pancasona

pancasona
Part 12 Abitra, sahabat baru Kak Rayi


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa, Bil?" tanya Kak Rayi yang berlari mendekat padaku. Aku menatapnya bingung lalu ke harimau itu. "Kok dia bisa ke sini?" tanyaku menunjuk sosok di belakang Kak Rayi.


Pemuda di depanku ikut menoleh, "Iya, tadi dia yang tolongin aku di ruang laboratorium. Rio mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandang ke sekitar. Aku kembali menunduk lesu. Melihatku sikapku aneh, Kak Rayi lantas menatap mataku dalam. "Kenapa?"


Aku menatapnya lalu memeluknya," Rio udah nggak ada, Kak. Dia ... Dia ...." Tak mampu lagi meneruskan kalimat, Kak Rayi hanya balas memelukku erat. Di usapnya punggungku lembut sambil mendesis. "Ssstt, sudah, sudah. Mungkin ini yang terbaik buat Rio, Bil. Kita berdoa aja semoga dia sudah berada di tempat yang lebih baik," saran Kak Rayi.


Harimau itu mendekat ke pintu, ekornya mengibas-ngibas dan aku sadar kalau perjuangan kami harus dilanjutkan, dan lagi kami tidak boleh berada di sini terlalu lama. Perbedaan waktu di sini dan di dunia kami itu sangat jauh berbeda. Dia menoleh pada kami. Matanya bagikan rumah tak berpenghuni. Dia tidak banyak berbicara, tapi sikapnya menunjukkan agar kami segera masuk ke dalam.


"Yuk," ajak Kak Rayi mengulurkan tangan padaku, kami akhirnya berdiri dan mendekat ke pintu itu. Tapi anehnya, sosok Djin tadi justru tidak ada di sana. Hanya tersisa Aira saja yang sudah tergolek tak sadarkan diri di lantai. Aku menatap Kak Rayi, dia mengangguk dan membuat kami segera masuk ke dalam. Sementara harimau tadi justru menunggu di luar.


"Abitra! Jaga-jaga, ya," kata Kak Rayi ke harimau itu.


"Namanya Abitra?" tanyaku. Kak Rayi mengangguk. "Jujur ini pertama kalinya aku melihat dan bertemu dia secara langsung. Kata Mama kamu udah pernah lihat Abitra sebelumnya, ya?"


"Eum, iya."


Kami terus masuk dengan mengendap-endap, sambil memeriksa sekitar. Takutnya Djinn atau orang-orang jahat itu muncul dan menyerang kami tiba-tiba. Aku segera berlari mendekat ke Aira, memeriksa kondisinya. Detak jantung, nadi dan nafasnya masih terasa, walau agak lemah. Setidaknya dia masih hidup sekarang. Kak Rayi berdiri di dekatku, netranya liar mencari sesuatu. Sementara aku berusaha membangunkan Aira.


Tiba-tiba pintu di luar terbuka kasar. Abitra tersungkur seolah dilempar kuat-kuat oleh sesuatu dari luar. Kak Rayi mendekat ke Abitra. "Kamu nggak apa-apa?!" jeritnya panik. Abitra lantas segera bangun, ia menggerakkan tubuhnya, lalu mulutnya terbuka. Giginya terlihat runcing dengan air liur di sana. Ia mengaum. Suaranya keras, dan membuat Kak Rayi mundur.


Djinn muncul dari pintu yang rusak di luar. Sosoknya terlihat garang dan kuat. Tubuhnya sama seperti manusia, memiliki tanduk kecil di kepalanya, kulitnya berwarna merah seperti memancarkan hawa panas yang pekat. Baru kali ini aku melihat wujudnya dengan jelas. Mengerikan.


Abitra berjalan mondar-mandir tak jauh dari Djinn berdiri. Di tangan kanan makhluk mengerikan itu ada sebuah rantai besi yang sedang terikat ke leher seseorang. Kak Sandi. Dan aku yakin itu adalah Kak Sandi yang asli. Tubuhnya luka-luka, mulutnya seperti habis mengeluarkan darah. Bajunya terlihat kumal dan compang-camping. Di belakangnya muncul sosok lain dari Kak Sandi dan Aira.


