang ke sini saat itu juga. Ada hal yang ingin kami bicarakan ke kamu, langsung," jelas Kak Rayi dengan tatapan serius.


"Hal apa yang mau dibicarakan?" tanyaku menatap mereka semua bergantian.


"Tang! Elu yang cerita!" tukas Kak Roger melempar Kak Bintang dengan camilan yang sedang dia makan.


"Ada apa sih? Kak Bintang?" tanyaku yang makin tidak sabar.


"Gini Bil, kemarin ada hal aneh di arena tanding kita. Waktu latihan taekwondo dua hari lalu itu."


"Hal aneh? Makhluk aneh gitu maksudnya?" tanya Tante Jean yang sepertinya ikut penasaran.


"Bukan, Tante."


"Lalu?"


"Kemarin kita ada acara sparing sama sekolah lain, datang satu kelompok perwakilan dari SMA Laurenceville. Kamu ingat, kalau di arena kita ada beberapa foto dari anggota kita. Bahkan foto kamu juga?"


"Nah, setelah pertandingan selesai, kami saling berkenalan dan berbaur antar sekolah. Ada satu orang yang membuat aku penasaran, karena dia berdiri tepat di depan foto kamu. Bahkan setelah aku perhatikan dia diam saja di sana, terus memperhatikan foto itu dan seolah tidak tertarik dengan foto yang lain."


"Sebentar, orang yang kamu bicarakan laki - laki?" tanya Tante Jean.


"Iya, tante."


"Ah, naksir Nabila jangan - jangan," cetus Tante Rani, enteng.


"Itu dia, tante, karena penasaran aku dekati dia. Satu kalimat yang keluar dari mulutnya rasanya aneh, dia bilang. 'Jadi dia di sini?'. Aku masih santai dong, karena beranggapan dia teman Nabila. Atau kenalan Nabila entah di mana."

__ADS_1


"...."


"Anehnya dia bukan menyebut Nabila saat menunjuk foto itu. Tapi Angelina."


"Ah, salah lihat mungkin. Atau kenalannya yang namanya Angelina itu mirip Nabila. Di dunia ini banyak orang yang mirip," tandas Tante Rani.


"Itu yang awalnya aku pikirkan. Tapi ternyata aku salah. Dia menunjukkan sebuah liontin yang ada di lehernya. Di sana ada sebuah foto. Foto Nabila dengan pakaian aneh, mirip pakaian orang Eropa jaman dulu. Katanya dia Angelina Demitri."


"Angelina Demitri?" gumamku.


Jika memang hanya wajah yang mirip memang bukan hal aneh lagi. Karena di dunia ini setiap orang memiliki 7 kembaran yang tersebar di seluruh dunia. Mungkin dia salah satu dari ke tujuh orang itu.


"Setelah itu, dia langsung menanyakan di mana pemilik foto itu, kamu maksudnya," kata Kak Bintang menunjukku. "Aku bilang kamu lagi izin pergi ke luar kota. Di sini letak keanehan lain, Bil. Karena dia tau kalau kamu ada di Kalimantan. Dia bilang kamu harus waspada, sama satu sosok yang namanya Dagon. Karena dia berniat mau membunuh kamu."


"Dagon?!"


"Tunggu, siapa? Dagon?" tanya Om Opon.


"Iya, Om. Dagon."


"Astaga! Tidak mungkin," gumam Om Opon dengan wajah terkejut. "Kalian tau, siapa yang mereka sembah?" tanya Om Opon menunjuk kawasan terlarang di seberang. Kami tentu menggeleng karena memang tidak tau. "Dagon!"


"Apa? Dagon? Maksudnya Dagon ini Dagon yang sama?" tanya Kak Roger.


"Aku juga sempat dengar bisikan dari Nek Sanja, Om," jelasku mencoba menarik benang merah dari beberapa potongan informasi dan hal yang selama ini aku temui.


"Bisikan apa?"

__ADS_1


"Pas aku di sungai sama Zahra, aku merasa ada sesuatu yang terbang di atas kami, besar dan aku pikir itu burung liar, tapi Nenek Sanja itu muncul, dia berbisik dan mengatakan nama itu. Jujur aku nggak ngerti maksudnya, tapi setelah dengar semua cerita Kak Bintang ditambah informasi Om Opon, berarti memang makhluk yang ada di sana, mengenalku." Aku menunjuk tempat di mana sumber masalah ini terjadi.


"Atau memang dia sengaja? Membuat semua drama ini agar Nabila mendekat ke sana?" tanya Kak Rayi dengan analisa yang sempurna.


__ADS_2