pancasona

pancasona
Part 202 Pernikahan Ellea dan Abimanyu


__ADS_3

Mengungkap sebuah kasus aneh, bukan lagi hal baru bagi mereka. Namun menemukan makhluk yang bernama Jorogumo adalah hal baru bagi mereka. Wira memang lebih banyak mengetahui semua makhluk hampir di seluruh dunia. Bahkan dari makhluk halus maupun yang sejenis dengan Jorogumo. Tetapi baru kali ini dia berhadapan langsung dengan makhluk tersebut.


Penginapan menjadi kian ramai, beberapa petugas kepolisian berjaga dan memberikan garis batas polisi di kamar korban. Tentu dengan penjagaan juga di depan pintu. Semua penghuni dijadikan saksi karena mereka menganggap kalau ini adalah pembunuhan. Pembunuhan aneh dengan menyelimuti korban dengan sarang laba laba. Setidaknya dengan adanya polisi yang berjaga di penginapan ini, membuat penghuninya merasa lebih aman.


Tapi rencana mereka untuk melangsungkan pernikahan Abimanyu dan Ellea akan terus diupayakan. Dewa sudah memiliki tempat untuk menggelar pernikahan kilat untuk pasangan tadi. Mereka semua pergi ke tempat yang mirip tempat ibadah. Di sini semua orang akan sah menjadi suami istri, bahkan jika mereka berbeda agama sekali pun.


Nayla membantu Ellea mencari gaun untuk pernikahannya. Mereka memilih sebuah gaun berwarna putih dengan bahan sutra dan sedikit brukat di bagian dadanya. Sementara Abimanyu memakai setelah tuxedo, dan dia terlihat tampan dengan pakaian itu.


"Kamu ganteng juga," puji sang ayah saat melihat putranya berpenampilan berbeda dari biasanya. Mereka yang tengah menunggu mempelai wanita berdandan di ruang tunggu, duduk dengan gelisah. Terutama Abimanyu. Dia terkekeh, "jujur ini pertama kalinya aku memakai pakaian seperti ini. Rasanya ... sedikit aneh." Ia menatap tubuhnya sendiri di depan cermin. Melihat bagian depan, dan berpindah ke bagian belakang.


"Sudahlah, kamu ganteng," kata Arya masih geli melihat kecemasan dalam diri Abimanyu.


"Eum, Om Gio di mana?"


Arya menatap jam di pergelangan tangannya, lalu beralih ke jendela di samping mereka. "Mereka sedang menyiapkan altar pernikahan, eum semacam menata ruangan dengan bunga atau kain kain. Itu kata Gio kemarin. Setidaknya kami ingin pernikahan kalian berkesan, walau sederhana."


Abimanyu tersenyum, dia mendekat ke Arya yang kini sedang berdiri di dekat jendela, menyibak korden dan memperhatikan ke arah jalan raya. "Ayah ...," panggil Abi pelan. Arya menoleh dengan kerutan di dahinya. "Kenapa?"


"Terima kasih karena sudah kembali. Aku nggak tau sampai kapan kita akan berkumpul lagi seperti ini, tapi buat aku, punya kesempatan ketemu ayah dan ibu lagi itu sudah cukup. Aku nggak tau, apa yang akan terjadi pada kita nanti, tapi setidaknya kita sudah berjuang bersama. Aku bahagia, karena ada ayah dan ibu di sini."


Hati Arya terasa teriris sembilu, entah mengapa perkataan Abimanyu begitu dalam menusuk hatinya. Padahal dia bukan termasuk pria yang melankolis dan penuh drama, tetapi perkataan itu barusan berhasil meruntuhkan hatinya. Arya menepuk bahu Abimanyu sambil menggigit bibir. Ia berusaha keras menahan dorongan kesedihan di hatinya. Bagaimana pun juga ini adalah hari bahagia Abimanyu, dan jangan sampai rusak oleh suasana sedih apa pun.


Altar pernikahan sudah di design sedemikian rupa. Hari ini Abimanyu dan Ellea akan menikah. Tentu semua orang ikut andil dalam acara ini. Setidaknya ini salah satu hal bahagia di tengah masalah pelik mereka. Ikrar janji suci telah diucapkan kedua mempelai. Suara riuh kebahagiaan terdengar ramai di belakang mereka. Semua berbahagia dan mengucapkan selamat untuk kedua mempelai.