Kak Rayi mundur dan mendekat padaku. "Bil, kamu siap?" tanyanya berbisik. Matanya terus memandang ke sosok di belakang Djinn. Mereka berdua cukup kuat, auranya terpancar jelas. Sebenarnya aku takut dan ragu, tapi aku tidak boleh menyerah. Apalagi dengan adanya Kak Rayi akan sangat membantuku sekarang. Setidaknya aku tidak berjuang seorang diri, juga adanya Abitra. Aku yakin kami bisa melewati semua ini.


"Aku siap," sahutku sambil menunjukkan benda tajam yang masih kugenggam. Kak Rayi juga mengeluarkan sebuah samurai dari balik punggungnya. "Dapat dari mana, Kak?" tanyaku.


"Tiba-tiba saja udah ada, mungkin bantuan dari Rachel." Benar juga, mungkin saja kalau Rachel juga turut membantu kami. Apalagi kami sudah cukup lama di dunia ini.


Abitra kembali mengaum, seperti mengisyaratkan kalau peperangan ini dimulai. Dia berlari cepat ke arah Djinn. Sementara itu, dua sosok jelmaan tadi, menatap ke arah kami dengan tatapan mengerikan. Kak Rayi berjalan menjauh dari ku, memberikan ruang untuk masing-masing. sosok Aira menatapku penuh kebencian, sementara aku menoleh ke tubuh Aira yang asli, masih tergeletak di lantai dengan kondisi sangat lemah. Aku mengacungkan benda di tanganku dengan bermaksud menantangnya.


Di sisi lain, sosok dari Kak Sandi sudah bertarung dengan Kak Rayi. Aku tidak perlu mencemaskan Kak Rayi, karena dia jago bela diri. Bahkan kemampuannya berada di atasku. Justru aku harus mengkhawatirkan diri sendiri.


Aira palsu menyeringai, di tangannya ada sebuah pedang panjang. Yah, setidaknya kami imbang. Dia mulai menyerangku lebih dulu. Di awal aku hanya berusaha menghindar tanpa menyerang. Tapi begitu aku mendengar teriakkan Kak Rayi, fokusku terbagi. Kak Rayi terluka, punggungnya sobek dengan luka yang terlihat menganga.


Senjataku terlempar jauh, dan aku sadar, kalau kini aku pun diambang kematian. Aira maju pelan, sambil memiringkan kepalanya menatapku. Aku berbalik badan, merangkak demi meraih pedang yang berada di atasku. Langkah kaki Aira terasa makin dekat, aku berusaha terus menyeret tubuhku. Kakiku tiba-tiba ditusuk ujung pedang. Hingga menjerit kesakitan. Pedang itu kembali ditarik olehnya. Aku terus bergerak walau dengan menahan sakit di betis kananku. Kembali hujaman senjata tajam terasa menembus kaki kiriku. Aku kembali menjerit kesakitan. Kini aku juga tidak bisa lagi menahan tangis. Rasa sakit di kedua kakiku terasa tidak bisa lagi kutahan. Aku benar-benar menangis, merangkak, menyeret tubuhku sendiri untuk menghindari dia.


Bayangan Aira terlihat di samping kananku. Dia sedang mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menghujamkan nya lagi. Aku memejamkan mata dan bersiap, jika memang takdirku akan berakhir di sini. Aku tidak tau apakah aku bisa hidup lagi seperti sebelumnya setelah terluka separah ini. Bahkan aku sedang tidak berada di rumahku sendiri. Papa, maafkan Nabila.


"Ugh!" Mulutku tertahan, seolah rasa sakit di punggungku tidak mampu membuatku menjerit seperti sebelumnya. Rasa sakitnya luar biasa. Benda tajam itu tidak hanya menusuk punggungku dalam, tapi Aira menariknya hingga ke bawah pinggangku. Di situ aku baru menjerit dengan gumpalan cairan yang keluar dari mulut.


Tapi entah kenapa di ujung ekor mataku, Aira ikut menjerit. Ada cahaya terang dari belakangku. Membuat tubuh Aira palsu seolah terbakar dan menguar ke udara. Hening. Tapi ternyata pengaruh cahaya itu tidak hanya berimbas ke Aira tapi semua makhluk tersebut. Kak Sandi dan Djinn tadi. Mereka ikut terbakar dan lenyap seketika.


