pancasona

pancasona
54. Hutan tempat tinggal Riri


__ADS_3

"Oh ya? Itu mengerikan. Kita hampir jadi tumbal, guys."


"Mengerikan! Semoga mereka nggak menyusul kita sampai sini!"


"Sebenarnya tidak aman jika pergi malam-malam begini, karena kondisi hutan tidak aman. Di sini masih ada hewan - hewan buas dan melata yang bisa kita jumpai. Hanya saja, aku khawatir kalau mereka akan mencari kalian sampai ke sini."


Mereka hanya saling pandang. Karena apa yang dikatakan Riri memang benar. Mereka juga sudah cukup berpengalaman saat menelusuri hutan saat malam hari, dan itu memang tidak aman. Apalagi bayangan kegilaan Fauzan masih tercetak jelas di ingatan mereka semua. Tapi bayangan para mayat hidup desa itu juga tampak mengerikan. Mereka sedang menghadapi dilema. 


"Terus kita gimana? Kita harus terus jalan atau di sini dulu?" tanya Hani menatap teman-temannya bergantian. 


Mereka semua juga ikut saling tatap. Karena belum berani untuk mengambil keputusan. Bagaimana pun keputusan yang diambil harus atas dasar kesepakatan bersama. Dan akhirnya tatapan mata mereka berakhir pada Dana, yang sudah mereka anggap sebagai ketua tim sejak awal hingga kini. Dana yang merasa di tatap begitu akhirnya menarik nafas panjang. 


"Kita tunggu sebentar lagi, sambil mengumpulkan tenaga untuk perjalanan selanjutnya."


"Tapi kita harus ke mana, Ri? Apa kamu tahu ke arah mana kami harus pergi?"


Pertanyaan Rea memang masuk akal. Satupun dari mereka tidak tahu ke arah mana harus pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka buta arah. Hutan yang seharusnya mereka datangi bukanlah hutan yang sedang mereka tempati sekarang. Ini di luar alur rencana mereka. Mereka sama sekali tidak mengetahui ke arah mana mereka harus pergi.


"Aku tahu arah mana yang seharusnya kalian datangi!" kata Riri.


"Ke mana?"


Riri Lantas menyapu tanah yang berada di depannya. Dia mengambil sebuah batang kayu kecil sebesar jari telunjuknya. Menggambar secara abstrak. Namun Cukup jelas untuk mengetahui maksud dari apa yang sedang dia gambar.

__ADS_1


"Ini hutan di sini, sebelahnya desa Riri. Ini hutan, hutan, dan hutan lagi. Semua hutan ini saling berdekatan. Tapi hutan-hutan ini tidak sama. Ada semacam sekat pemisah dari hutan satu ke hutan lainnya."


Semua orang memperhatikan apa yang sedang Riri gambar. Otak mereka juga untuk menghafal letak tempat-tempat tersebut.


"Ini hutan sebelah, dan yang ini hutan terlarang. Hutan ini sebaiknya kalian hindari. Jangan sampai kalian masuk ke hutan ini apapun yang terjadi."


"Memangnya kenapa?"


"Ada iblis di dalamnya. Aku pernah melihat Pak Jaka keluar dari hutan itu dan berjalan ke Desaku."


Mendengar hal itu mereka semua saling tatap. Pikiran mereka sama satu sama lain. Mereka yakin betul, kalau apa yang diceritakan oleh Riri adalah hutan di mana Fauzan sekarang berada.


"Tunggu sebentar. Riri, Apa kamu bisa mengenali orang ini?" tanya Dana sambil mengeluarkan ponsel miliknya. Dia lantas mencari ke folder galeri, dan mencari sebuah foto ingin ditanyakan kepada Riri. Akhirnya Dana menemukan foto Fauzan. "Ini! Apa kamu pernah melihat dia?"


"Apa Kamu bisa mendengar dan mengetahui pembicaraan mereka?" tanya Rea serius.