Abimanyu menatap istrinya, begitu juga dengan Ellea. Keduanya terlihat bahagia dengan mata berkaca kaca. Bagi Ellea, pernikahannya itu tidak begitu penting lagi. Dia sudah tidak lagi mempermasalahkan hal itu, seperti saat Allea hendak menikah. Tetapi tentu Ellea sangat bahagia saat Abi benar benar menikahinya. Status mereka kini sudah berubah menjadi suami istri. Satu untuk selamanya, dan hanya maut yang akan memisahkan mereka. Yah, hanya maut.


"Ini? Kerjaan siapa?" tanya Ellea begitu memasuki kamar pengantin mereka. Ada banyak bunga mawar hitam di beberapa sudut kamar. Dan hamparan bunga mawar putih di atas ranjang mereka. Abimanyu tersenyum sambil menutup pintu kamar. "Aku yang bikin. Kamu suka?" tanyanya sambil memeluk istrinya itu dari belakang. Ellea memegang tangan Abi yang kini berada di perutnya sambil terus mengembangkan senyum lebar. Kini ia membalikkan tubuhnya, menghadap suaminya.


"Hai istriku."


"Hai suami."


Keduanya tertawa bersama. Abi mencium pelan kening Ellea, lalu turun ke kedua kelopak matanya, Ellea memejamkan mata pasrah menerima semua perlakuan dari suaminya. Sampai akhirnya bibir mereka saling berpagutan. Pelan dan dalam. Abi membawa Ellea naik ke ranjang dengan membopongnya ala ala pengantin baru yang akan bulan madu. Dan di depan kamar mereka sudah diberi tulisan "Do not disturb!"


***


Di sisi lain, para pengiring pengantin mulai lelah sambil berkumpul di kamar Arya, mereka mulai membahas tentang keresahan penginapan. Tentu tentang Jorogumo yang telah merenggut satu nyawa penghuni penginapan. Sampai saat ini polisi belum menemukan tersangka. Atau pun bukti dan penjelasan apa pun tentang kematian pria itu.

__ADS_1


"Mungkin itu nggak sengaja?" celetuk Dewa.


"Itu? Nggak sengaja? Gila kali, sampai orang mati begitu. Nggak bisa dibiarkan!" tukas Gio semangat.


"Terus mau kita tangkap? Bagaimana caranya?"


Mereka diam, lalu melirik ke Wira yang duduk di dekat jendela balkon. "Wira! Bagaimana cara memancing setan itu keluar?" tanya Gio.


Wira menoleh dengan tatapan datar. Ia menarik nafas dalam dalam lalu kembali menatap keluar jendela. "Dia akan muncul tengah malam, dan menggoda laki laki hidung belang."


"Cuma itu?"


"Ya sekarang tinggal siapa yang mau jadi umpan," jelas Wira santai.


"Laki laki hidung belang itu siapa?" tanya Gio.


Dan semua orang justru menatap Gio bersamaan. Dan di situlah jawaban dari pertanyaan tadi terjawab. "Oke, fine." Gio pun pasrah.


Malam makin larut, sambil menunggu tengah malam, mereka berkumpul di kamar Arya. Karena Nayla tidak diperkenankan ikut dalam misi ini. Maka mereka akan membagi tugas.


"Tapi kalian yakin kalau jorogumo akan muncul?" tanya Gio sedikit ragu.


Setiap tanggal 3 Februari di Jepang selalu merayakan Setsubun. Setsubun mempunyai arti sebagai pembagian musim. Dan Setsubun kemudian dijadikan sebagai nama perayaan sekaligus istilah untuk hari sebelum hari pertama musim semi di Jepang.


Setsubun bisa dikatakan sebagai suatu perayaan untuk mengusir syetan dan mempersilahkan keberuntungan untuk masuk rumah kita. Cara Usir Setan ala Jepang yang unik!!