Nafasku pendek-pendek. Nyeri di punggungku masih terasa panas. Kak Rayi berlari ke arahku dan membalik tubuhku. Kini aku juga duduk sambil terus dipegangi olehnya. "Bil! Nabila!" jeritnya dengan sorot mata ketakutan. Pandangan mataku mulai memburam, aku sudah kehabisan energi sekarang. Dan perlahan semuanya gelap.


_________________________


Aku merasakan tubuhku dipeluk seseorang dari belakang. Rasanya enggan untuk membuka mata, karena rasa kantuk yang masih bergelayut manja di mata. Dan rasanya tubuhku teramat lelah. Berbicara dalam hati, kepada diri sendiri. Kalau aku ingin lebih lama lagi tidur sekarang.


Tapi tiba-tiba seperti teringat sesuatu, aku langsung membuka mata lebar-lebar. Kini aku justru berada di kamarku sendiri. Bersama ... Aku menoleh ke sisi ranjang sampingku, ternyata aku tidak bermimpi, kalau aku sedang dipeluk seseorang dari belakang. Dia adalah Kak Rayi.


"Astaga! Kak Rayi! Bangun! Kamu ngapain di sini?! Nanti kalau Papa tau, kita bisa digantung di depan!" aku berseru dengan nada suara yang pelan, takut jika suara ku ini di dengar orang lain. Aku membangunkan Kak Rayi namun dia hanya bergerak sebentar dan kembali terlelap. "Ih, Kak Rayi! Bangun!" Kembali kugoyangkan tubuhnya sambil melihat was-was ke pintu kamar.


"Hm? Kenapa? Eh, udah bangun?" tanyanya dengan mata sayu setengah tertutup.


"Kenapa kakak di sini? Ih, nanti papa marah!" rengekku.


"Justru Papa kamu yang suruh aku di sini, jagain kamu. Kalau kamu bangun dan butuh apa-apa," jelasnya. Dia kini mulai menguap dan merentangkan tangannya.


Aku yang sudah duduk di kasur, hanya menatapnya. Ekspresi bangun tidurnya sangat polos, dan Kak Rayi terlihat lucu. "Eh, bukannya kemarin kita di ...." Kembali teringat kejadian sebelumnya, saat tubuhku hampir tercabik, membuatku kebingungan. Jika kami sudah kembali dari dunia sebelah, seharusnya aku dan Kak Rayi berada di rumahnya, bersama semua orang. Tapi kenapa justru ada di kamarku. Apakah aku bermimpi?


"Iya. Jadi gini," katanya lalu duduk. Aku pun ikut bergeser, membetulkan posisi duduk agar lebih mudah menatapnya. Astaga, apa maksudnya tadi menatapnya? Ah, lupakan, lupakan.


"Kemarin, kamu pingsan. Dan Rachel berhasil menarik kita keluar dari dunia itu. Abitra juga berhasil membawa Sandi san Aira. Kita berhasil, Bil. Tapi kondisi kamu sama seperti saat kita ada di dunia lain. Kamu terluka cukup parah. Awalnya teman-teman mau membawa kamu ke rumah sakit. Tapi aku langsung menolak, dan aku bawa kamu ke rumah. Kebetulan ada Om Gio, dan kita langsung bawa kamu ke kamar pasir. Untung kamu bisa kembali baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir."


"Jadi kemarin benar-benar terjadi? Aku nggak mimpi?"


"Iya, kemarin benar-benar terjadi." Kak Rayi menggenggam tanganku, menatap mataku dalam. "Kamu udah nggak apa-apa, kan? Aku benar-benar khawatir tentang keadaan kamu, Bil. Aku nggak bisa kalau melihat kamu terluka seperti itu, maaf kalau aku nggak bisa menjaga kamu."


"Kenapa Kak Rayi bilang begitu? Ini bukan tanggung jawab Kak Rayi. Lagian hal seperti ini sudah terbiasa terjadi, kak. Mungkin Kakak harus mulai terbiasa."


"Hm, iya. Dan mulai sekarang aku bakal terus ikut ke mana kamu pergi."


"Maksudnya?"


"Kalau kamu ada masalah seperti kemarin, aku bakal ikut."


"Tapi, Kak, itu terlalu berbahaya. Jangan! Kalau aku terluka, aku bisa sembuh. Tapi kalau Kak Rayi yang luka, bagaimana?"


"Ada Abitra. Sekarang aku sudah bisa melihat dia, Bil."