"Eum, apa ya. Aku tidak paham. Tapi ada beberapa kata kata yang aku tangkap dari pembicaraan mereka. Tentang tumbal yang lebih banyak lagi agar bisa keluar dari hutan."


Kalimat itu menjelaskan sebuah alasan mengapa Fauzan masih bertahan ada di hutan tersebut.


" Jadi Fauzan juga butuh tumbal. Dan itu alasan dia mengejar kita," bisik Hana sambil menatap teman-temannya satu persatu.


"Riri, lalu kami harus ke mana lagi?"

__ADS_1


"Kalian harus melewati semua hutan itu. Jangan masuk ke dalamnya. Lalu terus berjalan ke arah ini, sampai ke sebuah sungai. Di sana, ada jalan raya. Aku pernah melihat ada kendaraan melintas. Itu jalan keluar untuk kalian."


"Bukan untuk kami! Tapi untuk kita semua!" tegas Rea.


"Iya, Rea benar. Kita semua harus segera keluar dari hutan ini, dan tempat terkutuk ini! Kamu juga!" tambah Leni.


Riri menatap mereka semua bergantian. Dia seakan ragu untuk menuruti perkataan mereka. "Tidak, Kak. Aku akan tetap di sini. Di sini adalah Tanah Kelahiranku, Kak. Lagipula kalau aku berhasil keluar dari tempat ini, Aku harus pergi ke mana lagi. Aku sudah terbiasa tinggal di sini. Aku tidak perlu memikirkan uang untuk membeli makanan. Aku juga tidak perlu memikirkan tempat tinggal. Semuanya sudah aku dapatkan di sini. Jadi untuk apa aku pergi Kalau di tempat baru hidupku tidak lebih baik dari Di sini. Dan lagi kalau aku rindu rumah, aku bisa pulang setiap saat."


Rea mendekati Riri. Dia menggenggam tangan gadis kecil itu sambil menatapnya Iba. " Riri, Kamu bisa tinggal sama kakak. Kamu bisa makan dengan tenang tanpa perlu mencari makanan, tanpa perlu bekerja untuk menghasilkan uang, yang harus kamu lakukan hanya sekolah dan belajar. Masa depan kamu masih sangat panjang. Kamu bisa mencapai cita-cita yang kamu inginkan. Kakak yakin, Ayah Kakak akan setuju jika kamu ikut tinggal bersama kami."


"Iya, Ri. Kalau kamu merasa keberatan tinggal sama Rea, kamu boleh tinggal sama aku. Aku juga yakin kalau orang tuaku akan setuju, kamu tinggal bersama kami. Ayah Ibuku itu baik sekali. Kalau kamu ada di rumah, mereka Pasti enggak akan kesepian lagi. Karena aku pasti akan sering sibuk kuliah," ujar Leni.


" lihat Ri, banyak yang menyayangi kamu. Lebih baik kamu ikut Kami pergi. Dan lagi rumah itu tidak selalu sebuah bangunan. Rumah bisa saja seseorang. Kami yakin, kamu butuh seseorang yang akan menyayangi kamu. Dan menjadikan kamu bagian dari keluarga." Kalimat Dana terdengar menyentuh hati. Rea Saja tidak menyangka jika Dana bisa mengucapkan kalimat seperti itu.


" kalau kamu ada di sini sendirian seperti sekarang, justru kami akan cemas. Kalau pun kamu tidak mau ikut kami, kami pasti akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Bahwa ada penyintas di desa yang masih tinggal di hutan sendirian, dan itu adalah anak kecil. Aku yakin jika berita ini viral, maka Kak Seto pasti akan mendatangi kamu secara langsung!"


"Siapa Kak Seto?"


Pertanyaan Riri membuat mereka semua tertawa. Mereka tidak menyangka kalau ada 1 anak kecil yang sama sekali tidak mengetahui siapa itu Kak Seto.


Dalam diskusi tersebut, mereka dikejutkan dengan suara menggeram yang terdengar samar. Seketika mereka semua diam, dan menajamkan pendengaran masing-masing.


"Mereka datang!" ujar Riri panik.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Dana.


__ADS_2