
"Nay-- kayaknya kita perlu ke supermaket deh. Perbekalan kita udah abis nih." seru rani saat kami selesai makan malam.
"Ya udah, nanti aja sekalian. Aku juga mau ada yg dibeli nih."
"Kalian yakin mau pergi malam malam gini?" tanya arya.
"Iyalah ,ar. Liat tuh kulkas udah kosong. Udah gak ada apa- apa. Besok kita sarapan apa? Kalau nanti malem nayla laper gimana?"
Aku melirik rani tajam.
"Aku atau kamu yg laper?" timpalku.
Rani malah cengengesan.
Selesai makan, kami bertiga pergi ke minimarket terdekat. Karena jarak yg cukup dekat, rani mengajak kami untuk berjalan kaki saja. Walau awalnya arya ragu- ragu, tapi akhirnya dia pasrah saja. Apalagi jika sudah mendengar rani ngoceh terus, aku yakin arya langsung tutup telinga, malas mendengarnya. Dan lebih baik menuruti saja mau nya rani.
Suasana jalanan agak lenggang , mungkin karena hujan baru saja mengguyur kota kami. Sehingga masih banyak orang yg enggan untuk keluar dari rumah. Bahkan rintik hujan pun masih kami rasakan sekarang.
Rani berjalan di sebelah kiriku sambil terus menggandengku, sedangkan arya disebelah kananku.
"Sepi banget ya" celetuk rani sambil tengak tengok sekitar kami.
"Iya. Habis ujan kali. Jadi pada males keluar. " sahutku.
" lagian tadi naik mobil aja kenapa sih? Biar cepet sampai." gerutu arya tanpa menoleh ke kami.
"Kamu males banget deh. Sekalian olah raga tau." timpal rani.
"Olah raga mah aku tiap hari. Gak kayak kamu..males banget."
Mereka berdua memang sering sekali adu mulut selama ini. Dan aku yg sering kali menjadi penengah perseteruan mereka. Arya ini paling tidak bisa mengalah jika sedang beradu pendapat dengan rani. Terkadang rani sampai kesal sekali dengan arya. Tapi anehnya jika sedang bersamaku arya lebih banyak diam. Jarang sekali dia mengibarkan bendera perselisihan jika denganku. Bahkan dia lebih sering mengalah padaku ,apalagi jika aku sudah cemberut dan menunjukan ekspresi kesal karena ulahnya yg kadang suka iseng. Dia sampai sampai rela melakukan apa saja agar aku bisa kembali tersenyum. Bahkan sampai hal bodoh sekalipun.
Itu adalah hal termanis yg dilakukan arya padaku. Walau dia jutek nya minta ampun. Tapi kadang dia menjadi sangat penurut.
"Udah deh. Gak usah mulai. Berantem mulu, heran deh" kataku sambil melirik mereka bergantian.
Tak terasa kami pun sampai di minimarket itu.
"Selamat malam.." sapa petugas minimarket yg berdiri didepan kasir.
Aku hanya melemparkan senyum padanya, sedangkan rani langsung melenggang masuk dengan cueknya dan segera mengambil keranjang belanjaan.
__ADS_1
Arya seperti biasa mengamati keadaan didalam minimarket. Dia selalu waspada disetiap kondisi dan keadaan yg ada disekitar kami. Kondisi didalam minimarket sangat sepi. Hanya ada kami bertiga dan 2 orang petugas minimarket saja.
Aku dan rani berpencar agar cepat selesai belanja. Dan hanya butuh waktu 15 menit, kami selesai dan sekarang kami sudah ada di kasir untuk membayar belanjaan kami.
Arya mendekat , " nay..." bisik nya pelan.
"Apa?"
"Buruan. Perasaanku gak enak." ucapnya sambil melihat keluar minimarket.
Kulihat ada beberapa orang diluar minimarket yg agak aneh.
"Ran... Dewa lagi dimana?" tanyaku.
"Dewa? Lagi dirumah, nanti juga mau kesini kok. Kermh kita. Lagi dijalan kayaknya" kata rani sambil melihat ponselnya.
"Oh ya udah."