"Di dunia gaib kemarin, kan?"


"Iya, itu awal mula. Dan di sini aku bisa melihat dia juga. Abitra juga sekarang akan terus ikut ke mana aku pergi. Selama ini dia hanya ada di rumah karena menunggu aku. Menunggu aku siap. Dan ternyata kejadian kemarin membuat kami berdua menjadi saling terhubung."


"Wow, keren," gumamku sedikit melongo tak percaya. Kak Rayi tersenyum, tipis dan manis. Netranya yang terus menatapku dalam, membuatku salah tingkah. "Kak, ngeliatinnya jangan begitu napa?" kataku sambil menunduk malu.


"Loh, memangnya kenapa?"


"Malu!" ucapku sambil menghempaskan tangannya lalu beranjak dari ranjang menuju pintu balkon kamarku yang masih tertutup. Korden kusingkap dan sinar matahari mulai masuk ke kamar. Ranjangku berderit, dan itu memang pertanda jika seseorang yang sedang di atasnya, turun. Dari ujung ekor mataku, aku melihat Kak Rayi turun dan mendekat padaku. Kami berdiri berdampingan, lalu aku mengajaknya keluar. Balkon kamar di pagi hari seperti ini terlihat sangat menggoda. Kak Rayi hanya menurut dan ikut berjalan keluar.


Kami berhadapan dengan sinar matahari. Menyilaukan, tapi cukup menghangatkan. Semilir angin membuat aku makin betah berlama-lama di sini. Rasanya pagiku benar-benar sempurna, hanya ditinggal menyeduh kopi dan menikmatinya perlahan bersama Kak Rayi.


"Bil ...."


Aku menoleh mendengar panggilannya. Kak Rayi menunduk sebelum akhirnya kembali menatapku. Tatapan mata itu sungguh meneduhkan. Entah lah, rasanya aku akan betah berlama-lama menatap sorot mata itu. Aku hanya menaikkan alis menanggapi panggilan itu.


"Aku sayang kamu."


Deg! Rasanya jantungku berhenti selama sedetik, dan kembali berdetak lebih cepat. Darahku seolah berdesir. Aku tau, kalau Kak Rayi memang menyimpan rasa padaku. Tapi aku tidak menyangka kalau dia mengutarakannya sekarang. Dan aku bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Hm, iya, aku tau." Kini rasanya wajahku panas, aku bahkan tidak berani menatap mata Kak Rayi lagi.


"Terus bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?"


"Jadi kita?"


"Kita apa?" tanyaku kembali membalik pertanyaannya.


"Nabila ... astaga!"


"Kita pacaran?"


"Hah? Emangnya Kak Rayi ada nanya begitu? Kirain tadi cuma ngungkapin perasaan saja?"


Kak Rayi menggaruk kepalanya, "hm, salah ngomong gue," gumamnya berbicara sendiri. Dia kembali menatapku, lalu melebarkan senyumnya lagi. "Oke, ulangi," katanya membetulkan posisi tubuhnya. Kini kedua tanganku di genggam olehnya. Aku sempat tertawa melihat tingkahnya yang absurd ini.


"Nabila ...."


"...."


"Jawab dong."


"Hahaha. Oke. Iya, Kak?"


"Aku sayang kamu, Nabila."


"Aku juga, Kak."


"Juga apa?"


"Sayang kakak."


"Serius?!"


Aku mengangguk dengan senyum tertahan.


"Kita pacaran yuk."


"Hayuk!"


"Yeeey. Kita jadian ini?" tanyanya menegaskan kembali. Aku mengangguk sambil menahan tawa. Kak Rayi bersorak senang. Dia lalu mengangkat tubuhku dan berputar-putar.


Sederhana namun membahagiakan. Aku juga tidak menyangka hari ini akan datang juga. Kak Rayi, seorang pria yang belum lama kukenal. Mampu meruntuhkan hatiku. Tidak dalam waktu singkat, tapi perlahan. Aku sudah lama memperhatikan Kak Rayi. Tapi kami baru dekat beberapa waktu lalu. Dan rasanya aku seperti telah mengenalnya lama. Dan, pagi ini kami berdua justru meresmikan hubungan, menjadi pacaran. Cukup mengagetkan. Aku bahkan masih tidak percaya.