Dan lucunya dalam perayaan Setsubun ini didalamnya ada kegiatan melempar kacang, yang disebut juga Mamemaki. Ya, melempar kacang ke badan oni/setan/monster agar tidak masuk kedalam rumah kita. Sambil berkata : “Oni wa Soto, Fuku wa Uchi!” Yang artinya, Syetan keluarlah! Keberuntungan masuklah!


"Jadi cara mengusirnya dengan melempar kacang?"


"Iya, sambil berkata mantra ajaib itu."


"Hm, kalau gitu aku beli kacang dulu," tukas Dewa, Elang pun ikut Dewa keluar kamar.


Jam sudah berdenting, menunjukan pukul 12 malam. Dewa dan Elang baru saja kembali membeli senjata yang akan mereka pakai untuk menghadapi Jorogumo. Selain itu mereka berbelanja keperluan selama beberapa hari, seperti banyak makanan untuk semua orang.


"Terus rencana kita apa?" tanya Arya.

__ADS_1


"Eh, apa nggak terlalu beresiko kalau cuma Gio yang menjadi umpan?" tanya Nayla.


"Jadi maksud kamu, harus ada orang lain juga?" tanya Arya.


"Iya, minimal dua orang, gimana? Karena kita nggak tau dia akan berada di mana. Penginapan ini luas, kan?"


"Ya sudah, biar sama gue aja," timpal Elang yakin.


Semua sepakat kalau Elang dan Gio yang akan memancing hantu itu keluar. Karena menurut mitos, selama 3 hari sejak perayaan itu dimulai, para hantu akan berkeliaran. Dan kejadian ini sudah ada sejak 25 tahun lalu. Dan setiap tahun pasti akan ada orang yang meninggal, setiap hari selama 3 hari berturut turut.


Penginapan ini memang milik warga asli, tetapi ternyata tanah yang ada di kompleks tersebut dulunya adalah sebuah perkampungan milik orang Jepang, yang kini tergusur oleh keadaan. Berganti dengan ruko dan penginapan sekelas hotel melati. Sehingga adat yang dulu menjadi tradisi seolah terus terasa walau keadaan tempat itu berubah.


Suasana penginapan terasa sunyi. Beberapa pengunjung memilih pindah dan mencari tempat yang lebih aman. Lagi pula mana ada, orang yang mau menginap di kamar hotel bekas kasus pembunuhan. Hanya orang bodoh saja yang mau melakukannya, dan orang orang bodoh itu adalah mereka semua. Wira, Arya, Gio, Elang dan semua yang ada di kamar itu.


Gio dan Elang keluar kamar. Bersiap dengan sekantung biji kacang di saku mereka. Koridor terlihat gelap karena mang sengaja dimatikan. Kecuali kamar bekas mayat pria itu ditemukan. Dan satu lagi, tidak ada penjagaan polisi di sini.


"Eh, tau nggak, Gi, kalau tinggal kita aja yang menginap di sini," bisik Elang memberikan informasi yang Gio belum tau. Gio menoleh dengan tatapan tak percaya. "Yang bener lu, Lang. Jangan becanda!"


"Ye, nggak percaya. Tadi gue cek ke resepsionis, mereka bilang semua penghuni di sini check out. Yah, siapa sih yang mau tidur di penginapan bekas pembunuhan?"


"Lah kita kan?"


"Iya, cuma kita. Orang nggak waras."


Setelah diskusi yang jika dilanjutkan akan menjadi perdebatan, mereka akhirnya memilih berpencar. Elang ke bawah, sementara Gio ke lantai atas. Mereka juga dilengkapi dengan kamera yang diletakan di kemeja sekaligus mikrofon agar tiap langkah mereka dapat dilihat dan didengar oleh teman teman mereka yang lain.


Bunyi derit tangga yang diinjak Elang membuat pria itu berhenti sejenak. Ia memperhatikan sekitar, dan mencoba lebih pelan lagi dalam berjalan. Perlahan kaki Elang turun dan menapaki anak tangga yang cukup tinggi. Keadaan di lantai bawah juga sudah sunyi. Meja resepsionis pun sudah kosong. Karena hanya akan melayani sampai pukul 10 malam saja. Elang masih terus menyusuri ruangan demi ruangan.