Aku melirik ke arya, wajahnya sudah penuh dengan kecemasan.
Aku tau apa yg dia pikirkan.
Selesai membayar belanjaan, kami pun keluar dari minimarket. Dengan dua kantung belanjaan yg dipegang oleh arya.
"Heh? Ada apa sih?"rani agak cemas jika melihat arya sudah bereaksi seperti ini.
"Bawel. Buruan balik." seru arya.
Kami berjalan agak cepat menuju rumah. Arya terus berjalan dibelakang kami. Ku gandeng terus rani agar terus mensejajari langkahku. Berkali kali kami melihat kebelakang dan kanan kiri kami.
Wisnu baru saja mengirimiku pesan ,akan pulang agak larut karena harus lembur.
Dan saat kami berjalan hampir dekat dengan rumah, ada seseorang yg berjalan agak cepat dari arah seberang jalan.
"Lariiii!!" teriak arya lantang.
Aku dan rani otomatis langsung berlari. Dan orang itu juga ikut mengejar kami. Tidak hanya itu saja, tapi ternyata dari arah depan dan belakang kami, ada beberapa orang yg juga berjalan cepat menuju ke arah kami.
"Wah.. Kita dikeroyok nih" seru ku.
"Duh-- gimana donk ,nay." rani mulai panik.
__ADS_1
" aku alihkan mereka. Kamu pergi! Balik ke rumah. Kalau dewa udah dateng, suruh kesini." pintaku.
" iya,nay."
Ku hadang mereka agar rani bisa pergi dari sini secepatnya. Rani tidak bisa bela diri sedikitpun. Makanya dia adalah prioritas yg ku selamatkan lebih dulu. Aku tidak bisa memaafkan dirimu sendiri, jika terjadi sesuatu padanya.
Aku dan arya mulai berkelahi melawan mereka, sesekali arya selalu membantuku jika aku lengah. Dia tidak peduli luka ataupun pukulan yg di rasakan nya. Hal itu yg malah membuatku tidak fokus terhadap lawan ku sekarang.
Yah-- aku sangat mudah lengah.
Tiba- tiba...
Braaaaakkkk!!!
Sebuah mobil jeep hitam menabrak gerombolan black demon. Turun lah beberapa orang dari mobil itu dan membantu kami melawan black demon.
Tidak hanya 1 mobil saja, tapi ada 3 mobil. Dan semua orang yg ada didalam mobil pun turun.
Aku dan arya bingung. Siapa mereka? Karena baik aku maupun arya tidak mengenali mereka. Arya lantas mendekat padaku dan berdiri didepanku.
Karena jumlah orang orang ini lebih banyak dari black demon, akhirnya black demon ,berhasil dipukul mundur dengan mudahnya.
Arya menutupi ku dari orang- orang ini. Walaupun mereka membantu kami, tapi arya tidaklah mudah mempercayai mereka. Kami tidak tau ,mereka ini kawan atau lawan. Tapi, mereka sudah membantu kami. Kupikir mereka ada dipihak kami.
Salah 1 dari mereka yg memakai masker mendekati aku dan arya.
Dia adalah yg paling kuat diantara yg lain. Sejauh yg barusan ku lihat, dia yg paling sering menjatuhkan black demon.
Saat dia sudah dekat dengan kami, dia membuka penutup wajahnya . entah kenapa pikiranku langsung tertuju pada satu orang.
Degggg!!!
Aku dan arya sama sama terkejut ,bahkan arya sampai mundur selangkah.
Jantungku berdebar sangat cepat, badanku sampai- sampai lemas. Bahkan aku sampai berpegangan pada arya yg ada didepanku.
" wira..." ucapku dengan pelan.
Seolah olah aku seperti sedang bermimpi. Air mataku tumpah juga. Dia benar- benar wira. Kali ini aku sangat jelas melihatnya. Dalam jarak sedekat ini, aku sangat yakin dia adalah wira.
Matanya, wajahnya, sikapnya, cara dia berjalan, cara dia bertarung barusan. Sudah jelas menunjukan bahwa dia wira.
__ADS_1
"Nayla.. Aku kembali..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=