_________________


Sampai di pelataran parkir sekolah, kami berjalan berdampingan. Ini pertama kalinya kami datang dengan status baru. Tentu ada perbedaan untuk pagi ini. Kini tangan ku dan tangan Kak Rayi bergandengan. Membuat beberapa pasang mata yang melihat makin geleng-geleng kepala. Aku tau, rasanya aneh jika gadis cupu sepertiku menjadi kekasih Kak Rayi yang termasuk orang berpengaruh di sekolah. Tapi beginilah adanya. Beginilah cinta. Dan aku suka terhadap sikapnya.


Sampai di gedung ruangan kelas 1, Kak Rayi berhenti. Aku juga tidak mau dia mengantarku sampai kelas, walau sebenarnya dia mau. Tapi aku bukan tipikal wanita manja seperti itu. Aku sengaja menyuruhnya mengantar sampai tangga.


"Nggak apa-apa. Biar mereka tau kalau kita pacaran," bisiknya, tertawa lalu mengacak-acak rambutku. Dia pun berjalan menjauh, menuju kelasnya.


______________


Hari ini suasana sekolah aman terkendali. Aku mulai kembali teringat Rio. Bahkan aku merindukannya. Biasanya dia akan muncul setiap beberapa jam sekali. Tapi sekarang dia benar-benar lenyap. Menatap ke luar jendela, berharap dia lewat, namun nihil.


"Nabila?!" teriak seseorang, dan sontak aku langsung menatap kembali ke depan. Bu Nawang sedang melotot padaku. Ah, mati aku. Aku ketahuan melamun lagi di kelas. "Keluar kamu! Daripada kamu nggak fokus di pelajaran saya! Pergi ke perpustakaan, dan kerjakan ini," katanya sambil menunjukkan sebuah kertas di tangan kanannya. Zidan melirik ke arahku sambil menutup wajahnya. Ia lalu menggeleng disertai garukan kepala. Sementara yang lain tidak peduli.


Aku segera berdiri dan berjalan ke meja guru untuk mengambil tugas tersebut. Sambil menundukkan kepala, tugas dari Bu Nawang sudah ada di tangan. Entah ini kebahagiaan atau bencana bagiku. Aku bisa terbebas dari pelajaran di kelas, tapi ada tugas yang menungguku di depan mata. Dan, aku tidak tau apakah bisa mengerjakannya atau tidak.


Keadaan di luar kelas sangat sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang muncul, entah akan menuju ruang guru atau toilet, bahkan mungkin kantin. Aku melihat seseorang yang kukenal. "Kak Faza!" gumamku menatap sosok pria di ujung koridor yang sedang berjalan bersama seorang wanita. Dahiku mengerut, karena aku pikir Mira bukanlah selera Kak Faza. Bahkan setahuku Mira pernah ditolak mentah-mentah oleh Kak Faza. Setidaknya itu yang pernah dikatakan Kak Rayi padaku beberapa waktu lalu.


Mereka berjalan dengan mesra sekali, dan hal ini membuatku penasaran. Diam-diam aku mengikuti Kak Faza dan Kak Mira. Aku terus menjaga jarak, agar pengintaianku tidak ketahuan. Makin lama aku makin bingung, karena kami mulai ke arah gedung kosong yang berada di belakang sekolah. Gedung yang sedang dalam tahap renovasi. Mereka masuk ke sebuah ruang kelas.


"Waduh, mereka mau ngapain, ya?" gumamku berbicara sendiri.


Perlahan aku mulai mendekat dan sampai di depan pintu yang sudah ditutup oleh Kak Faza. Mencurigakan sekali. Aku mencari lubang untuk mengintip. Namun semua tertutup rapat. Dan jalan satu-satunya adalah mengintip dari jendela yang letaknya agak tinggi di atas. Aku mencari pijakan, dan akhirnya berhasil mendapatkan sebuah kursi. Aku naik perlahan, berpegangan pada jendela tersebut, berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecil mungkin.