Di tempat lain, Gio sudah berada di lantai paling atas. Langkahnya pelan sambil terus siaga. Kalau kalau ada gerakan mendadak dari lawan. Ia memeriksa sebuah kamar, yang rupanya tidak dikunci. Dan ternyata semua kamar memang tidak dikunci dan kosong. Sunyi. Hanya ada suara langkah kaki Gio di sepanjang koridor lantai 3. Sampai akhirnya saat ia membuka satu kamar lagi, ada seorang wanita yang sedang duduk di ranjang. Memakai gaun merah seksi dengan rambut panjang terurai. Pakaiannya menerawang. Gio mendadak diam, jantungnya berdegup makin kencang. Ia sadar kalau wanita itu adalah yang sedang ia incar. Tetapi tentu ia harus mendekat untuk dapat melakukan ritual pengusiran setan seperti yang dikatakan Wira.


"Eum, maaf, saya ...." Kalimat Gio terbatas bata, ia grogi dan sedikit gelisah. Masih berdiri di ambang pintu, dengan kondisi ruangan yang gelap membuatnya sedikit takut. Mungkin jika musuh di depannya adalah manusia dia tidak akan gentar, tetapi dia adalah hantu, yang jika dipukul akan sia sia belaka.


Wanita itu menoleh, ia tersenyum. Wajahnya cantik sekali, dan lekuk tubuhnya terlihat menerawang. Ia lantas berjalan mendekati Gio.


"Maaf, saya salah masuk kamar," kata Gio mundur perlahan. Tetapi sang wanita justru melingkarkan tangan di leher Gio sembari mendekatkan tubuhnya. Pikiran Gio sempat kabur, hal yang sejak tadi ia rencanakan mendadak buyar seketika. Sampai tiba tiba, Gio dicekik. Ia meronta karena sesak. Wanita itu berubah menjari makhluk yang mengerikan. Yah, dia siluman laba laba. Tubuhnya sebagian seperti laba laba, sementara kepalanya masih manusia. Namun tidak secantik di awal tadi. Tangan Gio berusaha mengambil kacang yang tadi ia simpan di saku celana. Namun ia terlalu sulit meraihnya, sampai akhirnya tubuh Gio terdorong mundur ke sudut kamar. Sarang laba laba keluar dari mulut wanita jelek itu, dan membuat tubuh Gio terdorong lagi ke atap. Gio sempat menjerit sampai akhirnya mulutnya tertutup sarang laba laba tersebut. Gio mulai kesulitan bernafas, namun tiba tiba juluran sarang laba laba itu terputus saat Elang memotong dengan pedang di tangannya. Wanita siluman itu menoleh dan menatap Elang kesal. Ia menggeram lalu berbalik menyerang Elang. Elang bahkan sampai terpental keluar kamar. Ia terguling sampai hampir jatuh ke lantai bawah, tetapi beruntung Elang masih dapat berpegangan pada pinggiran kayu pagar lantai 3 tersebut. Elang berusaha sekeras mungkin agar tangannya tidak terlepas. Tetapi ia tentu tidak bisa bertahan terlalu lama dengan posisi menggantung seperti ini. Tangannya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya, sampai akhirnya pegangan itu terlepas.


"Tahan, Lang!" ucap Arya yang kini meraih tangan Elang. Arya membantu Elang agar kembali naik ke atas. Di belakang Arya ada Dewa dan Wira yang masuk ke kamar itu. Wira melempar kacang lalu mengucapkan mantra. Tetapi anehnya siluman wanita itu hanya diam. Seolah apa yang dilakukan Wira tidak bereaksi apa apa. Dewa pun melotot dan mulai ketakutan. Kini kedua pria itu ikut terdorong ke tembok akibat sarang laba laba yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Saat Arya sudah membawa Elang naik ke atas, ia dikagetkan dengan sebuah kepala yang menggelinding di bawah kakinya. Kepala Jorogumo. Dan di sana ada Nayla yang berdiri dengan sebuah pedang panjang di tangannya.


"Mungkin memenggal kepalanya adalah cara terjitu," katanya sambil menetralkan nafasnya yang tersengal sengal.


__ADS_2