Aku terus mencari keberadaan dua orang tadi. Lalu kini mereka mulai terlihat di sudut ruangan. Dan aku melihat Kak Mira sedang membuka kancing bajunya. Aku melotot lalu segera menunduk. Rasanya tidak perlu kulihat lagi kelanjutannya. Hal ini membuatku bergidik ngeri. Astaga Kak Faza. Perlahan aku hendak turun dari kursi ini, tapi tiba-tiba kakiku tersangkut, dan membuat tubuhku terjatuh. Aku menutup mulut dan kini Kak Rayi menangkapku dan membuat aku tidak jadi jatuh di lantai. Kursi juga dia pegang, dan tentu tidak ada suara apa pun kini. Kak Rayi melotot padaku, gerak bibirnya mampu kubaca kalau dia sedang bertanya apa yang sedang kulakukan. Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibir, menyuruhnya diam. Kutarik tangannya menjauh dari tempat itu.


Kini kami sudah berada di dekat perpustakaan. Aku terus melihat ke sudut di mana Kak Faza dan Kak Mira berada. Kak Rayi masih menunggu penjelasanku. Tangannya dilipat di depan dada, sambil terus menatapku. "Kak, itu tadi, Kak Faza!"


"Faza? Ngapain?" tanyanya setengah tidak percaya.


"Sama Kak Mira. Mereka ...." Aku menggaruk kepala, bingung bagaimana menceritakannya. Kak Rayi makin menatapku dalam, menunggu penjelasanku selanjutnya.


"Aku tadi lihat Kak Mira buka baju, terus aku nggak lihat lagi, Kak. Ngeri," rengekku sambil memegangi lengannya. Kak Rayi mengerutkan keningnya lagi, lalu tertawa melihatku. "Ih, malah ketawa!"


"Habisnya kamu lucu. Terus kamu sendiri ngapain di luar? Bukannya di kelas!" cetusnya dengan statment mengintimidasi. Aku lantas menunjukkan kertas yang ada di tangan kananku. "Ini, disuruh ngerjain ini. Tadi aku ngelamun di kelas, terus Bu Nawang marah," rengekku manja.


"Ya udah dikerjain, buruan."


"Aku nggak bisa, Kak." Wajahku kubuat sangat memelas, agar Kak Rayi iba.


"Oke, aku banuin. Tapi ada syaratnya," ucapnya serius.


"Apa?"


"Jangan panggil aku Kak lagi, tapi sayang!"


"Hah?! Ih, nggak mau!"


"Loh, kok nggak mau? Kan kita sudah pacaran ini?"


"Malu," bisikku sambil melirik ke samping kanan dan kiri.


"Oke, aku kasih keringanan. Panggilan sayangnya cukup kalau kita lagi berdua saja, bagaimana?"


Aku diam sambil berpikir tentang tawaran ini, dan pada akhirnya aku mengangguk pelan. Pertanda setuju. Kak Rayi tersenyum lebar lalu mendekatkan sebelah wajahnya padaku. Aku mundur sambil menutup mulut. "Ayo, bilang. Gimana sih?" pintanya setengah memaksa.

__ADS_1


"Iya, sayang," gumamku lebih ke berbisik lirih.


"Apa? Aku nggak dengar?"


"Iya, sayang." Aku mengeraskan ucapanku.


"Kurang keras."


"Iya, Kak Rayi sayaaang!" ucapku setengah menjerit. Dan segera menutup mulut sambil tengak tengok ke sekitar. Kak Rayi tertawa sambil bersorak. "Yuk, kerjain!" katanya, menggandengku masuk ke perpustakaan.


Dengan telaten dia terus mengajariku. Aku tau kalau Kak Rayi ini adalah salah satu murid yang pintar. Gosip tentang dirinya memang terus merebak, dan membuatku banyak tau tentang dirinya. Dan di saat seperti ini, aku sangat senang. Dan entah kenapa pelajaran Bu Nawang membuatku cepat mengerti. Sehingga soal terakhir membuatku langsung dapat mengerjakannya.


"Yey, selesai sudah," kataku riang. Menunjukkan hasil kerja kami berdua dengan bangga. Kak Rayi hanya tersenyum dan memegang kepalaku lalu mengecupnya cepat.


Kami berdua segera keluar dari perpustakaan begitu mendengar bel berdering. Pelajaran telah usai dan waktunya pulang. Di depan perpustakaan kami bertemu Kak Faza dan Kak Mira. Ini membuktikan kalau perkataanku tadi benar. Dan Kak Rayi pasti percaya sekarang.


"Heh! Dari mana lu?" tanya Kak Rayi. Menatap Kak Faza dan Kak Mira bergantian. Kak Mira terlihat salah tingkah sambil menutupi leher dengan kerah bajunya. Sepintas aku melihat kiss mark di lehernya. Aku yakin Kak Rayi juga melihat hal itu. "Aku duluan, ya," pamit Kak Mira sungkan. Dia lalu berlari kecil meninggalkan kami.


"Gila lu, Za," umpat Kak Rayi sambil geleng--geleng kepala.


"Berisik lu! Nggak usah ikut campur!" kata Kak Faza sinis, lalu pergi meninggalkan kami. Kak Rayi terlihat terkejut pada reaksi Kak Faza tersebut. Dia terlihat terguncang, dan itu sangat jelas sekali dari perubahan wajahnya.


"Ya sudah, kamu buruan balik kelas, nanti aku tunggu di parkiran ya, sayang," ucap Kak Rayi lalu mengecup keningku, lagi. Dia lantas berjalan lebih dulu meninggalkanku.


Pertama kalinya aku melihat Kak Rayi sedih. Dan aku tidak tega. Padahal sebelumnya belum pernah mereka bertengkar serius seperti itu. Dan memang aneh, Kak Faza yang bisa dikatakan orang paling alim seantero sekolah tiba-tiba kelakuannya memprihatinkan.


Aku menarik nafas panjang, lalu berjalan kembali ke kelas.


______________________


Kini Kak Rayi sudah duduk di atas kuda besinya. Diam sambil menatap dingin ke sudut lain parkiran. Di sana ada Kak Faza bersama Kak Mira. Mereka naik mobil Kak Faza. Rasanya persahabatan mereka benar-benar sedang kacau sekarang. Kak Roger dan Kak Bintang juga melihat ke arah Kak Faza sambil geleng-geleng kepala. Mereka berdua lantas mendekat ke Kak Rayi. Ketiganya terlibat pembicaraan serius, sepertinya.


Perlahan aku berjalan mendekat, mencoba mengulur waktu agar mereka memiliki waktu untuk mengobrol bersama. Aku yakin masalah ini memang harus dibahas secara intern. Dan aku bukan bagian dari itu.


"Bil? Ngapain di situ?" tanya Kak Rayi yang telah memergokiku berdiri mematung tak jauh dari mereka. "Sini, dong," katanya lalu melambaikan tangan padaku. Walau ragu, tapi aku tentu menurut dan mendekat ke mereka.


"Cie, yang sudah jadian, makan-makan ini," kata Kak Roger menyenggolku dengan tatapan genit.


"Apa sih, Kak Roger ini."


"Halah, pura-pura," sindirnya. Matanya menyipit dengan senyum lebar yang menyebalkan. Tatapan matanya benar-benar membuatku ingin memukulnya sambil tertawa.


"Hayuk, kita makan ini." Kalimat Kak Bintang membuat Kak Rayi memposisikan duduknya dengan benar.


"Yuk, mau di mana?" tanya Kak Rayi seolah menyetujui permintaan teman-temannya.


"Cafe biasa, Yi. Lama nggak ke sana kita," ujar Kak Bintang.


"Nah, setuju." Kak Roger lalu naik ke motor Kak Bintang.


Kak Rayi memberikan helm padaku dan menyuruhku segera naik. Tentu aku tidak pernah langsung pulang ke rumah. Karena selama ini aku cukup sering berada di luar rumah. Apalagi kalau Papa tidak ada di rumah. Dan sekarang Papa memang sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota.


_______________


Kami sampai di cafe yang mereka maksud. Nuansa cafe yang modern tapi mewah membuatku terkagum-kagum. Selera mereka memang bagus dalam memilih tempat. Kami lantas mencari tempat duduk yang kosong. Kedua pria itu berjalan di depan, sementara aku dan Kak Rayi di belakang mereka, sambil bergandengan tangan. Sangat posesif, begitulah Kak Rayi. Tapi aku suka.


"Wait. Itu, kan, Faza!" tunjuk Kak Bintang ke sebuah meja dengan seorang pemuda dan seorang gadis di sana. Tapi anehnya gadis itu bukan Kak Mira. Tapi Kak Fitri.


"Ganti lagi dia?" tanya Kak Roger sinis.


"Gila si Faza. Banyak banget perubahannya, ya."


"Dan mendadak!" ucap Kak Rayi.


"Eum, hallo, bagaimana kalau kita cari tempat duduk? Aku lapar, By the way," pungkasku sambil mengelus perut. Kak Rayi tersenyum dan mengajakku ke sebuah meja yang memang agak jauh dari Kak Faza. Tapi keberadaan pemuda itu masih dapat jelas kami lihat.


Kami makan siang di sini. Dan katanya ini adalah peresmian hubunganku dan Kak Rayi. Meja sudah berisi banyak makanan. Mereka memilih makanan jepang. Dan aku juga suka. Mereka bertiga tertawa-tawa membahas banyak hal tentang sekolah. Apalagi sebentar lagi akan ada pemilihan ketua OSIS baru. Kak Rayi mendapat kehormatan sebagai salah satu kandidatnya.


"Iya, bingung juga, soalnya Andra ini rekapnya salah sih, jadi agak kacau memang. Cuma bisa lah kita handle nanti." Mereka mulai membahas hal organisasi di sini. Aku yang tidak paham pokok permasalahan, hanya diam dan menyimak. Sesekali aku melihat ke meja Kak Faza. Dia menyadari kalau kami juga ada di cafe ini, tapi entah kenapa dia terlihat tidak peduli. Malah makin asyik dengan wanita di sampingnya. Sikap Kak Faza sungguh aneh. Aku juga tidak mengerti kenapa Kak Faza berubah seperti itu. Seperti bukan dirinya.


"Ya ampun!" pekikku pelan. Aku menutup mulut sambil mengerutkan kening. Seolah tidak percaya pada apa yang kulihat barusan. "Ah, mungkin salah lihat," batinku pada diriku sendiri.


Aku kembali menyantap kudapan yang sudah ku pesan tadi, sambil menyimak obrolan para senior tentang pemilihan ketua OSIS periode baru. Kak Faza juga menjadi kandidat yang akan melawan Kak Rayi. Ada 5 kandidat OSIS. Dan semua adalah laki-laki.


____________


Kak Rayi mengantarkan aku pulang. Dan ini sepertinya akan menjadi agenda rutin setiap hari. Hubungan yang sedang hangat-hangatnya pasti membuat kami ingin terus bersama. Aku turun di depan pintu gerbang, Kak Rayi tidak mampir, karena sore ini akan mengantar Mamanya ke suatu tempat. "Aku pulang, ya," katanya sambil mengelus pipiku. Aku mengangguk dan tersenyum.


"I love you, sayang."


"I love you too, Kak Rayi."


"Sayangnya mana?" protes pemuda itu dengan membuat ekspresi mengiba.


"I love you too, Kak Rayi sayang."


"Eh, Bil, mulai sekarang hilangkan saja panggilan Kakak itu, bisa? Kayaknya nggak enak di dengar deh." Dia kembali protes dan membuatku terkekeh.


"Terus aku panggil apa?"


"Kamu aku panggil Yang, dan kamu panggil aku Ay. Namaku ini masih ada unsur Ay nya loh."


"Hm, oke oke. Boleh juga, Kak."


"Eh, kak lagi!"


"Hahaha. Oke, Ay," kataku sedikit berbisik.


"Ih, malu-malu si sayangku." Kak Rayi mencubit kedua pipiku gemas. Dia lantas pamit pulang dan aku kini melepas kepergiannya dengan senyum bahagia.


Tapi tiba-tiab aku menjadi teringat Kak Faza saat di kantin tadi. Matanya aneh. Sekilas matanya berubah hitam. Dan itu berlangsung hanya sepersekian detik. Tapi aku benar-benar melihatnya. Dan hal ini membuat kecurigaanku seolah menemukan titik temu. Setidaknya aku yakin kalau dia bukan lagi Kak Faza yang selama ini kami kenal. Bahkan aku tidak yakin kalau Kak Faza masih ada di tubuhnya. Dan aku menjadi teringat perkataan Rachel tempo hari. Manusia yang pernah melintasi dunia lain atau jiwanya ditahan oleh makhluk gaib, harus mengalami serangkaian tes, untuk membuktikan dan meyakinkan kalau jiwa yang kembali ke tubuhnya memang jiwanya. Bukan jiwa makhluk jahat lain yang menginginkan kehidupan lain di bumi. Karena sering kali manusia yang jiwanya pernah hilang akan bersikap tidak wajar dan aneh. Dan kini aku melihatnya di dalam diri Kak Faza.

__ADS_1


__ADS_2